MasukPintu di belakangnya tertutup rapat.
Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.
Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan putri semata wayangnya itu.
Sekarang waktunya tidak banyak. Dengan langkah berat Olivia menghampiri ayahnya yang terbaring lemas. Tepat ketika langkah kakinya terhenti di tepi ranjang, Olivia melihat buliran air mata jatuh dari sudut mata ayahnya.
"Maafkan aku, Olivia." ujar ayahnya dengan suara parau. "Aku tak bisa menolongmu. Aku sungguh tak berguna!"
Olivia duduk di sebuah bangku kayu di tepi ranjang, lalu meraih tangan kurus juga lemah itu dan menggenggamnya erat. "Ini bukan salah ayah." sahut Olivia dengan seulas senyum pahit.
"Seandainya dulu aku tak membawa wanita itu masuk ke rumah ini, mungkin semua ini tak akan terjadi." Ayahnya menangis penuh penyesalan.
Olivia hanya tertunduk. Sejak awal, ia memang merasa kurang setuju dengan keputusan ayahnya saat membawa Katrin dan Jack masuk ke rumah mereka. Namun melihat raut wajah ayahnya yang kembali bersemangat membuat Olivia terpaksa menerima.
Sekarang semuanya sudah terlambat. Tidak ada hal yang perlu disesali lagi.
"Ayah, jangan khawatirkan aku." ucap Olivia dengan nada rendah. "Aku akan baik-baik saja."
Jika berada di sana lebih lama, Olivia yakin dirinya akan semakin sedih. Saat ini saja dadanya sudah terasa sesak karena menahan tangis. Karena itu ia memutuskan untuk segera pergi, sebelum perasaannya bertambah runyam.
"Selamat tinggal, ayah." pamitnya dengan suara berat.
Olivia baru saja akan bangkit dari bangkunya ketika ayahnya menahan tangannya. "Tunggu." Cengkeraman ayahnya cukup kuat. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
Atas arahan ayahnya, Olivia berhasil menemukan sebuah kotak kayu kecil dari bawah ranjang. Benda itu disembunyikan sangat rapi di dalam tanah yang ditutup dengan sebuah ubin yang tidak mencurigakan.
"Bukalah," perintah ayahnya.
Olivia menurut. Kotak kayu tersebut terbuka dan detik itu juga nafasnya terhenti. Olivia terkesiap dengan kedua mata melebar karena terkejut.
"Saat kau sudah berada di tepi jurang dan tak punya pilihan lain lagi, gunakan ini untuk melindungi dirimu.” begitu ucap ayahnya dengan suara dalam.
Olivia menatap ayahnya tak percaya. Lidahnya mendadak terasa kelu. Tidak ada sepatah kata pun yang berhasil diucapkannya.
"Bawalah benda itu bersamamu. Setidaknya hanya ini yang bisa kuberikan padamu, Olivia."
Dengan tangan bergetar, Olivia menyentuh benda itu. Benda mematikan yang selama ini hanya didengarnya dari cerita orang-orang sekitar. Ia sama sekali tak menyangka jika ayahnya diam-diam menyimpan benda semacam itu.
Sebuah pistol.
***
Di sebuah mansion besar yang dikelilingi oleh pagar besi tinggi dengan ujung tajam bagaikan tombak, seorang pria jangkung berwajah pucat tengah duduk di ruang kerjanya yang luas sambil mengetuk jari di atas meja yang terbuat dari kayu terbaik di kota itu.
Aaron Kendrick. Namanya sudah cukup lama dikenal di kalangan para keluarga bangsawan. Tapi baru-baru ini, namanya semakin banyak disebut setelah ia menjadi pemegang kendali tunggal mansion megah itu.
Tatapan kedua mata Aaron yang berwarna kecoklatan tampak kosong, seakan ada banyak hal yang sedang mengusik pikirannya.
Namun kenyataannya, ia hanya merasa tidak sabar. Josh Myers, pria tua yang menjadi orang kepercayaannya selama ini, belum juga kembali setelah dua jam keluar menjalankan perintah darinya.
"Kenapa Josh lama sekali?" gumamnya sambil berdecak.
Aaron mengambil sebuah botol kaca berisi cairan beralkohol di atas meja, lalu menuangkannya ke dalam sebuah gelas kristal hingga terisi setengah. Ia meneguknya perlahan.
Tok. Tok.
Wajahnya terangkat saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar. "Masuk." sahutnya.
Seorang pria bertubuh tegap berpenampilan rapi muncul dari balik pintu. Aaron hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.
"Tuan Roger sudah tiba di depan, Tuan." ujar pria itu melapor.
"Suruh dia masuk."
"Baik, Tuan." Pria tersebut menurut dan segera meninggalkan ruangan.
Tak berselang lama, seorang pria paruh baya bertubuh besar masuk ke dalam ruangannya. Tatapan matanya tampak sangar dengan janggut lebat di sekitar wajahnya, membuatnya terlihat begitu bengis dan menyeramkan.
Pria bernama Roger King itu kini berdiri di depan meja Aaron. "Senang bertemu dengan Anda lagi, Tuan Aaron." sapanya dengan seulas senyum menyeringai.
"Duduklah," perintah Aaron dengan nada tenang.
Meskipun pria di hadapannya itu terlihat sangat mengerikan, Aaron sama sekali tidak merasa terusik. Justru sebenarnya Roger-lah yang merasa sedikit gugup.
Roger tahu bahwa pria muda yang tampak tenang di hadapannya itu justru lebih berbahaya darinya. Penampilan luarnya sama sekali tidak menunjukkan isi pikirannya yang sesungguhnya.
Aaron langsung menyodorkan beberapa berkas pada Roger. Roger langsung mengambil berkas itu dan memeriksanya. "Oh, rupanya dia." gumam Roger kemudian.
"Kau mengenalnya?" tanya Aaron berpura-pura tidak tahu.
Roger mengangguk. "Si berandalan berengsek yang suka minum dan berjudi padahal tak punya uang. Ada banyak orang yang ingin menghabisinya."
Aaron setengah tergelak setengah mendengus mendengar ucapan Roger. Ia sudah tahu tentang hal itu. Orang suruhannya telah menyelidiki latar belakang dan keseharian si pemuda berengsek yang diceritakan Roger itu.
"Apa dia juga punya masalah dengan Anda? Kenapa Anda memintaku untuk..." Roger tidak melanjutkan ucapannya, hanya menunggu jawaban dari Aaron.
Sorot mata Aaron menggelap. Tatapan itu sangat dikenali oleh Roger. Tubuhnya diam-diam meremang. Binatang buas dalam diri seorang Aaron Kendrick sedang mengerang dan siap untuk menghabisi calon mangsanya.
"Dia sudah mengusik kehidupan calon istriku."
🔞-----Apa yang dilakukan Olivia terhadapnya barusan membuat Aaron mematung selama beberapa saat. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya barusan.Olivia menciumnya.Ciuman itu ringan dan tenang, namun sudah cukup untuk menghidupkan kembali gejolak dalam dirinya yang meronta.Aaron menunduk, menatap Olivia dengan mata disipitkan. "Kau tahu apa yang bisa kau timbulkan karena perbuatanmu barusan." Suaranya berbisik sangat pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat.Olivia menggigit bibir tanpa menyahut. Kedua matanya masih tertuju ke arah Aaron.Aaron meletakkan kedua tangannya di atas pundak Olivia. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia berhasil menyingkirkan gaun tidur tipis yang dikenakan Olivia untuk menutupi tubuhnya.Kain tipis itu jatuh ke atas lantai dengan mulus, menyisakan sebuah pakaian tidur berbahan satin yang sangat minim."Boleh?" bisik Aaron. Suaranya terdengar samar teredam suara deras hujan di luar sana.Olivia menatapnya selama beberapa detik
Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di
Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me
"Ini bahkan lebih dari cukup!"Olivia tercengang di depan kulkas dua pintu yang terbuka di hadapannya. Ada banyak bahan makanan di sana. Malah terlalu banyak!Jika dilihat lagi, mungkin bisa untuk memasak lauk selama seminggu. Sementara besok mereka sudah akan pulang."Ya sudah. Kalau kau merasa bahan makanannya terlalu banyak," kata Aaron yang duduk santai di meja pantri dari batu marmer. "Kita bisa tinggal di sini selama beberapa hari lagi."Olivia menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya."Atau sampai bahan makanannya habis." sambungnya ceria.Sambil berkacak pinggang, Olivia menatap isi kulkas dan berpikir. "Sisanya kita berikan saja pada Welly besok."Aaron mengangkat bahu. "Terserahmu saja."Olivia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk memasak. Malam ini ia berencana membuat makan malam yang sederhana.Kalau hidangan yang terlalu mewah, ia belum pernah mencobanya. Daripada bahan makanannya terbuang percuma, lebih baik ia membuat hidangan yang sederhana.
Semilir angin laut yang berhembus membelai lembut wajahnya sore itu terasa menenangkan. Hamparan laut biru di hadapannya tampak begitu indah dengan ombak yang bergulung dan pecah di tepi pantai.Aaron tengah sibuk berbicara di telepon sejak tadi. Jadi Olivia memutuskan untuk keluar sejenak untuk menikmati pemandangan.Tidak jauh dari villa, ada sebuah jalan setapak menuju tepi pantai. Olivia pun turun menyusuri jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang tersebut.Olivia melepas alas kakinya. Butiran pasir yang dirasakannya saat menginjakkan kaki di tanah bersih itu memberikan sensasi yang menyenangkan. Sudah lama ia tidak bermain di tepi pantai.Ia berjalan di tepi pantai sambil menatap laut luas di hadapannya. Rambut dan gaunnya yang tertiup hembusan angin ikut bergerak. Di antara suara kicauan burung-burung yang beterbangan di atas langit, Olivia pun ikut bersenandung.Terakhir kalinya Olivia pergi ke pantai itu bersama kedua orang tuanya, saat ia masih berusia sepuluh tah
Mendengar Karina yang baru saja menyebut nama Olivia membuat Ethan yang selama beberapa hari ini seperti kehilangan oksigen, seakan mendapatkan pasokan oksigen baru.Tubuhnya langsung tegak dan ia terduduk di atas kasur sambil menatap Karina.Aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya membuat Karina spontan mengibaskan tangan di depan wajah, mengusir aroma menusuk itu dari hidungnya. Mukanya pun ikut tertekuk."Ada apa dengan Olivia? Bagaimana kau bisa tahu tentangnya?" sergah Ethan tidak sabaran.Karina memutar bola mata dan berdecak sebal. Lalu ia melemparkan tatapan tajam ke arah sepupunya yang penampilannya saat itu terlihat seperti seorang pria tidak berguna."Dia sudah merebut calon tunanganku!" sahut Karina penuh kekesalan. "Saat aku mendatangi kediaman keluarga Kendrick, dia dengan bangganya menempel di pelukan Aaron."Kalimat terakhir yang diucapkan Karina bagaikan pedang panjang yang langsung menghujam tepat di dadanya. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya melengos."Su
Dari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu
Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t
Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla
“Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kej







