LOGINAku melihat ibuku disiksa, diperkosa, dan dibakar hidup-hidup. Coba tebak, siapa dalang di balik itu semua? Benar, ayah kandungku sendiri. Demi gundik dan anak haramnya, ayahku membunuh ibuku, dan kedua anak sahnya. Aku dan kakakku berhasil selamat. Namun... Sejak saat itu, hatiku sepenuhnya mati. Yang tersisa hanya kebencian dan dendam untuk ayahku. Dengan identitas palsu, ah... Maksudku, dengan identitas baru sebagai laki-laki, aku kembali. Masuk ke universitas elit. Mendekati musuhku. Dan... Menghancurkan mereka... Satu per satu. Mampukah aku membalas kematian ibuku, dan kembali memulihkan identitasku sebagai putri konglomerat? Atau... Aku akan berakhir sama seperti ibuku? "Ayah... Tidur nyenyakmu sudah saatnya berakhir."
View MoreDada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.
Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tunggal konglomerat yang hidup bahagia. Aku meremas ujung bolpoinku, menahan amarah. Tujuh tahun lalu, senyum pongah ayahnya, yang sayangnya juga ayahku, menghancurkan hidupku. Pria brengsek itu... Tak hanya membiarkan ibuku digilir para bajingan tapi juga, membiarkanku menjadi saksi atas kemalangan yang menimpa ibuku, sebelum beliau meninggal akibat dibakar hidup-hidup. Tentu saja, semua tindakan sadis pria itu, ia lakukan demi menyenangkan ibu Sarah, si wanita simpanan, gundik rendahan yang menjadi duri dalam daging. Aku yang saat itu masih berusia dua belas tahun hanya bisa membeku dan menangis tanpa suara dari balik persembunyian. Tapi, aku tidak perlu khawatir. Kini, aku telah kembali. Aku meninggalkan desa terpencil, membuang identitas Qiqiela, nama asliku, memangkas rambutku, dan menyusup ke Universitas Bimsa sebagai Kean Arsenio. Semuanya... Demi mengobrak-abrik keluarga baru ayahku dan menagih cidera yang aku alami selama tujuh tahun terakhir. Lamunanku pecah saat sebuah tangan mencubit lenganku bermanja-manja. "Kean, dari tadi lihatin siapa sih?" Bella mengerucutkan bibir berpoles lip gloss merah mudanya. "Fokus amat. Kamu naksir Sarah?" Aku menggeleng pelan, menormalkan detak jantungku. "Nggak. Dia terlalu sempurna buat lumpur sepertiku." "Halah, nggak usah bohong," goda Bella menyenggol pundakku. "Lagipula wajar kalau kamu naksir dia." Aku hanya tersenyum tipis. "Aku ke sini cuma mau lulus dan kerja di perusahaan besar. Mana ada waktu buat kisah cinta." Bella mengibaskan tangan, tak acuh dengan jawabanku. Dia merogoh tas tangannya, mengeluarkan kotak berukuran kecil dengan pita cantik. "Tolong kasih ini buat Kak Arlo, ya. Kalian 'kan sekamar." Aku mengernyit. "Kenapa nggak kamu kasih sendiri?" "Aku... Malu," kilahnya. Rona merah menjalar di pipinya. "Kak Arlo dingin banget. Aku takut ditolak. Tolong ya, Kean? Kue ini aku buat sendiri." Mendengar rengekannya yang persis seperti bayi, aku mendesah pelan dan terpaksa menerima kotak itu. *** Sore harinya, kamar asrama laki-laki terasa sejuk. Arlocean Herlan tengah duduk bersandar di ranjangnya seberang kasurku, tenggelam dalam buku tebal. Garis rahangnya tegas, rambutnya tertata rapi. Pemuda dua puluh dua tahun itu bukan sekadar senior rupawan yang bersikap dingin. Dia adalah ahli waris dan kepala keluarga Herlan. Kekuasaannya mutlak. Mendapatkan kepercayaannya adalah jalan pintas untuk memuluskan rencanaku. Tanpa menunggu, aku meletakkan kotak pemberian Bella di atas nakasnya. "Hadiah dari Bella, Kak. Kayaknya dia naksir berat sama Kakak," pungkasku berterus terang. Arlo menghela napas panjang, menutup bukunya. Tatapannya yang tajam beralih padaku, menguarkan aura intimidasi yang membuat bulu kudukku meremang. "Hadiah itu buat kamu saja. Bilang padanya kalau aku sudah menerimanya." Dengan senang hati aku membawa kotak kue itu ke mejaku sendiri. Arlo bangkit, menarik kursi tak jauh dariku, lalu meletakkan sebuah buku catatan. Tatapannya mengunciku lekat. "Kamu mahasiswa beasiswa yang masuk dengan peringkat pertama," suaranya mengalun rendah dan berat. "Kalau kamu berhasil mempertahankan peringkatmu, bekerjalah untukku." Aku tersenyum lebar. "Kak Arlo beneran baik, nggak kayak gosip yang aku dengar!" Tangan besar Arlo mendadak terulur, mengelus puncak kepalaku pelan. Aku terpaku. Senyum tipis untuk pertama kalinya terbit di bibirnya. Arogansinya lenyap, menampakkan pesona maskulin yang luar biasa. Belum sempat aku membalas, pintu kamar menjeblak terbuka. Reno melangkah masuk, melemparkan kunci motor ke ranjang sambil mengeluhkan cuaca luar yang panas seperti simulasi neraka. Tubuh gagahnya basah oleh keringat. Tanpa permisi, pemuda berambut pirang kecokelatan itu duduk di sebelahku dan merangkul pundakku erat. "Hei, cowok jadi-jadian, aku sudah daftarin kamu ke klub tinju," kekeh Reno, menepuk lenganku. Aku membelalak kaget, berusaha meronta dari jepitan ototnya. "Kak! Fisikku dari kecil emang lemah, tapi aku normal seratus persen!" Reno mendengus lelah, melepaskan rangkulannya. "Aku nggak peduli orientasi seksualmu. Aku cuma nggak tahan lihat badan mungilmu ini. Minimal kamu punya otot lengan!" "Suruh dia pergi ke gym saja. Tidak semua orang maniak tinju sepertimu," potong Arlo datar, dia menyelamatkanku. Reno mengangguk setuju tanpa berdebat. Pertemanan mereka memang sehat dan saling menghargai. Sadar perutku sedikit keroncongan, aku membuka kotak dari Bella. Sebuah kue fondant merah muda yang terlihat sangat manis. "Apa itu? Kelihatan seperti penyebab penyakit diabetes," cibir Reno pedas saat aku menawarkan potongan kue padanya. Lantaran Reno dan Arlo tidak suka manis, aku menyuapkan potongan besar itu ke mulutku sendiri. Namun, sedetik setelah gigiku mengatup, rasa sakit yang luar biasa menusuk gusi dan lidahku. Aku refleks memuntahkan seluruh isi mulutku ke lantai. Rasa anyir darah menyengat indra penciumanku. "Kean! Mulutmu berdarah!" Bersambung...Satu hari setelah pameran lukisan, Nyonya Nikola sengaja pulang ke kediaman keluarga Lozi. Ia menghabiskan waktu di dapur untuk memasak berbagai hidangan yang diklaim sebagai makanan favorit suaminya dan putri tirinya.Namun, saat mengajak Lidia makan malam bersama, gadis itu menolaknya dengan dingin. Bahkan, Lidia menyarankan agar Nyonya Nikola berhenti melakukan hal-hal yang dianggapnya sia-sia, seperti memasak atau bertingkah seperti seorang ibu, karena Lidia sudah muak.Selalu menerima penolakan, Nyonya Nikola hanya bisa menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia telah menyandang status sebagai Nyonya Lozi selama sepuluh tahun, tetapi hingga detik ini, tidak ada satu pun penghuni rumah yang benar-benar menghormatinya.Bahkan suaminya sendiri tidak pernah menyentuhnya. Pria itu begitu dingin dan masih mencintai mantan istrinya yang telah meninggal akibat kecelakaan mobil.Nyonya Nikola memang berhasil menjadi Nyonya Lozi setelah menjebak kepala keluarga tersebut.
Qiqi yang berpenampilan seperti laki-laki, keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tamu. Sembari menunggu Arlo, ia asyik membalas pesan dari Sarah menggunakan ponsel Arlo, berpura-pura menjadi lelaki itu.Tak lama kemudian, Arlo muncul dengan pakaian santai. Ia mengenakan kaos oblong hitam, celana jeans longgar, serta sepasang sneakers yang membuat penampilannya terlihat sederhana namun tetap menarik. Arlo benar-benar tampak menawan. Tak heran jika ia menjadi idola kampus."Ayo kita berangkat, Sayang," ajak Arlo."Kak Arlo, nanti di pameran lukisan jangan panggil aku begitu. Aku Kean." Qiqi memperingati Arlo agar tidak keceplosan."Tenang saja, Sayang. Aku profesional," balas Arlo.Tanpa peringatan, Arlo menarik tangan Qiqi hingga tubuh kekasihnya itu jatuh ke dalam pelukannya.Qiqi dapat mencium aroma parfum Arlo yang khas saat hidungnya menempel pada dada bidang lelaki tersebut. Ia lalu mendongak dan menatap wajah tampan Arlo. Senyum lebar yang terukir di bibirnya tampak cukup m
Beruntung, Qiqi berhasil melepaskan diri sebelum cengkeraman di lehernya semakin kuat.“Bukan aku!” sanggah Qiqi cepat. “Justru aku yang menolong Ella!”Nyonya Gea menggeleng keras. Ia tidak mempercayai ucapan Qiqi yang menurutnya hanya dipenuhi kebohongan.“Apa yang terjadi pada anakku?! Katakan yang sebenarnya!” pekik Nyonya Gea sambil berusaha menyerang kembali.Kali ini, Meli yang mengenakan seragam pelayan segera menahan tubuh Nyonya Gea agar tak melukai Qiqi.“Semua salah suamimu! Jefery Sensio! Dia... Dia yang membunuh anakmu demi kebebasannya!” Suara Qiqi meninggi. Matanya berkaca-kaca saat menatap tajam Nyonya Gea.“Apa... maksudmu?”Qiqi menarik napas panjang sebelum mengembuskannya kasar. “Di hadapan Arlo, suamimu mengaku telah membunuh Liana Varelian. Tentu saja Tuan Arlo langsung menjebloskannya ke penjara,” beber Qiqi, mulai menenun kebohongan demi memanipulasi pikiran Nyonya Gea yang memang sudah rapuh sejak lama.“Tapi Jefery malah dibebaskan oleh adik iparnya. Sebaga
Sepulang dari rumah sakit, Qiqi yang kelelahan disambut hangat oleh Arlo yang telah menunggunya di ruang tamu."Kak Arlo? Aku pikir kamu sudah tidur." Tanpa meminta izin, Qiqi langsung menghampiri Arlo dan duduk di pangkuannya."Aku menunggumu, Sayang," balas Arlo sembari mencium pipi Qiqi dengan gemas."Sekarang aku sudah ada di sini, ayo kita tidur," ajak Qiqi, iseng mengelus jakun Arlo yang naik turun."Tunggu sebentar, aku punya hadiah untukmu."Dahi Qiqi berkerut tipis. Hadiah?Belum sempat Qiqi menebak-nebak, seorang wanita melangkah masuk dan berdiri menghadap mereka dengan sikap hormat.Mata Qiqi membulat.Wanita itu adalah Meli."Kak Meli kok ada di sini? Bukannya kakak perawat di rumah sakit?" tanya Qiqi, heran sekaligus terkejut.Meli tersenyum tipis sebelum duduk di sofa yang berada tepat di seberang mereka."Sebenarnya Meli algojo handal ciptaan kartel. Dia bertugas untuk menjagaku. Aku memberikannya padamu," jelas Arlo, tersenyum lembut.Qiqi tercengang. Kata 'kartel' ya
Dokter Tina sempat kembali dilanda kegugupan. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Hari ini, apa pun yang terjadi, ia harus mengungkapkan kegelisahan yang selama ini dipendamnya."Tuan... Rumah sakit telah menipu anda," ujar Dokter Tina dengan suara mantap.Mata Arlo langsung
Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi Ella berhasil membujuk Nyonya Gea untuk melepaskan Aldo. Berkat itu, aku kini bisa menyembunyikannya sementara di sebuah ruko di tengah kota."Ella... Terima kasih," ucapku.Ella langsung mengangguk senang.Ia meraih lenganku, lalu berg
Langit sore tampak cerah, berpadu dengan suara deburan ombak yang menghantam sisi pelabuhan. Beberapa kapal besar berjejer rapi di sekitar dermaga.Dua hari berlalu, setelah aku mengurus surat cuti kuliah, aku dijemput oleh Ella di dermaga.Aku tidak datang sendirian. Di samping
Beberapa hari berlalu.Setelah sibuk membantu mempersiapkan panggung untuk acara penyambutan murid study tour, akhirnya aku bisa bernapas lega.Tubuhku terasa pegal. Sejak pagi aku terus mondar-mandir mengurus banyak hal.Saat sedang duduk beristirahat, tiba-tiba seseor
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore