Chapter: Bab 10. Tiiiiinn.. Braaakk!!Pagi di kediaman Sharma cerah. Bau nasi goreng sama roti bakar kecium dari dapur. Milea udah rapi, tas ransel di punggung. Shanum berdiri kaku di dekat meja makan, seragamnya licin, tapi tangannya dingin.“Mamah... selamat pagi!” Milea nyamperin Parvati yang lagi nata buah di meja.“Pagi juga, Sayang. Ayok sarapan dulu,” jawab Parvati, senyumnya tipis ke Milea, hambar ke Shanum.“Iya, Mah. Sasa, ayok sini. Kok malah berdiri?” Milea noleh ke Shanum yang masih diem di tempat.Shanum cuma ngangguk kecil. Rohan keluar dari kamar, kemeja rapi, udah siap nganter. “Sasa, ayok sarapan, Nak. Biar kuat sekolah.”“Iya, Om,” jawab Shanum pelan, terus duduk di ujung meja, deket Milea.Rohan narik kursi, duduk di depan Shanum. Matanya hangat. “Sasa, bisa nggak mulai hari ini panggil Om... Papah?”Sendok Shanum berhenti di udara. Jantungnya kayak kejedot. Dia natap Rohan, terus ngangguk kaku. “I... iya, Pah.”Rohan senyum lega. “Makasih, Sayang. Papah seneng dengernya.”“Sama-sama... Pah,” suara Sha
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 9. Selimut Yang Menyembunyikan Nasi“Udah bagus kamu itu diangkat di keluarga ini. Jangan berbuat ulah. Sok jagoan kamu!”Parvati nyentak, lalu melengos ninggalin Shanum dan Bibi di dapur. Sendalnya berisik nginjek lantai marmer.Bibi ngelus dada. “Astaghfirullah... Non Sasa yang sabar, ya. Nyonya itu sebenernya baik. Tapi akhir-akhir ini... Bibi juga bingung. Kayak bukan Nyonya yang dulu.”Shanum nunduk, nyembunyiin mata yang udah panas. “Nggak papa, Bi. Sasa bantuin Bibi beresin aja ya?”“Eh, jangan, Non!” Bibi buru-buru nahan tangan Shanum. “Non ambil nasi yang baru mateng aja. Makan di sini, deket Bibi. Kalau Nyonya balik, Bibi yang pasang badan.”Shanum geleng pelan. “Tadi Tante Parvati nggak bolehin Sasa makan, Bi.”Belum selesai ngomong, dari pintu dapur ada bisikan, “Sut! Sasa!”Milea. Matanya jelalatan, takut ketahuan.“Kakak? Ada apa?” Shanum heran.“Sini. Kita ke kamar,” bisik Milea lagi, narik tangan Shanum.“Tapi Sasa masih ada tugas, Kak. Nguras kolam sama bersihin lumut,” jawab Shanum lirih. Itu hukuman P
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 8. Gelas Kecil, Hati Yang LuasRuang kepala sekolah IHS dingin. Parvati duduk tegak, tangan di pangkuan. Di seberangnya, Jesicca—Mamih Ceri—main HP, bibir manyun. Kacamata Dior nongkrong di kepala.“Terima kasih Ibu Parvati dan Ibu Jesicca sudah berkenan hadir,” Pak Edward, kepala sekolah, membuka suara.“Ini sebenarnya ada apa, Pak? Anak saya nggak mungkin bikin ribut,” Parvati langsung, nadanya jaga wibawa.“Iya, Pak. Saya sibuk banget. Nggak ada waktu buat urusan receh begini,” Jesicca nyamber, sengaja nyindir.Pak Edward senyum diplomatis. “Mohon tenang dulu, Bu. Biar saya jelaskan.”Keduanya tenang. Pak Edward lanjut, “Jadi begini. Milea, Shanum, dan Ceri terlibat sedikit keributan di kelas 3-A saat jam istirahat.”“Ceri nggak mungkin mulai duluan, Pak! Saya selalu bilang ke anak saya: hormati guru, sayang temen,” Jesicca pasang badan.“Jadi maksud Ibu, putri saya yang mulai?” Parvati tatap Jesicca tajam.“Bisa jadi! Mungkin putri Ibu kesepian, nggak ada temen main di rumah,” Jesicca ketawa kecil, sinis.Parva
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab ,7. Bekal, Tumbler , dan Panggilan ke KantorDi ruang tamu, Pak Bambang menutup laptopnya. “Baik, surat perjanjian sudah selesai. Inti isinya: Shanum Yasmin Khan tidak berhak atas harta yang dimiliki Bapak Rohan Sharma, kecuali jika pihak kedua memberikan dengan ikhlas, yaitu Milea Rubby Sharma.”Parvati menghela napas lega. “Terima kasih, Pak Bambang.”“Sama-sama, Bu Parvati. Pak Rohan, saya pamit ya,” Pak Bambang berdiri, menyalami Rohan.“Iya, Pak. Hati-hati di jalan,” Rohan mengantar sampai pintu.“Baik, Pak,” Pak Bambang keluar, meninggalkan rumah Sharma yang tiba-tiba terasa lebih dingin.---Pagi di Kediaman Sharma. Jam 06.30.Milea dan Shanum sudah rapi dengan seragam International High School. Rok plisket navy, kemeja putih, dasi merah. Milea rambutnya dikepang dua. Shanum rambutnya dikuncir kuda sederhana.“Sayang, kamu yakin mau sekolah hari ini?” Rohan jongkok, cek dahi Milea. Khawatir.“Yakin, Pah! Aku pengen kenalin Sasa ke semua temenku!” Milea semangat, pipinya udah nggak sepucat kemarin.“Kamu udah nggak pusing
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 6. Kertas Perjanjian, Hati Yang RetakMobil Rohan berhenti di halaman rumah mewah bergaya klasik. “Kediaman Sharma” terukir di gerbang besi.“Pah... kok kasurnya gede banget?” Milea celingak-celinguk pas masuk kamar. Ranjang _king size_ dengan seprai warna pastel udah rapi.“Sengaja, Sayang. Biar kepake lama. Sampai kalian gede,” Rohan senyum, naruh tas Milea di kursi.“Tapi... Sasa tidur di sini kan, Pah? Bareng aku?” Milea nengok ke Shanum yang masih berdiri kaku di pintu.“Iya, Sayang. Sasa, sini Nak,” Rohan melambai.“Iya, Om,” Shanum melangkah pelan, takut salah injak karpet mahal.“Sekarang kamu tidur di sini, sama Lea kakak kamu. Jangan sungkan ya. Besok Om daftarin kamu sekolah,” Rohan jongkok, sejajarin tinggi Shanum.Mata Shanum langsung berkaca. “Iya, Om... makasih banyak, Om. Sasa udah didaftarin sekolah”“Sama-sama, Sayang. Kamu bakal satu sekolah sama Kak Lea,” Rohan usap kepala Shanum.Milea yang denger langsung loncat kecil di kasur. “Yang bener, Pah? Sasa satu sekolah sama aku?”“Iya, Lea Sayang. Kamu keb
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Bab 5. Satu Atap, Dua Dunia“Adik baru, Pah?” Milea natap Shanum, matanya besar, kepalanya masih diperban. Suaranya lirih tapi jelas.“Iya, Sayang. Nggak apa-apa ya Sasa jadi adik angkat kamu? Dia bakal tinggal sama kita,” Rohan jawab hati-hati. Dia takut. Takut Milea nolak. Takut Shanum patah hati lagi.Milea diem sebentar. Napas semua orang di ruangan itu kayak ketahan. Terus... bibir kecil itu senyum.“Nggak apa-apa, Pah. Aku seneng! Akhirnya punya adik. Usianya juga beda dikit sama aku!” Milea tepuk tangan pelan.Rohan lega setengah mati. “Makasih, Sayang. Kamu mau nerima Sasa. Sasa, sini Nak,” panggilnya lembut.“Iya, Om,” Shanum maju ragu, terus duduk di pinggir ranjang, deket Rohan sama Milea.Parvati yang berdiri di belakang Rohan maksa senyum. Tapi matanya nggak bohong. Ada yang nggak rela di sana.“Mah, sini!” Rohan lambaikan tangan.“Iya, Mas,” Parvati jawab ke Rohan, bukan ke Milea. Dia melangkah, duduk di sisi Milea yang lain. Senyumnya tipis banget.“Pah, Lea pengen pulang hari ini juga. Lea mau ma
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11