LOGINAnisa hanyalah seorang istri yang diperlakukan seperti pembantu di rumah mertuanya. Hamil tua, diusir malam-malam untuk belanja di tengah hujan, hingga kecelakaan tragis merenggut nyawa bayinya. Suaminya, Tegar, bahkan lebih memilih menyelamatkan janin daripada istrinya sendiri. Di ambang kematian, darah penyelamatnya datang dari orang yang tak terduga: Safak, mantan pacar yang dulu ia tinggalkan. Pria kaya raya dan dingin yang kini menjadi miliuner sukses. Saat ASI Anisa melimpah setelah kehilangan anaknya, takdir mempertemukan ia dengan Jihan—bayi prematur Safak yang kehilangan ibu. Menjadi ibu susu untuk bayi miliuner itu bukan hanya soal ASI. Itu adalah pintu masuk ke dunia baru, balas dendam yang manis, dan perasaan lama yang kembali menyala. Di antara luka pernikahan yang hancur, pengkhianatan suami, dan dendam keluarga mertua, Anisa bangkit. Tapi ketika Safak mulai menunjukkan rasa cintanya yang tak pernah padam, Anisa dihadapkan pada pilihan: tetap di masa lalu yang menyakitkan, atau membuka hati untuk pria yang rela memberikan segalanya—termasuk hatinya.
View MoreJam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"
Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah.
Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupiah, "Sekalian belikan adikmu susu saset di sana!"
Dengan lemas, Anisa yang memang sedang hamil tua berkata, "Ibu, sebentar... Ini sudah terlalu malam Bu, lagian di luar juga hujan. Kata Bidan, Ibu hamil tidak boleh keluar malam apalagi hujan-hujanan."
Wanita setengah baya itu bernama Minah, dan dia adalah Ibu dari suami Anisa, Tegar.
Mendengar yang dikatakan Anisa, Minah berbalik dan menatap tajam padanya. "Hei, Nisa. Dengar, bukan cuma kau yang pernah hamil! Jangan karena hamil kau jadi punya alasan untuk bermalas-malasan, ya! Sudah, sana berangkat! Aku sudah lapar dan adikmu juga sudah gak sabar mau minum susu. Jangan kelamaan, nanti keburu dia tidur."
Setelah mengatakan itu, Minah langsung pergi tanpa peduli dengan kondisi Anisa yang lemah karena sedang hamil tua.
Anisa, akhirnya hanya bisa menuruti permintaan Ibu mertuanya, karena dia tidak punya pilihan lain.
Dia pernah menunda perintah Ibu mertuanya itu, namun berakhir dengan dia hampir saja diusir dari rumahnya.
Itu adalah kejadian saat Anisa tinggal di rumah ini selama kurang lebih satu bulan. Hanya karena dia menunda mencuci baju milik adik iparnya, dia dimarahi habis-habisan. Bahkan pakaiannya sudah dilempar ke jalanan, dan dia hampir ditendang.
Saat itu, Tegar juga tidak membelanya sama sekali, dan malah menyalahkannya.
Jika bukan karena sedang hamil dan telah diusir oleh keluarganya, Anisa pasti sudah pergi sejak lama dari rumah ini. Karena selama dia tinggal di sini, dia tidak pernah diperlakukan seperti seharusnya seorang menantu. Dia lebih dianggap seperti pembantu, yang harus menuruti setiap perintah mereka.
Menarik nafas dalam-dalam, Anisa perlahan turun dari ranjangnya. Dia kemudian mengambil uang kertas yang saat itu tergeletak di lantai.
Anisa mengelus perut buncitnya dan bergumam, "Nak, kamulah yang membuat Ibu kuat tinggal di rumah yang seperti neraka ini. Kamu sehat-sehat di sana ya. Ibu akan lakukan apapun untukmu."
Setelah Anisa mengatakan itu dan seolah mengerti, bayi yang ada di dalam kandungan itu menendang-nendang dari dalam.
Dengan mata berkaca-kaca, Anisa tersenyum. "Ya, sayang. Kamu adalah harta paling berharga yang Ibu punya. Ibu akan menjagamu dengan baik."
Anisa keluar dari kamar dengan langkah yang berat, karena cukup sulit untuknya berjalan dengan keadaan perut besar seperti sekarang. Meski begitu, dia tidak punya pilihan lain selain tetap melakukannya.
Mengambil payung hitam di teras rumah, Anisa langsung menerobos hujan deras yang disertai kilat menyambar, di atas langit Kota Kendal.
Untung saat itu jalanan cukup sepi, jadi dia bisa segera menyeberang jalan tanpa harus menunggu terlalu lama.
Setelah mengambil mie instan dan susu saset pesanan Minah, Anisa pergi ke kasir.
"Jadi berapa?" tanyanya.
"Totalnya menjadi Rp 6.500, Mbak," jawab kasir dengan ramah.
Anisa menyerahkan uang kepada kasir dan menerima kembalian.
Saat bersiap untuk menyeberangi jalan lagi, Anisa melihat pemandangan yang luar biasa di depan rumahnya.
Ada seorang pria dan wanita baru saja turun dari mobil sedan berwarna hitam.
Pemandangan itu masih biasa, sebelum dia melihat pria dan wanita itu berciuman di sebelah mobil sedan, atau lebih tepatnya di teras rumahnya.
