MasukBiya tahu permintaannya gila. Siapa yang waras meminta sahabat kakaknya sendiri untuk mengajarinya berciuman? Namun, keberanian polos itu justru mengubah segalanya. Bagaswara, direktur dingin itu, seharusnya menolak mentah-mentah. Tapi tatapan Biya—adik sahabatnya—mampu meruntuhkan logikanya. “Bisa ajarin aku, nggak?” “Selama saya bisa. Ajarin apa?" “Ajarin aku… ciuman.” Satu kalimat itu menyeret Biya ke dunia bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan.
Lihat lebih banyak"Hasil tes DNA sudah keluar," ucap William datar.
Pria itu sengaja datang ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor untuk mengambil sendiri amplop yang sudah ia tunggu sejak minggu lalu. Ia merobek segel kertas itu, lalu membaca isinya dengan saksama. Perlahan rahangnya mengeras dan tatapannya penuh kekecewaan. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia melemparkan lembaran itu ke arah Laura. Dengan tangan gemetar, Laura mengambil kertas tersebut. Matanya bergerak cepat menelusuri deretan angka di sana hingga berhenti pada satu titik yang membuat dadanya seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata. Angka nol persen itu terpampang nyata, seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah. Air mata Laura jatuh tanpa bisa ditahan lagi membasahi kertas itu. "Ini pasti ada yang salah, William. Aurora anakmu. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain di belakangmu," ucap Laura dengan suara bergetar menahan sakit tepat di ulu hatinya melihat penolakan yang sama sejak Aurora terlahir satu Minggu yang lalu. William mengangkat tangan, memberi isyarat agar istrinya berhenti bicara. Tatapannya sangat dingin, seolah-olah wanita di depannya adalah orang yang paling ia benci di dunia ini. "Aku sudah melihat sendiri hasilnya, tidak perlu ada penjelasan apapun lagi darimu," sahut William. "Tidak, William, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah berbohong, aku dijebak oleh seseorang. Kumohon percayalah padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aurora adalah darah dagingmu sendiri, William," ujar Laura sambil mencoba meraih tangan suaminya berharap pria itu masih bisa diajak bicara dari hati ke hati. Tapi semuanya sia-sia. "Cukup!" bentak William hingga membuat Laura seketika bungkam. Pria itu langsung menghempas tangan Laura dengan kasar hingga Laura terduduk di kursi itu lagi. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Laura untuk membela diri. "Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang anak itu!" Seru William sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Laura mematung di tempatnya, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan lorong. Tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya bahkan kesempatan untuk membela diri pun dia tak punya. Kertas di tangannya terasa sangat menyakitkan, seolah seluruh hidupnya hancur karena selembar hasil tes yang tidak ia mengerti dari mana asalnya. Pandangan Laura bergeser ke arah pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, bayi kecilnya masih berbaring dengan tubuh dipenuhi alat medis yang terlihat begitu mengerikan. Aurora tampak begitu mungil, begitu lemah, dan kini ayahnya sendiri enggan mengakuinya. Orang-orang mungkin melihat Laura sebagai wanita paling beruntung karena berhasil menjadi istri William Harrington, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang namanya disegani dalam dunia bisnis. Namun bagi Laura, semua kemewahan itu mendadak tak ada artinya, karena ia kini benar-benar sendirian di tengah badai yang menghantam rumah tangganya. "Aku tidak pernah mengkhianatimu, William," bisik Laura sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil. Lalu ia meremas kertas di tangannya dengan kuat. Laura tahu ada yang tidak beres dengan semua ini, ia tahu pasti ada seseorang yang sengaja menghancurkan rumah tangganya. Namun tanpa bukti, semua keyakinannya hanya akan dianggap angin lalu oleh William. "Aurora, bertahanlah, Nak. Mama akan melakukan apa pun untukmu," tutur Laura lirih sambil menahan perih yang terus menguliti perasaannya. Pintu ruang ICU terbuka, sosok dokter Antonio keluar dengan wajah sendu. Laura berdiri dan bertanya, “bagaimana keadaan anak saya, dok?” Suaranya terdengar sangat lirih. Dokter Antonio menghela napas panjang, “mari ikut ke ruangan saya sebentar, Bu,” sahutnya. Laura mengangguk patuh. Dia berjalan di belakang sang dokter lalu masuk ke ruangan dokter itu dan duduk di depan meja kerjanya. Dokter Antonio melihat rekam medis Aurora. Dia menatap Laura, dan dengan berat hati dia harus menyampaikan kabar buruk ini. “Kondisi anak Ibu semakin menurun, bahkan ini lebih cepat dari perkiraan kami sebelumnya. Alat medis di tubuhnya tak mampu lagi membantunya dengan maksimal, Bu. Agar kebocoran jantung tidak semakin melebar maka kita harus segera ambil tindakan untuk menyelamatkannya,” ucap dokter. Laura terdiam sepersekian detik. Lantas dia bertanya, “be–berapa lama anak saya punya waktu sebelum di operasi, dok?” tanya Laura dengan bibir bergetar. “Hanya sampai jam delapan esok pagi, Bu. Jika tidak…” Ucapan dokter terjeda membuat jantung Laura berdetak semakin kencang. “Jika tidak, apa yang akan terjadi dengan anak saya, dok?” tanya Laura sambil menahan tangisnya. “Nyawanya tidak akan bisa diselamatkan, Bu,” ujar dokter lagi. Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Rasa sakit pasca melahirkan saja masih Laura rasakan, kini nyawa anaknya di ujung tanduk. “Ya Tuhan, begitu dahsyatnya cobaan yang kembali Engkau berikan untukku setelah kepergian kedua orangtuaku. Kumohon jangan pernah ambil Aurora dariku,” bisiknya lirih sambil terus terisak, seolah dia sedang merayu Tuhan untuk berhenti membuatnya menangis. “Suami ibu di mana? Saya harus meminta persetujuannya sebelum operasi dilakukan. Karena sangat berisik, Bu,” ujar dokter. Selama satu minggu menangani penyakit yang diderita bayi malang itu, dokter Antonio sama sekali tidak pernah melihat keberadaan William di rumah sakit ini. Hanya ada Laura yang menemani putri mereka. “A–ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oleh suami saya, dok. Biar saya saja yang tanda tangani surat pernyataannya, dok,” ucapnya terbata. Tidak ada yang boleh tahu tentang prahara rumah tangganya. Dokter pun mengangguk paham, dia lalu berkata, “Kalau begitu silahkan ke ruang administrasi untuk melunasi biaya operasinya, Bu.” “Berapa biayanya, dok?” Tanyanya lirih. Setidaknya Laura masih punya perhiasan dan tas mahal yang akan dia jual demi kesembuhan putrinya. “Dua miliar.” Mata Laura membulat penuh mendengar biaya fantastis yang harus disiapkan demi menyelamatkan nyawa Aurora. Note Author: Yang di bawah umur gak boleh baca!"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Biya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Tidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
“Aku nggak mau balik ke Indonesia,” ucap Biya setelah hening yang menyelimuti keduanya.Bagas menatapnya, kali ini lembut dan sudah mengantisipasi bahwa jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut manis Biya. Mau bagaimanapun Bagas mengakui betul kesalahannya dan kalaupun memang sesaat tidak ap
“Mas Bagas mau ngomong apa sampe telfon malam-malam begini?” Suara Biya lirih, berusaha terdengar biasa saja padahal hatinya berdegup kencang. Jemarinya mencengkram ujung bantal di pangkuannya, mata terus melirik ke arah pintu kamar Arsen yang tertutup rapat.Di seberang, Bagas terdiam sebentar. Na
“Abiya Ardhanaya.”Panggilan itu terdengar saat Arsen sudah masuk ke dalam rumah dan menyaksikan adiknya sedang duduk di sofa. Hanya membuka buku, berpura-pura sedang membaca materi.“I-iya abang,” jawabnya terbata-bata dengan tubuh menegang. Genggamannya pada buku mengerat- merasakan aura kegelapa
Jemari Biya akhirnya bergerak pelan, ragu tapi nyata. Sentuhan itu membuat napas Bagas tercekat seketika. Dada bidangnya naik turun lebih cepat, dan suara beratnya lolos dalam desahan tertahan.“Mhh… Biya,” suara serak itu nyaris bergetar, jauh lebih liar daripada kata-katanya yang biasanya dingin.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak