MasukElise Everton bore the hatred towards the man that destroyed her family and clan. She vowed to take revenge after she was adopted by her father's best friend, Alpha Kingston Gomez. She fell in love with the Alpha's son, Anderson and ended up as his girlfriend. The moon goddess also paired them as mates but what she didn't expect was his betrayal. She caught him in bed with his cousin and he brutally rejected her. Still filled with pain from the rejection, she got herself drunk and ended up in bed with three hot escorts. “ You are drunk, little girl,” one of them said, his deep voice pierced through her drunken state. “ I am drunk with the desire to make you all mine," Elise responded, her eyes twinkling with lust. He drew her close to himself, searching those piercing hazel eyes. “ Once you are ours, you can never escape. You will be ours for eternity.” “ Deal!" Little did Elise realise she just made a deal with the monstrous Alpha Prince and his brothers. What would happen when Elise realized she didn't only make a deal with them but they were also her second chance mate? Filled with rage and hatred, she decided to reject them. Alas, she was caught off guard when her rejection fell through. Still seething with anger, Elise was determined to get her revenge. What would be the fate of these enemies? Will cupid triumph over them or will the arrow of revenge eat them up?
Lihat lebih banyakGalaxy International School dihebohkan dengan kedatangan murid baru. Katanya sekolah ini akan kedatangan murid sekolah dari Musically International School, sekolah yang cukup terkenal di kalangan artis. Dan mereka menganggap jika murid baru ini keturunan artis, atau mungkin anak orang kaya yang memiliki keluarga artis.
Bahkan semua para wanita sudah berjejer rapi di pinggiran jalan, sambil menunggu murid baru datang. Padahal ini masih jam enam pagi, yang kemungkinan jika anak baru itu tidak mungkin datang sepagi ini, apalagi laki-laki.
Murid baru yang dihebohkan adalah murid laki-laki, dimana anak laki-laki pasti akan datang terlambat, dan tidak akan tepat waktu. Itulah perbedaan perempuan dan juga laki-laki.
Sampai akhirnya sebuah mobil mewah masuk ke halaman sekolah mereka. Jam menunjukkan pukul 06.35 menit, dimana dua puluh lima menit lagi lonceng akan berbunyi, tanda jika pelajaran akan dimulai.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, pemilik mobil mewah itu pun segera turun. Sehingga membuat para perempuan di sini langsung mengerumuninya, dan melihat siapa pemilik mobil mewah ini. Mobil yang hanya dimiliki oleh orang kaya.
Bisa dilihat jika di parkiran ini banyak sekali mobil. Hanya ada delapan mobil mewah yang terparkir sangat indah. Salah satunya milik primadona sekolah ini yang bernama Chrissy Alodie Milena. Wanita cantik dengan rambut blonde asli, dan juga bola mata coklat yang meneduhkan hati. Itulah kata para laki-laki buaya
Dan sekarang buaya tampan sekolah ini bertambah satu setelah Edgar Darwin, kapten basket sekolah ini dan juga penjaga UKS. Entahlah sedikit aneh dengan laki-laki itu yang suka sekali dengan bau obat. Dan lebih suka tinggal di UKS, Sehingga Bu Ika yang suka di UKS selalu meminta Edgar untuk berada di sana.
Gila cakep banget anak baru
Sumpah ya dia harus jadi milik gue
Jangan ngarep lo, kalau saingan lo Chrissy.
Itu cewek dingin nggak mungkin kepincut sama dia.
Ingat ya Chrissy punya Edgar, jadi dia aman
Saingan ketat gess, jangan berharap dulu.
Mak Lampir Icha pasti udah ngincer duluan.
Dan masih banyak lagi ucapan para buaya betina saat melihat laki-laki tampan. Bukannya itu normal? Itu tandanya mereka masih suka lawan jenis kan? Bedanya, dia suka nggak sama yang lihat?
Sedangkan laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya, dengan gaya coolnya. Berjalan melewati hanya wanita yang berusaha menyapanya. Telinganya begitu tidak asing saat mereka menyebut nama Chrissy di sini.
Apa mungkin Chrissy yang mereka bilang itu Chrissy--- tidak mungkin!!
Berjalan ke ruangan kepala sekolah, dan bertanya dimana kelasnya dan di lantai berapa. Mengingat kalau laki-laki itu lupa membawa denah sekolah yang sudah ditulis dimana lantai kelasnya.
"Selamat pagi Bapak Daniel. Saya Nevan Chevalier Arthur, saya pindahan dari Musically International School. Kedatangan saya kesini karena saya lupa membawa denah dan saya tidak ingat dimana kelas saya." Ucap seorang anak laki-laki yang bernama Nevan.
Kepala sekolah bangkit dari duduknya, dia pun menatap Nevan yang masih menggunakan seragam sekolah lamanya tersenyum.
"Nggak perlu seformal itu nak Nevan. Saya---"
"Saya sudah bilang kan Pak, walaupun Kakek saya pemilik sekolah ini. Saya ingin diperlakukan seperti murid lainnya. Jadi jangan diistimewakan saya."
"Maafkan saya nak Nevan, saya lupa. Kalau begitu saya antar kamu ke kelas kamu."
Nevan mengangguk, dia pun berjalan ke luar ruangan bersama dengan kepala sekolah, lebih tepatnya berjalan di belakang kepala sekolah.
Bisa dilihat semua anak langsung menatap Nevan, dan mencoba menyapanya. Sayangnya kepala sekolah yang berjalan di depannya, lebih galak daripada Ibu-ibu yang berada di pasar sedang menawar dagangan. Tatap mata yang tajam, seolah menyiratkan jika semua murid disini dilarang menyapanya dan mencari ribut dengan anak baru.
Memasuki lift sekolah ini dan sambil menatap sekeliling lift. Nevan berpikir jika lift yang dinaiki saat ini adalah lift khusus untuk guru. Nyatanya tak ada satu murid pun yang masuk ke lift ini.
Ting…
Suara lift itu membuat Nevan mendongak, menatap angka yang tertera di atas pintu lift. Angka tiga menandakan jika dia berada di lantai tiga. Laki-laki itu langsung keluar ruangan saat kepala sekolah ini itu memberi instruksi.
Hanya dengan senyuman saja Nevan langsung mengikuti kepala sekolah ini sampai berhenti di depan kelasnya.
Nevan dipersilahkan masuk, dan membuat laki-laki itu segera masuk. Kelas akan dimulai lima menit lagi, dan untuk saat ini Nevan sedang mencari tempat yang kosong untuk duduk.
Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada kursi paling belakang yang kosong. Kursi yang sejak dulu paling disukai oleh Nevan. Segera, dia pun duduk di kursi itu dan membuat semua anak langsung mengerumuninya bagaikan madu.
"Nama lo siapa?" Pertanyaan ini membuat Nevan mendongak, dia pun menatap perempuan di depannya dengan alis yang terangkat satu.
"Nevan. Lo?"
"Gu-gue Asmiranda." Jawabnya dengan nada gugup.
Nevan hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Mengambil headset dan langsung menyumpal telinganya. Bukannya kelas ini ramai, kelas ini sangat sepi dan hanya ada beberapa anak saja yang ada di dalam kelas, sedangkan lainnya lebih memilih berdiri di depan kelas sambil mengobrol.
Saat memejamkan matanya, saat itulah Nevan merasakan jika kepalanya dipukul. Langsung saja Nevan membuka matanya dan menatap tajam siapa yang berani memukul kepalanya.
Dan ternyata itu ulah Bobby, teman sekolahnya dulu saat masih sekolah dasar.
"Apa kabar lo, bro. Gue pikir lo nggak jadi sekolah di sini." Bobby Darius langsung memeluk Nevan ala laki-laki. Mereka memang teman dekat sejak sekolah dasar, walaupun sempat pindah sekolah mereka tidak memutuskan pertemanan mereka.
"Gue baik, lo sendiri gimana? Masih jomblo aja lo." Kekeh Nevan. Tapi pandangannya tertuju pada teman baru Bobby yang berdiri di samping Nevan.
Seakan tahu atau pandangan Nevan, Bobby pun menepuk bahu temannya, dan mengenalkannya. "Namanya Marvin Lucky, dia temen gue selama lo pergi." Ujarnya
"Awas dia homo!!"
"Mulut lo emang nggak ada tandingannya ya Van dari dulu nggak berubah."
Nevan tertawa, dia pun melihat Bobby dan Marvin yang duduk di depannya. Sambil mengenal satu sama lain, Nevan sambil menatap setiap murid yang masuk ke kelas ini. Tidak ada yang spesial perempuan di kelas ini, dan standarnya biasa saja.
Apalagi Nevan dulu terkenal playboy, suka sekali menyakiti banyak perempuan hanya untuk bersenang-senang. Tidak sampai tidur diatas ranjang, Nevan masih waras jika harus melakukan hal itu. Hanya saja sifat bosannya itu yang membuat Nevan menyesal di masa lalu.
Dia melepas malaikat cantik, berhati lembut hanya demi perempuan nggak jelas di hidup Nevan dulu. Dan nyatanya sudah dua tahun ini Nevan tidak pernah bertemu dengannya, atau bahkan bertanya tentang kabarnya.
"Gue yakin lo bakalan betah sekolah disini." Bobby tersenyum miring dan membuat Nevan menatapnya curiga. "Lo pasti bakal nyesel kenapa nggak dari dulu aja." Ujarnya lagi dan membuat Nevan semakin penasaran.
"Omongan lo kayak orang bener aja. Ada apa sih."
"Tunggu saja kejutan dari gue, anggap saja ini sebagai tempat menebus dosa lo dimasa malu." Ucap Bobby misterius sambil menepuk bahu Nevan, lalu laki-laki itu duduk di depan Nevan bersama dengan Marvin.
Nevan langsung menatap Bobby heran, dosa di masa lalu apa yang dia maksud?
-To Be Continued-
Sangat membutuhkan saran dan kritikan. Jangan lupa komen ya... Makasih
Elise Pov For the longest time, I believed love was a chain.Something invisible, yet heavy enough to pull at my chest until breathing felt like a burden. They called it the mate bond, sacred, unbreakable, destined. But no one ever spoke about how lonely destiny could feel when it was forced upon you.I had been that girl once. Trapped inside expectations, watched by eyes that measured my worth by bloodlines and power. I smiled when I was told to smile. I nodded when I was told to choose. And inside, I slowly disappeared.Until Derek.It still surprised me how quietly he became my refuge.There was no thunder when I first realized it. No dramatic confession. No moment where the world stopped spinning. It was in the little things, how he waited when I walked slower, how he listened without interrupting, how he never demanded my affection but earned it.Now, as the morning sun poured gently into our chamber, I lay awake beside him, listening to the steady rhythm of his breathing.This.
Elise’s POVThe news of Derek being chosen did not arrive quietly.It exploded.By sunrise, the entire palace hummed with voices, some joyful, some doubtful, some sharp with resentment. I heard my name whispered in corners, heard Derek’s spoken with reverence and envy alike. Even the walls seemed to listen.Yet inside my chamber, everything felt strangely still.I stood before the mirror as the maids dressed me for the coronation, my reflection staring back with eyes that had seen too much blood, too many broken bonds. Gold fabric slid over my shoulders, soft and heavy, stitched with the ancient markings of a Luna. My wolf stirred beneath my skin not restless this time, but alert. Watchful.“You look radiant, my lady,” one maid whispered.I did not answer. My thoughts were elsewhere.With Derek.Three weeks ago, I had lain unconscious, suspended between life and death. When I woke, I had asked for Damon and Drake first not because I loved them more, but because I needed to see the ful
Derek’s POVI did not expect this.Not after everything.Not after the way Elise had looked through me these past weeks as though I were smoke instead of flesh.Not after the silence she wrapped around herself whenever I entered a room, polite, distant, unbreakable.When Damon failed, the hall erupted.Not with shock,.no, most of them had expected Damon to succeed but with confusion. Whispers skittered across the stone walls like frightened insects. I stood frozen among them, my arms crossed, my jaw clenched so tight it hurt.I told myself I did not care.I told myself it meant nothing.Then Drake failed too.That… that was when something shifted.Drake stormed out of the council chamber like a wounded beast, fury rolling off him in waves so sharp it made the guards step back. Elise emerged moments later, calm, composed, her face unreadable. She did not look at Drake. She did not look at Damon.She looked straight ahead.And then..Her voice rang through the hall.“Summon Derek.”The
Elise’s POVMorning came quietly, as though the world itself was holding its breath.The palace buzzed with restrained anticipation, whispers slipping through corridors like shadows. Everyone knew what today meant. Damon’s rejection had shaken the pack to its core, and now all eyes were on the next walk into the woods, on me, and on Drake.I dressed slowly, deliberately. Not for beauty, not for ceremony, but for resolve. My reflection stared back at me with unfamiliar steadiness. Three weeks ago, I had been bleeding on cold stone, caught between brothers who forgot what love meant the moment power entered the room. Today, I was the one deciding their fate.When Drake arrived to escort me, he bowed slightly, a boyish smile tugging at his lips.“You look… radiant,” he said, clearly nervous. “The Moon must be smiling today.”I smiled back, soft and practiced. “You’ve always had a way with words, Drake.”His ears reddened faintly as we walked side by side toward the forest. Unlike Damon,
Elise Pov The bluntness of it sent a chill through me, but I did not flinch. “And Derek?”His eyes darkened. “I will take care of Derek myself.”I studied his face, searching for hesitation. There was none. “How?” I asked.“I will set a trap,” he said calmly. “A border conflict. A patrol issue tha
Elise Pov “Elise,” he said, leaning forward slightly, “I want you. Not as a prize. Not as leverage. As my woman.”My breath caught not in fear, not in surprise, but in the sheer clarity of it. No throne. No conditions. No demands.“I would protect you,” he went on, his voice low. “Stand beside you
Derek’s POVThe hall had not yet recovered from the last test when the elders stood again.I felt it before the shift in the air, the tightening of something old and merciless. This was not a test of wisdom. Not of memory. Not even of restraint.Rovan’s staff struck the stone once. “There remains o
Derek POVLast night, I couldn't tell how I was able to leave Elise. Her kisses still lingered and every breath of hers on my neck still makes me tingle. But I couldn't bring myself to give her what she wanted.Not because I didn't want it, but because I wanted everything to be settled. I wanted to
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan