author-banner
Fei Adhista
Fei Adhista
Author

Novel-novel oleh Fei Adhista

Antara Misi Dan Hati

Antara Misi Dan Hati

Lettu Reina Wardhani, terlibat dalam misi perdamaian di perbatasan Negeri Malaca dan Ghana setelah dia patah hati karena kekasihnya Dokter Vino pergi ke luar negeri tanpa kabar. Di tengah konflik berkepanjangan, ia bertemu dengan Kapten Arian yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Hingga Reina tersesat di Ghana dan bertemu dengan Mayor Satya Yudha Pratama seorang perwira militer yang misterius. Keduanya terikat dalam pernikahan yang awalnya hanya formalitas demi misi, namun perlahan benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, takdir membawa Reina kembali ke tanah airnya dengan membawa rahasia besar—kehamilan yang merupakan buah cintanya dengan Satya. Enam tahun berlalu, Reina membesarkan anak kembarnya, Reisya dan Revan, sambil menyembunyikan identitas ayah mereka. Ketika Reisya jatuh sakit dan membutuhkan donor yang cocok, Reina dihadapkan pada dilema besar mengungkap kebenaran kepada Satya atau mempertaruhkan nyawa putrinya?
Baca
Chapter: Langkah Terakhir
Ghana, dua bulan setelah peralihan tahta. Hari itu, aula istana tak lagi menjadi ruang untuk pertumpahan darah, tapi ruang upacara pelantikan yang damai. Kursi rakyat kembali terisi. Bendera tua yang sempat dibakar, kini dijahit ulang dan berkibar di atas menara istana. Rakyat berkumpul, bukan karena takut… tapi karena harapan. Di tengah barisan para bangsawan, mantan prajurit, dan wakil rakyat, seorang bocah berdiri di atas podium kecil. Di belakangnya berdiri dua sosok yang kini tak lagi dianggap buronan, melainkan pelindung bangsa: Satya dan Ardian. Maydiasta menatap ke arah rakyat yang memadati pelataran. Nafasnya bergetar, tapi tangan Satya menyentuh pundaknya. “Kau tidak sendiri,” bisik Satya. Dan Ardian menambahkan, “Kau akan jadi raja… bukan karena tahta. Tapi karena kau mencintai mereka.” Maydiasta pun melangkah maju, membuka mulut kecilnya dengan suara yang masih jernih: “Aku bukan pangeran yang hebat. Tapi aku adalah anak Ghana. Dan aku berjanji akan belajar,
Terakhir Diperbarui: 2025-07-13
Chapter: Bab 112 Akhir Peperangan
Satya berdiri tegap. Seragam gelap yang ia kenakan tak memuat satu pun lencana. Bukan karena tak layak, tapi karena hari ini bukan soal pangkat. Di sampingnya, Ardian bersandar di meja, lengannya masih diperban. Wajahnya tenang, tetapi mata menyimpan bara. “Rakyat Ghana…” suara Satya menggema dari mikrofon kecil yang terhubung ke jaringan siaran bawah tanah. “Hari ini, kalian berhak tahu kebenaran.” Kamera menyorot wajahnya. Tidak ada keraguan. Tidak ada kebohongan. Hanya keyakinan. “Selama ini, kalian dibohongi. Kami disebut pengkhianat. Kami dikurung. Difitnah. Tapi siapa dalangnya?” Ardian mengangkat sebuah dokumen dan menyodorkannya ke arah kamera. “Ini… bukti asli dari Kolonel Indra, yang disembunyikan sebelum ia tewas. Bima ingin menjadikan keponakannya anak dari adik perempuannya, sebagai pewaris takhta. Dia membunuh Arvid, memfitnahku, dan menjadikan Satya kambing hitam.” Layar di belakang mereka menampilkan wajah Tuan Halim, rekaman suara, dan data penyadapan. Semua dir
Terakhir Diperbarui: 2025-07-11
Chapter: Bab 111 Akar yang tak Pernah Mati
Dua tahun lalu, di Distrik Riven yang suram dan dilupakan, seorang pria tua bernama Letkol Anwar, pensiunan militer yang dulunya menjaga gerbang istana, tinggal di balik rak-rak jam rusak. Dari luar, tempat itu tampak seperti toko barang antik yang tak penting. Tapi di balik lantai kayu reyotnya, terhampar jaringan lorong rahasia yang membentang ke segala arah, tempat di mana sisa-sisa kekuatan yang disingkirkan oleh istana masih bernapas.Mereka menyebut diri mereka 'Tulang Akar'.Bagi Anwar dan para mantan prajurit yang setia pada kerajaan, tapi bukan pada kekuasaan, akar yang tersembunyi jauh lebih penting daripada cabang yang menjulang tinggi.Pada suatu malam yang dingin dan sunyi, seorang pangeran berdarah, dengan tatapan kosong dan napas berat, muncul di ambang lorong itu. Pangeran Ardian yang dituduh pemberontak, yang dibuang dari darah biru, duduk di lantai batu dengan lutut penuh lumpur.Letkol Anwar mendekatinya tanpa ragu.“Kau bukan pengkhianat, Pangeran,” katanya sambil
Terakhir Diperbarui: 2025-07-10
Chapter: Bab 110
Lokasi: Barak tua di batas utara Ghana, jam 20.11TV kecil berdebu itu masih menyala di sudut ruangan. Gambarnya tak stabil, tapi suara penyiar itu terdengar jelas.“…pemerintah kerajaan menetapkan dua buronan negara Pangeran Ardian dan Pangeran Satya. Dituduh menghasut pemberontakan, membunuh Pangeran Arvid, serta bekerja sama dengan militer asing…”Ditto menjatuhkan botol air di tangannya. Suara dentingnya memantul tajam.“Apa… ini bercanda?”“Ini…” Malik terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya menyapu layar seperti menolak percaya.“Satya?” Ditto mengulang, lebih ke dirinya sendiri.Malik bangkit. Langkahnya berat, tapi tegas. Ia mematikan TV.“Mereka memutar balik semuanya. Raja tidak bicara sepatah kata. Ini suara dewan.”“Tuan Halim,” gumam Ditto. “Itu dia... sialan itu...”Keduanya saling pandang. Dalam diam mereka mengerti Ini bukan sekadar pengkhianatan... ini pemusnahan karakter.“Kita harus cari Pangeran Satya,” ujar Ditto.“Dan Pangeran Ardian,” Malik menambahkan.“Bagaimana
Terakhir Diperbarui: 2025-07-09
Chapter: Bab 109 Kota Yang Tertidur
Istana Ghana, Ruang Rapat DalamRaja Mahesa duduk di kursi takhta kecil, matanya sembab. Tangannya memegang laporan kematian Arvid. Di sekitarnya duduk para menteri dalam negeri, penasihat senior, dan seorang pria berambut putih mengenakan jubah biru tua: Tuan Halim.“Yang Mulia,” ujar Tuan Halim, suaranya pelan namun berisi racun. “Kami telah menyelidiki lebih dalam... dan menemukan indikasi bahwa Ardian dan Satya tengah merancang pemberontakan.”Raja Mahesa mengerutkan kening. “Laporan itu tak cukup. Ardian terluka parah, Satya dalam pemulihan.”Tuan Halim melangkah maju. Ia meletakkan dua dokumen di meja raja.Satu berupa rekaman audio.Satu lagi foto-foto hasil pengawasan drone.“Mereka pernah bertemu dengan utusan Malaca di perbatasan. Dan ini...” Ia menekan tombol kecil.Dari alat pemutar suara, terdengar percakapanArdian (suara hasil suntingan). “Jika raja tak menyerahkan tahta, kita akan ambil dengan pak
Terakhir Diperbarui: 2025-07-08
Chapter: Bab 108 Surat yang Tak Pernah Sampai
Malam di Ghana begitu senyap. Lampu-lampu istana telah dipadamkan, dan gerbang utama dijaga dua kali lebih ketat dari biasanya. Namun di sebuah kediaman tua milik mantan penasihat militer yang sudah pensiun, Ardian duduk di bawah cahaya redup lentera minyak, membuka sepucuk surat dengan segel lilin yang tak ia kenali. Surat itu dikirim dengan tangan, tanpa nama, dan diselipkan ke dalam laporan logistik yang dibawa oleh salah satu pasukan cadangan dari selatan. Isinya singkat tapi mencabik. “Pangeran Arvid bukan satu-satunya calon pewaris. Di luar sana, Raja Mahesa telah menyembunyikan seorang anak dari darahnya sendiri, lahir dari saudara perempuan Kolonel Bima. Kau dan Satya hanya bagian dari permainan lebih besar. Jaga dirimu. – E” Ardian mengerutkan kening. Surat itu tidak membawa jawaban—justru menambah pertanyaan. Ia segera membakar surat itu setelah membacanya tiga kali. Tapi kata-kata terakhir masih terngiang dalam benaknya: “Kau dan Satya hanya bagian dari permainan leb
Terakhir Diperbarui: 2025-07-07
Menyesal Setelah Bercerai : Suamiku Ternyata Kaya Raya

Menyesal Setelah Bercerai : Suamiku Ternyata Kaya Raya

Reza pratama yang memiliki nama asli Elreza Arkha Wijaya pernah menjalani hidup dalam bayang-bayang hinaan dan penindasan dari mantan istrinya, Raysa Aulia Widya. Meskipun memberikan mahar sebesar 5 milyar saat menikah, hidup mereka tidak pernah bahagia. Raysa selalu merendahkan Reza karena statusnya sebagai pengangguran, hingga akhirnya menceraikannya dengan alasan malu memiliki suami yang dianggap tidak berguna. Setelah perceraian yang menyakitkan, Reza menerima warisan besar dari almarhum ayahnya, yang menjadikannya pemilik sebuah mal terkenal dan seorang direktur perusahaan ternama. Dengan kekayaan barunya, Reza merencanakan balas dendam terhadap keluarga Raysa. Namun, ia memilih menyembunyikan identitas dan kekayaannya, berpura-pura menjadi petugas keamanan di mal miliknya sendiri. Di mal tersebut, Reza bertemu dengan Rivia, seorang SPG yang penuh semangat dan baik hati. Tanpa disangka, Via adalah saudara tiri Raysa. Via juga memiliki dendam tersendiri terhadap keluarganya karena selalu diperlakukan dengan buruk. Elreza menggunakan via sebagai pion untuk membalas dendam, hingga akhirnya terungkap bahwa gadis yang menyelamatkan hidupnya selama ini bukanlah Raysa, melainkan Rivia.
Baca
Chapter: Akhir cerita
Eyang Wiryo terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, dan oksigen di hidungnya membuat semua orang yang hadir semakin khawatir. Suasana ruang perawatan terasa begitu tegang.Di sekelilingnya, berkumpul seluruh anggota keluarga yang selama ini terlibat dalam konflik warisan. Ada Reza, Via, Randi, Johan, Chandra, dan Bima, sang dalang dari semua kekacauan ini.Dengan suara bergetar, Eyang Wiryo berbicara, memecah kesunyian, "Aku tidak pernah membayangkan keluargaku akan berantakan seperti ini... Apa yang kalian semua cari? Harta? Kekuasaan? Apa semua itu lebih berharga dari keluarga kita?"Tak ada yang menjawab. Mereka hanya menunduk, entah karena merasa bersalah atau masih menyimpan amarah masing-masing.Eyang Wiryo menghela napas panjang. "Aku akan mengatakan sesuatu yang harus kalian dengar baik-baik. Reza adalah pemilik sah dari perusahaan keluarga kita. Semua harta yang kalian perebutkan berasal dari suamiku yang pertama, dan Bima... kamu bukan anak dari suami pertama
Terakhir Diperbarui: 2025-02-02
Chapter: Menerima Kenyataan
Chandra melangkah dengan cepat menuju kediaman ayahnya, Bima. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang berputar tanpa henti. Fakta bahwa Randi adalah saudara tirinya, dan Johan juga bagian dari skema besar ayahnya, membuatnya tidak bisa diam saja.Saat ia memasuki ruang kerja Bima, pria itu tampak tenang, duduk di balik meja besar dengan segelas teh di tangannya. Seakan tidak ada yang terjadi."Chandra," sapa Bima tanpa ekspresi. "Kau datang dengan wajah penuh amarah. Apa yang kau inginkan?"Chandra mengepalkan tangannya. "Aku ingin jawaban. Aku ingin tahu kenapa kau menyembunyikan fakta bahwa Randi adalah saudaraku! Kenapa kau memalsukan hasil DNA-nya?!"Bima meletakkan gelasnya dengan tenang, lalu menatap Chandra dalam-dalam. "Karena aku tidak pernah berniat mengakui Randi sebagai bagian dari keluarga ini."Chandra terhenyak. "Apa maksudmu?! Dia anakmu!"Bima mendengus kecil. "Dan itu adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi."Chandra semakin geram. "Bagaimana dengan Joh
Terakhir Diperbarui: 2025-01-31
Chapter: Pengkhianatan Keluarga
Setelah Johan berhasil ditangkap, Reza bersama Randi dan Via kembali ke tempat persembunyian mereka. Namun, meski Johan kini berada di tangan pihak berwenang, Reza masih merasa ada sesuatu yang belum selesai. Di tengah malam yang sunyi, Reza duduk di ruang kerja kecilnya, membaca kembali dokumen-dokumen yang mereka sita dari Johan. Namun, semakin ia membaca, semakin ia menyadari bahwa ada sosok lain yang lebih besar di balik ini semua. Nama Bima, pamannya sendiri, terus muncul dalam berbagai transaksi dan laporan rahasia. Reza menggertakkan giginya, tangannya mengepal. "Jadi selama ini… Paman Bima yang mengatur semuanya?" Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuatnya tersadar. Randi masuk dengan wajah penuh kebingungan. "Ada apa, Reza? Kau terlihat tegang," tanya Randi. Reza mengangkat salah satu dokumen dan melemparkannya ke meja. "Lihat ini. Nama Paman Bima ada di setiap transaksi ilegal Johan. Dia bukan hanya mengetahui semua ini, dia adalah dalangnya!" Randi membaca do
Terakhir Diperbarui: 2025-01-29
Chapter: Mulai Bergerak
Pagi itu, Reza menerima pesan dari Bayu. Isinya singkat, tetapi cukup membuat adrenalin Reza meningkat."Johan mulai bergerak. Dia tahu tentang dokumen itu. Hati-hati."Reza duduk di kursi, menatap papan penuh strategi di depannya. Ia tahu bahwa Johan tidak akan tinggal diam setelah mengetahui dokumen itu ada di tangan yang aman. Kini, semua yang telah ia persiapkan harus berjalan sempurna, atau semuanya akan sia-sia.Via muncul dari dapur, membawa secangkir teh untuk Reza. Ia menatap wajah Reza yang terlihat semakin lelah namun tetap penuh keyakinan.“Kamu yakin bisa mengatasi ini, Reza?” tanya Via pelan, duduk di depannya.Reza menatap Via dengan tatapan lembut namun penuh tekad. “Aku harus yakin, Via. Kalau aku nggak bergerak sekarang, Johan akan terus menghancurkan segalanya. Aku nggak akan membiarkan itu terjadi.”Via terdiam sejenak, lalu menggenggam tangan Reza. “Kalau kamu butuh bantuan, aku di sini. Jangan terlalu memaksakan diri, Reza.”Reza tersenyum kecil. Sentuhan Via mem
Terakhir Diperbarui: 2025-01-28
Chapter: awal dari akhir
Malam itu, Reza duduk di ruang tamu yang remang. Di depannya terdapat tumpukan dokumen penting yang baru saja ia dapatkan dari salah satu informannya. Wajahnya serius, penuh konsentrasi, membaca setiap detail yang bisa menjadi kelemahan Johan.“Reza, apa ini cukup untuk melawan dia?” tanya Randi sambil mendekati meja, pandangannya menyapu dokumen tersebut.“Ini lebih dari cukup,” jawab Reza, menutup map dengan tegas. “Dokumen ini adalah bukti nyata bahwa Johan terlibat dalam penyelundupan besar. Kalau kita bisa menyerahkannya ke pihak yang tepat, itu akan menghancurkan dia.”Via yang duduk di sofa terlihat gelisah. “Tapi Johan nggak akan tinggal diam. Dia pasti sudah tahu bahwa kita sedang bergerak melawannya.”Reza menatap Via dengan tatapan penuh keyakinan. “Aku tahu itu, Via. Tapi aku nggak akan biarkan dia menang. Ini tentang keadilan, bukan hanya untuk kita, tapi untuk semua orang yang sudah dia rugikan.”Pagi harinya, Reza mengumpulkan Randi dan Via di sebuah kafe kecil yang jau
Terakhir Diperbarui: 2025-01-27
Chapter: Serangan Balik
Keesokan paginya, Reza kembali ke apartemen dengan penampilan yang terlihat lelah, namun tatapannya masih penuh keyakinan. Via yang tengah duduk di ruang tamu langsung berdiri begitu melihat Reza masuk.“Kamu nggak apa-apa?” tanya Via, mendekat dengan nada penuh kekhawatiran.“Aku baik,” jawab Reza singkat. “Dokumen itu sudah aman. Sekarang kita hanya perlu menunggu langkah Johan berikutnya.”Randi, yang sejak tadi mengamati dengan cemas, akhirnya bersuara. “Reza, aku nggak ngerti kenapa kamu nggak membiarkan aku ikut tadi malam. Kalau mereka menyerang kamu di tengah jalan, gimana?”Reza menatap Randi dengan serius. “Karena aku butuh kamu di sini. Tugasmu menjaga Via, memastikan dia aman. Kalau aku gagal, setidaknya masih ada kamu di sini untuk melindungi dia.”Via yang mendengar ucapan itu merasa hatinya bergetar. Meskipun Reza tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, tindakan dan ucapannya selalu menunjukkan betapa ia peduli.Sore itu, ketika suasana sedikit tenang, p
Terakhir Diperbarui: 2025-01-26
Asmaraloka Sang Putri Pusaka

Asmaraloka Sang Putri Pusaka

Ia menikah… tanpa pengantin pria. Hanya sebilah keris yang menemaninya di pelaminan. Raras Ayudia Weningrum tak pernah menginginkan pernikahan ini. Ia datang ke pemilihan permaisuri untuk kalah, namun takdir malah menyeretnya menjadi istri Pangeran Rakai Indradipa Adiningrat, putra Raja Majakirana dari seorang ratu yang turun tahta, dan seorang panglima perang yang bahkan tak sudi menemuinya. Seminggu ia menunggu di istana yang dingin dan sunyi. Seminggu ia tidur sendiri di ranjang pengantin yang kosong. Hingga akhirnya, ia nekat menjemput suaminya di medan perang yang membawanya hingga ke Kerajaan Indralaya. Namun di tanah Indralaya, ia justru bertemu kembali dengan cinta lamanya, yang kini berkuasa sebagai raja. Dan di tengah intrik kerajaan, Raras dijadikan umpan hidup demi sebuah aliansi. Cinta, dendam, dan politik bercampur menjadi satu. Dan ketika semua lelaki berusaha mengatur langkahnya… Raras memutuskan menjadi pemain, bukan lagi bidak di papan catur.
Baca
Chapter: Bab 155
Malam di Indragiri jatuh cepat, seperti tirai yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan niat buruk. Api obor menyala di sepanjang tembok benteng, bayangan prajurit bergerak patah-patah di batu, menciptakan ilusi jumlah yang lebih besar dari kenyataan.Rakai berdiri di balik gudang garam tua di sisi barat pelabuhan sungai. Jubahnya gelap, menyatu dengan malam. Di sekelilingnya, pasukan kecil yang ia bawa dari Mandalajati berjongkok senyap. Tidak sampai seratus orang. Tapi semuanya pilihan. Orang-orang yang pernah bertempur bersamanya dan tahu satu hal pasti.Malam ini mereka tidak boleh kalah.“Gerbang air akan dibuka sebentar lagi,” bisik Arya, muncul dari balik bayangan. “Pengiriman senjata dari selatan. Atas nama Indragiri, tapi kuda-kudanya bercap Majakirana.”Rakai tersenyum tipis. Dingin.“Haryo bermain terlalu rakus,” gumamnya. “Ia lupa bau pengkhianatan selalu tertinggal.”Ia mengangkat tangan. Isyarat senyap menyebar. Dua orang bergerak memanjat dinding rendah. Yang lain menyu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-23
Chapter: Bab 154
Rakai mengangkat wajah ketika tabuhan genderang itu berhenti. Sunyi yang menyusul justru terasa lebih berbahaya.Ia menatap Raras, lalu ke arah pintu tertutup. “Wijaya tidak akan menahanmu lama jika dia merasa diuntungkan.”“Dan Haryo,” sahut Raras pelan, “akan memastikan kita saling membunuh tanpa ia harus mengotori tangannya.”Rakai mengangguk. “Karena itu aku datang sendiri. Pasukan yang kubawa hanya pengawal inti. Aku tidak ingin memberi Wijaya alasan menyebut ini invasi.”Raras tersenyum pahit. “Kau selalu berpikir selangkah ke depan. Tapi kali ini, kita berada di papan catur orang lain.”Langkah kaki terdengar di luar. Tidak tergesa. Terlalu tenang.Pintu kembali terbuka. Seorang pria berusia setengah baya masuk, pakaian kebesarannya sederhana namun berwibawa. Matanya tajam, menyapu ruangan sekali lalu berhenti pada Rakai.“Pangeran Rakai,” ujarnya. “Raja memintamu menghadap.”Rakai menoleh pada Raras. “Aku akan kembali.”Raras menahan lengannya. Pegangannya tidak kuat, namun cu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Chapter: Bab 153
Kabut Indragiri menyambut seperti dinding dingin ketika armada Rakai merapat sebelum matahari benar-benar naik.Sungai besar itu tenang di permukaan, namun arus di bawahnya kuat dan licik, sama seperti negeri yang menguasainya. Tebing-tebing hijau menjulang di kiri kanan, sementara menara pengawas Indragiri berdiri angkuh, benderanya berkibar perlahan seolah sudah menanti.Rakai berdiri di haluan kapal utama. Jubah perangnya basah oleh embun malam, rambutnya terikat rapi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah pelabuhan Indragiri yang mulai ramai oleh prajurit bersenjata tombak panjang dan perisai hitam berukir lambang singa.“Mereka tahu kita datang,” ujar salah satu panglima di belakangnya.“Tentu,” jawab Rakai singkat. “Indragiri tidak pernah buta.”Terompet panjang ditiup dari darat. Bukan tanda serangan, melainkan sambutan yang dingin dan resmi. Kapal-kapal Rakai dipersilakan merapat, namun formasi pasukan Indragiri sudah terbentuk rapat. Tidak ada celah, tidak ada keramahan.Begitu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Bab 152
Benturan itu tidak terjadi di medan perang.Ia lahir di balairung Majakirana, di antara kata-kata yang terlalu tajam untuk ditarik kembali.Pangeran Haryo datang ke istana Mandalajati tanpa pemberitahuan resmi. Tidak membawa pasukan besar, hanya pengawal inti, namun kehadirannya cukup membuat udara Majakirana mengeras. Ia melangkah masuk dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.Pangeran Laga menyambutnya berdiri, wajah tenang, tangan terlipat di belakang punggung.“Kau datang cepat,” ujar Laga. “Seolah takut kehilangan sesuatu.”Haryo tertawa kecil. “Aku justru datang untuk memastikan semuanya berada di tempat yang seharusnya.”Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Rakai yang berdiri di sisi kanan balairung.“Kau belum pergi,” kata Haryo, nadanya ringan. “Aku kira kau sudah berlayar ke Indragiri.”Rakai melangkah maju satu langkah. “Aku tidak perlu izinmu untuk bergerak.”Haryo menoleh penuh minat. “Benarkah? Kau lupa satu hal, adikku.”Ia mendekat, suaranya merenda
