Calon Suamiku untuk Kakak Angkatku

Calon Suamiku untuk Kakak Angkatku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-15
Oleh:  2 harapan Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
10Bab
33Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Shanum Yasmin Khan tahu dia hanya anak angkat. Sejak Rohan Sharma, ayah angkatnya, nekat memungut Shanum tanpa izin Parvati, hidupnya tak pernah sama. Parvati, ibu angkatnya, menatap Shanum dengan benci. Terutama setelah Rohan meninggal dunia dalam kecelakaan tragis, hanya karena berbalik arah untuk mengambil barang Shanum yang tertinggal. _"Kau pembawa sial,"_ bisik Parvati setiap malam. Dan Shanum percaya itu. Bertahun kemudian, Shanum akhirnya merasakan bahagia. Dia bertemu Dave Matthews, laki laki hangat yang menerimanya apa adanya. Yang berjanji akan menghapus semua luka Shanum dan menjadikannya istri. Sampai Milea, kakak angkatnya, mengaku. Milea mencintai Dave. Milea juga sekarat karena leukimia stadium akhir. Dan Parvati memberi pilihan yang kejam: _"Tebus dosamu, Shanum. Berikan Dave pada Milea. Biar dia bahagia di sisa umurnya. Atau kau keluar dari keluarga ini tanpa nama."_ Di antara janji suci pernikahan dan permintaan terakhir seorang kakak yang sekarat, Shanum harus memilih. Bahkan ketika Dave menggenggam tangannya erat dan berkata, _"Aku tidak mau. Aku memilihmu."_ *Haruskah Shanum kembali mengorbankan cintanya? Demi menebus kematian Papa Rohan yang tidak akan pernah bisa dia bayar?*

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1. Pertemuan

*BRAKKK!!!*

Kap mobil Alphard hitam penyok parah. Kaca depan retak kayak jaring laba-laba.

Rohan Sharma menatap ngeri ke depan. Di aspal Jalan Setiabudi Bandung, seorang anak kurus tergeletak. Jaket kebesaran warna biru pudar, darah merah mulai merembes dari pelipisnya. Anak itu nggak lebih dari tujuh tahun. Sepantaran Milea.

Tangan Rohan gemetar pegang setir. Napasnya tercekat.

“Ya Tuhan...”

Belum sempat dia buka pintu, teriakan melengking sudah memecah udara sore.

“Hei, keluar! Anda harus bertanggung jawab! Anak kecil ditabrak!”

Rohan buru-buru keluar mobil. Jas biru dongker 20 juta langsung kena debu jalanan. Dia nggak peduli. Lututnya nyaris lemas saat menggendong tubuh ringan itu. Tulangnya sekecil ranting.

“Nak... Nak, dengar Om? Buka mata kamu, Nak...” suara Rohan serak. Panik.

Anak itu membuka mata setengah. Ikal rambutnya basah keringat. Bibirnya pucat. Tapi yang keluar dari mulutnya bukan jeritan kesakitan.

“Om... jangan kasih tahu Ibu... Ibu marah kalau Sasa pulang sore...” bisiknya pelan. Lalu pingsan.

Jantung Rohan serasa ditusuk. _Ibu marah kalau pulang sore._ Umur segitu harusnya mikir mainan, bukan mikir dimarahi.

“Ambulans! Cepat panggil ambulans!” Rohan berteriak ke warga yang mulai berkerumun.

Seorang anak laki-laki nyelonong masuk. Wajahnya cemas setengah mati.

“Om, saya boleh ikut ya? Kasihan Shanum tinggal sendiri di saat ibunya bekerja!”

“Shanum?” Rohan menatap anak di gendongannya. “Kamu kenal dia?”

“Iya, Om. Saya Karan. Temennya. Ibunya...” Karan menunduk. Nggak sanggup lanjut.

Rohan nggak nanya lagi. Dia langsung melesat ke RS terdekat, ngebut nerobos lampu merah. Di jok belakang, Karan memegangi tangan Shanum erat-erat sambil komat-kamit baca doa.

12 menit kemudian, pintu IGD RS Harapan Bunda Bandung kebuka.

“Suster! Tolong! Anak ini kritis! Ketabrak mobil saya!” Rohan teriak. Suaranya pecah. Untuk pertama kali seumur hidup, CEO Sharma Group panik kayak orang gila.

Dokter dan suster langsung sigap. Shanum digeser ke brankar. Pintu IGD _swing_ ditutup keras.

Rohan dan Karan cuma bisa menunggu di luar. Cemas. Takut.

15 menit yang rasanya 15 tahun.

Pintu IGD kebuka. Dokter Rina keluar, masker masih nyangkut di leher.

“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Rohan maju cepat.

“Alhamdulillah sudah stabil, Pak. Luka di kepala nggak dalam. Cuma...” Dokter menggantung kalimatnya.

“Cuma apa, Dok?”

“Cuma anak ini kurang gizi parah, Pak. Tubuhnya jauh di bawah standar anak seusianya. Kayaknya sering telat makan. Pak Rohan kenal orangtuanya?”

Rohan tertegun. Matanya menatap Shanum dari balik kaca IGD. Kurus. Tulang pipinya menonjol. Kontras banget sama Milea di rumah. Yang pipinya cabi karena kebanyakan puding.

Belum sempat Rohan jawab, petugas kantin datang dorong troli.

“Permisi, Pak. Pesanan Bapak. 10 porsi nasi padang komplit.”

Rohan ngangguk. “Taroh di situ, Mas. Makasih.”

Begitu bau rendang nyebar, Karan langsung nelen ludah. Shanum yang udah sadar juga melirik. Matanya lapar, tapi dia nahan. Bibirnya digigit.

“Kenapa kalian diem aja? Ayo makan,” Rohan nyodorin piring.

Shanum kaget. “Ini... ini semua buat kami, Om?”

“Iya. Kalian belum makan dari pagi, kan?” Rohan pura-pura nggak denger perut Karan bunyi.

Shanum menunduk. Tangannya gemetar megang sendok. “Maaf, Om. Sasa merepotkan...”

“Kamu nggak merepotkan, Nak. Om teringat anak perempuan Om kalau lihat kamu,” Rohan senyum tipis. Nggak tega.

“Om punya anak perempuan?” tanya Shanum polos.

“Iya. Umurnya tujuh tahun. Namanya Milea. Sepantaran kamu. Dia selalu ngerengek minta adik perempuan yang lucu.” Rohan menghela napas. “Tapi nggak mungkin. Istri Om nggak bisa hamil lagi setelah kecelakaan dulu.”

Shanum diam. Sendoknya berhenti di tengah jalan. Lalu dia nyuapin Karan dulu. Baru dirinya sendiri. Makan pelan-pelan, kayak takut rezeki itu hilang.

“Om nggak makan?” tanya Karan.

“Om udah. Habisin ya. Kalau kurang Om pesen lagi.”

“Ini nggak mungkin habis, Om... Boleh kami bungkus buat di rumah?” Shanum malu-malu.

Rohan mengangguk. Dadanya sesak. Dia nggak pernah makan sisa. Kalau nggak habis, pasti dibuang. Tapi anak ini... nasi tumpah pun mau diambilin.

“Boleh, Nak. Bungkus semua.”

“Yeay! Makasih, Om Rohan!” Karan sama Shanum senyum pertama kali hari itu.

Begitu administrasi beres, Rohan nganterin mereka pulang. Tapi Shanum nolak.

“Nggak usah, Om. Kami jalan kaki aja. Lewat gang tikus lebih cepat, Om.”

Rohan mau protes. Tapi Shanum udah lari kecil, megang bungkusan nasi. Karan di belakangnya.

Rohan cuma bisa ngasih kartu nama. “Kalau kamu perlu apa-apa, hubungi Om ya, Nak.”

Shanum ngangguk. Matanya berkaca. “Iya, Om. Makasih untuk semuanya... dan makanannya.”

Rohan natap punggung kecil itu sampe hilang di belokan gang sempit. _Anak sekecil itu, ibunya di mana?_

Dia menghela napas, naik mobil lagi. Tujuan: Hotel Grand Mercure. Besok harus _final check_ proyek Family Island. Tapi bayangan Shanum nggak bisa hilang dari kepalanya.

---

_17.30 WIB. Kediaman Sharma, Jakarta._

“Mah, kok Papah lama ya pulangnya? Milea kangen. Udah 24 jam,” Milea, 7 tahun, rambut dikuncir dua, peluk boneka Kitti.

Parvati senyum, nyuapin Milea puding. “Papah kan baru berangkat tugas ke Bandung tadi, Sayang. Kemungkinan masih 2 mingguan lagi. Sabar ya, pinter.”

“Ya lama dong, Mah. Pokoknya Papah pulang aku minta adik ya, Mah! Aku mau punya adek, biar nggak kesepian!” Milea merengek.

Parvati ketawa kecil, cium kening Milea. “Doakan yang terbaik ya, Sayang. Semoga permintaan kamu terkabul. Mamah juga pengen kok punya bayi lagi.”

“Iya, Mah. Aku kesepian, Mah. Semua temen-temenku punya adik. Cuma aku yang nggak punya. Main sama Kitti terus bosen,” Milea nunduk.

“Ya udah kita ke taman yuk, supaya kamu nggak ngerasa bosen di rumah. Sambil lihat bunga.”

“Boleh, Mah! Tapi Kitti dibawa ya. Kitti juga bosen,” Milea ngangkat kucing Persia-nya.

Di taman komplek, sore cerah. Anak-anak main.

“Mah, aku boleh ya beli kembang gula? Yang warna-warni itu, lho. Yang gede,” Milea nunjuk abang-abang di seberang jalan.

“Tapi jangan banyak-banyak ya, Sayang. Nanti gigi kamu rusak. Satu aja,” Parvati ngasih uang 10 ribu.

“Iya, Mah!” Milea lari. Kecil, nggak lihat kanan kiri. Nyebrang.

Parvati duduk di bangku, baca majalah. Kakinya pegel.

_TIIINNNN!!! BRAAKKK!!_

“Aaaaa! Ada anak ketabrak!”

“Ya Allah! Anak kecil! Berdarah!”

Parvati angkat kepala. Jantungnya berhenti. Di tengah jalan, ada kerumunan.

“Mah...”

Parvati lari. Nyelonong. Dorong orang.

Di aspal, baju pink. Kuncir dua. Kitti lari ketakutan.

“Milea...” Parvati jatuh, dengkulnya lemas. “LEA!! BANGUN, SAYANG!! MAMAH DI SINI!! AMBULANS!!”

Warga bantu angkat Milea yang lemas, kepala berdarah. Masuk mobil.

“Sayang, bertahan ya, Mamah mohon... Jangan tinggalin Mamah... Papah belum pulang... Kuat, Sayang...” Parvati nangis, darah Milea nempel di bajunya. Mobil ngebut ke RS Harapan Bunda Jakarta.

---

_18.45 WIB. Gang sempit, Bandung._

Shanum dan Karan baru sampai rumah. Gang sempit, lampu temaram. Rumah mereka dempetan, cuma kepisah pagar kayu setinggi dada.

Karan berhenti di depan pagarnya. “Sa, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat. Kalau ada apa-apa, gedor pagar aja. Rumahku deket, denger kok.”

Shanum angguk pelan. Senyumnya tipis. “Iya, Karan. Makasih ya. Udah nemenin aku dari rumah sakit sampe rumah.”

Karan masuk rumah. Pintunya ketutup.

Begitu sepi, senyum Shanum luntur. Tangannya gemetar buka gembok. _Rumah._ Tapi rasanya kayak mau masuk kandang harimau.

_Klek._

Baru kaki kanan masuk, suara ketus udah nyambar dari dalam.

“Lo masih hidup? Gue pikir Lo udah mati ketabrak beneran tadi pagi! Ngapain balik?!”

Shanum kaku. Rianti. Ibunya. Duduk di sofa butut, daster lusuh, rokok di tangan. Matanya nyalang. Isinya benci.

“Bu... aku baru pulang. Habis dari rumah sakit...” suara Shanum lirih.

Rianti nyengir, ngibasin asap ke muka Shanum. “Lo emang anak gue. Tapi Lo nggak pernah gue harepin lahir ke dunia ini, Sasa! Ngerti nggak?!”

Shanum mundur. Dada kayak ditonjok. “Bu, aku mohon... jangan benci aku. Aku sayang Ibu. Di dunia ini cuma Ibu yang aku punya...”

“Yang bikin salah itu bapak kandung Lo! Aksa Khan! Laki-laki bangsat itu!” Rianti gebrak meja. Asbak jatuh. _Prang!_ “Gue rela jual harga diri, ngutang ke rentenir! Tapi bapak Lo kabur bawa semua tabungan gue! Dia maling!”

Shanum nangis. Lututnya lemas. “Aku ingin disayang seperti teman ku yang lain, Bu. Kayak Karan dipeluk Neneknya...”

“Gak usah drama ya! Sinetron banget!” Rianti berdiri, nyamperin. Jari telunjuknya nonjok dada Shanum. Sakit.

“Kalau Lo ketemu gue di jalan, jangan panggil Ibu! Panggil Kakak! Anggap aja kita nggak saling kenal! Paham?!”

Shanum nggak tahan. Jerit. “Kenapa Ibu lahirin aku kalau nggak diinginkan?! Kenapa nggak buang aku aja dari dulu, Bu?!”

_BUGH!_

Rianti jambak rambut Shanum, terus dorong kencang.

_BRUKK!!_

Punggung Shanum menghantam ujung meja kayu. Keningnya yang udah diperban, kegores lagi. Darah rembes.

“Aw... sakit, Bu... Sasa baru sembuh...” Shanum meluk kepala, jatuh ke lantai.

“Gue benci Lo, Sasa! Gue nggak akan kasihan sama Lo! Mau mati kek, hidup kek, terserah! Obatin luka Lo sendiri! Gue mau kerja! Cari duit!” Rianti benerin lipstik merah menor.

“Bu, tunggu!!” Shanum angkat bungkusan dari RS. “Ayok kita makan sama-sama, Bu. Sasa dapat ini dari Om baik. Om Rohan. Aku kangen makan bersama Ibu... sekali aja... terakhir kali...”

Rianti nengok. Lihat bungkusan. Bukannya luluh, malah nyentak.

_PRANG!!_

Direbut, terus dibanting ke lantai. Nasi padang, rendang, sambal, tumpah. Kotor semua.

“Gue nggak mau dan gue nggak butuh! Mual gue lihat muka melas Lo!” Rianti meludah, terus pergi. Pintu dibanting. _DUAR!_

Hening. Cuma ada suara detik jam sama isak Shanum.

Pelan-pelan Shanum jongkok. Pungutin nasi yang masih bersih satu-satu. Tangannya gemetar. Darah dari kening netes ke nasi.

“Ya Tuhan... maafkan Ibuku... dia lagi capek... dia nggak bermaksud...” Shanum doa, nangis. “Om Rohan... maaf makanannya jatuh. Tapi aku akan makan ini. Ini rezeki. Nggak boleh kebuang.”

Dia cuci nasi pelan-pelan. Dihangatin. Makan di meja, sendirian. Nasi campur air mata. Tapi dihabisin. Laper. Hatinya kosong.

Sementara itu, di rumah Karan, kebalikannya.

“Om, Nek! Aku bawain makanan enak buat kita semua!” Karan teriak, nenteng 3 bungkus besar.

Nenek Vidya peluk Karan. “Alhamdulillah... Sasa itu anak yang baik, Karan. Dia sudah didewasakan oleh keadaan. Umur kecil, tapi mikirnya udah kayak orang tua. Tetap jadi teman baiknya ya, Nak. Dia butuh kamu.”

“Iya, Nek. Aku janji,” Karan narik kursi. “Ayo kita makan, Nek. Keburu dingin.”

Di rumah petak itu hangatnya full. Ketawa, rebutan rendang.

Beda sama Shanum yang sekarang lagi kompres keningnya pake air es, sendirian, di kamar gelap.

Dia peluk lutut. Bibirnya komat-kamit. “Om Rohan... Om janji kan? Kalau aku perlu apa-apa boleh hubungi Om... Om... Sasa takut...”

Kartu nama Rohan Sharma dia genggam erat. Seolah itu satu-satunya tali penyelamat di dunia yang kejam ini.

_To be continued..._

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status