MasukAlina tak pernah meminta banyak—hanya ingin lulus dari Horizon International Academy dan menghilang tanpa jejak. Namun, satu kesalahan mempertemukannya dengan Arion Mahendra Kwon, siswa atlet yang berkuasa, berbahaya, dan diincar timnas Indonesia. Tatapannya menusuk, sikap dinginnya, dan nama keluarganya yang terpandang membuat Arion tak tersentuh—dan Alina, hanya siswi miskin yang mendapat beasiswa, tak mungkin bisa mendekatinya. Tapi mereka terikat oleh satu rahasia gelap—pernikahan yang terpaksa mereka sembunyikan dari dunia. Di antara ketegangan dan kebencian yang membara, perasaan yang tak terduga muncul di tengah gejolak itu. Ketika cinta mulai merayap di antara amarah dan penolakan, Alina takut kehilangan dirinya lagi. Namun, Arion tak hanya ancaman, dia adalah api yang bisa membakar habis sisa hidup Alina. Dan di ambang kehancuran itu, hanya satu pertanyaan tersisa: Akankah mereka bertahan, atau tenggelam dalam cinta yang berbahaya? Note : Follow akun goodnovel Biebiefenimmm. Instagram author biebiefenim_author 🌹 FB: Biebiefenim Author untuk info lebih lanjut agar tahu ilustrasi seluruh karakter dan kisi-kisi update terbaru. Thanks reader, Salam Sayangg dari Author 😘
Lihat lebih banyak【彼女】の死は、事故死だったのか。
それとも自殺、だったのか。 ずっと、その答えを探している。 その答えを知っているのは【彼女】だけ。 その【彼女】は死んだ。 【彼女】が死んだのは、俺が妻の綾子と結婚した日だった。 * 『草薙洋輔さんの携帯電話でよろしいでしょうか』 その電話がきたのは、綾子との式を終え、そのまま旅立った新婚旅行先だった。隣では、夜を共にした綾子が眠っていた。そんなベッドで、あの電話をとった俺が悪い。綾子を抱いたベッドにいる俺に、【彼女】の死を報せてきた警察に非はない。
.
警察は【彼女】死んだことを告げたあと、【彼女】の身元の確認のために署に来てほしいと言ってきた。その場所は東京ではなく、北海道。
「別れた女のこと」だとか、「俺には関係ない」とか―――いつもの俺ならそう言った。
だから、あれは虫の知らせだったのだと今では思う。
『すぐに行きます』
電話を切って、服を着替えた。スーツケースに手を伸ばしかけたが、ここについてすぐに行為に及んだから荷ほどきは着替えを出したくらいで、スーツケースはこのまま日本に送ってもらうように手配した。
財布、スマホ、パスポート。必要最低限の荷物を入れたショルダーバッグを背負ったところで、ベッドで寝ていた綾子が起きた。
『仕事?』
そう尋ねる綾子に俺は仕事だと言って、綾子にはこのまま過ごすように言って部屋を出た。綾子は、何も気にしていないようだった。
.
タクシーに乗って数分後に綾子から電話が掛かってきて「いつ戻るのか」と聞かれたが、日本に戻るから帰らないと言うと「分かった」で終わった。綾子とは、それだけ。
呆気ないものだと思ったが、それで終わった理由はあとで知った。
どうせ俺は仕事でろくに自分に構わないだろうからと、綾子の愛人が新婚旅行先に来ていた。それだけのこと。俺たちは表向きは愛し合って結婚した夫婦だが、裏では互いに愛することなどないと分かり合っている夫婦だった。
·
電話を終えたタイミングで、俺の乗ったタクシーが幹線道路を降りた。目的地は空港だというのに。ボッタクリだと思い、方角が違うと詰問すれば運転手は「こちらのほうが早い」と言った。
俺の指した道は遠回りで、混雑もするので地元のドライバーは多く稼ぐためにその裏道は使わない。俺が急いでいるようだから、彼は仲間を裏切ってこの近道を使うのだと運転手は説明してくれた。
タクシーが再び空港に向かう幹線道路に戻ったとき、後ろを振り返ると渋滞しており、実際にスマホのナビは三十分以上時間を短縮していた。
『間に合うといいですね』
運転手がこのとき言ったこの言葉を思い出すたび、鋭い棘が俺の胸に刺さる。
· 東京経由でたどり着いた北海道は、まだ寒かった。東京は桜の最盛期なのにと思いながら、俺は目に留まったコートを、サイズだけを確認して購入したことを覚えている。
空港前に停まっていたタクシーに乗り、行き先を問われて警察署名を答えた。いま思い出しても、不思議な話だ。数時間前の電話、しかも一度だけ名乗った警察署名を俺は覚えていた。このときまで聞いたこともない地名だったのに、俺の口からその地名が自然と滑り出てきた。
タクシーが走る道はただ平坦で、俺は外の風景を眺めていた。こんな地に【彼女】がいるわけがないと、自分に言い聞かせていた。【彼女】は寒いのが嫌いだった。だから【彼女】が、雪と寒さの代表格のような北海道にいるわけがないと思い続けた。
警察署に着くと、受付で名前と用件を告げた。
受付にいた男性職員がパソコンを操作し、何かに納得したように彼は頷く。パソコン画面から顔を上げ、俺を見た彼の顔は『お気の毒です』と書いてあった。俺は、この先に悪夢が待っていることを予感した。そんな顔で俺を見るな、と叫びたかった。
担当だという警察官が二人できた。
彼らについて会社と同じく人が忙しなく行き交う場所を抜け、案内された遺体安置所は|閑《しずか》な場所にあった。
遺体安置室に行くのは初めてだったが、刑事ドラマなどによく出てくるから、俺は中に何があるのかは分かっていた。扉を開けた先は予想通りの光景だったが、思いのほか冷静でいられた。
それは【彼女】が見えなかったからだろう。真っ白な大きな布をかけられて、【彼女】の姿は見えなかった。だから、『【彼女】ではない』という期待が持てた。
『 ご遺体は、顔も分からないほど焼き焦げてしまっています』
【彼女】ではないかもしれない期待が膨らみ、俺は布をめくってもらった。異臭が鼻に届いたのが先か。それとも、どこか作り物めいた焼死体が目に入ったのが先か。
最初に思ったことは『やはり【彼女】ではない』だった。
焼け焦げた遺体に、【彼女】の面影は何もなかった。絹糸のように艶やかだった髪は焼けてなくなり、垂れ目気味で黒目がちだった瞳の場所は空洞。薄紅色に染まる唇も、生気に満ちたバラ色の頬も焦げて黒かった。
【彼女】である証拠を示せと、俺は担当の警察官に詰め寄った。
あるわけがなく、たちの悪い悪戯かと俺は怒るつもりだった。しかし、警察が見せた証拠はDNA鑑定書。遺体と照会した【彼女】の検体を提出したのは。
『産婦人科?』
怪訝な声を出すと、部屋の奥にいた女性警察官が、【彼女】の奥に向かった。そして、俺が気づかなかった、白い布を掛けた小さな包みを持ちあげた。
『妊娠していらっしゃいました』
包みの布を警察官がめくると、柔らかな桜色の台座の上に胎児が置かれていた。
気づけば、俺はその冷たい体に触れていた。
enin pagi datang, dan Alina masih melayang di awang-awang karena cinta. Sisa liburan mereka habis di rumah kota—nonton film bareng, makan enak, dan ya… ngelakuin hal-hal yang cuma bisa mereka lakuin berdua. Ketika Daniel mengabarkan kalau lamaran kuliahnya ke Universitas Nasional udah di-acc, Alina cuma bisa senyum setengah hati. Dia seneng, tapi juga takut. Rasanya dia belum siap ninggalin “dunia kecil” yang dia punya sama Arion sekarang. Tapi ya namanya juga hidup, kenyataan pasti datang dan menghampiri. Untungnya, mereka sekarang udah nggak perlu ngumpet-ngumpet di sekolah. Mereka jalan bareng, gandengan tangan, dan duduk bareng di kelas. Biasanya Arion duduk di belakang, tapi sekarang dia pindah duduk di sebelah Alina. Valerian yang awalnya duduk di situ, akhirnya ngalah juga. Arion narik Alina biar makin deket dan langsung nyium dia di depan murid lain. Bukan ciuman biasa—yang ini dalem banget sampe bikin lutut Alina lemas dan harus pegangan ke Arion biar nggak ambruk. “Eh,
Direktur Eric. Tatapan pria itu melunak saat menatap tangan Arion dan Alina yang saling menggenggam. Alina mendongak ke belakang, tak menyangka reaksi seperti itu dari ayah Clarissa sendiri. Arion menariknya keluar rumah. Saat pintu tertutup, Alina menarik napas dalam-dalam. “Arion, mungkin kita harus kembali masuk...” “Nggak mungkin,” jawab Arion, menarik Alina ke pelukannya. “Gue cuma butuh lo. Bersama lo adalah tempat yang paling pas buat gue. Gue laper. Yuk, kita cari makan malam yang kayak biasa lo dan nyokap lo masak.” Dada Alina terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena emosi yang numpuk. Sejak orang tuanya meninggal, hari-hari libur selalu bikin dia cemas. Dia pengen nginget masa lalu, tapi rasanya nyakitin banget. Tapi bersama Arion, dia ngerasa... bisa. Bisa ngelewatin semuanya. Pikiran buat makan makanan kayak masakan nyokapnya bikin dia ngangguk semangat. “Emangnya ada tempat yang jual makanan gitu di sini?” Arion ketawa. “Ada aja, kok. Cuma bokap-nyokap gue