Dan tentu saja, pria itu adalah Tegar, suaminya. Sementara untuk wanitanya, Anisa benar-benar tidak kenal.
Dengan langkah buru-buru dan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi, Anisa berlari tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Tegar!" Dia berteriak dalam larinya.
Tegar yang terkejut dengan teriakan Anisa, segera berbalik ke arahnya.
Saat itu, ada sebuah truk melaju dengan cepat. Tegar yang menyadarinya, segera memperingatkan Anisa, "Tunggu Nisa, berhenti di sana!"
Tidak memperdulikan peringatan Tegar, Anisa terus berlari hingga dia tersandung dan terjatuh di tengah jalan. Truk yang sedang melaju langsung menginjak rem dengan keras, namun terlambat untuk menghindari Anisa.
Truk itu akhirnya menabrak Anisa dengan kecelakaan yang mengerikan. Tubuh Anisa terpental beberapa meter menjauh, meninggalkan genangan darah di jalanan yang bercampur dengan air hujan.
"Nisa...!"
Tegar langsung berlari ke tempat Anisa, disusul wanita yang baru saja berciuman dengannya itu.
Mengangkat tubuh Anisa, Tegar berbalik menatap wanita itu, "Tolong, bantu aku membawanya ke rumah sakit!"
Wanita itu menjawab cepat, "Baik, ayo bawa masuk ke mobilku!"
Tegar segera berlari membawa tubuh Anisa yang tak sadarkan diri ke mobil wanita itu, sebelum membawanya ke rumah sakit.
Sampai di depan rumah sakit, Tegar membuka pintu mobil dengan cepat dan mengeluarkan tubuh Anisa. "Tolong, tolong cepat! Ada korban kecelakaan!" teriaknya begitu keras sehingga membuat beberapa perawat langsung keluar.
"Ayo, bawa ke ranjang dan segera masukan ke ruang gawat darurat!" perintah seorang dokter senior yang turut membantu saat itu.
Tegar dibantu beberapa perawat membawa tubuh Anisa ke sebuah ranjang rumah sakit, sebelum mendorongnya ke ruang gawat darurat.
Sampai di depan ruang gawat darurat, salah seorang perawat menghentikannya, "Tolong tunggu di sini, kami akan mencoba melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan nyawanya."
"Tolong... Tolong selamatkan bayinya juga, ah sial... Sebentar lagi dia melahirkan anakku! Tolong selamatkan anakku!" Tegar terlihat putus asa.
Perawat itu terlihat mengerti dan mengangguk, "Kami akan melakukan sebisa kami, anda tunggu dan berdo'alah untuk keselamatan Ibu dan bayinya."
Setelah mengatakan itu, perawat masuk ke ruang gawat darurat. Sementara Tegar menunggu di depan ruangan dengan tangan yang gemetar, penuh kekhawatiran.
"Sial! Apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu? Kenapa dia pergi keluar malam-malam begini dan di tengah hujan juga?" Tegar jelas menyalahkan Anisa.
Karena dia sebenarnya tidak menghawatirkan istrinya itu. Tegar lebih menghawatirkan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Tegar berjalan ke sana ke mari dengan emosi yang sulit untuk diungkapkan. Wanita yang tadi berciuman dengannya hanya bisa diam, dan tidak mengganggunya.
Beberapa jam berlalu, detik demi detik terasa seperti sebuah zaman yang tak kunjung usai bagi Tegar.
Beberapa kali dia mencoba mengintip ke dalam ruang gawat darurat. Ingin mengetahui perkembangan kondisi Anisa dan bayinya.
Ketika pintu ruang gawat darurat terbuka dan dokter keluar, Tegar langsung mendekat dan bertanya, "Dok, bagaimana? Bagaimana dengan anakku?"
Dokter itu menghela nafas dan menjawab, "Dalam kecelakaan ini, pasien mengalami pendarahan yang cukup serius. Kami telah menghubungi dokter bedah dan dokter kandungan. Semoga mereka bisa secepatnya sampai di sini."
"Dok, tolong selamatkan anakku! Yang paling penting anakku, Dok. Anakku adalah segalanya, dia harus di selamatkan!"
Paginya. Anisa menatap layar ponselnya yang sudah mati sejak tadi malam. Nomor Minah yang terakhir menghubunginya masih terbayang di benaknya. Ancaman itu bukan hal baru, tapi setiap kali terdengar, ada rasa lelah yang menusuk dada. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel di meja kecil di samping ranjang. Jihan masih tertidur pulas di sebelahnya, napas kecilnya teratur, tangan mungilnya sesekali bergerak seperti sedang bermimpi. “Kasihan kamu, Nak,” bisik Anisa sambil mengelus rambut halus Jihan. “Ibu janji, Ibu akan jaga kamu sekuat tenaga.” Pagi itu, matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai. Anisa bangun lebih awal, mandi, lalu menyiapkan sarapan sederhana—nasi goreng sisa semalam yang dihangatkan dan telur mata sapi. Ia makan sambil sesekali melirik jam dinding. Hari ini ia harus ke kantor lebih pagi karena ada rapat evaluasi bulanan. Tepat pukul 07
Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang
Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi
Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus
Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang
Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-
Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istr
Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews