FAZER LOGINAnaya Chandrawinata tidak pernah melupakan malam yang menghancurkan hidupnya. Malam ketika ia hampir kehilangan kehormatannya dan seorang pria asing datang menyelamatkannya. Pria itu bernama Gilang Alvaro. Tukang ojek online berambut gondrong dengan sikap dingin dan kata-kata kasar yang selalu membuatnya kesal. Bukan pria yang pantas berada di dunia Anaya putri keluarga terpandang yang hidupnya selalu diatur demi nama besar keluarga. Namun sebuah skandal memaksa mereka menikah. Pernikahan yang lahir dari paksaan. Tanpa cinta. Tanpa kepercayaan. Bagi Anaya, Gilang hanyalah suami aneh yang hidupnya tidak jelas sering pulang larut malam, bekerja serabutan, dan terlihat terlalu akrab dengan wanita lain. Sampai suatu malam semuanya berubah. Sebuah malam yang tidak ia ingat. Sebuah kesalahan yang tidak pernah ia pahami. Dan sebuah kepergian yang meninggalkan luka mendalam. Anaya merasa hina dan dia pun menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Seolah pria itu tak pernah ada dalam hidupnya. Tahun demi tahun berlalu. Anaya mencoba membangun hidup baru bersama putrinya, Risa satu-satunya alasan ia tetap kuat menghadapi dunia. Sampai suatu hari, seorang pria muncul sebagai pengawal pribadi putrinya. Pria asing berwajah dingin. Tatapannya tajam. Dan entah kenapa terasa begitu familiar. Anaya tidak tahu bahwa pria itu menyimpan rahasia besar tentang dirinya. Tentang masa lalu mereka. Dan tentang anak yang selama ini ia besarkan sendirian. Karena kadang… orang yang paling kita benci adalah orang yang paling sulit kita lupakan. Dan kadang… pria yang kembali ke hidupmu bukan sekadar masa lalu. melainkan jawaban atas semua rahasia yang selama ini kamu cari.
Ver maisApartemen Bornea Grand, Lantai 16
Anaya hampir tidak bisa berdiri. Kepalanya berat. Pandangannya berputar. Dunia terasa seperti air yang bergelombang. Lampu parkiran apartemen terlihat buram di matanya, yang ia rasa seseorang menarik lengannya dengan kasar. “Jalan!” suara pria itu mendesis di telinganya. Anaya mencoba melawan, tapi tubuhnya terlalu lemah. Dadanya sesak. Ia tahu sesuatu tidak beres. Minuman tadi pasti sudah dicampur sesuatu. Ia terseret keluar dari mobil. Langkahnya tersandung dan sepatunya hampir terlepas. Pria berkepala plontos itu mencengkeram lengannya lebih kuat, menyeretnya menuju pintu unit lantai bawah. Tangannya kasar. Nafasnya bau alkohol. Anaya ingin berteriak tapi suara itu tidak keluar. Pintu terbuka dan ruangan gelap. Tubuhnya didorong paksa masuk. Ia hampir terjatuh. Tangan Anaya mencoba meraih sesuatu, apa saja, tapi pria itu sudah menekannya ke sofa. Mulutnya dibekap. Jantung Anaya berdegup liar, panik dan takut. Gadis berusia 20 tahun itu mencoba menendang, tapi tenaga di tubuhnya seperti hilang. Air mata mulai mengalir. Tiba-tiba terdengar suara. BRAK! Pintu terbuka keras. Anaya bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi. Bayangan seseorang bergerak cepat. Dua langkah. Sebuah tendangan keras menghantam tubuh pria itu. Pria yang hampir menindih Anaya terlempar ke samping, menabrak meja kaca hingga pecah. Anaya membeku. Seseorang menarik tubuhnya dengan hati-hati. Suara pria terdengar dekat di telinganya. “ Kamu aman.” Anaya menatap wajah pria itu. Helm masih menutupi sebagian wajahnya. Jaket ojek online. Nafasnya tenang, matanya tajam. Aneh. Di tengah kekacauan itu, Anaya justru merasa aman. Tubuhnya gemetar. Dan pria itu menutup tubuhnya dengan jaket yang baru saja dia lepaskan. Ia tidak sadar kapan tangannya bergerak. Anaya memeluk pria itu