Alina melangkah mendekat, meletakkan tangannya di dada Arion. "Gue harus pergi.." Arion mendongak, wajahnya penuh keterkejutan. "Tapi kata Kakek, lo harus tetap di sini." "Lo serius sekarang? Lo benar-benar mau gue disini?" Alina menarik napas dalam, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tak terkendali. "Tapi… mereka ayah dan ibu lo Arion. Lo harus nurutin apa kata mereka," ujarnya lirih. "Kalau saja kedua orang tua gue masih hidup… gue akan melakukan apa pun demi bisa menghabiskan satu liburan lagi bersama mereka." Tidakkah Arion menyadari betapa berharganya keberadaan seorang ayah, walau tak sempurna? Arion tersenyum getir. "Dia nggak pernah bertingkah seperti ayah gue. Ibu tiri gue dan saudara perempuan gue juga nggak pernah benar-benar nganggep gue bagian dari keluarga. Semuanya cuma soal kontrol dan citra di depan publik. Gue nggak akan tinggal disini." Ia mengecup puncak kepala Alina dengan lembut. "Tapi makasih ya… karena udah peduli. Ayo, kita
'Suara itu… suara Kakek…' Semua kepala menoleh ke arah pintu aula yang terbuka perlahan. Di sanalah, Kakek Hadi muncul, duduk di kursi roda, didorong oleh Daniel. “Aku yang menikahkan mereka,” kata Kakek Hadi lantang. Suaranya bergetar, tapi tegas. “Arion dan Alina… sudah sah sebagai suami istri di bawah saksi hukum dan agama.” Keheningan memekakkan telinga. Nyonya Mahendra memegang dada dengan mulut terbuka lebar, “Apa… maksud Ayah?” Nyonya Wijaya yang berdiri di samping suaminya, terbatuk kaget, lalu menatap Alina dari atas ke bawah seolah tak percaya. Dia mengerutkan kening dalam-dalam, seakan berita itu menampar harga dirinya. Clarissa melangkah maju, matanya menyipit penuh kebencian, tapi dengan senyum mengejek di sudut bibir. "Masih berani diem, ya?" "Lo tuh cuma istri gelap Arion, Alina. Dan berani-beraninya 'main’ di villa keluarga Arion. Udah status lo nggak jelas, keluarga Arion juga bahkan nggak ada yang nerima lo. Tapi lo santai aja seolah lo itu siapa."
"Terima kasih, Nak. Mata ini sudah tak sejelas dulu... rasanya sulit mengurus semuanya sendirian.” Ia berhenti sejenak, tangannya gemetar saat mencoba menyeimbangkan dokumen di pangkuannya. “Sepertinya tangan tua ini sudah tidak sanggup lagi.” Alina menatapnya dengan lembut. Alina biasa memangg
"Darren itu temen gue," kata Alina pelan. "Kalo bukan dia, gue mungkin aja nelpon lo." Valerian melirik Alina lagi sambil nyalain AC. "Kalaupun lo nelpon gue, dia tetep bakal sakit hati. Mungkin nggak separah itu, karena dia tahu gue nggak bakal jadi ancaman. Tapi lo jangan pura-pura nggak tahu, A
Semua orang di ruangan itu terdiam. Arion terkejut, sementara Alina juga terperangah, nggak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Arion ngotot, "Kakek, aku nggak mau! Kita bisa lawan ini! Jangan pikirin soal nikah, ya. Kita bakal lewatin semua ini bareng-bareng." Pak Hadi langsung ban
"Nama gue Darren. Dan lo... Alina, kan?” Alina mengangguk, merasa sedikit lebih nyaman. “Iya, makasih banget, Darren.” Beberapa saat kemudian, mereka udah keluar dari sana sambil bawa kantung buku. Keduanya nggak ngobrol sambil jalan, tapi Darren sesekali ngecek daftar yang ada di pintu-pintu ke
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan