author-banner
Daisy
Daisy
Author

Novelas de Daisy

Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Maira, mahasiswi riset berusia dua puluh lima tahun, mengira tugas lapangannya di Abu Dhabi hanya akan berupa wawancara dan observasi budaya. Namun segalanya berubah ketika ia ditempatkan langsung di bawah pengawasan Wisnutama Adnan Bin Malik- seorang diplomat yang dikenal disiplin, nyaris tanpa emosi, dan memiliki reputasi berbahaya yang jarang dibicarakan secara terbuka. Perjumpaan pertama mereka membuat Maira sadar satu hal bahwa pria ini bukan tipe yang bisa ditebak atau dilawan. Terlambat satu menit saja, Wisnutama menatapnya seolah ia sudah melakukan kesalahan fatal. Terlambat satu detik pun, ia mengucapkan kata hukuman tanpa berkedip. Maira tidak tahu apakah ia sedang diuji, atau sedang ditarik masuk ke dunia kerja Wisnutama yang dingin, tajam, dan teratur seperti garis map diplomatik. Namun yang tidak pernah ia duga, semakin lama ia bekerja di dekatnya, semakin jelas bahwa pria itu tidak sesederhana atau sesuci yang terlihat. Dan ketika Maira mulai menyadari bahwa dosennya menghilang tanpa jejak, penempatannya terasa janggal, dan Wisnutama terlalu tahu banyak tentang dirinya. Di antara koridor kantor diplomatik, ruangan kaca gelap lantai delapan belas, dan tatapan yang selalu menguji, Maira harus memutuskan. Melarikan diri atau mengikuti pria itu lebih jauh, meski ia tahu Wisnutama punya cara tersendiri untuk menahan siapa pun yang menarik perhatian.
Leer
Chapter: Bab 62 – Histeris
"Bagaimana kondisinya?" tanya Wisnu sesaat setelah menutup pintu kamar."Nona Maira sudah menghabiskan makan siangnya dan meminum obat tepat waktu, Tuan," jawab Walid tanpa ragu.Wisnu menyipitkan matanya sedikit, melirik napas Maira yang masih memburu halus dan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Pria itu memajukan langkah, menepis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di samping tempat tidur."Kamu menangis lagi?" Wisnu membungkuk, mengulurkan jarinya untuk mengusap air mata di pipi Maira.Sentuhannya dingin, membuat Maira merinding dan refleks memejamkan mata. Wisnu duduk di tepi ranjang, tangannya merayap naik ke tengkuk Maira, memaksanya untuk mendongak sedikit. Wisnu memberi isyarat pada Walid untuk keluar ruangan dengan mengedikkan kepalanya.“Masih pusing atau mual?” tanya Wisnu setelah Walid keluar kamar."Nggak," jawab Maira sangat lirih, hampir tak terdengar.Wisnu mengusap lembut ibu jarinya di garis rahang Maira yang pucat. Manik mata gelapnya meneliti setia
Última actualización: 2026-07-25
Chapter: Bagian 61 - Kaca dan Darah Baru
Kamar megah itu telah kembali bersih mengkilap, seolah amarah dan pecahan kaca tidak pernah ada di sana. Dua pengawal bertubuh tegap kini berdiri diam di dalam kamar, menempel di dekat pintu ganda dengan posisi siap siaga, membuat ruang gerak Maira benar-benar mati.Maira dipindahkan kembali ke ranjang oleh pelayan atas perintah Dokter Ibrahim. Ia berbaring miring, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan lanskap gurun Abu Dhabi yang luas dan membakar.Pintu kamar mendadak terbuka. Langkah kaki yang sangat dihafalnya terdengar melangkah masuk. Wisnu telah berganti pakaian, kini mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Di rahang kirinya, bayangan kemerahan akibat tamparan Maira tadi pagi masih tercetak tipis, namun raut wajahnya seperti biasa.Wisnu berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang, menatap Maira yang bahkan tidak sudi menolehkan kepala ke arahnya."Dokter Ibrahim bilang kamu harus menghabiskan porsi makan siangmu," suara bariton Wisnu terdengar
Última actualización: 2026-07-23
Chapter: Bagian 60 - Tamparan dan Penolakan
Napas Maira memburu liar. Rasa mual, ketakutan, dan akumulasi rasa terhina selama berada di bawah ketiak pria ini tiba-tiba meledak menjadi keberanian yang membara. Saat sendok berisi obat sirup itu mendekati bibirnya, Maira tidak lagi memohon.Dengan sisa tenaga dari kemarahan yang memuncak, Maira menghentakkan kedua kakinya, mendorong dada kokoh Wisnu dengan lutut dan kakinya yang terluka tanpa peduli rasa nyeri yang mendadak menusuk.BUGH!Wisnu yang tidak menduga perlawanan fisik seliar itu terdorong ke belakang. Sebelum pria itu sempat menguasai posisinya kembali, Maira memajukan tubuhnya dan mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga.PLAKK!Suara tamparan keras memecah keheningan kamar. Wajah Wisnu terlempar ke samping. Bekas telapak tangan Maira tercetak memerah di rahang kokoh sang Falcon.Tidak berhenti di situ, Maira menyambar botol sirup obat dan nampan berisi bubur di atas meja nakas, lalu melemparnya menghantam dinding di depan Wisnu. Botol kaca itu pecah berkeping-keping
Última actualización: 2026-07-22
Chapter: Bagian 59 – Ledakan Amarah
"Saya mengerti. Tinggalkan obat yang diperlukan di meja. Setelah itu, kalian semua boleh keluar," sahut Wisnu pendek."Baik, Tuan. Saya menyertakan sirup pereda lambung dan beberapa vitamin. Mohon pastikan Nona Maira segera mengisi perutnya," Dokter Ibrahim membungkuk hormat, meletakkan beberapa botol obat di samping nampan bubur, lalu melangkah mundur diikuti oleh Walid dan pelayan wanita tersebut.Begitu pintu ganda kamar itu tertutup rapat, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Suara badai gurun yang telah reda di luar seolah berpindah ke dalam dada Maira, bergemuruh dalam bentuk ketakutan yang teramat sangat.Wisnu tidak langsung berbicara. Pria itu berbalik perlahan, menatap Maira yang masih terduduk di atas sofa dengan gaun tidurnya yang longgar. Dengan langkah lambat namun pasti, tubuh tinggi besar itu mulai bergerak mendekat, mengikis jarak di antara mereka.Hamil.Satu kata itu menghantam kesadaran Maira hingga runtuh berkeping-keping. Menjadi tawanan di mans
Última actualización: 2026-07-21
Chapter: Bab 58 – Rasa Mual Pagi Hari
"P-Pak. Tidak perlu membuat apa-apa. Saya... saya hanya ingin tidur lagi," Maira berbisik lirih, jemarinya meremas pelan bahu kekar Wisnu yang telanjang.Wisnu tidak langsung bergerak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Maira."Benar tidak mau dibuatkan teh hangat? Pelayan saya selalu menyimpannya di lemari atas," tanya Wisnu lagi, suaranya terdengar serak, bergetar rendah di dekat wajah Maira."Benar, Pak. Air tadi sudah cukup membuat dada saya lega,” Maira menggeleng pelan, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat."Baiklah," sahut Wisnu pendek.Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, menjauh dari sandaran meja konter marmer tanpa sedikit pun melonggarkan kuncian lengan kokohnya pada tubuh Maira. Sesampainya di dalam kamar, Wisnu berjalan mendekati ranjang king-size, lalu dengan gerakan pelan menurunkan tubuh mungil itu ke atas kasur berselimut sutra.Wisnu memosisikan tubuh tingginya di belakang si gadis, lalu menarik tubuh Ma
Última actualización: 2026-06-03
Chapter: Bab 57 - Labuhan di Dada Penguasa
Maira tidak langsung menjawab. Sepasang kelopak matanya terasa teramat berat untuk terbuka, sementara bibirnya hanya mampu mengeluarkan hela napas panjang yang terdengar begitu letih.“Maira,” panggil Wisnu lagi, kali ini suaranya merendah satu oktav.Jemari besar Wisnu bergerak perlahan, menyisir helai rambut Maira yang basah oleh keringat dingin, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Telapak tangannya yang hangat kemudian beralih mengusap sisa air mata yang mengering di pipi mungil yang kini tampak begitu sembap.“S-saya... tidak tahu, Pak. Tiba-tiba saja... dadanya terasa sangat sempit. Seperti... seperti tidak ada udara lagi di ruangan ini,” cicit Maira akhirnya, suaranya parau sembari semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher si pria.Wisnu terdiam, merasakan getaran halus yang masih tersisa di punggung Maira melalui telapak tangannya. Pria itu menyadari, di balik kepatuhan yang Maira tunjukkan sejak menandatangani kontrak pemulihan, ada beban mental yang teramat berat ya
Última actualización: 2026-06-03
Di Bawah Selimut Tetangga

Di Bawah Selimut Tetangga

Aruna Maheswari berniat menjual rumah peninggalan ibunya karena tempat yang terlalu besar untuk ditinggali sendiri dan terlalu sarat kenangan untuk dipertahankan. Keputusan itu tampak sederhana, hingga ia mengetahui bahwa rumah tersebut masih memiliki satu pemilik lain yaitu Sagara Setjo Pratama, pria yang meninggalkannya lima belas tahun lalu tanpa penjelasan. Kembalinya Sagara ke Indonesia memaksa Aruna menghadapi masa lalu yang selama ini ia kunci rapat. Urusan hukum berubah menjadi konflik personal ketika tanda tangan yang dibutuhkan justru tertahan oleh kehadiran orang yang paling ingin ia hindari. Terjebak dalam ruang yang sama, Aruna dan Sagara dipaksa berbagi rumah, waktu, dan luka yang belum sembuh. “Sekali lagi kamu bahas soal tanda tangan atau—” ucapnya tertahan, rahangnya mengeras. Aruna menyalang. "Atau apa? atau kamu bakal ber—" Kalimat itu belum selesai ketika ia maju selangkah. Tangan terangkat, menutup mulut lawannya bukan dengan telapak, tapi dengan bibir. "Sekali lagi bicara, aku tutup mulut kamu pakai itu."
Leer
Chapter: Bagian 151 - Tuan Muda Kecil
Tiga tahun kemudianLantai marmer kediaman Setjo Pratama yang biasanya sunyi dan dingin, kini menjadi medan tempur bagi sepasang kaki mungil yang berlarian tanpa lelah.Arkanza Zaydan Setjo Pratama, atau yang akrab dipanggil Arkan, telah tumbuh menjadi balita yang tidak hanya tampan dengan garis wajah tegas seperti ayahnya, tetapi juga memiliki tingkat kecerewetan yang luar biasa, warisan murni dari sisi ekspresif sang ibu."Papa! Papa! Lihat! Arkan punya mobil balap baru!" teriak Arkan sambil berlari menuju ruang kerja Sagara yang pintunya terbuka sedikit.Sagara, yang sedang melakukan video conference dengan kolega dari Singapura, seketika mengangkat tangannya ke arah kamera, memberi isyarat tunggu tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ia langsung berlutut, menyambut tubuh mungil yang menubruk kakinya dengan tawa renyah."Pelan-pelan, jagoan. Kamu bisa jatuh," gumam Sagara.Tangannya yang besar kini terlihat begitu mahir mendekap tubuh anaknya."Nggak jatuh, Pa! Arkan kan kuat kayak Ir
Última actualización: 2026-04-14
Chapter: Bagian 150 - Kehebohan Ruang Bersalin
Empat bulan kemudian, ketenangan di kediaman Setjo Pratama pecah pada pukul dua dini hari. Aruna merintih kesakitan, mencengkeram sprei hingga urat-urat di tangannya menonjol. Air ketubannya pecah, dan dalam sekejap, Sagara yang biasanya tenang dan terkendali berubah menjadi pria yang nyaris kehilangan akal sehatnya.Kini, di ruang persalinan Rumah Sakit Pondok Indah, suasana berubah menjadi medan perang. Sagara, si raja bisnis yang ditakuti ribuan karyawan tampak tak berdaya menghadapi istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan pewaris mereka."SAGARAAAA! INI SEMUA SALAH KAMU!" teriak Aruna saat kontraksi hebat kembali menghantam.Suaranya melengking memenuhi ruangan, membuat para perawat berjengit."Iya, Sayang, salah saya. Maafkan saya," Sagara mencoba menenangkan, tangannya mengusap keringat di dahi Aruna dengan gemetar."SAKIIITTT! KAMU NGGAK TAHU RASANYA PERUT MAU BELAH DUA!" Aruna tidak lagi melihat Sagara sebagai suaminya yang tampan, melainkan sebagai
Última actualización: 2026-04-14
Chapter: Bagian 149 - Amukan Kecil Sang Ratu
Minggu pagi yang seharusnya tenang di rumah mewah keluarga Setjo Pratama mendadak berubah menjadi zona perang pakaian. Sagara, yang baru saja selesai melakukan sesi meditasi paginya, berdiri mematung di ambang pintu walk-in closet yang sangat luas.Pemandangan di hadapannya cukup mengerikan. Berbagai koleksi dress dari desainer ternama, mulai dari bahan sutra hingga kasmir berserakan di lantai marmer seperti tumpukan kain perca.Di tengah kekacauan itu, Aruna berdiri di depan cermin besar dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang berkaca-kaca karena frustrasi."Nggak ada yang muat! Semuanya sempit!" teriak Aruna sambil melempar sebuah bodycon dress hitam ke arah Sagara.Sagara dengan tangkas menangkap gaun itu dengan satu tangan. Pria itu memperhatikan istrinya yang kini hanya mengenakan pakaian dalam. Perut Aruna yang sudah memasuki usia lima bulan kini mulai membuncit cantik, memperlihatkan lengkungan kehidupan yang nyata.Bagi Sagara, itu adalah pemandangan paling indah di duni
Última actualización: 2026-04-14
Chapter: Bagian 148 – Sisi Posesif Sang Raja
Sejak garis biru itu muncul, kehidupan Aruna berubah total. Jika dulu Sagara adalah sosok yang posesif, maka sekarang pria itu telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih ekstrem. Aruna merasa dirinya bukan lagi seorang istri, melainkan sebuah artefak langka yang harus disimpan dalam kotak kaca antipeluru.Pagi ini, Aruna baru saja hendak melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, namun baru tiga langkah keluar dari kamar, sebuah suara bariton yang berat menghentikannya."Mau ke mana, Sayang?"Aruna menghela napas, menoleh ke arah ruang kerja yang pintunya terbuka. Di sana, Sagara berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung, menatapnya dengan mata tajam yang tidak pernah lepas mengawasi."Ambil minum, Suamiku. Aku haus," jawab Aruna jengah."Duduk kembali di sofa. Biar saya yang ambilkan," perintah Sagara mutlak.Pria itu segera berjalan melewati Aruna, namun sebelum menjauh, ia sempat mendaratkan kecupan singkat di kening istrinya dan satu usapan lembut di perut Aruna
Última actualización: 2026-04-13
Chapter: Bagian 147 - Aroma Kopi dan Rahasia Pagi
Satu bulan telah berlalu sejak perjalanan ke Santorini yang melelahkan itu. Kehidupan di Jakarta kembali ke ritme semula, namun dengan satu perbedaan besar, Sagara Setjo Pratama kini menjadi suami yang jauh lebih protektif, jika itu memungkinkan.Pagi ini, sinar matahari Jakarta yang terik mulai menyelinap melalui celah gorden kamar mereka di penthouse. Sagara, yang sudah terbiasa bangun lebih awal, berdiri di dapur bersih dekat area makan dengan hanya mengenakan celana lari hitam.Pria itu sedang menyeduh kopi hitam tanpa gula, aroma robusta yang kuat menguar ke seluruh ruangan. Di benaknya, ia sedang menyusun jadwal rapat direksi siang nanti, namun pikirannya masih tertinggal pada Aruna yang tadi ia tinggalkan masih bergelung nyaman di bawah selimut.Klik.Suara mesin kopi berhenti. Baru saja Sagara hendak menyesap kopinya, suara lain terdengar dari arah kamar utama mereka.Hueekk... ughh...Sagara mematung. Cangkir kopinya hampir saja terlepas. Pria itu segera meletakkan minumannya
Última actualización: 2026-04-13
Chapter: Bagian 146 - Pijat Plus Plus
Sagara menggendong Aruna dengan mudah menuju kamar utama vila, lalu membaringkan Aruna telungkup di atas ranjang king-size yang empuk, kepala wanita itu menghadap ke samping dengan pipi menempel bantal.Aruna menghela napas panjang, tubuhnya yang lelah langsung rileks saat merasakan kasur yang dingin.“Pijat ya, beneran pijat,” gumam Aruna dengan suara setengah memperingatkan, meski matanya sudah setengah terpejam.Sagara tersenyum tipis, lalu naik ke ranjang, berlutut di samping tubuh istrinya. Tangan besarnya mulai bekerja dari bahu Aruna, menekan otot-otot yang tegang dengan tekanan yang pas dengan kuat tapi tidak menyakitkan.“Tenang saja, Nyonya Pratama. Saya kan sudah janji,” katanya dengan suara bariton yang rendah, sementara jempolnya memutar di bahu Aruna, melemaskan simpul-simpul ketegangan.“Enak, terus, Sayang di situ,” Aruna mendesah lega.Sagara melanjutkan pijatannya ke punggung dengan gerakan lambat dan teratur, tapi semakin ke bawah, semakin nakal tangannya. Saat menc
Última actualización: 2026-04-09
Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Biya tahu permintaannya gila. Siapa yang waras meminta sahabat kakaknya sendiri untuk mengajarinya berciuman? Namun, keberanian polos itu justru mengubah segalanya. Bagaswara, direktur dingin itu, seharusnya menolak mentah-mentah. Tapi tatapan Biya—adik sahabatnya—mampu meruntuhkan logikanya. “Bisa ajarin aku, nggak?” “Selama saya bisa. Ajarin apa?" “Ajarin aku… ciuman.” Satu kalimat itu menyeret Biya ke dunia bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan.
Leer
Chapter: Bagian 175 - Welcome, The End
"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Última actualización: 2025-12-18
Chapter: Bagian 174 - Saya Sangat Mampu
Biya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Última actualización: 2025-12-17
Chapter: Bagian 173 - Not Yet
Tidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Última actualización: 2025-12-16
Chapter: Bagian 172 - Happy Ending
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
Última actualización: 2025-12-15
Chapter: Bagian 171 - Danau Como, Italia
Dua minggu kemudian.Matteo menyandarkan tubuhnya di balkon vila kecil di pinggiran Danau Como, Italia. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Tempat itu tidak ramai, tidak pula berlebihan, tenang, intim, dan terlalu indah untuk disebut kebetulan.“Bapak yakin Ms. Biya tidak akan curiga?” tanya Matteo sambil menyesap espresso-nya.Bagas berdiri di sampingnya, jas tipis berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. “Dia pikir ini hanya makan malam biasa.”Matteo mengangguk pelan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi Ms. Biya sampai. Saya sudah atur kapal kecilnya berlabuh di dermaga pribadi. Tidak ada tamu lain.”Bagas tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada danau yang berkilau, tapi jelas pikirannya tidak sedang di sana. Ada ketegangan tipis di bahunya karena hari ini, ia berniat untuk melamar Biya dengan layak dan pantas, tidak sepertinya waktu itu di pantry pagi hari.Bagas terkekeh dengan aksinya terlalu im
Última actualización: 2025-12-14
Chapter: Bagian 170 - PillowTalk
Biya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung menuju Bagas, menatap dengan keterkejutan yang membuat Bagas tersenyum.“Aku nggak cemburu. Ngapain juga cemburu? Ke siapa juga lagian,” ucapnya lirih.Bagas menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu melanjutkan mengelus rambut Biya dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada respon dari pria itu yang membuat Biya kesal.“Saya akan anggap kamu sudah jujur,” desah Bagas.“Aku serius,” suara itu mulai meninggi dan bukannya menakutkan justru menggemaskan.Bagas akhirnya mengangkat selimut sedikit lalu turut berbaring di samping perempuannya. Menarik tubuh mungil itu, menyelipkan lengan kanan di bawah kepala Biya dan memeluk erat. Biya terdiam sesaat ketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bagas.“Aku beneran nggak cemburu,” ulangnya lebih pelan, kali ini nyaris berbisik. “Kalau kamu dekat sama Valerie secara profesional, itu bukan urusanku.”Bagas menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Biya. “Justru itu yang ingin saya pastikan,” kat
Última actualización: 2025-12-14
También te puede gustar
Bos Playboy Itu Suamiku
Bos Playboy Itu Suamiku
Romansa · Fredelina Putri
58.6K vistas
Cinta Untuk Dr. Saka
Cinta Untuk Dr. Saka
Romansa · Suzy Ru
58.6K vistas
Suamiku direbut Janda
Suamiku direbut Janda
Romansa · Henya Firmansyah
58.4K vistas
CEO Tampan Itu Ayah Putraku
CEO Tampan Itu Ayah Putraku
Romansa · Zila Aicha
58.3K vistas
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status