Share

Chapter 18 =Tvakvisa=

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-29 22:46:57

Buram. Itulah yang dilihat oleh Ridhika selama beberapa menit setelah dia sadarkan diri. Tenggorokannya pun terasa perih, jadi alih-alih memberitahukan bahwa dia sudah bangun pada Widuri yang sedang bicara dengan seseorang, satu-satunya hal yang sanggup dilakukannya hanya memandang kosong ke arah dinding.

Lalu, sedikit demi sedikit matanya sudah bisa menangkap silau dari jendela yang terbuka, diikuti oleh siluet benda-benda di sekitar kamar, serta sosok beberapa orang tidak dikenal yang mengeli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 24 =Solusi Lainnya=

    Pagi itu, suasana di dalam kamar Ridhika dan Widuri agak sedikit berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena tadi malam mereka baru saja setuju untuk saling bantu menyelidiki Adishra, tetapi karena keberadaan Amayra yang menjadi pengingat bahwa masih ada masalah lain. Keluarga Darling.Ridhika sudah tahu dia akan terlibat kehebohan lagi ketika memutuskan untuk menolong Amayra. Dia tidak menyesal melakukannya. Hanya saja, dia baru sadar bahwa ternyata dia secara tidak langsung sudah menarik terlalu banyak perhatian."Aku lebih baik pulang saja," ujar Amayra. Tangannya memelintir lengan seragam dengan kuat, gelisah. "Aku yang bodoh! Bagaimana aku berpikir bisa lepas dari mereka?! Aku kan masuk Akademi ini untuk menyambung peran protagonis wanita Peter Pan.""Amayra." Ridhika berlutut di depan gadis itu dan menggengam tangannya erat. "Sudah kubilang, kalau kamu tidak mau pulang, jangan pulang.""Ridhika benar," timpal Widuri. "Kamu akan menghabiskan hidup menjadi pengganti orang lain sete

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 23 =Selangkah Lebih Dekat=

    "Baiklah! Ayo kita minta salepnya sekarang!" Ajak Ridhika sambil beranjak dari atas tempat tidur.Melihat Ridhika yang tiba-tiba bersikap antusias, Widuri tidak bisa menahan diri dari menatap gadis itu turun naik, menyelidik, "Bukannya tadi kamu terlihat terpaksa sekali, ya?""Lalu?" Ridhika balas menatap. Dia mengedikkan bahunya dengan santai, seolah perubahan reaksi yang ditunjukkannya itu adalah hal yang biasa. "Kamu sendiri yang bilang, kalau tidak segera ditangani, maka lukanya akan membekas. Walau bagaimana pun juga, aku tidak ingin itu terjadi."Ridhika tertawa kecil ketika menyaksikan bagaimana kini Widuri sedang menyipitkan mata ke arahnya, masih curiga. Sedang di sisi lain, Amayra hanya memandangi mereka dengan raut polos. "Ayo! Kalau tidak cepat, Adishra mungkin keburu tidur," ujarnya sambil menarik tangan Widuri agar ikut beranjak. "Amayra tunggu di sini saja, ya."Setelah melihat Amayra mengangguk patuh, Ridhika langsung menggandeng lengan Widuri untuk pergi ke kamar Adi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 22 =Petunjuk Demi Petunjuk=

    Ridhika menyentuh bagian keningnya yang terasa nyeri. Mendapati ada darah yang menempel di ujung jarinya, seketika membuatnya teringat pada peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika dia dipukul bata oleh para anak nakal.Dadanya terasa terbakar. Marah bercampur sakit hati. Sebagian besar mungkin dipicu oleh kenangan tersebut. Yang jelas, dia bangkit dari posisi jatuhnya dengan ekspresi datar, lalu menatap si pria sengit. Dia mungkin tidak punya kekuatan fisik yang setara untuk melawan langsung. Namun, dia lebih dari mampu untuk membuat ancaman."Ridhika! Keningmu terluka." Amayra yang sempat membeku kini bergegas datang ke sisi Ridhika. "Astaga, bagaimana ini? Kamu cepat pulang saja! Aku juga akan pulang."Ridhika menoleh ke arah Amayra yang kini wajahnya basah oleh air mata. Dia menyadari tangan gadis itu yang gemetaran, barangkali tidak menyangka bahwa pengawalnya nekad berbuat kasar. Namun, Ridhika hanya menggeleng singkat, menolak untuk pergi.Sebaliknya, dia justru menarik Amayra me

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 21 =Pertemuan Tidak Terduga=

    "Jadi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Ridhika sekali lagi.Dia duduk di atas kursi yang diambilkan Bagastya dari kafetaria, mengamati bagaimana pria itu memotong-motong sayuran dengan cekatan. Nah, sebenarnya dia mau saja membantu. Namun, masalahnya dia tidak pandai menggunakan pisau. Di rumah, Ibu biasa menjauhkan semua benda tajam dari jangkauannya."Karena tidak ada kegiatan," jawab Bagastya santai.Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Kau tidak ada kelas?""Ada. Tapi, aku tidak harus ikut semua. Itulah esensi antagonis, untuk melanggar aturan."Jawaban Bagastya yang diucapkannya dengan penuh percaya diri tersebut membuat Ridhika gagal menahan senyum. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Sesuatu yang cukup menarik untuk ditanyakan, mumpung mereka berdua sedang akur."Aku lihat ada kembang api dinyalakan dari sini beberapa malam yang lalu. Kau salah satu yang terlibat, ya?""Bukan cuma terlibat." Bagastya menoleh kr arah Ridhika dengan ekspresi bangga. "Aku Ketuanya."Ridhi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 20 =Kafetaria Umum=

    "Hai, Nona Protagonis," sapa Bagastya sambil berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang ternoda debu setelah jatuh. "Bisa berdiri sendiri, kan?"Ridhika memutar bola matanya, jengah dengan lagak Bagastya yang tengil itu. Dia ikut berdiri, lalu seperti halnya apa yang pria itu lakukan, menepuk pakaiannya dari debu. "Jadi, benar ya kalau kau alergi?"Sontak Ridhika memegang wajahnya begitu mendengar kalimat Bagastya tersebut. Ketika menyadari bahwa syalnya sudah tidak berada di tempat yang benar, dia buru-buru merapikan kain tebal itu agar kembali menutupi setengah wajahnya."Kau menutupi wajah karena takut menakuti orang atau takut dianggap jelek?" Lanjut Bagastya dengan sebelah alis terangkat.Kini, Ridhika mendelik menatap pria itu. Apa-apaan sih pertanyaannya?! "Apa? Itu dua hal yang berbeda, kau tahu?" Bagastya membalas delikan yang diterimanya dengan polos.Ridhika menghela napas kasar, "Sedang apa kau di sini?" Tanyanya balik, sepenuhnya tidak mengindahkan semua perkataan Bagastya

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 19 =Kecurigaan=

    Ridhika membiarkan Widuri mengoleskan salep yang dikirimkan oleh Nenek Dokter kepada mereka segera setelah sisa bubur yang diperiksa positif mengandung Tvakvisa.Kini, seluruh tubuhnya terasa lengket karena bahan salep tersebut. Namun, setidaknya sensasi panasnya sudah berkurang banyak.Si Nenek juga mengirimkan ramuan untuk meringankan perih di tenggorokannya. Jadi, sekarang dia sudah bisa bicara, meski dengan suara pelan."Ini adalah alasan mengapa kita harus sukses di dunia cerita nanti, Ridhi," ujar Widuri. "Supaya mampu membayar pelayanan kesehatan eksklusif seperti ini."Ridhika mengangguk setuju. Dia juga kagum dengan seberapa cepat Nenek Dokter melaksanakan pemeriksaan dan menyiapkan obat untuknya. Semua sudah siap digunakan di malam hari.Sementara itu, di desa dulu, dia dan Ibunya harus menunggu seminggu hanya untuk mendapatkan obat demam. Sungguh, perbedaan yang besar sekali."Kamu tahu? Aku kaget keluargamu tidak kaya raya. Nenek buyutmu kan padahal salah satu antagonis pa

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status