MasukMature 21+ “Kau pikir aku akan berhenti?” Adriano tersenyum tipis. “Aku tidak berhenti pada hal yang sudah masuk ke wilayahku.” Ia dikurung di istana malam milik pria paling berbahaya di Genoa—bukan sebagai tawanan, bukan pula sebagai kekasih. Adriano Moretti terbiasa memerintah dengan darah dan kesunyian. Namun kehadiran Elena mengganggu ritme hidupnya—perempuan yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. Satu atap. Satu ranjang. Terlalu banyak rahasia. Di balik sentuhan yang tertahan dan jarak yang menyiksa, masa lalu mulai merangkak kembali. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, Adriano harus memilih: menaati darah yang membesarkannya… atau menghancurkan segalanya demi menyelamatkan perempuan yang datang terlalu terlambat ke hidupnya.
Lihat lebih banyakDebu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri.
Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop cokelat yang tergeletak terbuka di tengah meja. Elena menatap amplop itu terlalu lama. Kosong. “Aku meminjamnya.” Suara Marcella Valli datang dari ambang pintu dapur. Perempuan itu bersandar dengan satu bahu ke dinding, rambutnya kusut meski hari sudah malam, lipstik merahnya pecah di sudut bibir. Tangannya gemetar halus—entah karena dingin, atau sesuatu yang lain. “Meminjam?” Elena akhirnya mengangkat wajah. Suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuat kata itu terasa lebih tajam. “Itu gajiku, Bu Marcella.” Marcella mengangkat bahu. “Dan panti ini milik kami.” Kalimat itu dijatuhkan begitu saja, seperti palu. Elena mengepalkan jarinya di bawah meja. Ia menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Di luar, suara ombak memecah pelabuhan dengan ritme yang tidak peduli. “Aku butuh uang itu untuk membeli susu,” kata Elena. “Dan obat batuk. Anak-anak—” “Anak-anak sudah makan,” potong Marcella cepat. “Mereka tidak mati, kan?” Elena menatapnya. Wajah perempuan itu pucat, pupilnya terlalu melebar. Bau kimia samar bercampur parfum murahan menguar dari tubuhnya. Elena pernah mencium bau itu sebelumnya—di lorong belakang bar tempat ia bekerja, pada orang-orang yang selalu bilang mereka baik-baik saja. “Kau tidak berhak menghakimi,” lanjut Marcella, nada suaranya meninggi. “Aku dan suamiku membesarkanmu. Memberimu atap. Memberimu nama.” Elena menelan ludah. Itu benar. Ia tidak menyangkalnya. Stella Maris adalah satu-satunya tempat yang pernah ia sebut rumah sejak kecil. Tapi rumah seharusnya melindungi, bukan menggerogoti dari dalam. “Aku tidak meminta lebih,” kata Elena pelan. “Aku hanya meminta apa yang memang hak anak-anak itu.” Marcella tertawa pendek. Tawa yang kering. “Hak? Kau belajar kata-kata besar dari mana, hm? Kau pikir donasi itu turun dari langit? Orang-orang memberi karena iba. Dan aku yang tahu cara membuat mereka iba.” Elena berdiri. Kursinya bergeser, mencicit pelan di lantai. “Kau menggunakan mereka.” Marcella mendekat satu langkah. Wajahnya kini hanya sejengkal dari Elena. “Dan kau hidup dari itu.” Sebelum Elena sempat menjawab, suara keras menggedor pintu depan panti. Sekali. Dua kali. Ketiga—lebih keras, lebih mendesak. Marcella membeku. Ia menoleh ke ruang depan, napasnya memburu. “Silvio!” teriaknya. “Buka pintu, sekarang!” Terlambat. Pintu didobrak. Suara sepatu berat menghantam lantai. Anak-anak menjerit dari asrama. Lampu dapur bergetar saat beberapa sosok berseragam biru tua memenuhi ruangan. Senjata terangkat di tangan mereka. “Polisi!” suara tegas memantul di dinding sempit. “Semua diam!” Silvio Valli sudah lebih dulu diborgol di ruang depan. Wajahnya merah, urat lehernya menonjol. Ia memaki, kata-kata kotor berhamburan tanpa arah. Marcella mundur selangkah, punggungnya menabrak meja. “Apa apaan ini, ini salah paham,” katanya cepat, senyumnya dipaksakan. “Panti ini—aku mengurus anak-anak ini sejak lama.” Seorang petugas membaca dari catatan. “Kami menerima laporan anonim mengenai penyalahgunaan dana donasi dan kepemilikan obat terlarang.” “Itu bohong!” Marcella menoleh ke Elena, tatapannya tajam, memerintah. “Katakan. Katakan pada mereka.” Ruangan itu terasa menyempit. Elena mendengar napas anak-anak di balik pintu. Ia membayangkan wajah-wajah kecil itu, tangan-tangan yang menggenggam selimut tipis, ketakutan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap Marcella. Lalu menatap polisi. “Ada obat-obatan,” kata Elena akhirnya. Suaranya bergetar, tapi tidak goyah. “Dan uang donasi tidak pernah sampai sepenuhnya ke anak-anak.” Marcella menjerit. “Kau tidak tahu balas budi!” Silvio mengumpat, berusaha menerjang sebelum dua petugas menahannya. “Pelacur kecil,” geramnya. “Tanpa kami, kau bukan siapa-siapa!” Elena tidak membalas. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan mereka diborgol dan digiring keluar. Lampu mobil polisi menyapu halaman panti dengan cahaya biru yang dingin, memantul di jendela-jendela tua. Saat suara sirene menjauh, keheningan jatuh seperti abu. Elena berlutut di lantai dapur. Tangannya gemetar sekarang. Baru saat itu ia menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak: Stella Maris kini tidak punya siapa-siapa. Tidak ada pemilik. Tidak ada pelindung. Tidak ada uang. Dan entah kenapa, di balik rasa takut itu, ada firasat yang lebih buruk. Seolah malam ini bukan akhir dari bencana— melainkan undangan. Undangan bagi sesuatu yang jauh lebih kejam untuk datang esok hari. *** Pagi datang ke Stella Maris tanpa mengetuk. Tidak ada sirene. Tidak ada teriakan. Hanya cahaya pucat yang menyusup lewat jendela dapur dan suara sendok kecil beradu dengan mangkuk plastik. Elena berdiri di depan kompor, celemek lusuh menempel di tubuhnya. Tangannya bergerak otomatis—menuang bubur, mengaduk pelan, membagi porsi sekecil mungkin agar cukup untuk semua. Ia tidak tidur lebih dari satu jam, tapi tubuhnya menolak tumbang. Anak-anak belum selesai makan; itu sudah cukup alasan untuk tetap berdiri. Dua puluh satu anak duduk rapi di meja panjang. Terlalu rapi untuk usia mereka. Tidak ada yang bertanya ke mana Bu Marcella pergi. Tidak ada yang menyebut nama Silvio. Diam mereka terasa rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah jika disentuh sembarangan. “Bibi,” bisik seorang anak perempuan, menarik ujung celemeknya. “Buburnya enak.” Elena tersenyum tipis. Senyum pinjaman. “Habiskan,” katanya. “Setelah itu kita bereskan kamar.” Anak itu mengangguk. Setelah sarapan, Elena menyeka meja, mencuci mangkuk, menyapu lantai yang sudah bersih sejak subuh. Rutinitas adalah satu-satunya cara menipu rasa panik. Selama tangan bergerak, pikirannya tidak punya ruang untuk runtuh. Ketukan datang saat ia sedang memeras kain. Dua kali. Tidak keras. Tidak ragu. Elena menegang. Seorang anak laki-laki muncul dari halaman, napasnya terengah. “Bibi Elena… ada orang di luar.” Elena mengeringkan tangannya, lalu melangkah ke depan. Dua pria berdiri di balik pagar besi. Kemeja abu-abu rapi. Sepatu hitam bersih. Wajah mereka dingin, kosong, tanpa rasa. Salah satu menyodorkan map tipis. “Ini untuk pemilik bangunan.” Elena membuka map itu. Kertas di dalam terlalu kaku. Terlalu resmi. Cap notaris. Nomor sertifikat tanah. Kalimat ringkas tanpa ruang tawar. Nama perusahaan yang sudah muncul di berita kriminal lokal. Moretti Holdings. Dadanya mengeras. Napasnya tertahan. “Tenggat yang diberikan sebelumnya telah berakhir,” kata pria itu datar. “Kami datang memastikan tidak ada kesalahpahaman.” Di belakang Elena, anak-anak mulai berkumpul di ambang pintu. Diam mereka berat, menahan ketakutan yang tak terlihat. “Panti ini bukan bangunan kosong,” kata Elena. Suaranya tegas, meski jari-jarinya mencengkeram map itu terlalu kuat. “Ada anak-anak di sini.” Ia tidak menunggu jawaban. Elena melangkah setengah langkah ke depan, tepat di garis pagar besi yang berkarat. Tangannya menyentuh palang dingin itu, menahan tubuhnya tetap di sana. “Selama mereka masih di dalam,” katanya pelan, tanpa meninggikan suara, “tidak ada satu pun dari kalian yang melangkah melewati pagar ini.” Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke tangan Elena di pagar, lalu beralih ke bangunan panti di belakangnya. Sesuatu di wajahnya mengeras—bukan marah, tapi mencatat. “Dan itu tidak mengubah kepemilikan,” katanya akhirnya. Rekannya melirik sekeliling halaman. Cat mengelupas. Pot tanaman di sudut. Jemuran kecil dengan kaus kaki warna-warni. Tempat itu hidup. Tapi bagi mereka, nilainya hanyalah angka. “Kami akan kembali,” lanjut pria pertama. “Kali ini bukan untuk berbicara.” “Dengan siapa?” tanya Elena. Tatapannya bertemu mata pria itu. Tidak ada ancaman. Hanya kepastian. “Bukan kami.” Mobil hitam mereka pergi, meninggalkan halaman sunyi yang seakan menahan napas. Elena berdiri sendiri sampai suara mesin benar-benar hilang. Baru setelah itu ia berlutut di depan anak-anak. “Kalian masuk,” katanya. “Sekarang.” Tidak ada yang membantah. Mereka berbalik satu per satu, seperti barisan kecil yang sudah terlalu sering belajar patuh. Elena menatap gerbang besi yang mulai berkarat. Tujuh hari itu tidak pernah ada. Dan siapa pun yang akan datang berikutnya, tidak akan membawa surat. Besok, mereka akan membawa keputusan. Dan keputusan itu tidak akan menunggu persetujuannya.Malam menempel di balik kaca jendela.Elena berdiri di depannya sejak entah kapan.Tirai yang biasanya tertutup rapat terbuka sedikit di ujung jari.Cukup untuk melihat taman.Lampu-lampu batu menyala di sepanjang jalur pejalan kaki. Bayangan cemara membentang gelap di atas rumput. Sesekali seorang penjaga melintas di kejauhan, langkahnya teratur, kepala menoleh ke titik-titik yang sudah ditentukan.Gerbang utama terlihat samar dari sayap kamar ini.Terlalu jauh.Terlalu terang.Tak pernah benar-benar kosong.Matanya mengikuti jalur itu.Dari taman.Ke pagar besi.Ke gerbang utama.Seorang penjaga menghilang di balik bayangan pohon.Beberapa detik kemudian, penjaga lain muncul dari arah berbeda.Rute yang sama.Pola yang sama.Jari Elena mengendur.Tirai kembali jatuh menutupi kaca.Pantulannya muncul di permukaan
Ruang kerja Valerius jauh lebih tenang dibanding bagian lain mansion.Jendela tinggi menghadap taman belakang. Angin bergerak pelan di antara pucuk cemara, menekan bayangan yang jatuh ke lantai kayu.Di atas meja kecil, teh baru diganti. Uapnya hampir hilang.Elias masuk tanpa suara.Map tipis diletakkan di sisi meja.Tidak terdengar bunyi tambahan.Valerius tidak langsung menyentuhnya.Ia menunggu beberapa detik sebelum membuka halaman pertama.Matanya bergerak pelan.Satu baris.Lalu berikutnya.Buyer Vienna telah menyelesaikan pembayaran kompensasi.Jari di kepala tongkat berhenti.Sekali.Tidak ada komentar.Halaman berganti.Naples menerima penyelesaian awal tanpa keberatan.Valerius membaca sampai ujung paragraf.Lalu lanjut lagi.Tidak ada gugatan balik yang diajukan oleh tiga pihak tambahan.Tongkat menyentuh lantai.Pelan.Elias tidak bergerak.Matanya tetap pada tablet, tapi layar tidak berubah.Valerius membalik halaman berikutnya.Media masih berjalan.Judul baru muncul se
Koridor menuju ruang rapat lebih ramai dari biasanya.Telepon berdering di berbagai ruangan.Langkah kaki bersahutan di atas lantai marmer.Seorang staf administrasi hampir berlari membawa map tebal ke arah lift, sementara dua orang lain berhenti di depan printer yang terus memuntahkan lembar demi lembar laporan.Tak ada yang benar-benar berbicara dengan suara normal.Kalimat dipendekkan.Instruksi diberikan sambil berjalan.Pintu dibuka dan ditutup lebih cepat.Saat Adriano muncul di ujung koridor, jalur di depannya kosong dengan sendirinya.Tak ada yang menatap terlalu lama.Tak ada yang menghalangi langkahnya.Pintu ruang rapat terbuka.Percakapan yang tersisa langsung terputus.Belasan pasang mata terangkat.Pengacara.Direktur keuangan.Kepala distribusi.Supervisor regional.Kepala operasional pelabuhan.Berk
Ponsel itu berpindah tangan.Elena tidak berusaha menahannya.Jemarinya masih berada di atas meja, kaku di tempat pesan terakhir dikirim.Adriano membaca layar sekali.Tak ada perubahan di wajahnya.Tak ada kepuasan.Tak ada kemarahan.Ia menekan tombol kunci.Layar padam.Ruangan kembali redup."Apa yang akan kau lakukan padanya?"Suara Elena terdengar serak.Adriano menyelipkan ponsel itu ke dalam saku jas.Tak langsung menjawab.Tatapannya jatuh pada sisa roti di piring.Pada gelas kosong.Pada kursi yang memaksa Elena tetap duduk di hadapannya."Harapan membuat orang melakukan banyak hal."Elena menatapnya.Rahangnya mengencang."Apa maksudmu?"Tak ada jawaban.Adriano berdiri.Kursi bergeser pelan di lantai kayu."Apa yang akan kau lakukan pada Julian?"Kali ini Elena memaksa suaranya keluar.Adriano berhenti di dekat pintu.Punggungnya masih menghadap."Orang selalu datang sendiri ketika mereka percaya seseorang sedang menunggu."Darah Elena terasa turun dari wajahnya.Ia tidak
Matahari sudah lebih tinggi ketika gunting rumput itu akhirnya berhenti bergerak. Elena berdiri di tengah potongan daun yang berserakan. Bilah logam terbuka di tangannya. Lalu menutup perlahan. Klik. Ia menurunkannya pelan. Pergelangan kakinya berdenyut di balik perban yang mulai lembap.
Halaman belakang mansion terasa lebih luas saat seseorang bekerja sendirian di dalamnya. Rumput masih basah di beberapa sudut, namun matahari telah naik cukup tinggi untuk mengusir sisa dingin pagi. Di tengah taman itu, Elena berdiri dengan gunting rumput besar di tangannya. Bilah besinya terb
Elena masih berdiri di ambang pintu. Ia tidak bergerak sejak percakapan itu berakhir. Tidak pula melangkah masuk. Seolah garis tipis antara lorong dan ruang makan adalah batas yang tak boleh ia lewati tanpa izin. Kertas koran berdesir pelan. Lalu berhenti. Tatapan abu-abu Valerius Morett
Pintu kamar menutup tanpa bunyi. Lorong mansion sudah hidup, tapi tidak pernah benar-benar ramai. Langkah-langkah ringan bergerak cepat di atas marmer mengilap. Kain lembut menyapu permukaan meja konsol. Cairan pembersih meninggalkan jejak kilap di porselen putih. Seorang pelayan berdiri d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.