LOGINAureliana Hart hanyalah seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu di sebuah kafe demi membiayai hidup dan pengobatan ibunya. Hidupnya berubah dalam satu malam ketika tanpa sengaja ia menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh Damian Varez—CEO tampan yang dipuja publik, sekaligus pemimpin organisasi mafia paling berbahaya di kota. Alih-alih membungkamnya dengan peluru, Damian justru membawa Aurel ke mansion pribadinya. "Mulai malam ini, kau tinggal bersamaku." Sejak saat itu, Aurel menjadi tawanan di dunia yang penuh darah, pengkhianatan, dan kekuasaan. Semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Damian mengikatnya dengan perlindungan yang terasa seperti penjara. Namun, Aurel segera menyadari bahwa Damian tidak menyembunyikan satu rahasia saja. Masa lalu keluarganya, identitasnya yang telah lama dikubur, hingga perang antar keluarga mafia ternyata saling berkaitan. Di tengah ancaman yang datang dari segala arah, Aurel harus memilih: mengungkap seluruh kebenaran dan menghancurkan pria yang mulai dicintainya... atau tetap berada di sisi sang mafia obsesif yang rela mengorbankan segalanya demi melindunginya. "Kalau seluruh dunia mengincarmu... biarkan aku menjadi musuh mereka semua."
View MoreHujan turun sejak sore tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Butiran air menghantam kaca-kaca gedung pencakar langit, membentuk garis-garis tipis yang perlahan mengaburkan cahaya kota. Di balik gemerlap lampu yang terlihat mewah, kota itu menyimpan sisi lain yang tak pernah masuk dalam berita. Dunia yang berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat biasa, tetapi tak pernah benar-benar terlihat. Dunia itu dipenuhi uang, kekuasaan dan darah.
Sementara sebagian orang menghabiskan malam di restoran mahal atau menghadiri pesta eksklusif, Aureliana Hart justru masih berdiri di balik meja kasir sebuah kafe kecil di kawasan bisnis. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tersenyum ramah kepada pelanggan terakhir sebelum membungkukkan badan.
"Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Pintu kafe berbunyi pelan ketika pelanggan itu keluar. Setelah memastikan tak ada lagi pesanan yang masuk, Aurel mengembuskan napas panjang.
"Punggungku rasanya mau patah," gumamnya sambil meregangkan bahu.
Rekan kerjanya, Nisa, terkekeh. "Siapa suruh ambil sif malam terus?"
Aurel hanya tersenyum tipis. "Kalau bukan aku, siapa lagi yang bayar biaya rumah sakit?"
Senyuman Nisa perlahan menghilang. Ia tahu Aurel tidak sedang bercanda, sudah hampir dua tahun terakhir, Aurel menjalani kehidupan yang melelahkan. Pagi hingga siang ia kuliah tingkat akhir di fakultas bisnis. Sore hingga tengah malam bekerja di kafe. Setelah itu, jika masih sempat, ia akan mampir ke rumah sakit untuk menemani ibunya sebelum pulang ke kontrakan kecil yang mereka tinggali.
Banyak teman seangkatannya memilih menyerah ketika tugas akhir mulai menumpuk. Namun Aurel tidak memiliki pilihan itu, ia harus lulus, ia harus bekerja dan yang terpenting ia harus memastikan ibunya tetap bisa menjalani pengobatan. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari rumah sakit muncul di layar. "Jangan lupa jadwal kontrol Ny. Maria Hart hari Kamis pukul 09.00."
Tatapan Aurel melembut. "Ibu pasti sudah tidur sekarang."
Tanpa sadar, ia menggenggam liontin perak kecil yang tergantung di lehernya. Liontin berbentuk ukiran bunga sederhana itu adalah satu-satunya peninggalan yang selalu ia pakai sejak kecil. Ayah angkatnya, Gabriel Hart, pernah berkata bahwa liontin itu ditemukan bersama dirinya ketika masih bayi. Meski tidak mengetahui asal-usulnya, Aurel selalu menganggap benda itu sebagai pembawa keberuntungan.
"Sudah selesai beres-beres?" Suara sang manajer membuat Aurel menoleh.
"Sudah, Pak."
"Bagus."
Pria paruh baya itu tampak menghela napas. "Sayangnya ada masalah sedikit."
Aurel mengernyit. "Apa, Pak?"
"Supplier salah mengirim satu kardus kopi premium. Mereka menaruhnya di gudang lama dekat dermaga. Besok pagi barang itu harus sudah ada di sini. Bisa tolong ambil sekarang?"
"Sendirian?"
"Iya. Cuma sebentar, kok. Gudangnya juga tidak jauh."
Aurel sempat ragu, gudang lama itu berada di kawasan pelabuhan yang mulai sepi pada malam hari. Namun mengingat ia sudah beberapa kali ke sana bersama kurir, tempat itu sebenarnya tidak terlalu asing.
"Baik, Pak."
"Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa."
Setelah berganti jaket dan mengenakan tudung kepala, Aurel keluar dari kafe, udara malam langsung menyambutnya dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Jalanan mulai lengang lampu-lampu toko satu per satu dipadamkan hanya suara hujan dan deru kendaraan yang sesekali melintas yang menemani langkahnya. Sekitar lima belas menit kemudian, suasana berubah drastis.
Gedung-gedung tinggi berganti menjadi deretan gudang tua dengan dinding kusam, lampu jalan tidak sebanyak di pusat kota, sebagian bahkan sudah mati. Angin laut bertiup kencang membawa aroma garam dan besi berkarat.
Aurel memeluk kedua lengannya. "Semoga cepat selesai."
Ia membuka aplikasi peta untuk memastikan lokasi gudang yang dimaksud. "Gudang Nomor Tujuh—"
Pandangan matanya mencari angka yang tertera di tiap bangunan, satu, tiga, lima. "Berarti tinggal dua gudang lagi."
Saat hendak melangkah, sebuah suara berat terdengar samar dari arah bangunan paling ujung, awalnya Aurel mengira itu hanya suara pekerja malam. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar seseorang berteriak.
"Tolong ... jangan bunuh aku!"
Langkah Aurel langsung terhenti, jantungnya berdetak lebih cepat suara itu berasal dari dalam gudang. Disusul suara lain yang jauh lebih tenang.
"Kau tahu aturan organisasi." Suara pria itu begitu datar.
Tidak tinggi, tidak keras, tetapi justru terdengar jauh lebih mengerikan. Rasa penasaran bercampur cemas membuat Aurel tanpa sadar mendekati pintu gudang yang sedikit terbuka. Ia hanya ingin memastikan tidak ada orang yang membutuhkan bantuan.
Perlahan ia mengintip melalui celah pintu dan seketika, seluruh tubuhnya membeku. Di tengah gudang yang remang-remang, belasan pria berpakaian jas hitam berdiri membentuk lingkaran. Di tengah mereka, seorang pria berlutut dengan wajah dipenuhi darah. Tangannya terikat, bibirnya gemetar, sementara di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sorot matanya dingin. Wajahnya tampan, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan semua orang di ruangan itu menundukkan kepala kepadanya. Seolah pria tersebut adalah penguasa yang tak boleh dibantah.
"Maafkan saya, Tuan Damian," isak pria yang berlutut itu.
"Saya dijebak."
Pria bernama Damian tidak langsung menjawab, ia hanya menatap orang di hadapannya dalam diam. Tatapan yang membuat udara di sekitar seolah membeku, beberapa detik berlalu, lalu Damian mengulurkan tangan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Salah satu pria berbadan besar yang berdiri di sampingnya segera meletakkan sebuah pistol hitam di telapak tangan sang pemimpin. Suasana di dalam gudang mendadak sunyi, tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras.
Pria yang berlutut itu mulai menangis. "To-Tolong, Tuan Damian ... saya bersumpah tidak pernah mengkhianati keluarga Varez! Beri saya satu kesempatan lagi!”
Damian memiringkan kepalanya sedikit, tatapan matanya tetap dingin. "Hanya orang bodoh yang percaya pengkhianat pantas diberi kesempatan kedua."
Klik, suara kokang pistol terdengar begitu jelas. Aurel refleks menutup mulutnya sendiri, matanya membulat, tubuhnya gemetar hebat. "T-Tidak."
Dor! Suara tembakan menggema memenuhi gudang, tubuh pria itu ambruk seketika darah segar mengalir membasahi lantai beton. Tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan. Semua orang di sana tetap berdiri tegak seolah pembunuhan itu hanyalah rutinitas biasa, Damian menyerahkan kembali pistolnya.
"Bersihkan."
"Ya, Tuan."
Dua orang segera membawa jasad itu pergi, sementara beberapa lainnya mulai membersihkan noda darah dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Aurel mundur satu langkah, napasnya memburu ia harus pergi sekarang. Perlahan ia memutar tubuhnya, satu langkah, dua langkah. Namun krek! Sepatu yang dikenakannya tanpa sengaja menginjak potongan papan kayu tua. Suara patahan itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan.
Semua orang langsung berhenti bergerak, jantung Aurel serasa berhenti berdetak. Damian perlahan mengangkat kepalanya, tatapan hitamnya mengarah tepat ke pintu gudang. Tidak marah, tidak terkejut hanya sangat mematikan.
"Ada orang." Kalimat singkat itu membuat seluruh anak buahnya spontan mencabut senjata.
"Sisir seluruh area."
"Jangan biarkan siapa pun keluar."
