Share

Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-03 16:36:48

Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan.

Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya.

Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan.

Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa lebih mirip penjara ketimbang institusi pendidikan.

Meskipun demikian, dia tetap mencoba untuk terlihat biasa saja. Menggeret koper hitamnya melewati patung sepasang manusia mengenakan topeng tertawa dan menangis yang bertahta dengan bangga di tengah lapangan kedatangan.

Dari waktu ke waktu, dia melirik sekilas ke arah benang-benang halus yang diikat sedemikian rupa pada jari-jari kedua patung tersebut, lalu pada mahluk-mahluk lebih kecil yang dikendalikan oleh ujung si benang, lantas bergidik.

Untuk sepersekian detik, terlintas di dalam kepalanya, bahwa mungkin beginilah perasaan orang-orang yang biasa menghindar ketika melihatnya. Seluruh tubuh meremang dan telapak tangan entah sejak kapan sudah basah oleh keringat dingin.

Ridhika memutuskan untuk berjalan lebih cepat. Untungnya surat undangan yang diterimanya juga melampirkan denah dan instruksi tentang apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Akademi. Sehingga, dia bisa mencari aula tunggu siswa baru tanpa kesulitan.

Lorong menuju aula yang ditujunya pun bisa dibilang sepi. Barangkali, karena itu adalah jam kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Namun, Ridhika justru senang. Dia menikmati suara hak sepatunya yang bergema sambil sesekali berhenti untuk melihat lukisan-lukisan mewah yang terpajang di sana. Lukisan para alumni siswa dan siswi dengan peran legendaris yang pernah mereka mainkan.

Hal selanjutnya yang berhasil mengembalikan ketidaksukaannya adalah bagaimana semua orang di ruang aula secara serentak menghentikan kegiatan mereka untuk mengamati kedatangannya.

"Aku ingin melaporkan kedatangan," jelasnya singkat, mencoba menutupi rasa canggung dengan kepercayaan diri.

"Silakan ke sini," jelas seorang pria tua berkacamata, mengarahkannya untuk mendekat.

Ridhika mengangguk dan dengan sigap menarik kopernya untuk mendatangi loket tempat si pria tua berada. Dalam gerakan yang hampir terlihat robotik, dia mengeluarkan berkas-berkas kedatangan yang dipersiapkannya dari dalam tas, kemudian menyerahkan semuanya pada pria tua tersebut.

"Ridhika Maya?" Si pria tua bolak-balik mengamati Ridhika dan foto yang ditempelkan di berkas dengan posisi kacamata yang diturunkan sedikit. "Hm, tunggu dulu sebentar. Akan kami proses."

Sekali lagi, Ridhika hanya membalasnya dengan anggukan. Dia berbalik ke arah deretan kursi yang sebagian besar sudah diisi oleh para siswa yang sepertinya juga sedang melaporkan kedatangan, lantas memutuskan untuk duduk di area paling pojok.

"Huh, akhirnya. Bisa duduk juga."

Melemparkan pandangan diam-diam pada siswa-siswa tersebut, Ridhika menyadari bahwa dia satu-satunya yang belum mengenakan seragam. Memang bukan "seragam Akademi" secara harfiah, karena yang satu ini belum dibagikan, namun pakaian dengan color palette sesuai dengan kelas peran masing-masing.

Putih dengan detail emas untuk protagonis, hitam dengan detail merah untuk antagonis, abu-abu dengan detail biru tua untuk pemeran pendukung dan kelabu polos untuk figuran. Begitulah yang tertera pada surat undangan.

Ridhika secara spontan memegang kopernya. Tepat seperti kata Ibu, baju-baju yang dibawanya mungkin tidak akan terpakai. Bahkan, menilik dari reaksi semua orang ketika melihatnya tadi, dia cukup yakin bahwa gaun hitam selutut dan cardigan merahnya telah membuat mereka salah mengira dia sebagai calon siswi kelas antagonis.

Memikirkan kemungkinan ini, mau tidak mau membuatnya tertawa kecil. Siapa sangka bahwa telah datang masanya, dia merasa disalahpahami bukan lagi karena tidak ingin dianggap sebagai penjahat berdasarkan keturunan, melainkan karena kini dia memang tidak diberikan peran demikian.

"Protagonis," bisiknya pada diri sendiri dengan senyum nelangsa. "Benar-benar menggelikan."

Ridhika tidak ingin kembali ke fase mengasihani diri lagi, jadi dia memilih untuk bersandar santai di kursinya. Mengabaikan pandangan orang yang lalu lalang, persis seperti yang biasa dilakukannya.

