MasukSetelah lima bulan menjaga kehidupan kecil yang begitu ia cintai, dunia Vivian hancur ketika bayinya meninggal. Luka itu bahkan belum sempat sembuh, sementara tubuhnya masih terus menghasilkan air susu untuk anak yang sudah tidak ada lagi. Namun kesedihan Vivian tidak berarti apa-apa bagi suaminya. Perusahaan Rayan, berada di ambang kebangkrutan. Demi mendapatkan suntikan dana dari sahabatnya yang kaya, ia membuat keputusan yang menghancurkan harga diri Vivian: menawarkan istrinya menjadi ibu susu bagi bayi sahabatnya yang alergi susu formula. Bagi suaminya, itu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis. Namun bagi Vivian, setiap tetes air susu yang ia berikan kepada bayi itu seperti membuka kembali luka karena kehilangan anaknya sendiri. Di tengah penderitaan dan penghinaan itu, Vivian perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga—sebuah ikatan yang mengubah takdirnya, sekaligus membuka rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik pernikahannya. "Mari kita saling memuaskan!" Arsen. "Mau aku temani sampai mana? Perceraian atau sampai kau bosan!" balas Vivian menantang dengan kakinya yang masih memakai heels berada di atas dada Arsen. Dimatanya terpancar kilatan dendam yang membara.
Lihat lebih banyak"Mas? Kamu sakit?" Vivian langsung menyalakan lampu kemudian memberikan air putih. Tapi karena terlalu khawatir ia malah tak sengaja menyiramnya pada dada Arsen. Byur. "Mas?" katanya panik, "ganti lagi ya, Mas. Aku bantu," katanya semakin merasa bersalah, kemudian ia pun cepat-cepat membuka kancing baju tidur Arsen. Hingga akhirnya ia melihat dada Arsen, 'Astaga, kenapa sekarang rasanya sangat berbeda?' batin Vivian. "Ehem..." Arsen berdeham dan langsung membuat Vivian tersadar dari lamunannya. "Maaf, Mas. Aku ambilin baju lain ya," kata Vivian. Arsen pun melepaskan bajunya lalu meraih tangan Vivian. Vivian yang hampir melangkah pun bingung dan kembali manatap Arsen. "Kamu mau ngapa-ngapain?" tanya Arsen. "Hah?" Vivian syok mendengar pertanyaan Arsen. Tapi bukankah itu yang memang tadinya ia katakan? "A- i- apa? Aaaa!!!" teriaknya merasakan tubuhnya tertarik karena Arsen hingga kemudian ia pun terjatuh di atas ranjang. Kemudian Arsen pun menindihnya cepat.
Vivian duduk di kursi meja makan, setelah siang tadi mendengar apa yang dikatakan oleh Nindy padanya ia mulai merasa bersalah karena menuduh Arsen hanya menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Ia pikir cinta yang dikatakan oleh Arsen hanya sebatas dibibir agar dirinya percaya, lalu kemudian setelah bosan akan dicampakan seperti dulu. Tapi jika cinta selama itu sudah ada artinya Arsen bisa menerimanya dalam keadaan apapun, apa lagi Arsen sudah meninggalkan keluarganya. Tap tap tap. Terdengar suara langkah kaki, Vivian pun mengikuti asal suara. Arsen kembali. 'Dia udah berkorban banyak, masa iya aku masih keras kepala,' batin Vivian. Lalu ia pun bangkit dari duduknya dengan perlahan. "Mas, aku udah masak," kata Vivian. Arsen menatap makanan yang tersaji di atas meja, kemudian ia pun kembali menatap Vivian. Tapi Vivian pun sudah berjalan kearahnya, lalu memeluknya erat. Arsen tersentak kecil, lalu ia mengingat sesuatu. Ia tahu Kakaknya pasti sudah bercerita banyak h
"Sandy, kamu ngapain?" tanya Nindy bingung. "Tadi, Kak Nindy bilang aduk. Jadi aku aduk," jawab Sandy bingung. "Pak Sandy, kalau cara ngaduknya begitu. Berasa kaya ngaduk Indri deh," sela Indri centil. Sandy mual mendengarnya, "Ngomong lagi aku antar kau ke kebun binatang!" kesal Sandy. "Jalan-jalan?" goda Indri lagi. "Jadi makanan harimau!" balas Sandy tajam. "Ih, serem..." kata Indri merasa merinding. Nindy menahan tawa melihatnya, "Pakek ini," Nindy pun memberikan mixser. Sandy pun menerimanya, lalu menyalakan. Mixser berputar. Ia baru saja memulainya, lalu Indri memasukkan tepung dan akhirnya tepung pun berterbangan. "Uhuk...uhuk..." Sandy terbatuk-batuk dengan wajah memutih saat itu juga. Nindy menahan tawa melihatnya, wajah Sandy benar-benar kacau dipenuhi tepung. "Maaf, Pak Sandy," Indri ketakutan wajahnya memucat. "Dasar kau memang nggak berguna!" umpat Sandy, lalu ia pun menyiramkan tepung pada Indri. " Aaaaa!!!" teriak Indri. "Eh..." Nindy terkeju
"Sayang, kamu udah sadar...kamu minum dulu ya," kata Arsen panik. Ia menahan rasa cemas setelah apa yang barusan ia lakukan. Hampir saja tangannya menampar Vivian. Ah, bodoh sekali. Vivian pun membuang mukannya, ia sungguh kesal pada Arsen. "Sayang, maaf untuk yang tadi," Arsen langsung naik ke atas ranjang dan memeluknya di balik selimut. Vivian pun memilih diam tanpa peduli pada Arsen. "Sayang, kamu marah aja sama aku. Jangan diam ya. Kamu harus makan, kata dokter kamu punya penyakit maaf," kata Arsen lagi. "Lepas, pergi sana. Ngapain kamu masih disini? Ceraikan aku!" kata Vivian tajam. "Sayang, Mas minta maaf...Mas tadi kelepasan," jelas Arsen. "Kamu memang suka berbuat sesukamu, aku memang dulu mau sama kamu yang bukan suamiku! Tapi sekarang aku menyesalinya!" jelas Vivian dengan mata ber-kaca-kaca. Penjelasan itu sangat dalam dan ia sendiri malu dengan apa yang pernah ia lakukan. "Sayang, aku minta maaf. Aku cuma takut kamu tidak menyukaiku dan malah menyuka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan