Chapter: Bab 74Elise yang tengah duduk di atas kasur sambil memeluk kedua lututnya langsung menyibakkan selimut saat melihat kehadiran Theo. Raut wajah suaminya itu tampak sedikit tegang saat kembali ke kamar.Elise pun turun dari atas tempat tidur dan menghampiri Theo.Pria itu tengah melepas seluruh kancing kemejanya, lalu menanggalkan kain yang menutupi tubuhnya. Ia melemparkannya asal ke atas lantai."Ada apa?" tanya Elise lembut. "Kau terlihat tegang." Kedua tangannya terangkat dan diletakkannya di atas dada bidang Theo.Ketika tangan istrinya menyentuh kulitnya, Theo merasakan kembali gejolak dalam dirinya yang sempat tertunda. Kekesalan yang dirasakannya barusan perlahan meluruh.Theo melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elise. Sudut bibirnya terangkat. Langkahnya perlahan menuntun Elise ke arah kasur."Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah." gumam Theo sambil tersenyum.Elise menatapnya dengan tatapan menyelidik, seakan berusaha mencari sesuatu di dalam sana. "Jadi, kau sudah melihat reka
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 73Elise langsung mendorong tubuh Theo menjauh darinya. Nafasnya memburu setelah melihat bayangan di luar jendela yang menghilang secepat kilat tersebut."Hei," Theo menatapnya agak kaget bercampur bingung. Wajah Elise berubah memucat. "Ada apa?"Sekujur tubuh Elise membatu. Ia sampai tidak bisa menjawab pertanyaan Theo yang tengah menatapnya kebingungan.Theo menoleh ke arah Elise memandang dan tidak menemukan apa pun di luar sana. "Kau baik-baik saja? Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" desak Theo tidak sabar.Elise akhirnya tersadar. Ia menoleh menatap Theo dengan raut ketakutan. "A-aku..." ucapnya terbata-bata. "Tadi aku melihat bayangan seseorang di luar sana. Dia melihat ke arah kita!"Saat mengatakannya, tubuh Elise tanpa sadar bergetar. Theo langsung menariknya mendekat, lalu memeluknya erat. "Tenang, aku di sini.""Tapi," Elise menggeleng cepat. "Orang itu ada di luar sana!"Theo mendorong sedikit tubuh Elise menjauh darinya agar bisa menatap wajah istrinya itu. Sorot
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 72Atas desakan Elise, akhirnya mereka meninggalkan vila pagi itu. Setelah menghabiskan waktu sejenak untuk berendam di bak air hangat bersama, lalu sarapan ringan, Theo melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota. Di sepanjang perjalanan, Elise tidak banyak berbicara. Ia lebih banyak diam menikmati pemandangan alam yang indah di luar jendela. Pemandangan yang belum tentu bisa didapatkannya setibanya di kota nanti. “Aku sudah memberitahu kakek bahwa kita akan pulang hari ini.” kata Theo di sela keheningan. “Kalau memungkinkan, kakek ingin kita mampir dan makan malam di sana.” tambahnya lagi sambil menoleh ke arah Elise sekilas, lalu kembali menatap jalan di hadapannya. “Boleh saja,” sahut Elise ringan. Sebenarnya ia juga sudah cukup merindukan para anggota keluarga yang lain. Mereka sangat jarang bertemu akhir-akhir ini. Mereka tiba di pekarangan rumah tepat saat waktu menjelang makan siang. Kepulangan mereka disambut hangat oleh Bibi Bernadeth yang terlihat sud
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Bab 71 [21+]Dengan sekali gerakan halus Theo berhasil melucuti gaun tidur satin yang dikenakan oleh Elise malam itu.Gaun tidur indah namun cukup tipis itu jatuh sempurna ke atas lantai granit yang mengkilap dan dingin. Kini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh indah istrinya.Kepalanya yang semula bersandar di pundak Elise kini bergerak mendekat ke leher Elise, menikmati aroma wewangian lembut dari tubuh wanita itu.Elise menggeliat geli ketika ujung hidung Theo yang mancung mulai bergerak mengitari lehernya yang jenjang. Nafas panas Theo terasa jelas di kulitnya yang kini terekspos sepenuhnya.Seulas senyum sumringah diam-diam terukir di wajah Theo saat menyadari tubuh istrinya yang menerima setiap sentuhan darinya.Kedua tangan besar Theo bergerak turun perlahan, dari pundak menuju ke arah pinggang Elise. Sentuhannya lembut, seakan takut jika kasar sedikit saja, permukaannya akan terluka.Kulit tubuh Elise terlalu indah untuk disentuh dengan kasar. Putih bersih dan terasa sangat le
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 70Kedua matanya belum bisa terpejam meski malam sudah semakin larut. Apa yang dikatakan Theo pagi tadi padanya membuat Elise tidak berhenti memikirkannya.Apa yang sebenarnya diinginkan Felix Davis? Kenapa pria itu sampai datang ke rumahnya dan melakukan hal mengerikan semacam itu?Elise menoleh ke sosok pria yang berbaring di sampingnya itu. Kedua mata Theo terpejam. Tampak damai dan tenang.Garis wajahnya tegas dengan batang hidung yang tinggi. Bulu matanya yang panjang membuat rupanya nyaris sempurna. Diam-diam Elise tersenyum memperhatikan wajah tampan suaminya itu.Dengan gerakan perlahan, Elise menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Ia tidak ingin membangunkan Theo yang tampak terlelap nyenyak.Langkah kakinya terhenti di tepi kaca besar yang tak jauh dari ranjangnya. Langit malam itu tampak begitu gelap dan pekat. Pemandangan laut yang luas di luar sana tampak begitu mencekam.Di bawah sinar bulan yang terang, suara desiran ombak yang halus mengisi keheningan malam.
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 69Felix Davies.Nama seorang pria yang cukup membuat Elise terkejut. Ia turun dari atas tubuh Theo, lalu mendaratkan bokongnya di sofa. Elise diam cukup lama. Sementara Theo hanya diam memperhatikannya, tidak berusaha mendesak."Ya," Elise mengangguk. "Aku kenal dengan pria itu." gumamnya masih sambil berusaha mengingat. "Tapi aku tak benar-benar dekat dengannya. Kami hanya sebatas rekan praktek di klinik yang sama. Dia itu senior di kampus.""Kau sama sekali tak dekat dengannya?" ulang Theo lagi.Elise mengangguk. "Dia orang yang cukup ramah pada siapa pun. Dia juga sangat baik padaku. Tapi..."Tatapan Theo menjadi lebih dalam dan serius. "Tapi apa?""Menurutku dia agak aneh dan sedikit mengerikan." gumam Elise meringis. "Saat praktek bersamanya di sebuah klinik, ada seekor kucing yang memberontak saat hendak ditanganinya. Kupikir dia akan tetap bersabar dan berusaha membujuk. Tapi ternyata tidak."Alis Theo terangkat. Ia cukup penasaran dengan kelanjutan cerita Elise. "Lalu? Apa yang
Last Updated: 2026-05-09

Obsesi Sang Pewaris Tunggal
Demi melunasi hutang kakak tirinya, Olivia Rose dipaksa menikah dengan seorang bangsawan muda di kotanya, Aaron Kendrick. Mendengar nama keluarganya saja sudah membuat sekujur tubuh Olivia gemetar karena ketakutan.
Banyak rumor buruk yang didengarnya tentang keluarga Kendrick. Bengis dan suka menindas demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jelas hal ini sangat bertentangan dengan prinsip hidup Olivia yang berasal dari keluarga kalangan bawah.
Sejak ayahnya yang sakit-sakitan menjadi lumpuh, kehidupan Olivia berubah drastis. Hanya dengan menjalankan sebuah toko bunga kecil peninggalan mendiang ibunya, Olivia kini juga harus menghidupi dua orang beban sekaligus. Ibu tirinya yang suka berfoya-foya, lalu kakak laki-laki tirinya yang senang berjudi. Dan sekarang, Olivia juga harus menanggung akibat dari perbuatan kakak tirinya, Jack Brown.
Sementara di ruangan lain di sebuah mansion besar, seorang pria berwajah pucat layaknya seorang drakula yang harus darah tengah duduk menatap langit mencekam yang diterangi oleh bulan purnama dari balik jendela kamarnya. Senyum semeringai terukir di wajah tampannya. “Kau akan menjadi milikku, Olivia.”
Malam sebelum pengawal keluarga Kendrick datang menjemputnya, Olivia menemui ayahnya yang terbaring di kasur. Hanya kedua ayah dan anak perempuannya. Ayahnya meminta Olivia mengambil sebuah kotak yang sudah lama disembunyikannya di bawah tempat tidur tanpa sepengetahuan ibu tirinya.
“Saat kau sudah berada di tepi jurang dan tak punya pilihan lain lagi, gunakan ini untuk melindungi dirimu.”
Sebuah pistol.
Read
Chapter: Bab 98Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 97Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Bab 96"Ini bahkan lebih dari cukup!"Olivia tercengang di depan kulkas dua pintu yang terbuka di hadapannya. Ada banyak bahan makanan di sana. Malah terlalu banyak!Jika dilihat lagi, mungkin bisa untuk memasak lauk selama seminggu. Sementara besok mereka sudah akan pulang."Ya sudah. Kalau kau merasa bahan makanannya terlalu banyak," kata Aaron yang duduk santai di meja pantri dari batu marmer. "Kita bisa tinggal di sini selama beberapa hari lagi."Olivia menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya."Atau sampai bahan makanannya habis." sambungnya ceria.Sambil berkacak pinggang, Olivia menatap isi kulkas dan berpikir. "Sisanya kita berikan saja pada Welly besok."Aaron mengangkat bahu. "Terserahmu saja."Olivia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk memasak. Malam ini ia berencana membuat makan malam yang sederhana.Kalau hidangan yang terlalu mewah, ia belum pernah mencobanya. Daripada bahan makanannya terbuang percuma, lebih baik ia membuat hidangan yang sederhana.
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 95Semilir angin laut yang berhembus membelai lembut wajahnya sore itu terasa menenangkan. Hamparan laut biru di hadapannya tampak begitu indah dengan ombak yang bergulung dan pecah di tepi pantai.Aaron tengah sibuk berbicara di telepon sejak tadi. Jadi Olivia memutuskan untuk keluar sejenak untuk menikmati pemandangan.Tidak jauh dari villa, ada sebuah jalan setapak menuju tepi pantai. Olivia pun turun menyusuri jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang tersebut.Olivia melepas alas kakinya. Butiran pasir yang dirasakannya saat menginjakkan kaki di tanah bersih itu memberikan sensasi yang menyenangkan. Sudah lama ia tidak bermain di tepi pantai.Ia berjalan di tepi pantai sambil menatap laut luas di hadapannya. Rambut dan gaunnya yang tertiup hembusan angin ikut bergerak. Di antara suara kicauan burung-burung yang beterbangan di atas langit, Olivia pun ikut bersenandung.Terakhir kalinya Olivia pergi ke pantai itu bersama kedua orang tuanya, saat ia masih berusia sepuluh tah
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 94Mendengar Karina yang baru saja menyebut nama Olivia membuat Ethan yang selama beberapa hari ini seperti kehilangan oksigen, seakan mendapatkan pasokan oksigen baru.Tubuhnya langsung tegak dan ia terduduk di atas kasur sambil menatap Karina.Aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya membuat Karina spontan mengibaskan tangan di depan wajah, mengusir aroma menusuk itu dari hidungnya. Mukanya pun ikut tertekuk."Ada apa dengan Olivia? Bagaimana kau bisa tahu tentangnya?" sergah Ethan tidak sabaran.Karina memutar bola mata dan berdecak sebal. Lalu ia melemparkan tatapan tajam ke arah sepupunya yang penampilannya saat itu terlihat seperti seorang pria tidak berguna."Dia sudah merebut calon tunanganku!" sahut Karina penuh kekesalan. "Saat aku mendatangi kediaman keluarga Kendrick, dia dengan bangganya menempel di pelukan Aaron."Kalimat terakhir yang diucapkan Karina bagaikan pedang panjang yang langsung menghujam tepat di dadanya. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya melengos."Su
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Bab 93Darahnya berdesir hingga membuat wajahnya memerah. Kilatan matanya memancarkan kebencian yang mengerikan."Si brengsek itu memang sudah sepantasnya mati!" desisnya tajam. "Seharusnya aku menghabisinya dengan tanganku sendiri waktu itu."Kalau saja Aaron tahu lebih awal tentang apa yang sudah dilakukan Jack terhadap Olivia, kakak tiri Olivia itu pasti sudah kehilangan nyawanya lebih cepat. Tidak perlu menunggu hingga Aaron berhasil membawa Olivia masuk ke mansionnya.Olivia meraih tangan Aaron yang mengepal tegang, lalu menggenggamnya. "Untuk apa mengotori tanganmu sendiri untuk orang sepertinya?""Karena dia sudah berani bersikap kurang ajar padamu, Liv!" sahut Aaron tidak terima. "Berani-beraninya dia mencoba menyentuhmu."Giginya bergemeretak melihat kemarahan yang terlukis jelas di wajah Aaron saat itu. Kepalanya sedikit tertunduk karena takut."Liv, lihat aku."Aaron tiba-tiba menggenggam kedua lengannya erat. Olivia langsung menurut dan mengangkat kepala dengan ragu. "Dengar," uc
Last Updated: 2026-07-25