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: Bab 151
Kabar itu tiba di Majakirana saat matahari baru naik setinggi tombak.Bukan lewat utusan resmi. Bukan lewat panji kerajaan.Melainkan lewat bisikan para pedagang lintas wilayah, yang lebih cepat dari kuda perang dan lebih tajam dari pedang.“Perempuan itu sudah di Indragiri.”“Gusti Raras.”“Dibawa langsung oleh Raden Wijaya.”Rakai sedang berdiri di balkon Mandalajati ketika Arya menyampaikan kabar itu. Angin pagi mengibaskan jubahnya, membawa aroma laut dan besi pelabuhan. Untuk sesaat, Rakai tidak bergerak. Tidak bertanya. Tidak bereaksi.Seolah dunia berhenti bernapas.“Kau yakin?” suara Rakai akhirnya terdengar. Rendah. Terlalu tenang.Arya mengangguk. “Tiga sumber berbeda. Pedagang Pasren, awak kapal Daha, dan satu mata lama kita. Semua menyebut hal yang sama. Raras resmi berada di wilayah Indragiri.”Jari Rakai mencengkeram pagar batu. Batu keras itu retak halus di bawah tekanannya.“Bagaimana caranya,” gumamnya. “Dia tidak akan pergi tanpa perlawanan.”“Dia tidak pergi,” jawab
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: Bab 150
Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka atas seseorang yang dicabut paksa dari takdirnya sendiri.Kereta kerajaan berhenti di gerbang perbatasan Indragiri. Panji-panji merah tua dengan lambang singa emas berkibar pelan tertiup angin. Lambang yang dulu begitu akrab di mata Raras. Kini justru membuat dadanya terasa sesak.Ia turun perlahan dari kereta. Tidak ada rantai. Tidak ada borgol. Namun dua baris prajurit yang mengapitnya sudah cukup menjelaskan bahwa kebebasan bukan lagi miliknya.Di hadapannya berdiri seorang pria yang pernah ia kenal terlalu dekat.Raden Wijaya.Pakaian kebesarannya rapi, jubah perang disampirkan di bahu, wajahnya tetap tegas seperti yang ia ingat. Namun sorot matanya berbeda. Lebih dingin. Lebih berhitung. Dan justru itu yang menyadarkan Raras bahwa lelaki di depannya bukan lagi pria yang dulu memanggil namanya dengan suara rendah di malam-malam sunyi.“Selamat datang di Indragiri,” ucap Wijaya akhirnya.Nada suaranya tenang, hampir sopan. Seolah
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Suamiku Perwira Ojek

Suamiku Perwira Ojek

Anaya Chandrawinata tidak pernah melupakan malam yang menghancurkan hidupnya. Malam ketika ia hampir kehilangan kehormatannya dan seorang pria asing datang menyelamatkannya. Pria itu bernama Gilang Alvaro. Tukang ojek online berambut gondrong dengan sikap dingin dan kata-kata kasar yang selalu membuatnya kesal. Bukan pria yang pantas berada di dunia Anaya putri keluarga terpandang yang hidupnya selalu diatur demi nama besar keluarga. Namun sebuah skandal memaksa mereka menikah. Pernikahan yang lahir dari paksaan. Tanpa cinta. Tanpa kepercayaan. Bagi Anaya, Gilang hanyalah suami aneh yang hidupnya tidak jelas sering pulang larut malam, bekerja serabutan, dan terlihat terlalu akrab dengan wanita lain. Sampai suatu malam semuanya berubah. Sebuah malam yang tidak ia ingat. Sebuah kesalahan yang tidak pernah ia pahami. Dan sebuah kepergian yang meninggalkan luka mendalam. Anaya merasa hina dan dia pun menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Seolah pria itu tak pernah ada dalam hidupnya. Tahun demi tahun berlalu. Anaya mencoba membangun hidup baru bersama putrinya, Risa satu-satunya alasan ia tetap kuat menghadapi dunia. Sampai suatu hari, seorang pria muncul sebagai pengawal pribadi putrinya. Pria asing berwajah dingin. Tatapannya tajam. Dan entah kenapa terasa begitu familiar. Anaya tidak tahu bahwa pria itu menyimpan rahasia besar tentang dirinya. Tentang masa lalu mereka. Dan tentang anak yang selama ini ia besarkan sendirian. Karena kadang… orang yang paling kita benci adalah orang yang paling sulit kita lupakan. Dan kadang… pria yang kembali ke hidupmu bukan sekadar masa lalu. melainkan jawaban atas semua rahasia yang selama ini kamu cari.
Baca
Chapter: Bab 68
Naya melangkah cepat keluar dari kamar.Di belakangnya, Risa yang baru saja berhenti menangis ikut berlari kecil."Mama mau ke mana?""Cari Eyang."Nada suara Naya pendek.Terlalu pendek.Dan itu membuat Risa langsung tahu sesuatu sedang tidak beres.Mereka baru sampai di tangga ketika suara para pelayan terdengar dari bawah."Bunga yang putih taruh di sebelah kanan.""Karpetnya jangan miring.""Meja tamu VIP dipindah sedikit."Naya berhenti.Keningnya berkerut.Pelan.Lalu matanya menyapu seluruh halaman rumah.Beberapa truk bunga baru saja datang.Pekerja lalu-lalang.Tenda mulai dipasang.Karpet merah digelar.Lampu-lampu dekorasi sedang dinaikkan.Jantung Naya langsung berdegup tidak nyaman.Perasaan buruk.Sangat buruk.Ia menuruni tangga lebih cepat.Salah satu pelayan yang sedang membawa rangkaian bunga langsung menunduk hormat."Selamat siang, Nona."Naya menghentikannya."Ini semua apa?"Pelayan itu tampak bingung."Untuk pernikahan, Nona."Sunyi."Pernikahan siapa?"Pelayan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 67
Setelah semua dokumen selesai diperiksa, mereka keluar dari kantor catatan sipil.Matahari mulai naik.Halaman parkir tidak terlalu ramai.Namun suasana di antara mereka justru terasa semakin berat.Naya baru saja hendak membuka pintu mobil ketika tiba-tiba tangannya ditarik.Cukup kuat.Ia menoleh.Gilang.Pria itu berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.Tatapannya dingin.Tidak seperti biasanya.Tidak ada senyum malas.Tidak ada candaan.Hanya diam yang terasa menekan."Gilang, lepas."Tidak.Jemari Gilang justru semakin mengencang.Naya langsung meringis."Sakit."Baru kali itu Gilang berkedip pelan.Seolah tersadar kalau cengkeramannya terlalu kuat.Namun bukannya melepas, ia malah menarik Naya menuju mobil."Nanti."Jawaban pendek.Membuat emosi Naya langsung naik."Nanti apanya?!"Tidak ada jawaban.Kesabaran Naya habis.Ia langsung mengangkat kaki dan menendang tulang kering Gilang.Tidak keras.Tapi cukup mengejutkan."Aw!"Gilang kehilangan keseimbangan sesaat.Kakinya
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 66
Motor Gilang berhenti tepat di depan Kantor Catatan Sipil.Mesin dimatikan.Helm dilepas.Lalu ia menatap gedung di depannya cukup lama.Beberapa detik.Kemudian tertawa pelan sendiri.Benar-benar pelan.Kalau ada orang yang melihatnya sekarang, mungkin akan mengira pria itu sudah mulai stres.Dan memang sedikit benar.Karena hari ini ia sedang dalam perjalanan untuk menikahi wanita yang sama.Untuk kedua kalinya."Gila..." gumamnya pelan.Dulu menikah diam-diam.Sekarang menikah lagi.Masih diam-diam.Bedanya dulu Naya tahu dia suaminya.Sekarang Naya justru tidak tahu.Hidup memang kadang terlalu kreatif.Gilang menggeleng kecil lalu berjalan menuju halaman depan sembari menelpon atasan. Gilang memberitahu atasan bahwa dia akan menikah dengan menggunakan identitas aslinya, dan komandan pun setuju. Di sana Naya sudah menunggu.Bersandar di mobil.Kacamata hitam bertengger di atas kepala.Tangannya menyilang.Wajahnya terlihat tidak sabar.Begitu melihat Gilang datang, Naya langsung
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Bab 65
Pagi itu suasana apartemen terasa jauh lebih ramai dari biasanya.Di meja makan, Risa sedang menghabiskan roti bakar dengan wajah puas. Segelas susu cokelat hampir habis di tangannya.Pak Ahmad duduk di sofa sambil membaca koran.Sementara Tari membereskan piring-piring bekas sarapan.Di sisi lain ruangan, Gilang baru saja menutup panggilan telepon.Tatapannya sedikit kosong.Rahangnya mengeras sesaat.Naya.Telepon itu hanya berlangsung beberapa menit, tapi cukup membuat kepalanya terasa lebih berat.Ia menghela napas pelan.Lalu menoleh ke arah meja makan.Risa sedang menggigit roti sambil menggoyang-goyangkan kaki.Melihat itu, Gilang akhirnya berjalan mendekat.Duduk di kursi seberangnya.Risa langsung tersenyum lebar.“Papa.”Gilang menatapnya.“Ada yang mau Papa bicarakan.”Risa mengangguk santai.“Iya. Aku juga mau bicara.”“Papa dulu.”“Oke.”Risa kembali menggigit rotinya.Gilang terdiam beberapa detik.Mencari kata-kata yang tepat.Namun tetap terasa sulit.“Risa.”“Iya?”“K
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 64
Pagi menjelang siang. Apartemen yang biasanya tenang berubah menjadi sedikit lebih ramai sejak kedatangan Risa.Saat ini anak itu sedang duduk di meja makan.Pipinya masih sedikit sembab karena tangisan tadi.Namun suasana hatinya sudah jauh lebih baik.Terutama karena di depannya ada sepiring nasi goreng.Dan segelas jus.Dan beberapa potong ayam.Dan camilan.Dan entah sejak kapan meja makan itu berubah menjadi kantin mini."Makan pelan-pelan."kata Tari.Risa mengangguk.Lalu memasukkan satu sendok penuh ke mulutnya."Pelan-pelan."ulang Tari.Risa mengangguk lagi.Lalu memasukkan satu sendok penuh lagi.Tidak ada perubahan sama sekali.Di sisi lain Gilang mulai menguap.Semalaman ia hampir tidak tidur.Pagi tadi juga penuh kekacauan.Belum lagi urusan pekerjaannya yang belum selesai.Kepalanya mulai terasa berat.Namun masalahnya Risa tidak mau pulang sama sekali."Tidak."jawab Risa tegas ketika tadi ditanya."Kenapa?""Aku lagi ngungsi."Pak Ahmad sampai hampir tersedak mendeng
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Bab 63
Ruang tamu masih dipenuhi suara tangisan Risa. Anak itu duduk di sofa sambil memeluk boneka kelincinya.Matanya merah.Hidungnya merah.Pipinya juga merah.Pokoknya merah semua.Sementara Gilang sudah mulai kehabisan cara."Risa.""Hiks...""Coba tenang dulu.""Nggak bisa.""Kenapa?""Karena Mama diusir.""Oke.""Terus Papa nggak nolong.""Oke.""Terus Papa jahat.""Oke.""Terus Papa harus nikahin Mama."Gilang yang sedang mengambil tisu langsung tersedak."Apa?"Risa mengusap air mata.Namun jawabannya tetap mantap."Papa harus nikahin Mama."Gilang berkedip.Lalu berkedip lagi.Merasa mungkin pendengarannya bermasalah."Sebentar."katanya."Kita ulang dari awal."Risa mengangguk.Gilang menarik napas."Mama diusir.""Iya.""Kamu sedih.""Iya.""Lalu aku harus bantu.""Iya.""Kenapa ujung-ujungnya aku harus nikahin Mamamu?"Risa menatapnya seperti pertanyaan itu sangat bodoh."Karena Papa.""...""Dan Mama.""...""Kalau nikah kan beres."Gilang langsung menatap langit-langit rumah.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Anda juga akan menyukai
ETERNAL ANGEL AND HER LAST REQUEST
ETERNAL ANGEL AND HER LAST REQUEST
Romansa · NUR EVA LAILY
10.8K Dibaca
Mutiara Sang Rahwana
Mutiara Sang Rahwana
Romansa · Asy'arie
10.8K Dibaca
Tangisan Widuri
Tangisan Widuri
Romansa · Nyakraba
10.8K Dibaca
Diary
Diary
Romansa · Imaliccious
10.8K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status