LOGINDemi menyelamatkan nyawa putrinya yang mengidap Leukemia, Citra—seorang penulis novel romance murni—terpaksa membuang harga dirinya. Diabaikan oleh suaminya yang kecanduan judi, Citra nekat menandatangani kontrak rahasia bernilai ratusan juta di bawah naungan korporasi raksasa, Apex Media Group. Namun, syarat kontrak itu begitu gila: Citra harus menulis sebuah naskah cerita dewasa yang sangat panas, sekaligus menjadi pemeran utamanya di depan kamera. Citra mengira ia hanya akan dipasangkan dengan model pria biasa. Ia tidak pernah menyadari bahwa sosok investor misterius di balik dinding kaca itu adalah Xavier—sang Mafia kejam berdarah dingin pemilik perusahaan tersebut—yang telah mengunci targetnya sejak awal, bersiap turun tangan langsung untuk menghidupkan setiap bait naskah panas yang ditulis oleh Citra. Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan lupa kritik dan sarannya, serta follow akunnya agar author lebih bersemangat dalam berkarya.
View MoreSuara detak jam dinding tua di ruang tamu terasa seperti ketukan palu yang menghantam dada Citra. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu redup kekuningan yang temaram, Citra masih terduduk di lantai, beralaskan tikar pandan yang sudah robek di beberapa sudut.
Di pangkuannya, sebuah laptop usang dengan layar yang bergaris-garis menjadi satu-satunya saksi bisu dari kehidupan ganda yang ia jalani. Jari-jemari Citra yang kurus bergerak cepat di atas papan ketik. Dia sedang menyelesaikan bab terbaru untuk novel online-nya. Citra adalah seorang penulis cerita romansa. Dia sangat menyukai kisah cinta yang tulus, manis, dan penuh perjuangan emosional—jenis cerita yang selalu membuatnya percaya bahwa cinta sejati itu ada, meskipun kehidupan nyatanya sendiri berantakan. Selama berkarier secara amatir, Citra selalu memegang teguh idealismenya. Dia tidak pernah tertarik, bahkan selalu menolak, untuk menulis adegan dewasa atau cerita sensual demi mendulang pembaca instan. Bagi Citra, keindahan sebuah cerita terletak pada ketulusan rasa, bukan pada eksploitasi fisik. Namun ironisnya, di dunia nyata, kelembutan cinta yang ia tulis di layar laptop sama sekali tidak berwujud di dalam rumah tangganya. “Ah, sedikit lagi…” bisik Citra lirih, menyeka keringat yang menetes di dahi. Pekerjaan menulis ini dilakukan Citra secara diam-diam. Suaminya, Rian, adalah pria konservatif yang kasar. Bagi Rian, tugas istri hanyalah di dapur, kasur, dan sumur. Rian tidak pernah tahu bahwa koin-koin receh yang digunakan Citra untuk membeli beras di akhir bulan, atau untuk membeli susu formula murah milik putri mereka, berasal dari hobi menulis yang ia sembunyikan rapat-rapat ini. Gaji Rian sebagai buruh angkut pabrik sebenarnya pas-pasan, jika saja pria itu tidak punya penyakit moral, yaitu judi. *BRAAKK!* Pintu depan rumah kontrakan mereka yang terbuat dari kayu lapuk dihantam keras dari luar. Citra terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang seketika. Dengan gerakan refleks yang terlatih, ia langsung menutup layar laptopnya, menyembunyikannya di bawah tumpukan kain setrikaan di pojok kamar, lalu mematikan lampu minyak. Suara langkah kaki yang berat dan sempoyongan terdengar memasuki rumah. Bau alkohol murahan langsung menyeruak, menembus celah pintu kamar. "Citra! Buka pintunya! Sialan, mana kunci kamarnya?!" teriakan kasar Rian menggema, disusul tendangan pada pintu kamar mereka. Citra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di tangannya, lalu membuka pintu. Di ambang pintu, Rian berdiri dengan mata merah, kaus yang kusut, dan wajah yang penuh amarah. Citra sudah tahu arti raut wajah itu. Rian kalah judi lagi. "Mana uangmu? Berikan padaku!" Rian langsung menengadahkan tangan, suaranya parau dan menuntut. "Uang apa lagi, Mas? Gaji kamu bulan ini saja belum kamu berikan ke aku. Uang di dompetku cuma tinggal dua puluh ribu untuk beli sayur besok pagi," jawab Citra, berusaha menahan getaran suaranya agar tetap tegap. "Jangan bohong kamu! Pasti kamu simpan uang sisa belanja! Cepat berikan! Aku butuh modal untuk putaran malam ini. Bandar sialan itu mencurangi aku tadi. Kalau aku pasang lagi, aku pasti menang besar!" Rian mulai berhalusinasi tentang kemenangan yang tidak pernah ada. Dia mendorong bahu Citra hingga wanita itu membentur pinggiran ranjang. Rian mulai mengobrak-abrik lemari pakaian, melempar baju-baju mereka ke lantai mencari uang. Citra hanya bisa mengepalkan tangan, menahan air mata yang mendesak keluar. Rasa lelah fisik karena kurang tidur bercampur dengan rasa sakit di hatinya. Mengapa pernikahannya yang indah dulu bisa berubah menjadi neraka seperti ini? Tiba-tiba, dari ranjang kecil di sudut ruangan, terdengar suara batuk yang kering dan menyakitkan. *Uhuk! Uhuk! Uhuk!* Nayla, putri semata wayang mereka yang baru berusia empat tahun, terbangun. Tubuh kecilnya menggigil di balik selimut tipis. Wajahnya yang biasa ceria kini tampak sangat pucat di bawah temaram cahaya luar. "Ibu... Nayla haus... badannya sakit semua..." rintih anak kecil itu dengan suara parau. Citra melupakan Rian sejenak. Dia bergegas menghampiri anaknya, menyentuh kening Nayla. Seketika wajah Citra pias. Kening Nayla sangat panas, seperti membakar telapak tangan Citra. Suhu tubuh bocah itu naik drastis dibandingkan beberapa jam lalu. "Mas, berhenti mencari uang! Lihat Nayla, badannya panas sekali. Kita harus bawa dia ke klinik sekarang, Mas! Tolong carikan pinjaman atau antar kami!" jerit Citra panik. Rian yang baru saja menemukan dompet kain milik Citra di bawah bantal—dan hanya menemukan selembar uang dua puluh ribu rupiah di dalamnya—berdecak kesal. Dia melempar dompet kosong itu ke wajah Citra. "Anak cuma demam biasa kamu heboh! Kasih air minum juga sembuh! Jangan jadikan anak alasan supaya aku tidak pergi!" Rian mendengus kasar. Tanpa memedulikan rintihan putrinya atau tangisan istrinya, Rian berbalik arah, melangkah lebar keluar rumah dan membanting pintu depan hingga bergetar. Rumah kembali hening, menyisakan suara jam dinding dan deru napas Nayla yang tersengal-sengal. Citra memeluk tubuh kecil Nayla yang menggigil hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah. Di tengah malam yang buta, tanpa uang sepeser pun, dan suami yang egois, Citra memeluk putrinya erat-erat. Dengan sisa bayaran novel romansanya yang tidak seberapa, mustahil dia bisa membiayai pengobatan Nayla jika kondisi anaknya memburuk. "Bertahan ya, Sayang... Ibu pasti cari cara. Ibu pasti selamatkan Nayla..." bisik Citra terisak. Dengan kepanikan yang sudah mencengkeram seluruh dadanya, Citra bergerak secepat kilat. Ia menyelimuti tubuh kecil Nayla dengan kain jarik panjang, lalu menggendong putrinya erat-rakat ke dalam pelukannya. Napas Nayla terasa panas menembus kaus tipis yang dipakai Citra, membuat air matanya kembali menetes. "Tolong bertahan ya, Sayang... Ibu di sini," bisik Citra menahan isak. Sambil menggenggam dompet kainnya yang kosong dan ponsel usang berkaca retak, Citra melangkah keluar rumah. Angin malam bertiup kencang, menusuk tulang di tengah kegelapan dini hari yang sunyi. Kompleks kontrakan petak mereka sudah sepi senyap, menyisakan lampu-lampu jalan yang temaram. Citra berjalan setengah berlari menelusuri gang sempit. Tujuannya hanya satu: rumah Bu Salamah, seorang janda tua pemilik warung kelontong di ujung gang yang terkenal paling baik hati di lingkungan mereka. Putranya, pemuda bernama roni, memiliki sebuah sepeda motor tua. Citra berharap, setidaknya Roni mau mengantarkan mereka ke klinik 24 jam terdekat, atau Bu Salamah bersedia meminjaminya sedikit uang untuk ongkos taksi. *Tok! Tok! Tok!* Citra mengetuk pintu kayu rumah Bu Salamah dengan tidak sabar. Badannya gemetar, sementara tangan kirinya mendekap erat kepala Nayla yang mulai meracau tidak jelas karena panas yang terlalu tinggi. "Bu... Bu Salamah... Tolong, Bu..." panggil Citra dengan suara bergetar, parau karena menahan tangis. Tidak ada jawaban. Rumah itu tetap gelap gulita. Citra kembali mengetuk, kali ini lebih keras. *Tok! Tok! Tok!* "Bu Salamah... ini Citra, Bu. Tolong... Nayla sakit parah. Saya butuh bantuan untuk ke klinik..." Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki di dalam rumah. Sebuah lampu teras dinyalakan, menimbulkan secercah harapan di hati Citra. Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah Bu Salamah yang tampak mengantuk dan terkejut melihat Citra menggendong anak di jam dua pagi. "Astaga, Citra? Ada apa ini? Kenapa malam-malam begini?" tanya Bu Salamah heran, matanya langsung tertuju pada Nayla yang lemas di gendongan Citra. "Bu... Nayla demam tinggi sekali, badannya menggigil dan sudah meracau. Mas Rian pergi... saya tidak punya uang sepeser pun. Boleh saya minta tolong Roni mengantarkan kami ke klinik? Atau... bolehkah saya meminjam uang seratus ribu dulu untuk ongkos dan berobat, Bu? Besok kalau gaji menulis saya cair, saya pasti langsung ganti, Bu. Saya mohon..." Citra hampir saja bersujud di teras rumah Bu Salamah jika wanita tua itu tidak segera menahan lengannya. Bu Salamah tampak terkejut, namun raut wajahnya langsung berubah menjadi penuh rasa bersalah dan iba. Wanita tua itu menghela napas panjang. "Ya Allah, Citra... Ibu ikut prihatin. Tapi... si Roni dari sore tadi belum pulang, motornya dibawa dia kerja lembur di gudang kota," kata Bu Salamah pelan, membuat jantung Citra serasa merosot jatuh ke perut. "Lalu... soal uang..." Bu Salamah menunduk ragu. "Bukannya Ibu tidak mau bantu, Citra. Tapi kemarin sore modal warung Ibu baru saja habis untuk bayar cicilan barang. Di laci Ibu sekarang cuma ada uang recehan kembalian warung, tidak sampai tiga puluh ribu rupiah. Uang simpanan Ibu benar-benar kosong sekarang." Mendengar hal itu, seluruh persendian Citra rasanya melolos. Harapan terakhirnya runtuh seketika. "Begitu ya, Bu..." Citra berbisik lirih. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi. Keputusasaan yang amat sangat kini benar-benar menjajah pikirannya. "Coba kamu tanya Pak RT, Citra. Siapa tahu beliau ada mobil atau uang," saran Bu Salamah dengan wajah cemas, merasa tidak tega melihat kondisi anak Citra. "Iya, Bu. Terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggu malam-malam," jawab Citra dengan suara kosong. Citra berbalik arah. Dia tahu, meminta bantuan ke rumah Pak RT yang jaraknya cukup jauh di depan gerbang kompleks dengan berjalan kaki hanya akan membuang waktu, sementara kondisi tubuh Nayla semakin mengkhawatirkan. Detak jantung anaknya terasa sangat cepat di dada Citra. Sambil terus berjalan menyusuri jalanan sepi di bawah langit malam, Citra menatap layar ponselnya yang retak. Di sana, sebuah notifikasi dari aplikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal—kontak dari asisten pria misterius yang sore tadi sempat mencarinya melalui agensi penulis. "Ibu Citra, kami sudah membaca draf novel Anda. Atasan kami sangat tertarik dengan gaya penulisan Anda dan ingin menawarkan kontrak adaptasi visual eksklusif malam ini juga. Jika Anda setuju, dana darurat sebesar Rp 200 juta akan langsung ditransfer ke rekening Anda sebagai uang muka sebelum tanda tangan resmi dilakukan di tempat kami." Citra menatap pesan itu lama. Dua ratus juta rupiah. Angka yang bisa menyelamatkan nyawa anaknya seketika, namun harga yang harus dibayar adalah idealisme dan harga dirinya yang selama ini ia jaga setengah mati. Melihat wajah Nayla yang semakin pucat di bawah sinar bulan, Citra memantapkan hatinya. Air matanya mengering, digantikan oleh tatapan penuh tekad seorang ibu yang siap menantang dunia, bahkan neraka sekalipun, demi anaknya. Citra hanya membaca sekilas pesan chat itu tanpa menjawabnyaAroma cerutu Kuba bercampur wangi sandalwood yang mahal memenuhi ruang kerja utama di penthouse lantai teratas Gedung Pratama VVIP. Di balik meja kayu ek besar yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit kota melalui dinding kaca transparan, seorang pria duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi.Pria itu adalah Xavier.Garis wajahnya tegas, perpaduan sempurna antara rahang kokoh dan sepasang mata elang berwarna abu-abu tajam yang mencerminkan darah asalnya—Italia. Sebagai seorang keturunan langsung dari salah satu keluarga terpandang di Milan yang menguasai jaringan sindikat Eropa, Xavier bukanlah mafia biasa yang hanya mengandalkan otot. Jaringannya di dunia bawah sangat luas dan terstruktur rapi. Selain bisnis kasino dan pengamanan, salah satu pilar kekuatan finansial utama Xavier adalah bisnis farmasi rahasia berskala internasional. Dia memiliki akses penuh terhadap obat-obatan eksperimental, laboratorium medis tercanggih, hingga dokter-dokter bedah terbaik di dunia yang
Sesampainya di rumah sakit, Citra segera melangkah menuju ruang rawat inap Nayla. Emosi dan kekesalan yang sempat membakar dadanya setelah bertemu Bastian perlahan luruh, tergantikan oleh rasa rindu yang membuncah pada sang putri.Saat pintu kamar dibuka, Citra mendapati Nayla sedang bersandar lemas di ranjangnya. Suster benar-benar menjaganya dengan baik. Suhu tubuh bocah kecil itu memang sudah turun, kulitnya tidak lagi panas seperti tadi malam. Namun, hati Citra mencelos melihat kondisi putrinya. Nayla tampak sangat lemah, matanya sayu, dan wajahnya begitu pias seolah tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk mengangkat tangan mungilnya."Mama..." panggil Nayla lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan."Iya, Sayang. Mama di sini," Citra mendekat, menggenggam jemari Nayla yang terasa dingin. Baru saja Citra hendak mengecup kening putrinya, pintu kamar terbuka. Seorang dokter spesialis anak masuk dengan wajah yang tampak sangat serius, didampingi oleh seorang suster."Ibu Citra? Kebe
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden ruang rawat inap, membawa kehangatan yang sedikit menenangkan hati Citra. Setelah memastikan Nayla menghabiskan bubur rumah sakit dan meminum obat penurun panasnya dengan benar, Citra mengusap lembut rambut putri kecilnya yang kini sudah mulai bisa tersenyum."Nayla pintar ya, Sayang. Mama harus pergi sebentar untuk urusan pekerjaan. Suster baik ini yang akan menjaga Nayla sementara waktu. Ibu tidak akan lama," bisik Citra lembut, mengecup kening putrinya."Mama mau pergi ke mana?" suara cempreng itu keluar membuat Citra mengelus lembut kepala putrinya. "Mama ada kerjaan, sayang. Nayla di sini sama suster dulu ya? jangan nakal, tunggu mama kembali." "iya, ma," kata Nayla dengan suara yang masih lemah.Meski dalam keadaan berat, namun Citra harus segera pergi untuk mengurus pekerjaan baru nya.Citra sudah menitipkan Nayla kepada suster jaga di ruang perawat, memastikan bahwa sang buah hati tidak akan ditinggalkan sendirian. Dengan perasa
Citra tidak langsung membalas pesan di ponselnya. Pikirannya masih waras untuk mendahulukan nyawa Nayla di atas segalanya. Sambil mendekap erat tubuh putrinya yang semakin lemas, Citra mempercepat langkah, setengah berlari menuju rumah Pak RT di ujung kompleks. Air mata kemarahan dan ketakutan menyatu, membasahi wajahnya yang pucat.Sesampainya di depan rumah Pak RT, Citra langsung menggedor pagar besi dengan sisa-sisa tenaganya."Pak RT! Tolong, Pak! Ini Citra... Nayla sakit parah!" jerit Citra dengan suara serak.Beruntung, Pak RT yang memang dikenal cekatan dan berjiwa sosial tinggi belum sepenuhnya terlelap karena baru saja selesai meronda. Mendengar teriakan panik dari warganya, beliau segera membuka pintu dan terkejut melihat kondisi Citra yang berantakan dengan anak dalam dekapannya."Astaga, Mbak Citra! Ini anaknya kenapa? Panas sekali badannya!" ujar Pak RT panik setelah menyentuh lengan kecil Nayla yang meracau. Tanpa banyak tanya mengenai keberadaan Rian, Pak RT langsung
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.