Masuk(21+) Sebuah ledakan di Pelabuhan Busan mengubah hidup Traya Gayatri dalam semalam. Berniat mencari murid-murid TK-nya yang hilang dalam kondisi terluka, guru asal Indonesia itu justru salah melangkah masuk ke bunker rahasia milik Kim Muyeol (27) bos kartel kejam yang dijuluki ‘Iblis dari Barat’. Tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat, Traya hanya diberi dua pilihan: keluar sebagai mayat, atau tinggal untuk dihancurkan. Malam itu juga, di atas yacht mewah di tengah pekatnya laut Busan, Muyeol merampas paksa kesucian Traya. Bukan karena cinta, melainkan sebuah dominasi mutlak agar gadis itu bungkam selamanya. Saat sang Iblis menolak untuk membunuhnya, sanggupkah Traya bertahan di dunia yang siap menelannya hidup-hidup?
Lihat lebih banyakChapter 1
“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat mencintai murid-muridku, dan mengira hidupku akan selalu tenang serta berjalan normal. Namun, seluruh kedamaian itu hancur lebur dalam satu malam kelam. Aroma hangus yang menyengat, debu tebal yang menggelapkan pandangan, dan suara berdenging yang menyakitkan di telinga adalah hal pertama yang kusadari saat perlahan membuka mata. Kepalaku terasa pening. Aku terbatuk, merangkak di atas lantai beton yang dingin dan menyadari kemeja putih yang kukenakan sudah robek. Di beberapa bagian, dipenuhi debu hitam akibat ledakan truk kontainer di area pelabuhan saat acara field trip sekolah kami sore tadi. "Minjun... Jia... where are you?" suaraku keluar bagai bisikan serak yang bergetar hebat. Aku memaksakan diri untuk berdiri. Jemariku mencengkeram dinding beton yang retak demi menahan tubuhku yang limbung. Rasa panik yang luar biasa mendadak mengalahkan rasa sakit di kepalaku, aku harus menemukan murid-muridku yang terpisah saat kepanikan melanda. Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku terhuyung-huyung mencari jalan keluar melalui lorong bawah tanah pelabuhan yang remang-remang. Hingga akhirnya, aku melihat sebuah pintu besi tebal di ujung koridor. Berharap itu adalah akses menuju dermaga utama, aku mendorong pintu tersebut dengan seluruh sisa tenagaku. Ceklek. Pintu terbuka, dan langkahku langsung terhenti total. Ini bukan jalan keluar umum. Ruangan di balik pintu itu sangat luas, dingin, kedap suara. Di tengah ruangan, seorang pria berusia sekitar 28 tahun sedang duduk dengan santai, namun sosoknya memancarkan aura dominasi yang sangat mengerikan. Wajahnya maskulin dan tampan, dengan rambut hitam yang ditata rapi dengan gaya slicked back. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam tanpa kaos, menampilkan otot perutnya yang kokoh dan dada kekarnya. Dia memadukannya dengan celana jeans biru dan sepasang boots khas Meksiko yang kokoh. Di hadapannya, terdapat beberapa tas taktis hitam berisi dokumen dan senjata api. Di sekeliling pria itu, berdiri sekelompok pria berbadan kekar yang dipenuhi tato menyeramkan di bawah temaram lampu. Seketika, seluruh mata di ruangan itu tertuju padaku. Pertemuan penting mereka terinterupsi total oleh kedatanganku. "Min... Minjun..." gumamku lirih, sebelum akhirnya pandanganku menggelap sepenuhnya akibat kelelahan dan syok yang luar biasa. Saat aku tersadar kembali, aku mendapati diriku terduduk di sebuah kursi besi di dalam ruangan kecil yang asing. Tanganku tidak diikat, namun tubuhku terlalu lemas bahkan hanya untuk menggerakkan jari. Pemandangan pertama yang menyambutku adalah wajah seorang pria botak penuh tato yang menatapku dengan seringai menyeramkan. "Who sent you, teacher? How could a foreign teacher know the shortcut to our port operational bunker right when the enemy faction attacked us with a bomb?" tanya pria botak itu sembari melemparkan kartu identitas guru milikku ke lantai dengan kasar. "I... I swear... I don't know what you're talking about..." jawabku lemas. Air mataku luruh, rasa takut mencengkeram dadaku saat menyadari keningku kini sudah dibalut perban. Saat pria botak itu hendak memukul meja untuk mengintimidasi diriku, pintu ruangan mendadak terbuka dengan hantaman keras. Brak! Langkah kaki dari boots Meksiko yang berat terdengar mendekat. Pria botak yang menginterogasi diriku seketika mundur tiga langkah, membungkuk sangat rendah dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Pria berjaket kulit hitam dengan rambut slicked back yang kulihat sebelumnya melangkah masuk. Dengan nada suara rendah, berat, dan penuh dominasi mutlak yang membuat bulu kudukku berdiri, pria itu berucap tegas, "Fuera." Tanpa sepatah kata pun, pria botak itu bergegas keluar, meninggalkanku berdua saja dengan pria yang auranya begitu mematikan ini. "An English teacher from Indonesia," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih dengan aksen Spanyol-Meksiko yang kental. Jemarinya yang panjang memegang selembar kertas berisi profil lengkap diriku yang tampaknya telah dicari oleh bawahannya dari tas kerja milikku yang disita. Dari cara pria botak tadi tunduk padanya, aku tahu pria di hadapanku ini bukan sekadar anggota biasa—dia adalah pemimpin tertinggi dari kelompok ini. "Don't hurt me... I just want to find my students..." ratapku lemas, menatapnya penuh permohonan. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang dipenuhi ketakutan murni. "You entered the wrong room, Cariño," ucapnya dengan tatapan tajam yang mengunci seluruh pergerakanku. Aura pembunuh yang dipancarkannya begitu nyata menindas mentalku. Entah bagaimana nasibku nanti.Chapter 9 Tiga hari berikutnya berjalan seperti siklus penyiksaan mental yang stabil. Setiap pagi aku dikurung di perpustakaan megah ini untuk menerjemahkan dokumen logistik Muyeol. Dan setiap malam, aku harus meredam jeritan batin saat tubuh kekarnya kembali mengurungku di atas ranjang sutra, menegaskan bahwa aku adalah hak milik yang mutlak. Hari ini, genap seminggu sejak ledakan pelabuhan yang memisahkan aku dari kehidupan normalku. "You skipped your lunch, little teacher." Suara bariton yang familier itu membuyarkan fokusku. Muyeol sudah berdiri di depan meja kayu kecilku. Siang ini dia hanya mengenakan kemeja kasual abu-abu dengan lengan digulung hingga siku, menampilkan guratan urat yang menjalar di tangan kekarnya. "I... I just wanted to finish these shipping documents as soon as possible," sahutku lirih seraya merapikan kertas di hadapanku agar dia tidak melihat jemariku yang mendadak dingin. Muyeol tidak merespons, hanya menatapku datar hingga jantungku berpacu li
Chapter 8Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela raksasa di perpustakaan pribadi Kim Muyeol sama sekali tidak mampu menghangatkan tubuhku. Aku berdiri diam di dekat meja marmer hitamnya, meremas ujung kemeja rajut yang kukenakan dengan sangat erat. Jantungku berdegup kencang, memutar kembali memori mencekam semalam saat aku menangis pasrah di bawah kurungan pria ini, merasakan gairah biologisnya yang menuntut, dan mendengar rahasia gelap tentang nama aslinya: Roman.Muyeol duduk dengan tenang di kursi kebesarannya. Pagi ini dia tampak sangat rapi dengan kemeja hitam formal yang membalut tubuh kekarnya. Di hadapannya, secangkir kopi hitam pekat mengepulkan aroma pahit yang kuat, berbaur dengan wangi maskulin khas miliknya yang kini mulai familier—dan menakutkan—bagi indra penciumanku.Dia tidak mendongak sama sekali, sibuk menandatangani beberapa dokumen tebal seolah keberadaanku di ruangan ini hanyalah angin lalu. Namun, keheningan yang dia ciptakan justru tera
Chapter 7 Kamar tidur utama milik Kim Muyeol malam ini berubah menjadi panggung intimidasi yang mencekam bagiku. Aku berbaring miring di sisi ranjang sutra gelap yang luas ini, memunggungi sang bos kartel yang kini berbaring hanya beberapa jengkal di belakangku. Tubuhku meringkuk kaku. Setiap kali mendengar helai napasnya yang teratur di tengah kesunyian malam, jantungku berdegup dua kali lebih cepat. "You are breathing too loud, little teacher," suara bariton Muyeol tiba-tiba memecah keheningan, terdengar begitu dekat dan berat hingga getarannya terasa langsung di tengkukku. Aku mendadak menahan napas, meremas ujung selimut sutra tebal hingga kuku-kuku jariku memutih. "I-I'm sorry..." bisikku ketakutan, mencoba menggeser tubuhku semakin dekat ke pinggiran kasur demi menciptakan jarak yang aman. Namun, pergerakanku justru memicu reaksi yang tidak terduga. Sebuah lengan kekar yang besar dan hangat tiba-tiba terulur dari belakang, melingkar dengan kokoh di pinggang mungilku.
Chapter 6 Pagi pertama sebagai asisten administrasi pribadi Kim Muyeol dimulai dengan debaran jantung yang tidak keruan, rasanya seperti berjalan pelan menuju tiang gantungan. Setelah Bibi Jung mengantarkan sepasang pakaian rajut berwarna krem yang sopan serta flat shoes yang pas di kakiku, aku langsung digiring oleh salah satu pengawal berjas hitam menuju perpustakaan pribadi di lantai dua. Sepanjang koridor yang sunyi, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana aku harus bersikap di depan pria yang semalam baru saja mempermainkan mentalku di atas ranjang yang sama. Begitu pintu ganda kayu dibuka, mataku langsung disambut oleh kemegahan ruangan yang teramat luas. Rak-rak buku tua menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid berkas rahasia yang tersusun rapi. Aroma kertas, kayu premium, dan wangi maskulin khas Muyeol yang dominan bercampur dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, Muyeol sudah duduk di balik meja kerja marmernya yang megah. Dia mengenakan ke
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.