Masuk"Luna, dia siapanya pak Alfa. Aku harus cari tahu."Dengan tekad itu Rina berangkat ke kampus. Dia harus mencari info. Mengenakan masker dan kaca mata, Rina berharap bisa menyamarkan penampilannya.Harapan Rina begitu. Tapi yang terjadi belum tentu seperti keinginannya. Beberapa orang langsung berbisik begitu berpapasan dengannya. "Dia bukannya Rina. Masih punya muka juga dia.""Aku pikir dia akan langsung DO.""Gak kebayang malunya kayak apa.""Itu andai dia masih punya malu. Kalau enggak bagaimana?""Kalau enggak ya itu tadi. Santai bener dia ke kampus. Kalau aku, aku sudah ngumpet di rumah. Gak berani ngampus lagi."Percakapan bisik-bisik tapi sempat didengar oleh Rina barusan membuat perempuan itu menggeram.Dadanya bergemuruh, penuh emosi. Dia ingin meledak tapi sadar diri jika ini bukan waktu yang tepat.Ada hal lebih penting yang harus dia urus. Pikir Rina begitu. Dia baru baru selesai menaiki tangga ketika Siska menghadangnya."Mau apa lagi lu? Mau cari masalah baru?""Minggi
"Sebenarnya, sebenarnya apa hubungan Luna dan pak Alfa. Kenapa dia terlihat sangat melindungi Luna?" Rina kembali bertanya.Kevin terdiam. Di tempat itu tinggal dia dan Rina. Pria tadi sudah dibawa Restu entah ke mana. Kevin sendiri tidak habis pikir kenapa Alfa tidak membalas perbuatan Rina.Andai dia tidak diberitahu Finda. Dia mungkin tak punya kesempatan untuk menghubungi Alfa. Lantas minta pria itu menyelamatkan istrinya.Jika dia bergerak sendiri. Dia takut, malah dia yang nanti ganti dihajar Alfa. Gusti Pangeran yang satu ini tidak boleh dianggap remeh. Salah langkah, dia yang babak belur."Bukan hakku untuk memberitahumu."Kevin melangkah pergi. "Kau tahu hubungan mereka?" Cecar Rina sambil menghadang Kevin.Pria itu diam, sorot matanya tajam menghakimi Rina. "Itu bukan urusanmu."Rina terhuyung, dia nyaris jatuh waktu Kevin menyenggolnya. Ketakutan menghantam Rina. Bagaimana jika? Bagaimana jika ....Tidak mungkin! Tidak mungkin!Rina menjambak rambutnya sendiri. Frustrasi m
Rina ....Hati Luna seperti dicabik oleh cakar tak kasat mata. Sedalam itukah rasa benci sang sahabat padanya. Sampai Rina berniat menghancurkannya.Mendadak Luna ingin bertanya, "Sebenarnya kamu menganggap diriku apa selama ini? Aku ini temanmu atau hanya orang yang memupuk rasa irimu."Rina terkesiap kala pertanyaan itu mengudara. Nuraninya terketuk. Dia ingat bagaimana pertemanan mereka terjalin pada awalnya. Hingga rasa tersebut kian menebal, menjelma jadi sahabat "Aku sungguh menganggapmu sebagai sahabatku. Tapi kenapa kamu lakukan ini padaku."Air mata mengalir di pipi Luna. Dia benar-benar tak percaya jika Rina tega melakukan ini padanya.Belum sempat Rina menjawab. Pria yang tadi menjadi lawan main Rina mendesak perempuan itu hingga menepi."Minggir kau! Ini waktunya mengambil jatahku. Kau sudah dapat uangnya. Sekarang pergilah."Luna terbelalak demi mendengar ucapan lelaki tadi. "Rina, apa maksudnya? Kamu menjualku?"Tanpa rasa bersalah Rina menjawab, "Iya. Aku perlu uang da
"Aduh, Na. Susah banget sih nyari bukunya Prof Raharjo. Aku cuma bisa nyari referensinya. Buku aslinya gak dapat."Luna menarik sudut bibirnya. Buku Prof Raharjo bejibun di ruang kerja Alfa. Dia bisa baca yang mana saja dengan bebas. Tidak perlu diuber waktu seperti di perpustakaan.Kalau ada yang mengganggu, justru Alfalah biang keroknya. Kalau masih mode tengil Luna tidak masalah. Yang tobat itu, jika Alfa sudah main terkam saja.Bukannya kerja dan dan belajar. Keduanya bisa saja lanjut part panas di sana. Semakin ke sini hubungan keduanya kian intens saja. Sesuatu yang membuat Lana resah."Kamu sudah dapat?" "Baru sebagian. Makanya gak kelar-kelar."Pintar sekali Lana kalau disuruh bohong sekarang. Padahal semua bahan dia sudah dapat. Tinggal menyusunnya. Entah kenapa dia belakangan makin malas menyelesaikan skripsinya.Tidak seperti dulu yang menggebu-nggebu ingin cepat selesai. Lalu pulang ke Jakarta. Luna versi kini tidak paham apa sebabnya justru kian betah di kota ini.Terleb
"Dia bahkan sampai ke sana untuk melayani klien."Gumam Luna dengan tangan menopang dagu. Tatapannya terarah ke luar jendela seperti biasa. Belakangan kampus terasa lebih damai.Setelah skandal Rina dipatahkan begitu dramatis oleh Alfa. Serta Brittanya yang entah kenapa anteng saja sejak kemarin. Tidak riweuh mengganggunya macam biasa."Ngapain, Nya?"Luna tidak menoleh ketika Kevin bertanya. Dia hanya menghembuskan napasnya pelan."Vin, kamu kan brengsek?""Iya, kenapa?" "Kamu tahu kalau kelakuan Siska sama Rina gak jauh beda.""Tahulah. Kenapa? Eh kamu tahu gak kemarin Siska sempat nyemplung penjara."Ini baru berita."Soal apa?""Kasus Erwan. Dia bawa nama Siska. Tapi karena bukti tidak cukup kuat. Siska dibebaskan.""Pantas saja dia kemarin sudah gawe di bandara."Kevin tertawa lirih. "Tidak heran. Koneksinya lumayan mengerikan. Aku sarankan hati-hati sama Siska.""Aku gak pernah nyenggol dia.""Tapi dia ngincar lakik kamu."Ada binar lelah di wajah Luna. Dia merasa punya suami s
"Sebaiknya Den Ayu dibawa istirahat dulu. Benturan energi tadi mungkin menguras tenaga Den Ayu."Alfa memandang Luna yang kini terlelap di tikar. Setelah makan, wanita itu langsung tidur. Biasanya tidak."Baik. Kalau bisa dilacak saya ingin tahu siapa yang coba menyerang Luna. Pakdhe bisa berkomunikasi dengan paklek Catur.""Sendiko, Den Mas."Pria tadi spontan berujar demikian. Satu hal yang membuat Alfa lagi-lagi kesal. Dia sungguh tak menyukai penghormatan yang berlebihan. Sewajarnya saja. Pasalnya Alfa bukan orang penting dalam istana. Hanya kedudukannya saja yang membuat orang lain segan. Padahal dia tidak pernah sudi menerima posisi tersebut.Alfa menggendong Luna, memindahkannya ke mobil setelah menyentuh lembut dahinya. Sedikit sirep Alfa lakukan. Dia ingat sang ibu pernah mengajarkan hal tersebut.Pria itu menganggukkan kepala sebelum melajukan mobil. Sang juru kunci membungkuk sebagai balasan. Pria itu sempat melakukan gerakan menyembah setelah Alfa tak melihatnya."Benar-b
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki







