分享

Akhirnya Dimulai

last update publish date: 2026-07-29 22:32:04

Pagi menyelinap masuk melalui celah tirai.

Garis-garis cahaya jatuh di atas lantai marmer, merambat hingga kaki ranjang.

Elena membuka mata.

Kepalanya belum bergerak ketika tatapannya bergeser ke sisi lain ranjang.

Adriano masih tertidur.

Satu lengannya terlipat di bawah kepala. Napasnya teratur. Memar di rahang kiri tampak semakin jelas diterpa cahaya pagi. Garis kebiruan itu memanjang hingga sudut bibir yang masih menyisakan luka tipis.

Tatapannya tak segera beralih.

Ujung jarinya semp
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Restu yang Tidak Pernah Ada

    Tin. Tin. Tin. Suara alarm memantul di halaman depan mansion. Anjing-anjing penjaga di sisi belakang rumah ikut menggonggong. Burung-burung beterbangan dari pucuk cemara. Dua penjaga yang tengah berjaga di dekat gerbang serempak menoleh. Elena menarik kunci menjauh dari pintu sedan. Napasnya belum kembali teratur. Anak kunci itu dipandang beberapa saat sebelum kembali diarahkan ke lubang kunci. Meleset. Ia mengembuskannya pelan. "Signora." Suara itu datang dari samping. Dua penjaga telah berdiri beberapa langkah darinya. Elena mengangkat wajah. "Aku ingin mengambil map milik Signore." Tangannya mengangkat kunci yang masih digenggam. "Tapi mobilnya tiba-tiba berbunyi." Kedua penjaga saling bertukar pandang. Tak satu pun segera bergerak. "Signore akan bekerja dari rumah." Baru setelah nama itu disebut, salah seorang mengulurkan tangan. "Biarkan saya." Elena menyerahkan kunci tersebut. Pria itu menekan sebuah tombol. Alarm langsung terdiam. Keheningan kembali mem

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Akhirnya Dimulai

    Pagi menyelinap masuk melalui celah tirai. Garis-garis cahaya jatuh di atas lantai marmer, merambat hingga kaki ranjang. Elena membuka mata. Kepalanya belum bergerak ketika tatapannya bergeser ke sisi lain ranjang. Adriano masih tertidur. Satu lengannya terlipat di bawah kepala. Napasnya teratur. Memar di rahang kiri tampak semakin jelas diterpa cahaya pagi. Garis kebiruan itu memanjang hingga sudut bibir yang masih menyisakan luka tipis. Tatapannya tak segera beralih. Ujung jarinya sempat terangkat, lalu berhenti di tengah jalan. Perlahan tangannya kembali turun ke atas selimut. Elena bangkit. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Selimut yang menutupi kakinya diremas tanpa sadar. Suara itu kembali memenuhi kepalanya. Kalau memang itu hidup yang kau pilih... Matanya terpejam. Jangan menyesalinya. Jemarinya mengencang. Aku tidak akan kembali untuk menyelamatkanmu. Kasur bergoyang pelan. Adriano membuka mata. Tatapannya langsung menemukan Elena yang masih duduk

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu yang Tidak Pernah Dimiliki

    Sedan hitam berhenti di bawah beranda mansion. Mesin mati. Keheningan segera mengambil alih. Adriano turun lebih dulu. Elena menyusul dari sisi lain. Pintu utama telah terbuka. Seorang pelayan membungkukkan kepala ketika mereka melintas, lalu menutup kembali daun pintu tanpa suara. Foyer hanya diterangi lampu-lampu dinding yang menyisakan cahaya keemasan di sudut ruangan. Rumah sebesar itu terasa nyaris kosong. Tak terdengar langkah. Tak terdengar suara pelayan. Mereka baru beberapa langkah melewati ruang utama ketika Adriano berhenti. Elena mengikuti arah pandangnya. Valerius duduk di kursi rodanya. Menghadap ke arah mereka. Kedua tangannya bertumpu di atas sandaran. Tak ada map. Tak ada gelas kopi. Tak ada buku. Seolah ia memang tak melakukan apa pun selain menunggu. "Belum tidur." Valerius tidak menjawab. Tatapannya singgah pada memar di rahang Adriano. Naik ke pelipis yang masih menyisakan bekas benturan. Lalu beralih kepada Elena. "Jadi benar." Adriano tak

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Belum Bergerak

    Lampu-lampu proyek telah menyala. Cahaya putih menggantung di antara rangka baja yang belum selesai berdiri. Di kejauhan, sebuah derek berputar pelan sebelum akhirnya berhenti. Forklift terakhir melintas menuju gerbang keluar, disusul bunyi rantai yang bergesekan dengan kontainer. Pelabuhan mulai kehilangan suaranya. Di dalam kantor sementara, ruangan itu perlahan kembali menyerupai tempat bekerja. Elena memasukkan buku laporan terakhir ke dalam lemari arsip. Pintu lemari ditutup pelan. Di sudut ruangan, Adriano mendorong meja yang sempat bergeser akibat benturan. Kaki meja bergesek dengan lantai baja sebelum kembali tepat pada bekas posisinya. Kursi yang masih utuh disandarkan ke bawah meja. Blueprint diratakan. Map-map proyek ditumpuk menurut tanggal. Ikatan-ikatan uang masih berserakan di lantai. Tak ada yang menyentuhnya. Tak satu pun dari mereka membicarakan apa yang terjadi sore tadi. Yang terdengar hanya gesekan kayu, bunyi map yang saling bertumpuk, dan napas yang

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Ikut Pergi

    Bau mesiu masih menggantung di udara. Pintu kontainer telah kembali tertutup. Di luar, peluit pengawas terdengar panjang. Disusul deru forklift yang kembali bergerak, rantai besi beradu, dan suara kontainer yang diturunkan ke atas trailer. Pelabuhan melanjutkan harinya. Di dalam ruangan, tak ada yang berpindah. Elena masih menghadap pintu. Tatapannya tertahan pada ambang tempat Julian menghilang. Adriano berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pistol masih berada di tangannya. Moncongnya telah mengarah ke lantai. "Dia sudah pergi." Suara itu rendah. Elena tak menoleh. Tatapannya tetap berada di depan. "Masih ingin melihat ke sana?" Baru kali ini Elena menarik napas. "Aku memastikan dia benar-benar keluar." "Supaya selamat." Elena menutup mata sesaat. "Supaya kau tidak berubah pikiran." Sunyi memenuhi ruangan. Adriano menggeser pengaman pistol dengan ibu jarinya. Bunyi logam terdengar pendek. Magasin terlepas ke telapak tangannya. Ia memeriksa ruang peluru sekil

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Dia Pergi

    Moncong pistol itu tetap terarah. Tak bergeser. Elena masih berdiri di depan Julian. Tubuhnya menjadi satu-satunya jarak di antara laras pistol dan pria yang berada di belakangnya. Di ambang pintu, para pengawas dan staf membeku. Tak seorang pun berani melangkah masuk. "Jangan, Adriano." Suara Elena terdengar pelan. Cukup untuk memecah sunyi. Adriano tak menurunkan tangannya. Tatapannya hanya tertuju kepada perempuan di depannya. "Menyingkir." Elena menggeleng. "Turunkan pistolmu." Tak ada perubahan. "Kenapa?" Satu kata itu jatuh datar. Elena menatapnya. "Apa?" "Kenapa kau melindunginya?" Sunyi kembali memenuhi ruangan. Adriano masih memegang pistol itu dengan mantap. "Siapa dia bagimu?" Elena menarik napas. "Teman." Tak lebih. Napas Julian tertahan. Jemarinya yang bertumpu di lantai mengepal. Darah dari pelipisnya menetes pelan ke permukaan baja. Tak ada satu kata pun yang menyusul. Di ambang pintu, seorang pengawas tanpa sadar mundur setapak. Tak ada y

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status