Dalam hitungan detik, suara langkah kaki memenuhi gudang. Aurel spontan berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus hujan, ia tidak lagi memikirkan gudang. Tidak memikirkan kopi, tidak memikirkan apa pun yang ada di pikirannya hanya satu.
Bertahan hidup. Namun tanpa Aurel sadari, sejak langkah pertamanya meninggalkan gudang itu, takdirnya telah berubah dan seseorang telah memutuskan bahwa gadis itu tidak boleh dibiarkan menghilang.
Udara pagi di Mansion Varez terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar sama sekali tidak mampu menghangatkan suasana. Sejak kedatangan Selena semalam, seluruh mansion berubah tegang, para pelayan berjalan lebih pelan, pengawal berjaga dengan jumlah dua kali lebih banyak bahkan Viktor terlihat mondar-mandir sejak subuh sambil menerima laporan dari anak buahnya. Di sisi lain mansion Aurel berdiri di depan jendela kamarnya, luka di lengannya mulai mengering. Namun pikirannya justru semakin penuh, ia memandangi halaman belakang yang dipenuhi pengawal."Semakin dijaga..." gumamnya pelan. "semakin sulit aku keluar."Tok...Tok...Tok...Suara ketukan membuat Aurel menoleh. "Masuk."Pintu terbuka, Lorenzo masuk sambil membawa dua cangkir kopi. "Pagi."Aurel mengangkat sebelah alis. "Aku tidak pesan kopi."Lorenzo tertawa kecil. "Aku tahu.""Tapi aku yang ingin minum." Ia meletakkan satu cangkir di atas meja."Lagipula aku bosan minum sendirian." Aurel
Suasana Mansion Varez berubah drastis. Jika beberapa menit yang lalu seluruh pengawal masih sibuk mengejar penyusup, kini mereka berdiri berjajar rapi di sepanjang tangga utama, tak seorang pun berbicara, tak seorang pun berani bergerak sembarangan. Bahkan para pelayan yang biasanya lalu-lalang kini memilih menundukkan kepala sambil berdiri di sisi dinding. Keheningan itu terasa begitu menekan, hanya suara mesin mobil yang baru saja berhenti di halaman depan yang terdengar jelas. Damian berdiri di puncak tangga utama, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Namun Viktor yang berdiri di sampingnya mengetahui satu hal, tuannya sedang tidak menyukai situasi ini.Brak! Pintu utama mansion terbuka perlahan, seorang wanita melangkah masuk dengan anggun. Gaun hitam panjang membalut tubuhnya dengan sempurna rambut hitam bergelombang terurai hingga pinggang. Sepasang sepatu hak tinggi berbunyi pelan setiap kali menyentuh lantai marmer.Tok...Tok...Tok...Ia melepaskan kacamata hitamnya, tatapan tajam
Dor! Suara tembakan memecah keheningan lorong Mansion Varez, peluru menghantam dinding hanya beberapa senti dari kepala pria bertopeng. Serangan itu memaksanya melompat mundur. Aurel yang sejak tadi memejamkan mata perlahan membukanya, napasnya masih memburu. Jantungnya berdegup begitu keras hingga seolah ingin keluar dari dadanya. Di ujung lorong Damian Varez berdiri tegak dengan pistol hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Tatapan matanya begitu dingin, bukan kepada Aurel. Melainkan kepada pria bertopeng yang baru saja mencoba menghabisi nyawa gadis itu."Berani sekali..." Suara Damian terdengar rendah. "Menyentuh milikku."Kalimat itu membuat seluruh lorong mendadak sunyi, bahkan Viktor yang baru tiba bersama belasan pengawal tampak membeku sesaat.Pria bertopeng tertawa pelan. "Jadi...""Akhirnya The Devil sendiri turun tangan."Damian tidak menjawab, ia melangkah perlahan. Setiap langkahnya memantulkan gema di lorong marmer yang panjang.Tok...Tok...Tok...Aura menekan yang
Malam di Mansion Varez kembali diselimuti keheningan. Hujan yang sejak sore turun tanpa henti akhirnya berubah menjadi gerimis tipis. Angin malam berhembus melewati pepohonan cemara yang berjajar di halaman luas mansion, membuat ranting-rantingnya bergesekan pelan. Di lantai dua, Aureliana masih belum bisa memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi jendela besar yang memperlihatkan halaman belakang mansion. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, tentang Damian, tentang organisasi Varez dan tentang dunia gelap yang selama ini ternyata hidup berdampingan dengan kehidupan biasa."Aku harus keluar dari sini," bisiknya lirih.Namun setelah percobaan pelarian semalam gagal total, Aurel sadar bahwa setiap langkahnya kini pasti diawasi lebih ketat. Ia mengembuskan napas panjang, perutnya terasa kosong. Sejak sore ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang diantar Martha, bukan karena mogok makan. Melainkan karena pikirannya terlalu kacau.Tok...Tok...Tok...Suara ketukan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.