MasukDemi melunasi hutang kakak tirinya, Olivia Rose dipaksa menikah dengan seorang bangsawan muda di kotanya, Aaron Kendrick. Mendengar nama keluarganya saja sudah membuat sekujur tubuh Olivia gemetar karena ketakutan. Banyak rumor buruk yang didengarnya tentang keluarga Kendrick. Bengis dan suka menindas demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jelas hal ini sangat bertentangan dengan prinsip hidup Olivia yang berasal dari keluarga kalangan bawah. Sejak ayahnya yang sakit-sakitan menjadi lumpuh, kehidupan Olivia berubah drastis. Hanya dengan menjalankan sebuah toko bunga kecil peninggalan mendiang ibunya, Olivia kini juga harus menghidupi dua orang beban sekaligus. Ibu tirinya yang suka berfoya-foya, lalu kakak laki-laki tirinya yang senang berjudi. Dan sekarang, Olivia juga harus menanggung akibat dari perbuatan kakak tirinya, Jack Brown. Sementara di ruangan lain di sebuah mansion besar, seorang pria berwajah pucat layaknya seorang drakula yang harus darah tengah duduk menatap langit mencekam yang diterangi oleh bulan purnama dari balik jendela kamarnya. Senyum semeringai terukir di wajah tampannya. “Kau akan menjadi milikku, Olivia.” Malam sebelum pengawal keluarga Kendrick datang menjemputnya, Olivia menemui ayahnya yang terbaring di kasur. Hanya kedua ayah dan anak perempuannya. Ayahnya meminta Olivia mengambil sebuah kotak yang sudah lama disembunyikannya di bawah tempat tidur tanpa sepengetahuan ibu tirinya. “Saat kau sudah berada di tepi jurang dan tak punya pilihan lain lagi, gunakan ini untuk melindungi dirimu.” Sebuah pistol.
Lihat lebih banyak“Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”
Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.
“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kejam sepertinya!"
Dengan kasar Katrin menarik gaunnya, membuat kedua tangan Olivia ikut jatuh ke lantai. "Tidak bisa! Pihak keluarga Kendrick hanya mau melepaskan Jack kalau kau menikah dengan Aaron Kendrick!"
Siapa yang tidak pernah mendengar nama keluarga Kendrick. Keluarga bangsawan kaya raya di kota tempat Olivia lahir dan tumbuh. Mereka terkenal bengis dan suka menindas rakyat kecil.
Baru-baru ini nama Aaron Kendrick sedang banyak diperbincangkan. Pria muda itu membunuh seluruh keluarganya demi menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Kendrick. Saat tahu dirinya harus menikah dengan pria itu, sekujur tubuh Olivia gemetar.
"Lalu bagaimana dengan nasibku di sana? Aku tak ingin bernasib sama seperti keluarganya!", pinta Olivia.
Katrin sama sekali tidak peduli. Bagaimana tidak? Olivia Rose bukan putri kandungnya.
"Terserah, itu tidak ada urusannya denganku!" Katrin langsung membalikkan badannya tanpa rasa iba sedikit pun. "Daripada mengorbankan putraku, lebih baik kau yang kukorbankan!"
Kalimat yang meluncur dari mulut ibu tirinya bagaikan ribuan pisau yang menancap di dadanya. Perih dan amat menyakitkan.
Sejak ayahnya sakit-sakitan dan sekarang lumpuh, ibu tiri dan kakak tirinya, Jack Brown, bertindak semakin semena-mena. Mereka memperlakukan Olivia sangat buruk, padahal selama ini Olivia yang harus banting tulang untuk membiayai mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik sekali?!"
Dari arah dalam Jack Brown muncul dengan wajah babak belur. Ia sangat kesal mendengar kegaduhan dari ruang tamu yang sudah mengganggu tidurnya.
"Lihat, dia menolak perintahku!" adu Katrin pada putranya. "Anak tak tahu diri!"
Dengan raut wajah penuh amarah, Jack Brown datang dan berdiri tepat di sebelah ibunya. Ia menatap Olivia yang masih berlutut di hadapan mereka dengan tatapan jijik.
"Berani-beraninya kau menolak perintah ibuku!" serunya dengan suara meninggi.
Kesabaran Olivia kini lenyap tidak bersisa. Dengan seluruh sisa kekuatan, ia bangkit dan berdiri di hadapan kedua orang itu. Matanya menatap lurus ke arah mereka dengan kedua tangan mengepal.
"Kau bilang kau tak peduli dengan hidup dan matiku?" ujar Olivia ke arah ibu tirinya. "Lantas kenapa aku harus peduli dengan hidup dan mati putramu yang tak berguna ini?"
Kedua mata Katrin seketika membesar mendengar ucapan Olivia barusan. Ia tidak menyangka jika Olivia akan begitu berani terhadapnya. "Apa katamu? Baru saja kau bilang putraku tak berguna?!" geram Katrin.
Olivia tersengir sambil mendengus. "Apa ucapanku salah? Putra kesayanganmu ini memang tak berguna. Apa yang sudah dihasilkannya? Hanya hutang!"
Olivia sadar bahwa apa yang dilakukannya barusan adalah sebuah kesalahan besar. Katrin dan Jack pasti akan menghajarnya habis-habisan setelah ini.
Tapi ia tidak punya pilihan lain. Lebih baik ia mati dihajar oleh kedua orang itu daripada harus menikah dengan Aaron Kendrick.
"Kau sudah lancang, Olivia Rose!"
Sebelah tangan Katrin sudah terangkat tinggi. Sudah lama ia ingin menampar wajah cantik Olivia yang mengikuti paras ibunya. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk Katrin melampiaskan rasa irinya.
Namun siapa yang menyangka jika keberuntungan berpihak pada Olivia malam itu. Dari luar terdengar suara ketukan pintu yang cukup terburu-buru. Katrin terpaksa membatalkan niatnya.
"Sial! Siapa yang datang malam-malam begini?" gerutu Katrin. Lalu tatapan sinisnya beralih ke arah Olivia. "Lihat apa lagi? Buka pintunya!"
Olivia mengatur nafasnya yang mulai sesak. Selama ini ibu tirinya selalu berpura-pura baik pada Olivia di hadapan orang lain. Kelicikannya membuat tak seorang pun percaya bahwa mereka sudah menyiksa Olivia selama ini.
Sambil menyeka air mata di sudut matanya, Olivia pun pergi membuka pintu.
Seorang pria paruh baya berusia pertengahan lima puluh tahun berdiri di hadapannya saat Olivia membuka pintu. Penampilannya rapi. Di belakangnya, berdiri juga dua orang pria bertubuh besar dengan wajah sangar.
Pria paruh baya itu menatap Olivia dengan menyelidik selama beberapa detik sebelum akhirnya ia melemparkan seulas senyum ramah dan kemudian menyapa. "Nona Olivia Rose?"
Olivia agak terkejut saat pria itu mengenalinya. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. "Y-ya, benar. Anda siapa?"
"Ternyata dugaan saya benar. Anda terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat." puji pria itu yang sempat membuat Olivia sedikit tersipu. "Perkenalkan, saya Josh Myers, asisten dari Tuan Kendrick."
Ucapan pria bernama Josh itu seketika membuat tubuh Olivia membeku. Spontan kakinya bergerak mundur.
Josh menyadari perubahan di raut wajah Olivia. Ia segera mencairkan ketegangan. "Tenang, Nona. Saya datang kemari tidak untuk menyakiti Anda."
Meskipun Josh terlihat seperti orang baik-baik, namun tetap saja Olivia merasa takut. Bagaimana pun juga orang ini adalah utusan keluarga Kendrick.
"Ada urusan apa Anda kemari?" sergah Olivia dengan suara bergetar, namun tetap sopan.
Senyuman yang terukir di wajah Josh tidak luntur, membuat jantung Olivia berdetak semakin kencang. Ada firasat buruk yang menjalar dalam pikirannya.
"Ada hal yang ingin kusampaikan mengenai rencana pernikahan Anda dengan Tuan Kendrick, Nona Olivia Rose."
Aaron sudah berada di ruang makan saat Olivia tiba.Hidangan makan siang yang kelihatan begitu nikmat dan lezat sudah tersaji di atas meja.Olivia menarik kursi dan duduk di sisi kanan Aaron. Kepalanya tertunduk. Ia berusaha menghindari tatapan mata Aaron yang mulai tertuju ke arahnya.Saat di kamarnya, Josh memberitahunya bahwa Olivia mengenakan kemeja miliknya. Tapi sekarang wanita itu sudah berganti pakaian.Olivia sudah mengenakan sebuah gaun panjang berwarna kuning yang membuat pembawaan dirinya begitu cerah.Aaron merasa agak sedih karena belum sempat melihat bagaimana penampilan Olivia saat mengenakan kemejanya yang pasti akan kebesaran untuknya."Kenapa lama sekali?" tanya Aaron dengan nada ringan.Olivia berdeham pelan. "Aku mengganti pakaianku dulu sebelum kemari." sahutnya dengan suara sedikit serak. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Aaron.Berpura-pura menyibukkan diri mungkin akan membuat pria itu berhenti berbicara dengannya, begitu pikir Olivia. Ia mulai menyendokkan
Olivia langsung menutup pintu kamarnya dengan kencang, menimbulkan suara bantingan yang cukup keras.Ia langsung meletakkan kotak obat yang didekapnya untuk menutupi dadanya yang tidak mengenakan apa pun di atas meja terdekat, lalu berlari ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian baru.Tanpa sengaja, pandangan matanya terlempar ke arah sebuah cermin besar yang memperlihatkan kesuluruhan penampilannya saat itu.Kedua matanya membelalak lebar menyaksikan penampilannya yang tampak begitu berantakan. Tubuhnya langsung mencelos dan terduduk di atas lantai yang beralas karpet lembut.Jadi, seperti inilah penampilannya yang terlihat oleh Josh dan pelayan tadi saat ia keluar dari kamar Aaron. Berantakan tidak karuan seperti telah melakukan sesuatu yang terlarang di dalam sana.Olivia langsung merengek tanpa suara sambil menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai, seperti seorang anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya.Penampilannya saat itu sangat memalukan. Josh dan pelayan yang melihatn
Olivia menanggalkan gaunnya yang secara keseluruhan telah basah saat dirinya masih menginjak alas kaki di depan pintu kamar mandi.Kini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi kulit tubuhnya. Udara dingin menerpa, membuatnya mulai merasa kedinginan.Ia buru-buru berlari ke lemari pakaian, membuka setiap pintu lemari enam pintu tersebut lebar-lebar dan akhirnya berhasil menemukan handuk untuk membungkus tubuhnya sementara.Di dalam sana ada banyak sekali pakaian milik pria itu, tergantung dan tersusun dengan rapi. Dilihat dari potongan dan jenis kainnya saja orang-orang sudah tahu bahwa semua itu adalah pakaian mahal dengan harga fantastis.Pilihan Olivia akhirnya berhenti pada sebuah kemeja warna putih bersih dengan lengan panjang.Ukuran kemejanya cukup panjang, hampir menyentuh lutut Olivia. Mengenakan kemeja itu membuat Olivia terlihat seperti sedang memakai sebuah baju terusan."Astaga," gumam Olivia setelah teringat sesuatu.Seluruh pakaian dalamnya juga ikut basah. Mau tidak
🔞-----Olivia dapat merasakan tatapan mata Aaron yang tertuju penuh ke arahnya. Setiap gerak-geriknya seolah dipantau oleh sepasang mata yang dapat menembus masuk hingga ke dalam tubuhnya."Sampai kapan kau mau terus menyiram tubuhku dengan air?"Suara Aaron yang rendah memecah keheningan dan ketegangan. Sejak tadi Olivia sama sekali tidak berani mengangkat wajah menatap pria itu.Melihat Aaron yang bertelanjang dada saja sudah membuat jantungnya seperti hampir melompat keluar, apalagi harus melihat tubuhnya yang basah tanpa busana?Matanya tanpa sengaja menangkap bayangan samar di bawah tubuh Aaron. Olivia tertegun sejenak. Awalnya ia sama sekali tidak menyadarinya. Butuh waktu selama beberapa detik untuk sadar apa yang sedang diperhatikannya.Sontak Olivia langsung terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangan. Ekspresinya barusan membuat Aaron tidak dapat menahan tawa."Kau membuatku semakin penasaran, Olivia."Aaron yang semula bersandar di tepi bak, kini mulai mendekat ke arah O






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.