erat. Seolah jika dilepas, semuanya akan kembali buruk. Pria itu sedikit kaku. “Tenang,” katanya cepat. “Kamu aman sekarang.” Anaya mencoba menarik napas, tapi dadanya masih bergetar. Pria itu menoleh sebentar, memeriksa ruangan, dan ketika ingin menangkap pria yang menyerangnya, ia sudah kabur. Langkah kaki pun tiba-tiba terdengar dari lorong. BRAK! Pintu terbuka lagi. “ASTAGA! Itu Naya, kan?!” Suara itu membuat tubuh Anaya menegang. Ia mengenal suara itu. Sarah, adik tirinya. Wanita glamor itu masuk dengan langkah cepat, diikuti ayahnya dan seorang pria muda berjas rapi. Anaya masih memeluk pria yang menyelamatkannya. Ia belum siap melepaskan. “Lihat!” pria muda itu menunjuk tajam. “Kakakku, kampungan! Lihat bajunya sampai oyak seperti itu. Peluk-pelukan sama—” Ia menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki. “—tukang ojek?!” Anaya mengerutkan kening. Dadanya tiba-tiba terasa panas. Sarah mendesis tajam. “Siapa kamu?!” Pria yang menolongnya berdiri tegap. Tatapannya dingin. “Jangan ganggu dia," ucap Naya lirih. Ayah Anaya menatapnya dengan wajah keras. “Kamu tukang ojek, ya?” Pria itu mengangguk. “Saya cuma kebetulan lewat.” “Namamu?” “Gilang.” Anaya menoleh sedikit. Nama itu terasa asing dan Ayahnya terdiam sejenak. Lalu kalimat berikutnya membuat seluruh tubuh Anaya membeku. “Kalian sedang apa di apartemen berdua begini. Buka helm kamu. Kamu mau melarikan diri begitu saja setelah bermain-main dengan anakku. " Anaya menatap ayahnya. “Apa?” “Lebih baik kalian sekarang pergi sebelum. Sebelum aib ini naik ke media.” "Ayah dia akan menikah dengan Pak Gunarto. Lebih baik biar Pak Gunarto yang memutuskan!" seru Sarah menyela. Seolah dunia belum cukup kacau, suara kamera tiba-tiba berbunyi. Cekrek. Cekrek. Anaya menoleh dan pandangannya yang mulai sedikit terang ia melihat tiga wartawan berdiri di dekat pintu. Mereka sudah merekam semuanya. Pikiran Anaya berpacu. Jika berita ini keluar Ia akan dipaksa menikah dengan Gunarto. Duda tua, seorang investor yang membuatnya muak. Salah satu wartawan bertanya, “Siapa pria itu?” Sebelum siapa pun menjawab Anaya melangkah maju. Tangannya masih gemetar. Tapi suaranya keluar lantang. “Dia kekasihku!” Ruangan langsung sunyi. Lampu kamera menyala lagi. “Anaya, putri pengusaha properti yang kabur dari pernikahan ternyata punya kekasih tukang ojek?” Ayahnya memucat. “Apa kau gila?! Kau akan menikah dengan Tuan Gunarto hari ini!” Anaya menatap ayahnya dengan penuh kebencian. “Lebih baik aku mati daripada menikah dengan duda tua itu!” Ia menunjuk Gilang. “Dia lebih laki-laki dari semua pria yang kalian pilihkan! Lagu pula kami sudah ....." Anaya berhenti, sebenarnya tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Tapi satu hal pasti. Pria ini menyelamatkannya. Dan sekarang ia satu-satunya jalan keluar. Beberapa detik berlalu. Pria itu terlihat ragu. Hingga sepuluh menit berlalu, lalu akhirnya berkata pelan, “Oke. Nikah.” Anaya tersentak karena pria itu dengan mudah mau menikah dengannya. Waktu terus berlalu tak terasa sudah sebulan mereka menikah, namun pernikahan mereka tak berjalan lancar. Gilang hanya pulang ketika weekend tiba. Malam hari di Apartemen Grand Citra Semarang, Lantai 5 Anaya sedang berdiri di dapur kecil apartemen itu dengan tangan terlipat. Ia menatap jam dinding untuk kesekian kalinya. Pintu akhirnya terbuka. Gilang masuk dengan wajah datar seperti biasa. Jaket ojek tergantung di lengannya. Seolah pulang tengah malam adalah hal paling normal di dunia. Anaya menghela napas panjang. “Baru pulang? Jam segini, Mas?” Gilang menoleh sekilas. Ekspresinya tetap datar. “Macet. Orang kampung pasti enggak paham konsep itu.” Alis Anaya langsung terangkat. “Tinggal jawab kan enak, gak perlu bilang aku orang kampung.” Ia berjalan mendekat. "Bukankah Sarah bilang kamu orang kampung. Dan bukankah kamu juga besar di kampung dan baru datang ke kota." "Iya aku orang kampung! Puas." “Aku lihat kamu keluar dari club di SCBD sore tadi.” “Ya, namanya juga keliling,” jawab Gilang santai sambil melempar jaketnya. “Nganter pesanan pelanggan.” Anaya mengerucutkan bibir. Ia tidak tahu kenapa hal itu membuatnya kesal. Mungkin karena mereka sekarang suami-istri. “Aku udah cukup sabar, Mas Gilang,” katanya. “Aku enggak peduli kamu siapa atau kerja apa. Tapi sekarang kamu suamiku. Kalau pulang terlambat setidaknya kasih kabar. Kamu juga harus bisa jaga nama baik keluargaku.” Gilang membuka kulkas. Ia minum langsung dari botol. Baru setelah itu ia menatapnya. “Ngabari? Nay, kamu sadar enggak kita nikah karena kamu hampir diperkosa dan aku kebetulan muncul di foto wartawan? Untung saja foto itu tidak disebar. Kalau di sebar dan keluargaku tahu. Apa kata mereka.” Anaya terdiam. “Dan sekarang kamu mau ceramah soal nama baik?” Ia menggertakkan gigi. “Aku dijebak. Dan kita sudah sepakat setelah setahun kita bercerai.” Gilang mengangkat bahu. “Orang tuamu saja tidak peduli denganmu. Buat apa kamu menjaga nama baik mereka.” Dada Anaya langsung terasa panas. “Dasar tukang ojek!” “Tukang ojek begini juga suamimu,” balas Gilang santai. “Yang menafkahi kamu!" serunya lagi. Anaya memalingkan wajah dengan kesal. “Suami apaan. Sebulan nikah saja kamu belum memenuhi kewajibanmu sebagai suami.” Ia menggumam pelan dan Gilang tertawa pendek. “Jangan harap kamu minta nafkah batin.” Anaya langsung memerah. “Aku menikahimu karena kasihan,” lanjut Gilang. “Aku penyelamatmu waktu itu. Tapi sampai sekarang aku masih bingung kenapa kamu bilang ke mereka aku kekasihmu.” Anaya menunduk. Ia memang tidak pernah menjelaskan alasannya, karena sebenarnya jawabannya sederhana. Saat itu, di ruangan gelap itu, di saat semua orang hanya peduli pada reputasi mereka, hanya satu orang yang benar-benar peduli apakah dia baik-baik saja. Gilang. Dan entah kenapa, Anaya merasa pria itu tidak seburuk yang ia kira.Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah
Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng
Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t
Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m
Jalan itu mulai sepi.Lampu-lampu jalan menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang dingin. Angin malam berembus pelan, membawa sisa panas yang belum sepenuhnya hilang.Di tengah suasana yang nyaris sunyi itu, keributan kecil terdengar terlalu jelas.Egi masih berdiri limbung
Pagi itu suasana rumah besar tidak sehangat biasanya.Udara terasa tegang.Dan sumbernya hanya satu orang.Ia berdiri di ruang tengah, masih mengenakan pakaian kerja sederhana. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas.Di hadapannya, Eyang Wulan duduk dengan elegan.Namun jelas tidak senang.“Mula
Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang sepe
Kota Bogor tidak pernah benar-benar tidur sejak bencana itu terjadi.Sejak tanah longsor menghantam desa di kaki bukit, rumah sakit kecil di wilayah itu berubah menjadi pusat kekacauan yang tak pernah sepi. Lorong-lorong dipenuhi suara langkah tergesa, tangisan keluarga, dan instruksi cepat para te


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações