MasukShanum Yasmin Khan tahu dia hanya anak angkat. Sejak Rohan Sharma, ayah angkatnya, nekat memungut Shanum tanpa izin Parvati, hidupnya tak pernah sama. Parvati, ibu angkatnya, menatap Shanum dengan benci. Terutama setelah Rohan meninggal dunia dalam kecelakaan tragis, hanya karena berbalik arah untuk mengambil barang Shanum yang tertinggal. _"Kau pembawa sial,"_ bisik Parvati setiap malam. Dan Shanum percaya itu. Bertahun kemudian, Shanum akhirnya merasakan bahagia. Dia bertemu Dave Matthews, laki laki hangat yang menerimanya apa adanya. Yang berjanji akan menghapus semua luka Shanum dan menjadikannya istri. Sampai Milea, kakak angkatnya, mengaku. Milea mencintai Dave. Milea juga sekarat karena leukimia stadium akhir. Dan Parvati memberi pilihan yang kejam: _"Tebus dosamu, Shanum. Berikan Dave pada Milea. Biar dia bahagia di sisa umurnya. Atau kau keluar dari keluarga ini tanpa nama."_ Di antara janji suci pernikahan dan permintaan terakhir seorang kakak yang sekarat, Shanum harus memilih. Bahkan ketika Dave menggenggam tangannya erat dan berkata, _"Aku tidak mau. Aku memilihmu."_ *Haruskah Shanum kembali mengorbankan cintanya? Demi menebus kematian Papa Rohan yang tidak akan pernah bisa dia bayar?*
Lihat lebih banyakPagi di kediaman Sharma cerah. Bau nasi goreng sama roti bakar kecium dari dapur. Milea udah rapi, tas ransel di punggung. Shanum berdiri kaku di dekat meja makan, seragamnya licin, tapi tangannya dingin.“Mamah... selamat pagi!” Milea nyamperin Parvati yang lagi nata buah di meja.“Pagi juga, Sayang. Ayok sarapan dulu,” jawab Parvati, senyumnya tipis ke Milea, hambar ke Shanum.“Iya, Mah. Sasa, ayok sini. Kok malah berdiri?” Milea noleh ke Shanum yang masih diem di tempat.Shanum cuma ngangguk kecil. Rohan keluar dari kamar, kemeja rapi, udah siap nganter. “Sasa, ayok sarapan, Nak. Biar kuat sekolah.”“Iya, Om,” jawab Shanum pelan, terus duduk di ujung meja, deket Milea.Rohan narik kursi, duduk di depan Shanum. Matanya hangat. “Sasa, bisa nggak mulai hari ini panggil Om... Papah?”Sendok Shanum berhenti di udara. Jantungnya kayak kejedot. Dia natap Rohan, terus ngangguk kaku. “I... iya, Pah.”Rohan senyum lega. “Makasih, Sayang. Papah seneng dengernya.”“Sama-sama... Pah,” suara Sha
“Udah bagus kamu itu diangkat di keluarga ini. Jangan berbuat ulah. Sok jagoan kamu!”Parvati nyentak, lalu melengos ninggalin Shanum dan Bibi di dapur. Sendalnya berisik nginjek lantai marmer.Bibi ngelus dada. “Astaghfirullah... Non Sasa yang sabar, ya. Nyonya itu sebenernya baik. Tapi akhir-akhir ini... Bibi juga bingung. Kayak bukan Nyonya yang dulu.”Shanum nunduk, nyembunyiin mata yang udah panas. “Nggak papa, Bi. Sasa bantuin Bibi beresin aja ya?”“Eh, jangan, Non!” Bibi buru-buru nahan tangan Shanum. “Non ambil nasi yang baru mateng aja. Makan di sini, deket Bibi. Kalau Nyonya balik, Bibi yang pasang badan.”Shanum geleng pelan. “Tadi Tante Parvati nggak bolehin Sasa makan, Bi.”Belum selesai ngomong, dari pintu dapur ada bisikan, “Sut! Sasa!”Milea. Matanya jelalatan, takut ketahuan.“Kakak? Ada apa?” Shanum heran.“Sini. Kita ke kamar,” bisik Milea lagi, narik tangan Shanum.“Tapi Sasa masih ada tugas, Kak. Nguras kolam sama bersihin lumut,” jawab Shanum lirih. Itu hukuman P
Ruang kepala sekolah IHS dingin. Parvati duduk tegak, tangan di pangkuan. Di seberangnya, Jesicca—Mamih Ceri—main HP, bibir manyun. Kacamata Dior nongkrong di kepala.“Terima kasih Ibu Parvati dan Ibu Jesicca sudah berkenan hadir,” Pak Edward, kepala sekolah, membuka suara.“Ini sebenarnya ada apa, Pak? Anak saya nggak mungkin bikin ribut,” Parvati langsung, nadanya jaga wibawa.“Iya, Pak. Saya sibuk banget. Nggak ada waktu buat urusan receh begini,” Jesicca nyamber, sengaja nyindir.Pak Edward senyum diplomatis. “Mohon tenang dulu, Bu. Biar saya jelaskan.”Keduanya tenang. Pak Edward lanjut, “Jadi begini. Milea, Shanum, dan Ceri terlibat sedikit keributan di kelas 3-A saat jam istirahat.”“Ceri nggak mungkin mulai duluan, Pak! Saya selalu bilang ke anak saya: hormati guru, sayang temen,” Jesicca pasang badan.“Jadi maksud Ibu, putri saya yang mulai?” Parvati tatap Jesicca tajam.“Bisa jadi! Mungkin putri Ibu kesepian, nggak ada temen main di rumah,” Jesicca ketawa kecil, sinis.Parva
Di ruang tamu, Pak Bambang menutup laptopnya. “Baik, surat perjanjian sudah selesai. Inti isinya: Shanum Yasmin Khan tidak berhak atas harta yang dimiliki Bapak Rohan Sharma, kecuali jika pihak kedua memberikan dengan ikhlas, yaitu Milea Rubby Sharma.”Parvati menghela napas lega. “Terima kasih, Pak Bambang.”“Sama-sama, Bu Parvati. Pak Rohan, saya pamit ya,” Pak Bambang berdiri, menyalami Rohan.“Iya, Pak. Hati-hati di jalan,” Rohan mengantar sampai pintu.“Baik, Pak,” Pak Bambang keluar, meninggalkan rumah Sharma yang tiba-tiba terasa lebih dingin.---Pagi di Kediaman Sharma. Jam 06.30.Milea dan Shanum sudah rapi dengan seragam International High School. Rok plisket navy, kemeja putih, dasi merah. Milea rambutnya dikepang dua. Shanum rambutnya dikuncir kuda sederhana.“Sayang, kamu yakin mau sekolah hari ini?” Rohan jongkok, cek dahi Milea. Khawatir.“Yakin, Pah! Aku pengen kenalin Sasa ke semua temenku!” Milea semangat, pipinya udah nggak sepucat kemarin.“Kamu udah nggak pusing












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.