Beranda / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 1. MENJEBAK CALON ADIK IPAR

Share

Ah! Mantap, Sayang
Ah! Mantap, Sayang
Penulis: NONA_DELANIE

1. MENJEBAK CALON ADIK IPAR

Penulis: NONA_DELANIE
last update Tanggal publikasi: 2026-01-28 09:18:00

Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk.

Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar.

Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan kendali di lantai dansa, Hazel duduk dengan tenang, seolah ia berada di dimensi yang berbeda.

Ia memilih duduk pada sudut paling redup, di dekat area dance floor tersebut. Sambil menyandarkan punggungnya pada sofa beludru merah, ia menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.

Gaun sutra hitamnya yang berpotongan rendah tampak berkilau setiap kali cahaya melintas, membungkus tubuhnya yang seksi seperti kulit kedua. Terlihat sangat elegan, namun menyimpan bahaya yang tak terlihat.

Pada meja marmer di depannya, segelas whiskey tanpa es tampak tak tersentuh. Malam ini, Hazel tidak datang untuk mabuk. Jari-jemarinya yang ramping sesekali hanya mengusap pinggiran gelas, sementara matanya yang tajam mengamati kerumunan dari balik kegelapan.

Ia menatap kerumunan itu dengan tenang, seolah ia bisa membedah anatomi emosi setiap orang di sana hanya dengan sekali lirik.

Hazel adalah sebuah anomali di sana. Di saat semua orang datang untuk melepaskan penat dan lelah dengan cara bersenang-senang, ia justru datang untuk memegang kendali penuh. Ia tidak butuh musik, tidak butuh perhatian, dan jelas tidak sedang mencari hiburan.

Ia hanya sedang menunggu sebuah momen ketika mangsanya melangkah masuk, tanpa menyadari bahwa malam ini adalah awal dari kehancuran yang sudah dirancang Hazel dengan sangat presisi.

Hazel baru saja mengangkat gelasnya, membawa cairan cokelat itu mendekati bibir untuk melakukan sesapan pertamanya malam ini. Namun, gerakan tangannya tertahan di udara saat sebuah suara bariton yang familiar menyapa rungunya dari samping kanan, mencoba mengalahkan dentuman musik.

“Hazel?”

Hazel tidak langsung menoleh. Ia membiarkan bibirnya bertemu dengan pinggiran gelas, menyesap whiskey tersebut perlahan hingga rasa hangatnya membakar kerongkongan.

Setelah cairan memabukkan itu tuntas membasahi tenggorokannya, ia baru mengangkat pandangan dengan gerakan lambat.

Di depannya, ada Hexa—pria yang akan menikah dengan adik tirinya. Ia berdiri dengan kening berkerut, tampak kaget mendapati calon kakak iparnya ada di tempat seperti ini.

“Kau ... sudah lama di sini?” tanya Hexa lagi, suaranya naik satu oktav untuk memastikan Hazel mendengarnya.

“Hm,” sahut Hazel singkat.

Hazel meletakkan gelasnya kembali ke atas meja marmer, sama sekali tidak berniat memberikan sambutan hangat pada calon adik tirinya itu. Namun, sikap dingin itu justru tampak menantang bagi Hexa.

Tanpa menunggu izin, apalagi dipersilakan, pria itu menarik sofa tunggal di dekat Hazel dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sana.

Meskipun mereka tidak berbagi sofa yang sama, keberadaan Hexa yang dominan membuat ruang di sekitar Hazel terasa menyempit.

Hexa menyandarkan punggungnya, melipat satu kaki dengan elegan, sementara matanya menelusuri profil samping wajah Hazel yang tampak berkilau terkena pantulan lampu neon.

Hexa membawa aura yang sangat kontras dengan suasana klub. Sosoknya tampak kaku dan berwibawa dalam setelan yang terlalu rapi, namun sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia sedang terganggu oleh pemandangan di depannya—melihat Hazel berada di tempat seperti ini.

Setelah diam selama beberapa saat, Hexa akhirnya memecah keheningan. “Sejak kapan seorang Hazel Rush yang biasanya tidak bisa lepas dari kesibukannya ada di tempat bising seperti ini? Sendirian pula,” ujarnya.

Hexa menatap Hazel dengan teliti, mencoba mencari sisa-sisa Hazel yang ‘tertib’—yang biasanya ia dengar dari cerita keluarga Rush. “Kupikir kau tipe wanita yang hanya tahu cara bekerja, bukan bersenang-senang,” imbuhnya.

Kemudian, Hazel melirik sekilas tanpa minat melalui ekor matanya ke arah Hexa, membiarkan tatapan itu jatuh sesaat pada pria di sampingnya sebelum kembali menatap kosong ke depan.

“Memangnya apa urusanmu? Apa aku salah duduk di sini dan minum? Toh, aku tidak bertindak kriminal.”

Pernyataan itu sontak membungkam kata-kata yang sudah tersusun di ujung lidah Hexa. Ia terdiam, merasakan ketidakramahan Hazel yang seketika memaksanya membisu.

Akhirnya, Hexa memberi isyarat kepada pelayan yang telah mengenalnya untuk menyajikan sebuah minuman.

Klub ini memang kerap didatangi Hexa, setidanya dua kali sebulan untuk melepas penat. Jadi, sang pelayan tahu apa yang disukai pria itu.

Tak berselang lama, empat gelas berisi cairan yang sama dengan milik Hazel diletakkan di atas meja marmer di depan mereka.

​Hexa meraih gelasnya, menyesap isinya sedikit demi sedikit sembari mencoba menetralisir rasa canggung yang baru saja Hazel ciptakan. Ia tidak beranjak, seolah ingin membuktikan bahwa penolakan dingin Hazel tidak cukup kuat untuk mengusirnya dari sana.

Tiga gelas whiskey telah tandas di tangan Hexa dalam beberapa puluh menit, namun pria itu tetap bergeming di kursinya. Efek alkohol mulai bekerja, membuat garis wajahnya yang kaku perlahan mengendur.

Di sampingnya, pada sofa yang berbeda, Hazel tampak sibuk mengaduk isi tasnya, mencari ponsel yang sejak tadi bergetar seolah ada panggilan mendesak.

Dengan gerakan yang tampak sangat natural, Hazel menyenggol dompet kulitnya hingga terjatuh tepat di dekat kaki Hexa.

“Hei, dompetmu jatuh,” ujar Hexa spontan. Pria itu segera membungkuk untuk mengambilnya.

Saat pandangan Hexa teralihkan ke lantai, Hazel bergerak dengan presisi yang mematikan. Ia mencelupkan ujung telunjuknya yang sudah dibubuhi serbuk ‘obat’ ke dalam gelas whiskey keempat milik Hexa sambil mengamati sekitar—aman.

Cairan cokelat itu berdesir pelan saat jarinya masuk, melarutkan racun yang akan segera merenggut kendali pria itu.

Ketika Hexa kembali tegak dan menyodorkan dompet tersebut, Hazel sudah kembali ke posisi semula. Ia menerima dompetnya sambil mengucap lebih hangat, “Thanks.”

Tepat saat Hexa mengangkat gelas keempat— hendak menyesap isinya, suara Hazel menginterupsi, menahan gerakan tangan pria itu di udara.

“Bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Jenna?”

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Hexa melanjutkan gerakannya. Ia meminum whiskey tersebut hingga tandas, membiarkan cairan hangat itu mengalir melewati kerongkongannya.

Ia kemudian merotasikan pandangan ke arah Hazel, meletakkan gelas kosongnya ke meja dengan bunyi denting pelan. “Sudah delapan puluh persen. Kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya bertanya,” sahut Hazel tenang. Ia menatap gelas kosong Hexa sesaat, seolah sedang memastikan tidak ada setetes pun cairan tersisa di sana, sebelum kembali menatap lurus ke depan.

Hexa mengangguk pelan. Kemudian, ia menggerakkan tengkuknya yang tiba-tiba terasa agak berat, hanya berselang 20 menit setelah isi gelas keempat ia habiskan.

Hexa mengerutkan kening sejenak. Biasanya, tiga atau empat gelas whiskey tidak akan sanggup membuatnya mabuk secepat ini. Namun, malam ini sensasinya terasa berbeda—ada rasa pening yang perlahan merayap di balik matanya.

Tak menaruh curiga sama sekali dan mengira itu hanya efek kelelahan kerja, Hexa justru kembali bertanya pada lawan bicaranya. “Kau sendiri, kapan menikah? Usiamu … sudah cukup matang, ‘kan?”

Hazel menjawab santai sembari mengukir senyum tipis di sudut bibirnya. “Mungkin nanti.”

Setelah beberapa putaran minuman lagi—hampir satu jam, Hazel tiba-tiba beranjak. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah meninggalkan area sofa menuju tangga yang mengarah ke lantai atas.

Hexa mengernyit saat melihat Hazel yang mendadak tampak sempoyongan, kontras dengan sikap tenangnya tadi di tengah kerumunan.

“Kenapa dia naik ke lantai atas? Di sana ... bukannya hanya ada kamar? Apa yang akan dia lakukan? Berkencan? Dengan siapa? Sejak tadi, kurasa dia sendirian. Atau jangan-jangan ....”

Pikiran buruk mulai meracuni benak Hexa, membayangkan skenario terburuk yang mungkin menimpa calon iparnya itu.

​Rasa penasaran yang bercampur dengan naluri protektif sebagai calon keluarga mendorong Hexa untuk berdiri.

Hexa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin memastikan Hazel tidak sedang dijebak oleh pria hidung belang. Namun, tepat saat ia mencapai ujung tangga teratas, kepalanya terasa dihantam beban yang luar biasa berat.

​Pandangan Hexa berputar hebat. Dinding di sekitarnya seolah bergerak menjauh, memaksanya bertumpu pada tembok agar tidak jatuh tersungkur.

Di tengah kekacauan indranya, seorang wanita bergaun seksi dengan belahan dada rendah tiba-tiba muncul dan menangkap tubuhnya yang limbung.

​Aroma parfum yang menyengat dan kulit yang bersentuhan dengan lengannya membuat suhu tubuh Hexa mendadak naik.

​”Sir, Anda baik-baik saja?” Suara wanita itu terdengar mendayu di telinganya.

​Jakun Hexa bergerak naik-turun. Pandangannya yang kabur tertuju pada dada wanita di depannya, membangkitkan sesuatu yang liar dan tak terkendali di dalam dirinya—sebuah reaksi instingtual yang gagal diredam oleh akal sehatnya yang kian menipis.

“Ya, aku baik-baik saja,” geram Hexa, suaranya terdengar jauh lebih serak dari biasanya. Napasnya mulai memburu, berpacu dengan denyut nadi yang terasa menghentak di pelipis.

“Perlu kucarikan kamar, Sir?” tawar wanita itu lembut, jemarinya mengusap lengan Hexa dengan gerakan provokatif.

Pandangan Hexa yang mengabur menangkap sosok Hazel yang masuk ke dalam sebuah kamar tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menggeleng, “Tidak perlu! Aku ... tidak ingin menginap,” tunjuknya dengan gerakan tangan yang tak lagi stabil.

“Oh, baik.” Wanita itu segera pergi usai melepaskan pegangannya pada Hexa.

Hexa berjalan sempoyongan, tangannya sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan.

Saat melihat pintu kamar yang dituju Hazel terbuka separuh, entah mengapa Hexa langsung berlari dan menerobos masuk. Pikirannya hanya satu, yaitu mencegah Hazel melakukan tindakan impulsif.

Namun, baru saja Hexa melangkahi ambang pintu, dunianya berputar satu lingkaran penuh. Sebelum sempat memproses apa yang dilihatnya, ia tersentak saat sebuah tangan yang kuat dan tak terduga menyambar lengannya.

Dengan satu sentakan bertenaga, tubuh Hexa terlempar ke atas ranjang yang empuk. Mata Hexa membelalak saat melihat wanita yang tidak asing berada di atasnya—menaikinya.

“Hazel? Apa yang kau lakukan?” Hexa sempat memprotes dengan suara parau. Matanya terbelalak, berusaha memfokuskan pandangan pada sosok Hazel yang kini sudah berada di atasnya—menindihnya tanpa sehelai benang pun.

Pemandangan itu begitu liar, hingga membuat akal sehat Hexa lumpuh seketika. Namun, tepat saat ia hendak membuka mulut untuk mencegah tindakan Hazel lebih jauh, wanita itu langsung membungkamnya dengan lumatan yang menuntut.

Hazel tidak memberikan celah bagi Hexa untuk sekadar menarik napas atau berpikir jernih. Saat ia merasakan pertahanan Hexa runtuh dan pria itu mulai masuk ke dalam jaring yang telah ia bentangkan dengan sempurna, Hazel menarik wajahnya sedikit. Lalu, ia lucuti pakaian bawah Hexa dengan cepat.

Begitu tubuh mereka menyatu, Hazel meringis. Sembari menatap mata Hexa yang mulai kehilangan fokus, sebuah senyum miring penuh kemenangan tersungging di bibirnya.

“Thanks, Hexa.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Mantap, Sayang   121. TERKENANG

    “Iya, aku ada di rumah sakit. Malam ini mungkin aku akan menginap di sini. Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, Papa menyelamatkanku. Iya, benar. Sampaikan salamku untuk Mama, aku tidak pulang malam ini. Apa? Kau dan Mama akan ke sini? Apa kau tidak sibuk? Oh, baiklah, aku tunggu kalau begitu. Iya, bye.”Ketika Hazel berbicara melalui sambungan telepon di sudut kamar rawat VIP yang tenang, dada Denzel berdesir hebat. Kalimat ‘Papa menyelamatkanku’ yang diucapkan Hazel barusan dengan begitu lugas benar-benar memantik rasa bangga yang luar biasa di lubuk hatinya. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun berlalu, Denzel merasa dirinya akhirnya berguna. Ia merasa benar-benar telah menjadi sosok ayah yang melindungi putrinya—meski itu baru terjadi sekali seumur hidupnya.Saat Hazel menutup telepon dan berbalik badan, Denzel mengembangkan senyum tipis di wajahnya yang masih agak pucat. Ia bertanya dengan nada lembut, “Apa itu suamimu?”Hazel mengangguk tipis sebagai jawaban

  • Ah! Mantap, Sayang   120. PERTUMPAHAN DARAH YANG TIDAK SIA-SIA

    “Aaaarggh!” Denzel menjerit keras. Saat ia berjalan cepat dengan perasaan lega, ia sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya masih mengancamnya dari belakang. Salah satu dari penjambret itu rupanya telah bangkit berdiri lagi dan dengan gerakan kilat mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik jaket kulitnya. Alhasil, pria paruh baya itu mengerang kesakitan lantaran punggung kanannya tertebas dan terluka. Hazel yang memperhatikan seluruh kejadian tragis itu dari dalam mobil langsung membuka pintu dan turun. Ia berteriak histeris, “Tolong! Tolong!” Sambil berteriak meminta bantuan warga sekitar, di dalam hati Hazel berharap cemas agar tidak ada pihak kepolisian yang datang ke lokasi. Hazel berjalan cepat menghampiri ayahnya, tepat setelah memastikan kedua orang suruhan suaminya pergi tunggang langgang melarikan diri dari tempat kejadian. “Papa! Apa kau terluka?” tanya Hazel dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. Sikap protektif dan khawatir yang ditunjukkann

  • Ah! Mantap, Sayang   119. PERAMPOK

    “Pria itu tidak sedang bekerja untuk Emma,” gumam Hexa perlahan, tatapannya mendadak menajam menatap Enrico. “Emma tidak menyewa Lance untuk menjaga ibu Hazel. Tapi mereka bersekutu karena memiliki kepentingan yang sama.” Hexa menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kaki sembari melipat tangan di depan dada. “Emma ingin melenyapkan ibu Hazel dari hidup Denzel dan menyingkirkannya dari lingkaran River, sementara Lance ... menginginkan wanita itu secara pribadi. Emma yang memberi jalan dan memalsukan kematiannya, lalu menyerahkan fisik wanita itu pada Lance untuk dimiliki dan dikurung dalam realitas palsu.” Ia menatap layar laptop Enrico yang masih menampilkan grafik gelombang suara rekaman. “Itulah alasan kenapa data digitalnya bersih dan teman-teman Emma tidak mengenalnya. Lance mungkin bukan nama aslinya, atau dia adalah hantu dari masa lalu ibu Hazel sendiri yang memang menginginkan wanita itu sejak dulu,” lanjut Hexa, suaranya memberat. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan

  • Ah! Mantap, Sayang   118. TEKA TEKI RUMIT

    “Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya

  • Ah! Mantap, Sayang   117. KECURIGAAN YANG SALING TEHUBUNG

    “Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb

  • Ah! Mantap, Sayang   116. TEMUKAN BENANG MERAH

    “Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya

  • Ah! Mantap, Sayang   5. DISIDANG KELUARGA

    Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu

  • Ah! Mantap, Sayang   4. BERSIAPLAH JADI AYAH

    “Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap

  • Ah! Mantap, Sayang   3. ASUMSI YANG MEMBAKAR

    “I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?” Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan nod

  • Ah! Mantap, Sayang   2. ONE NIGHT STAND

    “Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status