LOGINเมื้อคาซิมิและเคนตะหนึ่งในนักเรียนห้องม.5/B ได้รับภารกิจไปปราบเงาปีศาจที่ห้างร่างต้องสาปที่เป็นที่อยู่ของเหล่าบรรดาปีศาจชั่วร้าย...งานนี้พวกเขาจะทำเช่นไรให้ตนเองมีชีวิตกลับมา
View More"Ini Mira, Dek. Kami baru saja menikah pagi tadi," ucapnya dengan mantap. Tak tersirat sedikit pun dari nada bicaranya dia merasa bersalah.
Aku bergeming.
"Dek?" panggilnya lagi karena melihatku hanya diam sembari tetap sibuk mengotak-atik ponsel. "Aku sedang bicara denganmu, Dek. Kamu enggak dengar?"
"Dengar, kok," sahutku santai. Melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponsel.
"Aku sudah menikah lagi, Dek." Dia mengulang kalimatnya dengan suara lebih tegas.
"Hm, terus?" Kini aku menatapnya tenang. Meletakkan ponsel di pangkuan, lalu bersedekap.
Bang Leon dan wanita bernama Mira itu saling menatap bingung. Aku hanya tertawa dalam hati.
Apa dia pikir aku akan menangis-nangis? Bersujud memintanya agar menceraikan wanita itu dan kembali padaku?
Halah, mimpi saja kamu, Bang!
"Kamu enggak marah, Dek?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa aku harus marah? Baguslah kalau Abang sudah menikah lagi," ujarku cuek. Mengambil toples camilan di meja, lalu memakan keripik singkong yang ada di dalamnya.
Beban batin yang selama ini kurasakan sendirian dan kukubur dalam-dalam, kini tak lama lagi beban itu akan segera dirasakan oleh wanita lain. Kita lihat saja. Apa dia mampu bersabar dan menerima Bang Leon apa adanya sepertiku?
"Jadi, kamu sudah setuju dengan pernikahan keduaku ini?" tanyanya lagi dengan tatapan yang ... entahlah. Dia seperti terlihat kecewa.
Kenapa pula dia terlihat seperti tidak bahagia? Bukankah ini yang dia inginkan?
Dulu, Bang Leon sering sekali membahas tentang poligami. Aku hanya menanggapi dengan santai karena memang itu diperbolehkan.
Hanya saja, setiap kali dia bertanya apa aku mengizinkan jika dia juga melakukannya? Kujawab dengan tegas dan lantang 'silakan menikah lagi, tapi ceraikan aku dulu'.
Aku memang tak menentang, tapi bukan pula yang sanggup menerimanya. Kadar keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki masih jauh di bawah rata-rata. Bisa-bisa aku gila jika membayangkan dia berbagi kehangatan dengan wanita lain.
"Bukannya sudah lama Abang tahu jawabanku? Aku enggak pernah melarang Bang Leon memiliki istri lebih dari dua. Tapi asal bukan aku istri pertamanya. Ceraikan aku dan nikmatilah hidup bersama istri baru." Aku menunjuk wanita berambut ikal cokelat itu dengan dagu. "Setelah itu, Abang bebas menikah lagi dengan wanita mana pun. Tentu Mira enggak akan keberatan, 'kan?"
Raut wajah wanita itu berubah seketika. Dia yang sedari tadi bersikap tenang dengan tangannya yang terus digenggam Bang Leon pun jadi terkejut. Dia spontan menoleh pada calon mantan suamiku itu dengan wajah cemberut.
"Kenapa? Apa kamu keberatan kalau Bang Leon menikah lagi nantinya?" sindirku dengan senyum tipis.
Wanita itu diam dan langsung melepaskan tautan jemarinya.
Cih, munafik! Berani mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain, tapi sendirinya tidak sudi diperlakukan sama.
"Kita enggak perlu bahas itu sekarang, Dek. Kita ini sedang membahas aku, kamu dan Mira."
"Ya, terus? Maunya Abang apa?" tanyaku sembari kembali asyik menyantap camilan.
"Aku mau kamu menerima Mira sebagai adik madumu. Kita hidup damai bertiga di rumah ini, Dek."
"Enggak bisa," jawabku cuek. "Keputusanku akan tetap sama. Ceraikan aku atau selamanya wanita itu hanya akan berstatus istri sirimu," tegasku dengan tatapan dingin.
"Kamu tahu Mira, dengan statusmu yang hanya sebagai istri siri, kamu akan sangat merugi. Jika suatu saat kalian berpisah, kamu enggak bisa menuntut harta gono-gini karena status pernikahan kalian enggak diakui negara. Kamu juga bisa saja ditinggalkan seenaknya oleh Bang Leon, dan dia menikah lagi dengan wanita lain saat nafsu kembali menguasainya."
"Itu nggak mungkin terjadi!" bantah Bang Leon cepat. "Kamu jangan sembarangan bicara, Dek. Apa kamu pikir aku semudah itu terpaut hati pada setiap wanita yang ditemui?"
"Oh, jelas," sahutku tak kalah cepat. "Ini ... buktinya aja sudah ada," kataku santai sembari menunjuk Mira yang wajahnya ditekuk.
Bang Leon bungkam.
"Kenapa diam?" sindirku dengan senyuman miring.
"Aku enggak akan begitu, Dek. Ini pernikahan terakhirku. Aku janji akan setia pada kalian berdua," ujarnya dengan lembut.
Memuakkan!
Aku terkekeh pelan. "Apa janjimu masih bisa dipertanggung jawabkan, Bang? Janji suci pernikahan kita saja kamu ingkari," sindirku yang kembali membuat Bang Leon diam seribu bahasa.
"Hey, Mira! Status siri ini bukan hanya merugikanmu sendiri, tapi juga anakmu nanti. Di akta lahir, hanya akan tertulis nama ibu. Bisa, sih, nama ayahnya juga dicantumkan. Tapi prosesnya rumit termasuk harus ada tes DNA dan itu butuh banyak uang!"
Wanita berkulit sawo matang itu semakin menunduk dengan kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Bang Leon hendak meraih jemari itu untuk menenangkan, tapi dia menolak.
"Dek, kumohon jangan menakuti Mira seperti itu."
Bagus, Bang. Bagus!
Bang Leon bahkan membela istri barunya dibandingkan aku yang sudah menemaninya sejak nol. Kini, saat ekonomi semakin membaik dengan seenaknya dia datang begitu saja membawa istri baru ke rumah ini.
"Siapa bilang aku menakuti? Itu fakta! Kalau enggak percaya, pakailah ponsel pintar kalian itu untuk mencari informasinya." Aku tersenyum mengejek.
Ponsel saja yang pintar, tapi pemiliknya tidak. Menyedihkan!
"Bujuk Bang Leon supaya menceraikanku jika ingin pernikahanmu legal secara hukum. Jangan harap aku sudi berbagi dan memberikan kalian izin menikah secara resmi. Enggak akan pernah!"
"Bang," rengek Mira dengan wajah memelas. "Apa yang dikatakan Mbak Lusi itu benar. Bang Leon juga udah janji mau nikahi aku secara resmi, 'kan? Pokoknya aku enggak mau kalau hanya menikah siri! Bang Leon harus memilih antara aku atau Mbak Lusi!"
Mamam, tuh, Bang! Pilih saja dia supaya wanita itu bisa merasakan derita yang selama ini kurasakan.
"Enggak!" tukas Bang Leon. "Aku enggak akan pernah menceraikan Lusi. Pun enggak akan melepasmu."
"Tapi, Bang—"
"Ssstt, diamlah," potong Bang Leon dengan menatap tajam Mira. "Biar aku yang bicara dengan Lusi. Kamu diam saja."
Mira mendengkus kesal, lalu bergeser menjauh dengan wajah cemberutnya.
"Aku janji akan berbuat adil, Dek. Terimalah dia sebagai adik madumu, ya. Izinkan aku menikahinya secara hukum negara juga," pintanya dengan tatapan memohon.
Sakit?
Tentu saja. Hati ini seperti diremas-remas mendengar dia berucap dengan begitu mudahnya tanpa memikirkan perasaanku. Nyeri, tapi sekuat mungkin aku bertahan. Kehilangan Bang Leon tidak akan membuat hidupku berakhir saat ini juga.
Aku berdiri, menatap angkuh keduanya sembari melipat kedua tangan di dada.
"Keputusanku enggak akan pernah berubah, Bang. Kita bercerai kalau Abang mau menikahinya secara resmi. Jangan jadi pria serakah!" tegasku tak ingin dibantah dengan sorot mata tajam.
"Dan kamu, Mira. Pikirkan baik-baik semua ucapanku tadi. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari! Aku juga wanita. Aku enggak mau kamu merasakan hal yang sama sepertiku. Pikirkan juga masa depan anakmu nanti," kataku dengan seulas senyum sinis, kemudian berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Aku melangkah cepat menuju lantai atas. Hati ini jelas sakit, tapi tak ada setitik pun air mata yang menetes. Semua itu sudah kering. Sudah habis ketika satu minggu yang lalu, aku menangis perih saat mengetahui fakta bahwa Bang Leon memiliki wanita idaman lain.
Ini bukan poligami yang benar. Ini perselingkuhan! Bahkan, mereka sudah menjalin hubungan diam-diam selama dua bulan sebelum akhirnya menikah siri.
Aku tak sengaja membaca chat mesra di ponsel Bang Leon dari kontak bernama Ari. Merasa ada yang tak beres, kuputuskan untuk menyadap, dan akhirnya mendapatkan bukti bahwa ternyata Ari itu wanita. Dialah Mira—teman sekantor Bang Leon.
Benar. Insting wanita itu memang kuat. Sudah lama aku curiga, tapi berusaha menepis itu dan tetap berpikir positif. Nyatanya, kepercayaan yang kuberikan itu sia-sia belaka.
Bukti chat bahwa mereka sering jalan bersama dengan alasan lembur membuat hati ini seketika membeku. Cinta yang ada di hati langsung lenyap begitu saja tak tersisa. Kekecewaan ini begitu besar hingga rasanya mati rasa.
Lihat saja, Bang! Kamu pikir aku akan hancur karena kehilanganmu? Tidak sama sekali!
🌸🌸🌸
หลังจากที่เคนตะกำจัดราชันย์แห่งวิญญาณบาปได้สำเร็จ ทั้งคู่ก็ยืนอยู่หน้า ผ้ายันต์แห่งวิญญาณ สีทองอร่าม มันลอยอยู่เหนือพื้นเบื้องหน้ารอยแยกมิติสีม่วงเข้ม ผ้ายันต์ผืนนี้ไม่ได้แผ่พลังธาตุที่รุนแรงเหมือนผืนอื่น แต่มันแผ่ ความสงบและความว่างเปล่า ที่น่าขนลุกออกมาเคนตะเดินเข้าไปใกล้ผ้ายันต์อย่างระมัดระวัง เมื่อเขาแตะมัน พลังอาคมจากผ้ายันต์ทั้งสี่ผืน ที่เขาครอบครองอยู่ก็เริ่มสั่นสะเทือนอย่างรุนแรง!> เคนตะ: “คาซิมิ...ฉันรู้สึกว่าพลังงานทั้งหมดกำลัง หลอมรวม กัน! มัน...สมบูรณ์แล้ว!”> ทันใดนั้น ผ้ายันต์แห่งวิญญาณ ก็เรืองแสงจ้าขึ้น แล้ว เสียงทุ้มลึก ก็ดังก้องอยู่ในหัวของพวกเขา!> เสียงปริศนา: “ยินดีต้อนรับ...ผู้แสวงหาพลังแห่งการผนึก...แต่พลังแห่งวิญญาณนี้...ไม่สามารถถูกนำไปได้โดยง่าย”> การปรากฏตัวของผู้พิทักษ์จากรอยแยกมิติสีม่วงเข้ม ร่างโปร่งใส ก็ปรากฏตัวขึ้น มันดูเหมือนมนุษย์ แต่ร่างกายของมันหมุนวนราวกับ ฝุ่นดาวและแสง ที่ถูกบิดเบือน!ผู้พิทักษ์: มิธรัส (Mithras - The Guardian of Null)ลักษณะ/ขนาด: ร่างโปร่งแสงที่สูงประมาณ 2 เมตร ไม่มีเพศที่ชัดเจน ร่างกายประกอบด้วยแสงที่สั่นไหว มีดวงตาสองดวงท
เคนตะและคาซิมิใช้เวลาเดินทางเกือบสองชั่วโมงในการปีนขึ้นสู่ชั้นบนสุดของห้างสรรพสินค้า พวกเขาใช้ พลังแห่งลม (ผ้ายันต์ที่ 4) เพื่อเพิ่มความว่องไว และ พลังแห่งเงา (คาซิมิ) เพื่อหลีกเลี่ยงปีศาจที่ลาดตระเวนอยู่ตามทางเมื่อพวกเขามาถึง ห้องควบคุมระบบศูนย์กลาง ที่ชั้นบนสุด พวกเขาก็ต้องหยุดชะงัก ห้องโถงขนาดใหญ่ที่เต็มไปด้วยคอมพิวเตอร์และเซิร์ฟเวอร์ถูกทำลายจนหมดสิ้น กลางห้องมี รอยแยกมิติสีม่วงเข้ม ที่แผ่พลังงานมหาศาลออกมา!และที่ด้านหน้าของรอยแยกมิตินั้น ผ้ายันต์แห่งวิญญาณ ก็กำลังเรืองแสงอย่างเจิดจ้า!แต่ก่อนที่พวกเขาจะก้าวเข้าไป กลิ่นอายของพลังปีศาจที่รุนแรงที่สุด ก็พุ่งเข้าใส่พวกเขา!“คาซิมิ! ระวัง!” เคนตะคำรามจากเงามืดและซากปรักหักพัง ปีศาจทั้งหมด 15 ตัว ก็พุ่งเข้าล้อมพวกเขาไว้! พวกมันคือ อสุรกายที่ถูกส่งมาโดยตรงจากมิติปีศาจ เพื่อปกป้องผ้ายันต์แห่งวิญญาณ!การปะทะครั้งใหญ่: การหลอมรวมเพื่อเอาชีวิตรอดเคนตะและคาซิมิอยู่กลางวงล้อม ปีศาจ 15 ตัวที่พวกเขากำลังเผชิญหน้าล้วนมีความสามารถที่ซับซ้อนและแข็งแกร่งกว่าปีศาจตัวก่อนๆ ที่เคยเจอมา> เคนตะ: “คาซิมิ! ใช้ นิมิต หาจุดอ่อนที่ซับซ้อนที่สุดของพวกมัน!
ทันทีที่คาซิมิและเคชิกลับมาถึงที่ซ่อน ป้าซาเอะก็เริ่มพิธีรักษาเคนตะทันที ป้าซาเอะใช้ คาถาหลอมรวมแสง ของเธอเพื่อหลอมรวมแร่รัตนากาลเข้ากับพลังอาคมฟื้นฟูแสงสีทองอ่อนๆ ห่อหุ้มร่างของเคนตะ บาดแผลไฟไหม้ที่แขนของเขาค่อยๆ สมานตัวลงอย่างรวดเร็ว พลังอาคมที่เคยแห้งเหือดก็กลับมาเติมเต็มอีกครั้งในอัตราที่น่าอัศจรรย์หลังจากผ่านไปเพียงไม่กี่ชั่วโมง เคนตะก็ลืมตาขึ้น เขาขยับแขนขวาได้อย่างคล่องแคล่วและรู้สึกแข็งแกร่งกว่าเดิม> เคนตะ: “ฉันรู้สึกดีกว่าที่เคยเป็นมา...นี่คือพลังของแร่รัตนากาลสินะ”> คาซิมิ: “ใช่ค่ะเคนตะ...คุณต้องขอบคุณเคชิและป้าซาเอะ”> เคนตะมองไปที่คาซิมิที่ใบหน้ายังซีดเซียว และเคชิที่เหนื่อยล้า “ขอบคุณมากจริงๆ ฉันจะไม่ทำให้การเสียสละของพวกคุณสูญเปล่า”คำสั่งสุดท้ายก่อนการเดินทางเมื่อเคนตะฟื้นตัวเต็มที่ ป้าซาเอะก็เรียกเขากับคาซิมิมาพบอีกครั้ง> ป้าซาเอะ: “ตอนนี้เจ้ามีพลังอาคมที่แข็งแกร่งที่สุดในประวัติศาสตร์ของตระกูลเจ้าแล้วเคนตะ และหนูคาซิมิ...ก็มีพลังจิตที่ได้รับการพัฒนาจนถึงขีดสุด”> ป้าซาเอะ: “แต่การต่อสู้ที่รอพวกเจ้าอยู่ข้างหน้าคือ การต่อสู้ทางกายภาพที่แท้จริง! ผ้ายันต์แห่งวิญญาณ
เคนตะและคาซิมิกลับมาถึงที่ซ่อนของผู้รอดชีวิตในสภาพที่ย่ำแย่ คาซิมิอ่อนล้าจากการใช้พลังอาคมคนเดียว ส่วนเคนตะก็ทรุดหนักจากการบาดเจ็บที่แขนขวาและภาวะพลังงานอาคมพร่องป้าซาเอะรีบเข้าตรวจอาการเคนตะทันทีด้วยสีหน้าเคร่งเครียด> ป้าซาเอะ: “บาดแผลไฟไหม้ที่แขนขวาของเคนตะลึกมาก...มันไม่ใช่แค่ไฟธรรมดา แต่เป็นการกัดกินของ พลังงานอาคมร้อน ที่ทำลายแกนพลังงานของเขา”> คาซิมิ: “แล้วเราจะทำยังไงดีคะป้าซาเอะ?”> ป้าซาเอะ: “ข้าสามารถเยียวยาบาดแผลภายนอกได้ แต่การซ่อมแซมแกนพลังงานที่เสียหายนั้น...ต้องใช้ แร่รัตนากาล (Chronos Ore)”> แร่รัตนากาลเป็นแร่ในตำนานที่เชื่อกันว่ามีพลังในการฟื้นฟูอาคมบริสุทธิ์และสามารถเร่งการเติบโตของพลังงานอาคมได้> เคชิ: “แร่รัตนากาล...ผมจำได้! มันเป็นแร่ที่ถูกใช้ตกแต่งใน ห้องจัดแสดงอัญมณี ของห้างสรรพสินค้า! มันอยู่ในกล่องนิรภัยเหล็กกล้าที่อยู่ใต้เคาน์เตอร์!”> ป้าซาเอะ: “ใช่! แต่การจะสกัดแร่นั้นออกมาใช้ได้ ต้องใช้ คาถาหลอมรวมแสง ของข้า...และเราต้องมีแร่นั้นก่อน”> ทุกคนรู้ดีว่าห้องจัดแสดงอัญมณีเป็นพื้นที่เปิดกว้างและอันตรายที่สุดแห่งหนึ่งในห้าง> คาซิมิ: “ฉันจะไปเองค่ะ! ฉันยัง
เคนตะและคาซิมิออกจากห้องเตาหลอมพร้อมกับ ผ้ายันต์แห่งลม ในมือ แม้จะได้รับชัยชนะ แต่เคนตะก็ได้รับบาดเจ็บสาหัสจากการถ่ายโอนพลังป้องกันในช่วงท้ายของการต่อสู้ แขนขวาของเขาถูกไอความร้อนกัดกินจนเป็นรอยไหม้พุพอง และร่างกายของเขาก็อ่อนแรงจากการใช้ธาตุคู่เกินขีดจำกัด“เราต้องกลับไปหาเคชิเดี๋ยวนี้เคนตะ!” คาซิ
เคนตะและคาซิมิเดินมาหยุดอยู่หน้า ประตูเหล็กฉุกเฉิน บานใหญ่ที่เขาเห็นก่อนหน้านี้ บานประตูถูกปิดตายด้วยโซ่ขนาดใหญ่และกุญแจสนิมเขรอะบ่งบอกถึงกาลเวลาที่ผ่านไปอย่างยาวนาน เคนตะมองสำรวจโดยรอบ ความรู้สึกบางอย่างบอกเขาว่ามันไม่ง่ายอย่างที่คิด“โซ่เส้นใหญ่ขนาดนี้ จะงัดยังไงคะเคนตะ?” คาซิมิถามด้วยน้ำเสียงกัง
ความเงียบที่กลับคืนมาหลังจากปีศาจถูกกักเก็บช่างหนักอึ้งและน่าขนลุกยิ่งกว่าเดิม คาซิมิรู้สึกได้ถึงความเย็นเยือกที่คืบคลานเข้าจับจิตใจ แม้ว่าภารกิจแรกจะสำเร็จลุล่วงไปได้ด้วยดี เธอก็ยังคงไม่สบายใจ ดวงตาคู่สวยกวาดมองไปรอบๆ ห้างร้างที่มืดมิดและกว้างใหญ่ ราวกับจะค้นหาภัยคุกคามที่ซ่อนเร้นอยู่“เคนตะ...คุณ
แสงไฟจากประตูมิติบิดเบี้ยวอยู่เบื้องหน้า คาซิมิมองมันด้วยแววตาที่เต็มไปด้วยความหวาดกลัวและความลังเลอย่างเห็นได้ชัด ความมืดที่รออยู่ด้านหลังบานประตูดูดกลืนทุกสิ่งจนน่าขนลุก เคนตะที่ยืนอยู่ข้างกาย สัมผัสได้ถึงความสั่นเทาเล็กน้อยจากมือที่เขากุมไว้ เขากระชับมือคาซิมิมั่นขึ้นเล็กน้อย พยายามส่งผ่านความอบ