Terjebak Dengan Mafia Obsesif

Terjebak Dengan Mafia Obsesif

last updateLast Updated : 2026-07-14
By:  Hime_HikariUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
32views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aureliana Hart hanyalah seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu di sebuah kafe demi membiayai hidup dan pengobatan ibunya. Hidupnya berubah dalam satu malam ketika tanpa sengaja ia menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh Damian Varez—CEO tampan yang dipuja publik, sekaligus pemimpin organisasi mafia paling berbahaya di kota. Alih-alih membungkamnya dengan peluru, Damian justru membawa Aurel ke mansion pribadinya. "Mulai malam ini, kau tinggal bersamaku." Sejak saat itu, Aurel menjadi tawanan di dunia yang penuh darah, pengkhianatan, dan kekuasaan. Semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Damian mengikatnya dengan perlindungan yang terasa seperti penjara. Namun, Aurel segera menyadari bahwa Damian tidak menyembunyikan satu rahasia saja. Masa lalu keluarganya, identitasnya yang telah lama dikubur, hingga perang antar keluarga mafia ternyata saling berkaitan. Di tengah ancaman yang datang dari segala arah, Aurel harus memilih: mengungkap seluruh kebenaran dan menghancurkan pria yang mulai dicintainya... atau tetap berada di sisi sang mafia obsesif yang rela mengorbankan segalanya demi melindunginya. "Kalau seluruh dunia mengincarmu... biarkan aku menjadi musuh mereka semua."

View More

Chapter 1

Bab 1 Saksi yang Tidak Seharusnya Hidup

Hujan turun sejak sore tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Butiran air menghantam kaca-kaca gedung pencakar langit, membentuk garis-garis tipis yang perlahan mengaburkan cahaya kota. Di balik gemerlap lampu yang terlihat mewah, kota itu menyimpan sisi lain yang tak pernah masuk dalam berita. Dunia yang berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat biasa, tetapi tak pernah benar-benar terlihat. Dunia itu dipenuhi uang, kekuasaan dan darah.

Sementara sebagian orang menghabiskan malam di restoran mahal atau menghadiri pesta eksklusif, Aureliana Hart justru masih berdiri di balik meja kasir sebuah kafe kecil di kawasan bisnis. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tersenyum ramah kepada pelanggan terakhir sebelum membungkukkan badan.

"Terima kasih. Hati-hati di jalan."

Pintu kafe berbunyi pelan ketika pelanggan itu keluar. Setelah memastikan tak ada lagi pesanan yang masuk, Aurel mengembuskan napas panjang.

"Punggungku rasanya mau patah," gumamnya sambil meregangkan bahu.

Rekan kerjanya, Nisa, terkekeh. "Siapa suruh ambil sif malam terus?"

Aurel hanya tersenyum tipis. "Kalau bukan aku, siapa lagi yang bayar biaya rumah sakit?"

Senyuman Nisa perlahan menghilang. Ia tahu Aurel tidak sedang bercanda, sudah hampir dua tahun terakhir, Aurel menjalani kehidupan yang melelahkan. Pagi hingga siang ia kuliah tingkat akhir di fakultas bisnis. Sore hingga tengah malam bekerja di kafe. Setelah itu, jika masih sempat, ia akan mampir ke rumah sakit untuk menemani ibunya sebelum pulang ke kontrakan kecil yang mereka tinggali.

Banyak teman seangkatannya memilih menyerah ketika tugas akhir mulai menumpuk. Namun Aurel tidak memiliki pilihan itu, ia harus lulus, ia harus bekerja dan yang terpenting ia harus memastikan ibunya tetap bisa menjalani pengobatan. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari rumah sakit muncul di layar. "Jangan lupa jadwal kontrol Ny. Maria Hart hari Kamis pukul 09.00."

Tatapan Aurel melembut. "Ibu pasti sudah tidur sekarang."

Tanpa sadar, ia menggenggam liontin perak kecil yang tergantung di lehernya. Liontin berbentuk ukiran bunga sederhana itu adalah satu-satunya peninggalan yang selalu ia pakai sejak kecil. Ayah angkatnya, Gabriel Hart, pernah berkata bahwa liontin itu ditemukan bersama dirinya ketika masih bayi. Meski tidak mengetahui asal-usulnya, Aurel selalu menganggap benda itu sebagai pembawa keberuntungan.

"Sudah selesai beres-beres?" Suara sang manajer membuat Aurel menoleh.

"Sudah, Pak."

"Bagus."

Pria paruh baya itu tampak menghela napas. "Sayangnya ada masalah sedikit."

Aurel mengernyit. "Apa, Pak?"

"Supplier salah mengirim satu kardus kopi premium. Mereka menaruhnya di gudang lama dekat dermaga. Besok pagi barang itu harus sudah ada di sini. Bisa tolong ambil sekarang?"

"Sendirian?"

"Iya. Cuma sebentar, kok. Gudangnya juga tidak jauh."

Aurel sempat ragu, gudang lama itu berada di kawasan pelabuhan yang mulai sepi pada malam hari. Namun mengingat ia sudah beberapa kali ke sana bersama kurir, tempat itu sebenarnya tidak terlalu asing.

"Baik, Pak."

"Maaf merepotkan."

"Tidak apa-apa."

Setelah berganti jaket dan mengenakan tudung kepala, Aurel keluar dari kafe, udara malam langsung menyambutnya dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Jalanan mulai lengang lampu-lampu toko satu per satu dipadamkan hanya suara hujan dan deru kendaraan yang sesekali melintas yang menemani langkahnya. Sekitar lima belas menit kemudian, suasana berubah drastis.

Gedung-gedung tinggi berganti menjadi deretan gudang tua dengan dinding kusam, lampu jalan tidak sebanyak di pusat kota, sebagian bahkan sudah mati. Angin laut bertiup kencang membawa aroma garam dan besi berkarat.

Aurel memeluk kedua lengannya. "Semoga cepat selesai."

Ia membuka aplikasi peta untuk memastikan lokasi gudang yang dimaksud. "Gudang Nomor Tujuh—"

Pandangan matanya mencari angka yang tertera di tiap bangunan, satu, tiga, lima. "Berarti tinggal dua gudang lagi."

Saat hendak melangkah, sebuah suara berat terdengar samar dari arah bangunan paling ujung, awalnya Aurel mengira itu hanya suara pekerja malam. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar seseorang berteriak.

"Tolong ... jangan bunuh aku!"

Langkah Aurel langsung terhenti, jantungnya berdetak lebih cepat suara itu berasal dari dalam gudang. Disusul suara lain yang jauh lebih tenang.

"Kau tahu aturan organisasi." Suara pria itu begitu datar.

Tidak tinggi, tidak keras, tetapi justru terdengar jauh lebih mengerikan. Rasa penasaran bercampur cemas membuat Aurel tanpa sadar mendekati pintu gudang yang sedikit terbuka. Ia hanya ingin memastikan tidak ada orang yang membutuhkan bantuan.

Perlahan ia mengintip melalui celah pintu dan seketika, seluruh tubuhnya membeku. Di tengah gudang yang remang-remang, belasan pria berpakaian jas hitam berdiri membentuk lingkaran. Di tengah mereka, seorang pria berlutut dengan wajah dipenuhi darah. Tangannya terikat, bibirnya gemetar, sementara di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna.

Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sorot matanya dingin. Wajahnya tampan, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan semua orang di ruangan itu menundukkan kepala kepadanya. Seolah pria tersebut adalah penguasa yang tak boleh dibantah.

"Maafkan saya, Tuan Damian," isak pria yang berlutut itu.

"Saya dijebak."

Pria bernama Damian tidak langsung menjawab, ia hanya menatap orang di hadapannya dalam diam. Tatapan yang membuat udara di sekitar seolah membeku, beberapa detik berlalu, lalu Damian mengulurkan tangan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Salah satu pria berbadan besar yang berdiri di sampingnya segera meletakkan sebuah pistol hitam di telapak tangan sang pemimpin. Suasana di dalam gudang mendadak sunyi, tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras.

Pria yang berlutut itu mulai menangis. "To-Tolong, Tuan Damian ... saya bersumpah tidak pernah mengkhianati keluarga Varez! Beri saya satu kesempatan lagi!”

Damian memiringkan kepalanya sedikit, tatapan matanya tetap dingin. "Hanya orang bodoh yang percaya pengkhianat pantas diberi kesempatan kedua."

Klik, suara kokang pistol terdengar begitu jelas. Aurel refleks menutup mulutnya sendiri, matanya membulat, tubuhnya gemetar hebat. "T-Tidak."

Dor! Suara tembakan menggema memenuhi gudang, tubuh pria itu ambruk seketika darah segar mengalir membasahi lantai beton. Tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan. Semua orang di sana tetap berdiri tegak seolah pembunuhan itu hanyalah rutinitas biasa, Damian menyerahkan kembali pistolnya.

"Bersihkan."

"Ya, Tuan."

Dua orang segera membawa jasad itu pergi, sementara beberapa lainnya mulai membersihkan noda darah dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Aurel mundur satu langkah, napasnya memburu ia harus pergi sekarang. Perlahan ia memutar tubuhnya, satu langkah, dua langkah. Namun krek! Sepatu yang dikenakannya tanpa sengaja menginjak potongan papan kayu tua. Suara patahan itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan.

Semua orang langsung berhenti bergerak, jantung Aurel serasa berhenti berdetak. Damian perlahan mengangkat kepalanya, tatapan hitamnya mengarah tepat ke pintu gudang. Tidak marah, tidak terkejut hanya sangat mematikan.

"Ada orang." Kalimat singkat itu membuat seluruh anak buahnya spontan mencabut senjata.

"Sisir seluruh area."

"Jangan biarkan siapa pun keluar."

Dalam hitungan detik, suara langkah kaki memenuhi gudang. Aurel spontan berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus hujan, ia tidak lagi memikirkan gudang. Tidak memikirkan kopi, tidak memikirkan apa pun yang ada di pikirannya hanya satu.

Bertahan hidup. Namun tanpa Aurel sadari, sejak langkah pertamanya meninggalkan gudang itu, takdirnya telah berubah dan seseorang telah memutuskan bahwa gadis itu tidak boleh dibiarkan menghilang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status