تسجيل الدخولSebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.
Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya naik ke atas mobil. Mobil pun melaju seiring Olivia yang kemudian menarik pandangannya dari rumah kecil yang sudah menjadi saksi kehidupannya selama ini.
Baginya, ini adalah akhir dari hidupnya.
Olivia dan Josh duduk di bangku penumpang, sementara dua pria yang ikut bersamanya tadi duduk di depan. Salah seorang dari mereka yang mengendarai mobil.
"Anda tidak membawa sehelai pakaian pun, Nona." kata Josh memecah keheningan.
Olivia tidak tahu apakah ini hanya akal-akalan Josh atau bukan. Tapi sejak awal bertemu, tutur bicara dan sikapnya selalu sopan terhadap Olivia.
"Mm," gumam Olivia sambil mengangguk kecil.
Untuk apa juga ia membawa pakaian? Saat ini nyawanya berada di posisi yang tidak jelas. Apakah dirinya masih akan tetap hidup atau tidak setelah ini, tidak ada yang tahu.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir, Nona Olivia. Banyak pakaian baru yang sudah disiapkan untuk Anda di mansion. Jika Anda merasa pakaiannya kurang, Anda bisa mengatakannya pada pelayan atau pada saya nantinya."
Ucapan Josh barusan membuat kedua alis Olivia terangkat. Ia menoleh ke arah Josh sekilas dan menatapnya heran.
Aneh. Kenapa mereka menyiapkan pakaian untuknya?
Setelah hening sejenak, Josh kembali mengajaknya berbicara. "Nona, boleh saya menanyakan sesuatu pada Anda?"
Olivia menoleh ke arah Josh. Sebenarnya ia agak risih karena sejak tadi Josh terus memanggilnya dengan sebutan Nona. Padahal jika dilihat dari usia, Josh itu hampir sebaya dengan ayahnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Nona. Olivia, cukup panggil aku dengan namaku."
Melihat ketegasan dalam nada bicara Olivia membuat Josh tertegun sejenak, lalu ia pun mengangguk. "Baik, jika itu permintaan Anda."
Olivia tersenyum kecil. "Apa yang mau Paman tanyakan padaku?"
"Apa mereka sering bersikap buruk padamu?" Nada bicara Josh terdengar pelan, namun tegas.
Hening sejenak. Olivia bingung. Apa ia harus jujur pada Josh? Bagaimana pun, ia belum sepenuhnya percaya pada pria itu.
"Kenapa Paman bertanya seperti itu?"
Josh menghela nafas pelan, lalu tersenyum. "Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa mulai detik ini, Anda tidak perlu merasa ketakutan lagi."
Kedua alis Olivia tertekuk samar. Sorot mata curiga tertuju ke arah Josh yang duduk di sampingnya. "Maksud Paman?"
"Mereka tidak akan bisa mengganggu hidupmu lagi, Olivia."
***
Seulas senyum lebar terukir di wajah pria berwajah dingin itu tatkala melihat sebuah lampu sorot bergerak memasuki pekarangan yang luas. Itu mobil Josh.
Sejak kepergian Roger, Aaron sudah berdiri di tepi jendela, menatap ke arah gerbang yang kini terbuka lebar. Beberapa detik kemudian, mobil Josh pun berhenti.
Aaron dapat melihat seorang wanita bertubuh mungil turun dari salah satu sisi mobil. Wanita itu terdiam sejenak. Pandangannya mengedar ke sekelilingnya yang terlihat asing.
Tepat ketika wanita itu menengadahkan wajahnya ke arah mansion, tatapan tertuju lurus tepat ke arah dirinya. Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aaron memalingkan wajah dan menutup tirai jendela.
Salah satu sudut bibir Aaron terangkat. Sambil bersandar di sandaran kursi, sepasang mata tajam itu menatap lurus ke arah pintu dengan tidak sabar. Hingga kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Tok. Tok.
Pintu terbuka setelah Aaron memberi jawaban dari dalam. Yang pertama kali muncul di hadapannya adalah Josh.
"Tuan, Nona Olivia Rose sudah berada di sini." ujar Josh seraya bergeser ke samping.
Wanita yang sejak tadi berjalan di belakangnya perlahan maju ke tengah ruangan memperlihatkan dirinya pada Aaron.
Raut wajah Aaron seketika berubah setelah memperhatikan Olivia. Wanita itu hanya tertunduk menutupi wajahnya yang pucat dan terlihat ketakutan. Jelas bukan ini yang diharapkannya.
"Josh," panggil Aaron dengan suara rendah, namun lugas. "Tinggalkan kami dan tutup pintunya."
Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me
"Ini bahkan lebih dari cukup!"Olivia tercengang di depan kulkas dua pintu yang terbuka di hadapannya. Ada banyak bahan makanan di sana. Malah terlalu banyak!Jika dilihat lagi, mungkin bisa untuk memasak lauk selama seminggu. Sementara besok mereka sudah akan pulang."Ya sudah. Kalau kau merasa bahan makanannya terlalu banyak," kata Aaron yang duduk santai di meja pantri dari batu marmer. "Kita bisa tinggal di sini selama beberapa hari lagi."Olivia menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya."Atau sampai bahan makanannya habis." sambungnya ceria.Sambil berkacak pinggang, Olivia menatap isi kulkas dan berpikir. "Sisanya kita berikan saja pada Welly besok."Aaron mengangkat bahu. "Terserahmu saja."Olivia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk memasak. Malam ini ia berencana membuat makan malam yang sederhana.Kalau hidangan yang terlalu mewah, ia belum pernah mencobanya. Daripada bahan makanannya terbuang percuma, lebih baik ia membuat hidangan yang sederhana.
Semilir angin laut yang berhembus membelai lembut wajahnya sore itu terasa menenangkan. Hamparan laut biru di hadapannya tampak begitu indah dengan ombak yang bergulung dan pecah di tepi pantai.Aaron tengah sibuk berbicara di telepon sejak tadi. Jadi Olivia memutuskan untuk keluar sejenak untuk menikmati pemandangan.Tidak jauh dari villa, ada sebuah jalan setapak menuju tepi pantai. Olivia pun turun menyusuri jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang tersebut.Olivia melepas alas kakinya. Butiran pasir yang dirasakannya saat menginjakkan kaki di tanah bersih itu memberikan sensasi yang menyenangkan. Sudah lama ia tidak bermain di tepi pantai.Ia berjalan di tepi pantai sambil menatap laut luas di hadapannya. Rambut dan gaunnya yang tertiup hembusan angin ikut bergerak. Di antara suara kicauan burung-burung yang beterbangan di atas langit, Olivia pun ikut bersenandung.Terakhir kalinya Olivia pergi ke pantai itu bersama kedua orang tuanya, saat ia masih berusia sepuluh tah
Mendengar Karina yang baru saja menyebut nama Olivia membuat Ethan yang selama beberapa hari ini seperti kehilangan oksigen, seakan mendapatkan pasokan oksigen baru.Tubuhnya langsung tegak dan ia terduduk di atas kasur sambil menatap Karina.Aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya membuat Karina spontan mengibaskan tangan di depan wajah, mengusir aroma menusuk itu dari hidungnya. Mukanya pun ikut tertekuk."Ada apa dengan Olivia? Bagaimana kau bisa tahu tentangnya?" sergah Ethan tidak sabaran.Karina memutar bola mata dan berdecak sebal. Lalu ia melemparkan tatapan tajam ke arah sepupunya yang penampilannya saat itu terlihat seperti seorang pria tidak berguna."Dia sudah merebut calon tunanganku!" sahut Karina penuh kekesalan. "Saat aku mendatangi kediaman keluarga Kendrick, dia dengan bangganya menempel di pelukan Aaron."Kalimat terakhir yang diucapkan Karina bagaikan pedang panjang yang langsung menghujam tepat di dadanya. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya melengos."Su
Darahnya berdesir hingga membuat wajahnya memerah. Kilatan matanya memancarkan kebencian yang mengerikan."Si brengsek itu memang sudah sepantasnya mati!" desisnya tajam. "Seharusnya aku menghabisinya dengan tanganku sendiri waktu itu."Kalau saja Aaron tahu lebih awal tentang apa yang sudah dilakukan Jack terhadap Olivia, kakak tiri Olivia itu pasti sudah kehilangan nyawanya lebih cepat. Tidak perlu menunggu hingga Aaron berhasil membawa Olivia masuk ke mansionnya.Olivia meraih tangan Aaron yang mengepal tegang, lalu menggenggamnya. "Untuk apa mengotori tanganmu sendiri untuk orang sepertinya?""Karena dia sudah berani bersikap kurang ajar padamu, Liv!" sahut Aaron tidak terima. "Berani-beraninya dia mencoba menyentuhmu."Giginya bergemeretak melihat kemarahan yang terlukis jelas di wajah Aaron saat itu. Kepalanya sedikit tertunduk karena takut."Liv, lihat aku."Aaron tiba-tiba menggenggam kedua lengannya erat. Olivia langsung menurut dan mengangkat kepala dengan ragu. "Dengar," uc
Sudut matanya memanas menatap Aaron yang membatu di hadapannya.Bayang-bayang masa kelam yang pernah dialaminya dulu kembali berputar di benaknya saat melihat sikap Aaron tadi. Sorot matanya yang liar tadi berhasil membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.Aaron mengulurkan tangan, hendak menyentuhnya. Namun dengan spontan Olivia langsung bergerak menjauh."M-maafkan aku,"Sorot mata Aaron sudah kembali normal dan melunak. Rasa bersalah yang besar terpancar jelas di sana. Meskipun begitu, bayangan sosok yang mengerikan itu sudah terlanjur muncul di benaknya dan membuat Olivia merasa ngeri, juga ketakutan.Keheningan seketika menyelimuti ruangan tersebut, membuat suasana mendadak terasa menyesakkan. Aaron, maupun Olivia, keduanya hanya terdiam mematung di posisi masing-masing.aMereka bergeming cukup lama, seakan larut dengan pikiran masing-masing. Namun pada akhirnya, Aaron kembali membuka suara.Melihat ketakutan di wajah Olivia mulai samar, ia pun memberanikan diri untuk mendekatinya
Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t
Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal
Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany







