Chapter: Bab 431Jeritan panik terus memenuhi hutan ketika rombongan Adipati Dirgantara berusaha menerobos kegelapan malam. Langkah mereka semakin kacau karena harus menghindari serangan yang datang dari arah yang tidak mereka ketahui.Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat membelah udara. Dalam sekejap, panah itu mengenai punggung Adipati Dirgantara."Aaargh!" Adipati Dirgantara terhuyung ke depan sambil meringis menahan nyeri. Wajahnya semakin pucat, sementara napasnya terdengar semakin berat."Yang Mulia Adipati!" teriak salah seorang prajurit. Ia segera menopang tubuh pria paruh baya itu agar tidak terjatuh ke tanah."Kita tidak boleh berhenti!" seru pemimpin pasukan. "Terus bergerak! Jangan beri kesempatan musuh mengepung kita!"Kanaya menoleh ke belakang dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. "Ayah, bertahanlah. Kita sudah hampir sampai."Adipati Dirgantara menggertakkan gigi sambil memaksakan diri berdiri tegak. "Aku... masih bisa berjalan. Jangan pedulikan aku, terus maju."Di atas bukit, Elena m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab. 430Para pasukan khusus terus berlari menembus lebatnya hutan sambil membawa Adipati Dirgantara yang masih terluka. Di belakang mereka, beberapa orang bergantian menggendong Kanaya agar rombongan tidak kehilangan kecepatan."Jangan berhenti!" seru pemimpin pasukan dengan suara pelan namun tegas. "Selama kita berhasil melewati perbukitan di depan, mereka tidak akan bisa mengejar."Salah seorang prajurit menoleh ke belakang. Setelah memastikan tidak ada siapa pun yang mengikuti, ia mengembuskan napas lega. "Sepertinya kita berhasil keluar. Tidak ada tanda-tanda pengejar."Kanaya yang wajahnya masih pucat menggenggam lengan ayahnya. "Ayah ... kita benar-benar selamat, bukan?"Adipati Dirgantara tersenyum tipis meski napasnya masih berat. "Tentu. Mereka terlalu lambat untuk menangkap kita."Di atas sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan pinus, empat sosok berdiri dalam diam. Elena, Caspian, Guru Orion, dan Mina memandang rombongan itu dari kejauhan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.Mina men
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14
Chapter: Bab. 429Di Paviliun Phoenix yang megah namun terasa dingin, Permaisuri Lola berdiri dari singgasananya dengan wajah terkejut. “Apa?!” serunya lantang. “Adipati Dirgantara akan dieksekusi mati besok?”Prajurit yang berlutut di hadapannya menunduk dalam, suaranya tegas namun hati-hati. “Benar, Yang Mulia. Informasi ini telah dikonfirmasi dari istana pusat.”Permaisuri Lola mengepalkan tangannya, napasnya mulai tidak teratur. “Tidak mungkin, kenapa eksekusinya secepat ini?” tanyanya dengan nada menekan.“Adipati Dirgantara terbukti mengkhianati Kekaisaran Solaria,” jawab prajurit itu. “Ia menyerahkan beberapa wilayah kepada Kelompok Kegelapan dan juga menggunakan elemen kegelapan.”Sejenak, keheningan menyelimuti ruangan itu. Wajah Permaisuri Lola berubah pucat, namun sorot matanya dipenuhi kepanikan dan amarah yang bercampur menjadi satu.“Siapkan pasukan!” perintahnya tiba-tiba. “Aku tidak peduli bagaimana caranya, kita harus menyelamatkannya sebelum eksekusi itu terjadi.”Prajurit itu langsun
Terakhir Diperbarui: 2026-07-07
Chapter: Bab. 428Suasana di dalam ruangan perlahan kembali tenang setelah tangis Elena mereda. Meski matanya masih memerah, sorot di balik irisnya telah berubah, bukan lagi dipenuhi kesedihan, melainkan keteguhan yang dingin dan sulit ditebak.Guru Orion memperhatikan Elena dalam diam. Setelah memastikan gadis itu sudah mampu mengendalikan emosinya, ia mengembuskan napas pelan lalu bertanya, "Jadi, apa rencanamu sekarang, Elena?"Semua mata langsung tertuju kepada Elena. Bahkan Mina yang masih menyeka air matanya ikut menunggu jawaban gadis itu dengan penuh rasa penasaran.Elena terdiam beberapa saat. Ia menatap nyala api kecil di perapian, seolah sedang menyusun setiap langkah di dalam pikirannya.Beberapa detik kemudian, bibirnya perlahan terbuka."Bukankah besok adalah hari eksekusi mati untuk Adipati Dirgantara?"Ucapan itu membuat Guru Orion sedikit mengernyit. Caspian tetap diam, sementara Mina memandang Elena dengan tatapan bingung."Iya," jawab Guru Orion perlahan. "Besok pagi seluruh rakyat a
