Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus

Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus

last updateLast Updated : 2026-07-18
By:  KurniaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
8 ratings. 8 reviews
90Chapters
1.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku melihat ibuku disiksa, diperkosa, dan dibakar hidup-hidup. Coba tebak, siapa dalang di balik itu semua? Benar, ayah kandungku sendiri. Demi gundik dan anak haramnya, ayahku membunuh ibuku, dan kedua anak sahnya. Aku dan kakakku berhasil selamat. Namun... Sejak saat itu, hatiku sepenuhnya mati. Yang tersisa hanya kebencian dan dendam untuk ayahku. Dengan identitas palsu, ah... Maksudku, dengan identitas baru sebagai laki-laki, aku kembali. Masuk ke universitas elit. Mendekati musuhku. Dan... Menghancurkan mereka... Satu per satu. Mampukah aku membalas kematian ibuku, dan kembali memulihkan identitasku sebagai putri konglomerat? Atau... Aku akan berakhir sama seperti ibuku? "Ayah... Tidur nyenyakmu sudah saatnya berakhir."​

View More

Chapter 1

Bab. 01. Hallo, Aku Kembali!

Dada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.

Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tunggal konglomerat yang hidup bahagia.

Aku meremas ujung bolpoinku, menahan amarah. Tujuh tahun lalu, senyum pongah ayahnya, yang sayangnya juga ayahku, menghancurkan hidupku.

Pria brengsek itu... Tak hanya membiarkan ibuku digilir para bajingan tapi juga, membiarkanku menjadi saksi atas kemalangan yang menimpa ibuku, sebelum beliau meninggal akibat dibakar hidup-hidup.

Tentu saja, semua tindakan sadis pria itu, ia lakukan demi menyenangkan ibu Sarah, si wanita simpanan, gundik rendahan yang menjadi duri dalam daging.

Aku yang saat itu masih berusia dua belas tahun hanya bisa membeku dan menangis tanpa suara dari balik persembunyian.

Tapi, aku tidak perlu khawatir. Kini, aku telah kembali. Aku meninggalkan desa terpencil, membuang identitas Qiqiela, nama asliku, memangkas rambutku, dan menyusup ke Universitas Bimsa sebagai Kean Arsenio.

Semuanya... Demi mengobrak-abrik keluarga baru ayahku dan menagih cidera yang aku alami selama tujuh tahun terakhir.

Lamunanku pecah saat sebuah tangan mencubit lenganku bermanja-manja.

"Kean, dari tadi lihatin siapa sih?" Bella mengerucutkan bibir berpoles lip gloss merah mudanya. "Fokus amat. Kamu naksir Sarah?"

Aku menggeleng pelan, menormalkan detak jantungku. "Nggak. Dia terlalu sempurna buat lumpur sepertiku."

"Halah, nggak usah bohong," goda Bella menyenggol pundakku. "Lagipula wajar kalau kamu naksir dia."

Aku hanya tersenyum tipis.

"Aku ke sini cuma mau lulus dan kerja di perusahaan besar. Mana ada waktu buat kisah cinta."

Bella mengibaskan tangan, tak acuh dengan jawabanku. Dia merogoh tas tangannya, mengeluarkan kotak berukuran kecil dengan pita cantik. "Tolong kasih ini buat Kak Arlo, ya. Kalian 'kan sekamar."

Aku mengernyit. "Kenapa nggak kamu kasih sendiri?"

"Aku... Malu," kilahnya. Rona merah menjalar di pipinya. "Kak Arlo dingin banget. Aku takut ditolak. Tolong ya, Kean? Kue ini aku buat sendiri."

Mendengar rengekannya yang persis seperti bayi, aku mendesah pelan dan terpaksa menerima kotak itu.

***

Sore harinya, kamar asrama laki-laki terasa sejuk. Arlocean Herlan tengah duduk bersandar di ranjangnya seberang kasurku, tenggelam dalam buku tebal.

Garis rahangnya tegas, rambutnya tertata rapi. Pemuda dua puluh dua tahun itu bukan sekadar senior rupawan yang bersikap dingin. Dia adalah ahli waris dan kepala keluarga Herlan. Kekuasaannya mutlak.

Mendapatkan kepercayaannya adalah jalan pintas untuk memuluskan rencanaku.

Tanpa menunggu, aku meletakkan kotak pemberian Bella di atas nakasnya.

"Hadiah dari Bella, Kak. Kayaknya dia naksir berat sama Kakak," pungkasku berterus terang.

Arlo menghela napas panjang, menutup bukunya. Tatapannya yang tajam beralih padaku, menguarkan aura intimidasi yang membuat bulu kudukku meremang.

"Hadiah itu buat kamu saja. Bilang padanya kalau aku sudah menerimanya."

Dengan senang hati aku membawa kotak kue itu ke mejaku sendiri.

Arlo bangkit, menarik kursi tak jauh dariku, lalu meletakkan sebuah buku catatan. Tatapannya mengunciku lekat.

"Kamu mahasiswa beasiswa yang masuk dengan peringkat pertama," suaranya mengalun rendah dan berat. "Kalau kamu berhasil mempertahankan peringkatmu, bekerjalah untukku."

Aku tersenyum lebar. "Kak Arlo beneran baik, nggak kayak gosip yang aku dengar!"

Tangan besar Arlo mendadak terulur, mengelus puncak kepalaku pelan. Aku terpaku. Senyum tipis untuk pertama kalinya terbit di bibirnya. Arogansinya lenyap, menampakkan pesona maskulin yang luar biasa.

Belum sempat aku membalas, pintu kamar menjeblak terbuka. Reno melangkah masuk, melemparkan kunci motor ke ranjang sambil mengeluhkan cuaca luar yang panas seperti simulasi neraka. Tubuh gagahnya basah oleh keringat.

Tanpa permisi, pemuda berambut pirang kecokelatan itu duduk di sebelahku dan merangkul pundakku erat.

"Hei, cowok jadi-jadian, aku sudah daftarin kamu ke klub tinju," kekeh Reno, menepuk lenganku.

Aku membelalak kaget, berusaha meronta dari jepitan ototnya.

"Kak! Fisikku dari kecil emang lemah, tapi aku normal seratus persen!"

Reno mendengus lelah, melepaskan rangkulannya.

"Aku nggak peduli orientasi seksualmu. Aku cuma nggak tahan lihat badan mungilmu ini. Minimal kamu punya otot lengan!"

"Suruh dia pergi ke gym saja. Tidak semua orang maniak tinju sepertimu," potong Arlo datar, dia menyelamatkanku.

Reno mengangguk setuju tanpa berdebat. Pertemanan mereka memang sehat dan saling menghargai.

Sadar perutku sedikit keroncongan, aku membuka kotak dari Bella. Sebuah kue fondant merah muda yang terlihat sangat manis.

"Apa itu? Kelihatan seperti penyebab penyakit diabetes," cibir Reno pedas saat aku menawarkan potongan kue padanya.

Lantaran Reno dan Arlo tidak suka manis, aku menyuapkan potongan besar itu ke mulutku sendiri. Namun, sedetik setelah gigiku mengatup, rasa sakit yang luar biasa menusuk gusi dan lidahku. Aku refleks memuntahkan seluruh isi mulutku ke lantai.

Rasa anyir darah menyengat indra penciumanku.

"Kean! Mulutmu berdarah!"

Bersambung...​

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Rendra Fery
Rendra Fery
aku suka menarik pelan" bacaku
2026-06-27 00:08:46
1
0
Kurnia
Kurnia
Menyamar menjadi laki-laki, menyusup ke asrama laki-laki. dan mempermainkan semua penguasa kampus! Memanfaatkan kekuasaan mereka! Itulah yang dilakukan Qiqi demi memuluskan aksi balas dendamnya.
2026-06-27 00:04:56
1
0
Kurnia
Kurnia
jika Qiqi tidak diburu ayah kandungnya, dia akan balas dengan menjadi pelakor, dan menghancurkan rumah tangga orang-orang yang membunuh ibunya.
2026-06-27 00:01:53
1
0
Kurnia
Kurnia
semangat nulisnya! ayo bisa!
2026-06-27 00:00:01
0
0
Kurnia
Kurnia
kalau novel ini gak lanjut, berarti aku sudah mati bunuh diri. hidup depresi... sendirian... aku nggak kuat ...
2026-06-25 22:03:46
0
2
90 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status