Ketika sudah bosan hanya melihat sana-sini, dia mengeluarkan seperangkat alat rajut dari dalam tas dan melanjutkan syal-nya yang sudah setengah jadi. Ponsel pribadi tidak diperbolehkan selama masa pendidikan, makanya dia sudah berantisipasi dengan membawa banyak barang yang bisa dijadikan sebagai hiburan.

Hal itu terbukti sebagai pilihan yang tepat, sebab baru selesai merajut sedikit, tahu-tahu siswa di sekitarnya sudah berkurang banyak.

Ridhika menengadah menatap jendela kaca yang terbuka. Di luar, matahari terlihat sangat terik. Sepertinya sudah menjelang tengah hari. Berarti sudah hampir 2 jam dia menunggu berkasnya selesai diproses. Dia mulai penasaran akan makan waktu berapa lama lagi.

"Bagastya Dewa!"

"Ridhika Maya!"

Ridhika terperanjat kaget, spontan melepaskan alat rajutnya dan berdiri begitu namanya dipanggil. Dia sempat celingak-celinguk mencari asal suara, hingga tubuhnya limbung, lalu tanpa sengaja menabrak seorang pria.

"Eh! Maaf!"

Merasakan pria di belakangnya dengan sigap menahan tubuhnya agar mereka tidak benar-benar terjatuh, Ridhika juga dengan cekatan memegang kedua tangan si pria yang memegang pundaknya, lantas segera menstabilkan posisi berdirinya.

"Maaf, aku tidak sengaja," ujarnya tidak enak.

Ridhika berbalik, berpikir akan menemukan seorang siswa berpakaian rapi dengan senyum lebar, karena pria-pria yang tadi dilihatnya sedang menunggu di ruangan tersebut tampak berasal dari kelas protagonis.

Namun, alih-alih demikian, yang kini tengah bertatap muka dengannya justru adalah seorang pria dengan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena setengah tertutup oleh tudung jaket dan rambutnya, tetapi Ridhika masih bisa melihat bibirnya yang terkatup rapat dan bekas luka melintang di pipi kanannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 23 =Selangkah Lebih Dekat=

    "Baiklah! Ayo kita minta salepnya sekarang!" Ajak Ridhika sambil beranjak dari atas tempat tidur.Melihat Ridhika yang tiba-tiba bersikap antusias, Widuri tidak bisa menahan diri dari menatap gadis itu turun naik, menyelidik, "Bukannya tadi kamu terlihat terpaksa sekali, ya?""Lalu?" Ridhika balas menatap. Dia mengedikkan bahunya dengan santai, seolah perubahan reaksi yang ditunjukkannya itu adalah hal yang biasa. "Kamu sendiri yang bilang, kalau tidak segera ditangani, maka lukanya akan membekas. Walau bagaimana pun juga, aku tidak ingin itu terjadi."Ridhika tertawa kecil ketika menyaksikan bagaimana kini Widuri sedang menyipitkan mata ke arahnya, masih curiga. Sedang di sisi lain, Amayra hanya memandangi mereka dengan raut polos. "Ayo! Kalau tidak cepat, Adishra mungkin keburu tidur," ujarnya sambil menarik tangan Widuri agar ikut beranjak. "Amayra tunggu di sini saja, ya."Setelah melihat Amayra mengangguk patuh, Ridhika langsung menggandeng lengan Widuri untuk pergi ke kamar Adi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 22 =Petunjuk Demi Petunjuk=

    Ridhika menyentuh bagian keningnya yang terasa nyeri. Mendapati ada darah yang menempel di ujung jarinya, seketika membuatnya teringat pada peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika dia dipukul bata oleh para anak nakal.Dadanya terasa terbakar. Marah bercampur sakit hati. Sebagian besar mungkin dipicu oleh kenangan tersebut. Yang jelas, dia bangkit dari posisi jatuhnya dengan ekspresi datar, lalu menatap si pria sengit. Dia mungkin tidak punya kekuatan fisik yang setara untuk melawan langsung. Namun, dia lebih dari mampu untuk membuat ancaman."Ridhika! Keningmu terluka." Amayra yang sempat membeku kini bergegas datang ke sisi Ridhika. "Astaga, bagaimana ini? Kamu cepat pulang saja! Aku juga akan pulang."Ridhika menoleh ke arah Amayra yang kini wajahnya basah oleh air mata. Dia menyadari tangan gadis itu yang gemetaran, barangkali tidak menyangka bahwa pengawalnya nekad berbuat kasar. Namun, Ridhika hanya menggeleng singkat, menolak untuk pergi.Sebaliknya, dia justru menarik Amayra me

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 21 =Pertemuan Tidak Terduga=

    "Jadi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Ridhika sekali lagi.Dia duduk di atas kursi yang diambilkan Bagastya dari kafetaria, mengamati bagaimana pria itu memotong-motong sayuran dengan cekatan. Nah, sebenarnya dia mau saja membantu. Namun, masalahnya dia tidak pandai menggunakan pisau. Di rumah, Ibu biasa menjauhkan semua benda tajam dari jangkauannya."Karena tidak ada kegiatan," jawab Bagastya santai.Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Kau tidak ada kelas?""Ada. Tapi, aku tidak harus ikut semua. Itulah esensi antagonis, untuk melanggar aturan."Jawaban Bagastya yang diucapkannya dengan penuh percaya diri tersebut membuat Ridhika gagal menahan senyum. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Sesuatu yang cukup menarik untuk ditanyakan, mumpung mereka berdua sedang akur."Aku lihat ada kembang api dinyalakan dari sini beberapa malam yang lalu. Kau salah satu yang terlibat, ya?""Bukan cuma terlibat." Bagastya menoleh kr arah Ridhika dengan ekspresi bangga. "Aku Ketuanya."Ridhi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 20 =Kafetaria Umum=

    "Hai, Nona Protagonis," sapa Bagastya sambil berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang ternoda debu setelah jatuh. "Bisa berdiri sendiri, kan?"Ridhika memutar bola matanya, jengah dengan lagak Bagastya yang tengil itu. Dia ikut berdiri, lalu seperti halnya apa yang pria itu lakukan, menepuk pakaiannya dari debu. "Jadi, benar ya kalau kau alergi?"Sontak Ridhika memegang wajahnya begitu mendengar kalimat Bagastya tersebut. Ketika menyadari bahwa syalnya sudah tidak berada di tempat yang benar, dia buru-buru merapikan kain tebal itu agar kembali menutupi setengah wajahnya."Kau menutupi wajah karena takut menakuti orang atau takut dianggap jelek?" Lanjut Bagastya dengan sebelah alis terangkat.Kini, Ridhika mendelik menatap pria itu. Apa-apaan sih pertanyaannya?! "Apa? Itu dua hal yang berbeda, kau tahu?" Bagastya membalas delikan yang diterimanya dengan polos.Ridhika menghela napas kasar, "Sedang apa kau di sini?" Tanyanya balik, sepenuhnya tidak mengindahkan semua perkataan Bagastya

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 19 =Kecurigaan=

    Ridhika membiarkan Widuri mengoleskan salep yang dikirimkan oleh Nenek Dokter kepada mereka segera setelah sisa bubur yang diperiksa positif mengandung Tvakvisa.Kini, seluruh tubuhnya terasa lengket karena bahan salep tersebut. Namun, setidaknya sensasi panasnya sudah berkurang banyak.Si Nenek juga mengirimkan ramuan untuk meringankan perih di tenggorokannya. Jadi, sekarang dia sudah bisa bicara, meski dengan suara pelan."Ini adalah alasan mengapa kita harus sukses di dunia cerita nanti, Ridhi," ujar Widuri. "Supaya mampu membayar pelayanan kesehatan eksklusif seperti ini."Ridhika mengangguk setuju. Dia juga kagum dengan seberapa cepat Nenek Dokter melaksanakan pemeriksaan dan menyiapkan obat untuknya. Semua sudah siap digunakan di malam hari.Sementara itu, di desa dulu, dia dan Ibunya harus menunggu seminggu hanya untuk mendapatkan obat demam. Sungguh, perbedaan yang besar sekali."Kamu tahu? Aku kaget keluargamu tidak kaya raya. Nenek buyutmu kan padahal salah satu antagonis pa

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 18 =Tvakvisa=

    Buram. Itulah yang dilihat oleh Ridhika selama beberapa menit setelah dia sadarkan diri. Tenggorokannya pun terasa perih, jadi alih-alih memberitahukan bahwa dia sudah bangun pada Widuri yang sedang bicara dengan seseorang, satu-satunya hal yang sanggup dilakukannya hanya memandang kosong ke arah dinding.Lalu, sedikit demi sedikit matanya sudah bisa menangkap silau dari jendela yang terbuka, diikuti oleh siluet benda-benda di sekitar kamar, serta sosok beberapa orang tidak dikenal yang mengelilinginya. Mereka semua tampak cemas dan dia tentu tahu alasannya. "Keadaanku pasti sangat buruk." Dalam hati, Ridhika mengakui.Dia tidak mati rasa. Sehingga, bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah di tubuhnya. Kalau tidak, menilik matahari yang sudah setinggi itu, dia pasti sudah akan dipaksa masuk kelas bagaimana pun caranya sekarang."Ridhika yang malang," sesal Widuri, mendudukkan diri di tepi tempat tidur sambil mengusap rambutnya lembut. "Aku akan absen untuk menjaga dia hari

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status