Share

Chapter 19 =Kecurigaan=

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-30 22:43:14

Ridhika membiarkan Widuri mengoleskan salep yang dikirimkan oleh Nenek Dokter kepada mereka segera setelah sisa bubur yang diperiksa positif mengandung Tvakvisa.

Kini, seluruh tubuhnya terasa lengket karena bahan salep tersebut. Namun, setidaknya sensasi panasnya sudah berkurang banyak.

Si Nenek juga mengirimkan ramuan untuk meringankan perih di tenggorokannya. Jadi, sekarang dia sudah bisa bicara, meski dengan suara pelan.

"Ini adalah alasan mengapa kita harus sukses di dunia cerita nanti, Rid
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 31 =Bazar di Asrama Biasa=

    "Jangan sampai ada yang rusak! Semua bahan ini langka," ujar Adishra tanpa mengalihkan perhatian dari refleksi dirinya di cermin yang sedang didandani oleh Kirana. "Aku tahu!" Ridhika mengemasi bahan-bahan obat herbal yang disorongkan Dea padanya ke dalam keranjang anyam sambil sesekali mengomel pelan. Untuk bazar hari ini, Adishra sudah menyeretnya dari kamar sejak jam 04.00 pagi. Kadang untuk menyetrika bajunya, kadang untuk memakaikan cat kuku, kadang untuk memesan salad buah dari dapur, apa-apa sajalah keributan yang gadis itu dan dayang-dayangnya buat. "Hoam." Ridhika menutup mulutnya sambil menguap lebar-lebar. Dia tidak sempat tidur. Sebab, setelah berhasil meyakinkan Adishra untuk pergi ke bazar, dia lalu harus berdiskusi dengan Widuri dan Amayra tentang apa yang harus mereka lakukan agar penggeledahan kali ini berhasil. Akhirnya, mereka memutuskan bahwa Widuri yang akan menggeledah, sementara Amayra berjaga-jaga di depan kamar. Sedangkan, dirinya akan terus berada di sek

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 30 =Satu Masalah Selesai, Masalah Lainnya Menunggu=

    Pagi-pagi sekali, sementara Widuri sibuk berdandan dan para penghuni Griya Nayika sedang ribut bolak-balik mempersiapkan diri, Ridhika justru dengan serius sedang memperhatikan Amayra yang tengah menerima telepon dari pengawas.Sudah sekitar 15 menit berlalu. Selama itu, gadis tersebut hanya mengatakan "Iya, Bu. Iya, Bu." Tidak ada kalimat lain. Dia jadi sulit menebak apa isi pembicaraan mereka dan apakah ada hubungannya dengan keluarga Darling yang pergi ketakutan kemarin atau tidak."Baik, Bu. Terima kasih," Widuri menutup telepon, akhirnya terlihat ekspresi lain di wajahnya. Sumringah.Menyaksikan hal ini, Ridhika setidaknya bisa yakin bahwa mereka menerima kabar baik. "Apa? Bagaimana?" Tanyanya tidak sabar.Amayra berlari kecil, duduk di depan meja rias yang berseberangan dengan Widuri, tersenyum lebar sambil menyisiri rambutnya. "Mulai sekarang, aku boleh tinggal di asrama," ujarnya sambil tertawa pelan, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. "Keluarga Darling tidak akan berkun

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 29 =Menakuti Sendiri=

    "Apa Akademi Natyadharma tidak punya anggaran untuk membuat lorong yang canggih?! Masih saja menggunakan lorong kuno ini!" Gerutu Johan, putera tertua keluarga Darling yang sedang berlatih mengambil tugas kepala keluarga dari Ayahnya yang baru terkena stroke.Di sampingnya, isterinya yang berdandan persis seperti Ibu-ibu sosialita menyetujui perkataan suaminya tersebut dengan mengangguk sambil mengeratkan pegangan pada lengan Johan. Sementara itu, Amayra mengikuti dalam diam di belakang, berjalan dengan kepala menunduk."Ada beberapa hal yang dipertahankan untuk menjaga kualitas kan, Pak?" Balas salah satu dari dua anak yang menyamar sebagai pengawas. "Selain itu, lorong ini sudah ada sejak Akademi dibangun. Jadi, ada nilai sejarahnya juga.""Cih!" Johan membuang muka, berlagak kesal padahal sedang berusaha menutupi ketakutannya pada lorong tersebut.Di sisi lain, Ridhika, Widuri, Bagastya dan tiga anak-anak lain yang bersembunyi di sudut saat ini mulai bersiap. Memanfaatkan kegelapan

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 28 =Mengusir Keluarga Darling=

    "Aku akan panggilkan Dokter!" Ujar si pengawas setelah merebahkan tubuh Ridhika di atas ranjang klinik.Sesudah itu, dia segera menaiki tangga menuju lantai kedua klinik, tempat Dokter dan stafnya biasa beristirahat. Sedangkan, Ridhika dan Widuri yang sejak tadi sibuk berakting, kini memanfaatkan waktu untuk menyusun langkah mereka selanjutnya."Aku akan terus pura-pura sakit, sampai ada kode dari anak-anak lain bahwa keluarga Darling sudah diamankan," jelas Ridhika."Kode yang seperti apa? Sudah kamu jelaskan belum pada mereka?" Widuri menggaruk-garuk rambutnya, entah kenapa seluruh situasi itu membuatnya tiba-tiba gatal. "Jantungku berdebar kencang sekali! Aku tidak bisa berpikir!""Tidak apa, tenang saja! Bagastya sudah menjelaskan. Kamu terus saja berakting panik."Sebenarnya, tanpa perlu diingatkan, Ridhika tahu Widuri memang panik sungguhan. Terlihat dari gestur tubuh gadis itu yang tidak henti bergerak, tidak nyaman. Namun, dia menganggap hal itu bagus. Sebab, orang-orang yang

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 27 =Improvisasi=

    "Ridhika dan Bagastya tidak boleh jadi orang yang menyamar! Lihat wajah mereka! Satu punya ruam, satu punya bekas luka. Mereka terlalu mencolok," jelas Widuri setengah cemas setengah frustasi."Kami berdua tahu, Widuri! Makanya, Bagastya sedang menjelaskan semuanya kan pada teman-temannya," balas Ridhika tidak kalah frustasinya.Saat ini, mereka semua sedang berjalan terburu-buru menuju Akademi Natyadharma. Lebih jauh sedikit di belakang, Bagastya dan teman-temannya juga tengah mendiskusikan rencana yang tadi sempat dijelaskannya pada pria itu. Semua dilakukan tanpa berhenti berjalan, dalam keadaan terdesak, benar-benar sudah tidak sesuai perkiraan bahkan sejak awal.Ridhika mengeratkan posisi syal yang menutupi setengah wajahnya. Meskipun, mereka sudah melewati jalur paling sepi, dia merasa tetap harus waspada. Kini, dia hanya berharap Amayra yang sudah terlebih dulu berlari di depan bisa mengulur waktu sebanyak mungkin bagi mereka mempersiapkan penyamaran untuk menyambut dan menggir

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 26 =Kabar Tiba-Tiba=

    "Aku ... mengorbankan diri?" Ridhika menelan ludah. Bertanya-tanya, sejauh apa pengorbanan yang dimaksud Bagastya."Iya, teman-temanku tidak boleh ketahuan. Jadi, jika ada sesuatu yang salah, kau tampakkan dirimu. Akui sendiri.""Oh! Maksudmu, itu! Untuk sesaat, aku berpikir ada pengorbanan manusia atau semacamnya." Ridhika menghela napas lega, baru saja dia hampir membayangkan sebuah ritual aneh untuk pengorbanan.Di sisi lain, Bagastya menatap gadis itu dengan pandangan aneh. Beberapa kali membuka mulut, tetapi tidak jadi berbicara, "Kenapa kau bisa berpikir begitu? Memangnya kami ini apa?""Ya, mana kutahu! Di Akademi ini kan banyak hal aneh." Ridhika mengangkat bahunya acuh. "Jangan khawatir, rencanaku juga begitu, kalau ada yang salah. Aku tidak akan membiarkan kalian menanggung akibat dari ide gilaku.""Baguslah kalau kau sadar ini gila," gerutu Bagastya. Masih kesal karena pikiran Ridhika tentang dia dan teman-temannya barusan.Pria itu lalu berdiri, menepuk-nepuk celananya, se

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status