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: Bab. 427Tangan Elena perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun dengan napas yang mulai tidak teratur, sementara bayangan tentang ibunya yang dikhianati oleh sahabat sendiri terus berputar di dalam kepalanya.Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya. Namun, kali ini air mata itu bukan karena kesedihan semata, melainkan karena amarah yang begitu besar hingga seluruh tubuhnya bergetar."Jadi ... ibuku ..." suara Elena tercekat. "Beliau tidak mati karena sakit ... tetapi dibunuh."Mina hanya mampu menundukkan kepala. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung."Iya," jawabnya lirih. "Permaisuri Arini diracuni sedikit demi sedikit oleh Lola. Tubuh beliau semakin lemah setiap hari hingga akhirnya tidak mampu bertahan."Elena menggigit bibirnya begitu keras sampai terasa perih. Kilatan petir di luar jendela seolah menyatu dengan kobaran amarah yang memenuhi kedua matanya."Hanya demi sebuah tahta ..." bisiknya serak. "Hanya demi menjadi permaisuri. ..."Min
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: Bab. 426Mata Mina menerawang jauh. Sorot matanya perlahan meredup, seolah kembali menembus lorong waktu yang telah lama terkubur dalam ingatannya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara pelan yang dipenuhi penyesalan."Semua bermula pada malam ketika Yang Mulia Kaisar Ethan menerima dua kabar sekaligus," ucap Mina lirih. "Satu kabar membawa perang, sementara kabar lainnya membawa kehidupan."Malam itu, langit di atas Kekaisaran Kaelum diselimuti awan hitam pekat. Kilatan petir menyambar tanpa henti, sementara hujan deras mengguyur seluruh istana hingga halaman batu tampak seperti lautan kecil yang beriak diterpa angin.Di ruang pertemuan kerajaan, Kaisar Ethan berdiri dengan wajah tegang. Seorang jenderal berlutut di hadapannya sambil menundukkan kepala."Yang Mulia, pasukan pemberontak telah menembus benteng perbatasan utara. Mereka bergerak sangat cepat. Jenderal Bastian meminta bala bantuan secepatnya."Rahang Ethan mengeras. Ia mengepalkan tangannya sambil
Terakhir Diperbarui: 2026-07-04
Chapter: Bab 536Setelah kedua bayi kembar itu dibersihkan dan dibedong dengan kain sutra lembut, Zhao Xueyan terlihat berbaring lemah namun wajahnya dipenuhi senyum kebahagiaan. Ratu Bing Qing duduk di samping ranjang, menggendong cucu laki-lakinya dengan hati-hati, menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih. “Cucu nenek tampan sekali, benar-benar seperti ayahnya,” gumam Ratu Bing Qing sambil tersenyum haru. Di sisi lain, Kaisar Tian Ming duduk di samping Zhao Xueyan sambil menggendong bayi perempuannya. Tangannya mengusap pelan pipi sang putri yang putih kemerahan itu dengan mata berkaca-kaca. “Putriku, cantik sekali. Benar-benar mirip ibumu.” Saat itu Raja Zhao Yun mendekat, menatap sang cucu perempuan dengan tatapan gemas. Dia lalu menatap Kaisar Tian Ming dengan alis terangkat. “Yang Mulia, izinkan aku menggendong cucuku sebentar,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Namun Kaisar Tian Ming langsung memalingkan tubuhnya, menjauhkan sang putri dari jangkauan Raja Zhao Yun sambil menatapnya den
Terakhir Diperbarui: 2025-07-13
Chapter: Bab 535Sembilan bulan kemudian…Di paviliun Naga, suasana terlihat sangat tegang. Suara jeritan dan napas terengah-engah terdengar memenuhi ruangan. Zhao Xueyan terbaring dengan tubuh penuh peluh, rambutnya menempel di wajah pucatnya. Tangannya mencengkeram erat kain di bawahnya.“Arghhh … ahhh .…” suara Zhao Xueyan parau menahan sakit yang luar biasa.Di samping ranjang, Kaisar Tian Ming memegangi tangan istrinya dengan mata merah menahan tangis. Tangannya yang besar membelai kepala Zhao Xueyan dengan lembut.“Sayang, bertahanlah, sebentar lagi … sebentar lagi bayi kita lahir .…” suara Tian Ming bergetar menahan rasa sakit yang seolah ikut dia rasakan.Zhao Xueyan menatap suaminya dengan mata penuh air mata.“Tian Ming, sakit sekal i… ahhhh .…” jeritnya kembali menggema.Di sisi lain, Tabib Sun dengan sigap memeriksa sambil memberikan aba-aba.“Yang Mulia Permaisuri … tarik napas … lalu dorong! Sekarang!”Zhao Xueyan menarik napas dalam, menahan tangisnya, lalu mengejan sekuat tenaga.Niuni
Terakhir Diperbarui: 2025-07-13
Chapter: Bab 534Sebulan kemudian…Istana kekaisaran Tianyang kembali pada suasana damai dan megah seperti sedia kala. Setelah sekian lama diliputi ketegangan dan intrik kotor, kini suara musik lembut, aroma dupa, dan tawa bahagia terdengar di setiap sudut istana.Hari ini, Kaisar Tian Ming mengadakan perayaan besar-besaran untuk merayakan kehamilan sang istri tercinta, Permaisuri Zhao Xueyan.Terlihat Zhao Xueyan duduk anggun di singgasananya dengan hanfu putih bersulamkan benang emas, perutnya yang mulai membuncit menambah aura keibuannya. Ia tersenyum menatap rakyat dan para pejabat yang datang untuk memberi selamat.Seorang pejabat tua menatap Zhao Xueyan dengan senyum ramah lalu menangkupkan tangan memberi hormat.“Selamat atas kehamilan Yang Mulia Permaisuri, semoga putra atau putri yang lahir kelak membawa kejayaan dan kebahagiaan bagi Kekaisaran Tianyang.”Zhao Xueyan tersenyum lembut sambil membalas hormat dengan anggun. “Terima kasih atas doanya, Menteri Li.”Tak jauh dari sana, Kaisar Tian
Terakhir Diperbarui: 2025-07-12
Chapter: Bab 533Setelah Putri Min Ji beserta keluarganya diseret keluar aula penobatan dengan jeritan histeris, suasana altar kembali hening. Hanya terdengar suara napas berat Ibu Suri Gao yang perlahan melangkah mendekati suaminya.Dengan mata berkaca-kaca, Ibu Suri Gao menatap Kaisar Tian Jing. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Kedua tangannya meraih lengan sang suami dengan lembut, seolah takut sentuhannya akan membuat pria itu menghilang lagi.“Suamiku … Jing’er … akhirnya kau kembali,” suaranya serak bergetar penuh kerinduan. “Aku … aku merindukanmu setiap hari. Aku mengira telah kehilanganmu selamanya.”Tapi tatapan Kaisar Tian Jing tidak menunjukkan kehangatan yang diharapkan sang istri. Matanya hanya menatap Ibu Suri Gao dengan sorot dingin yang penuh kekecewaan.Melihat itu, Ibu Suri Gao menelan ludah. Hatinya berdebar tak karuan. Perlahan ia bertanya dengan suara gemetar.“Ada … ada apa, suamiku? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kenapa kau menatap istrimu dengan tatapan seperti itu? Apa ke
Terakhir Diperbarui: 2025-07-11
Chapter: Bab 532Saat itu, seluruh aula penobatan terdiam membeku. Hening yang menyesakkan seolah menelan semua suara. Hanya suara napas ketakutan Putri Min Ji yang terdengar pelan.Tiba-tiba, terdengar suara berat yang menua namun tegas memecah keheningan itu.“Benarkah … aku akan mati, Min Ho?”Suara itu bergema pelan namun menusuk ke jantung setiap orang yang mendengarnya.Semua orang menoleh dengan cepat, menatap ke arah sumber suara. Di sudut ruangan, di antara deretan kursi para tamu bangsawan, tampak sosok seorang pria tua dengan pakaian kekaisaran meski telah lusuh. Rambutnya sudah beruban seluruhnya, namun matanya tajam penuh wibawa.Deg! Itu Kaisar Tian Jing.Dia berdiri tegak meski tubuhnya kurus, tatapannya menusuk lurus pada Tuan Min Ho di atas altar.Di sampingnya, berdiri Zhao Xueyan dengan hanfu putih polos dan selendang biru. Wajah Zhao Xueyan tanpa riasan, namun sorot matanya begitu dingin dan tajam. Tatapannya mengarah pada Putri Min Ji dengan tatapan meremehkan yang menusuk.Mulut
Terakhir Diperbarui: 2025-07-10
Chapter: Bab 531Ibu Suri Gao menatap tajam ke arah Tuan Min Ho. Suaranya bergetar menahan amarah dan keterkejutan yang luar biasa.“Apa maksudmu Kaisar Tian Jing akan mati?” suaranya meninggi, matanya menatap tajam. “Suamiku itu sudah lama mangkat! Jangan menyebut-nyebut namanya sembarangan roh beliau akan merasa kau mempermainkan hal ini!”Tuan Min Ho justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar menakutkan di tengah keheningan aula. Semua orang menatapnya dengan kengerian. Putri Min Ji yang terduduk menangis, perlahan menatap ayahnya dengan mata penuh harap.Nyonya Kim Na melangkah mendekat, menatap putrinya dengan senyum menenangkan. Dengan lembut namun tegas, dia membantu Putri Min Ji berdiri sambil berbisik pelan namun terdengar jelas.“Bangunlah, putriku. Kita belum kalah.”Mendengar itu, Putri Min Ji perlahan menghapus air matanya. Matanya yang bengkak kini menatap dengan sinar penuh harap, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.Tuan Min Ho menatap lurus pada Ibu Suri Gao. Tatapan matanya
Terakhir Diperbarui: 2025-07-09