LOGINNamaku Key, aku sangat terobsesi ingin menjadi artis ibu kota. Sedari dulu. Aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang artis terkenal. Namun, aku di jebak oleh sahabatku sendiri. Ia menjualku ke mucikari dan menjadikan aku sebagai bintang film dewasa. Dan bukan itu saja, aku juga di jual ke para pria hidung belang. Di jadikan simpanan oleh pejabat. Aku ingin kabur dan memulai hidup baru, tapi itu tidak bisa. Sebab ibuku butuh biaya untuk berobat. Alhasil aku memilih bertahan pada pekerjaan ku sebagai wanita malam. Tapi rasanya begitu hampa, terlebih saat aku ternyata ditipu oleh Revan sahabat ku sendiri. Ibuku ternyata tidak sakit dan itu hanya akal-akalannya saja untuk mendapatkan uang dari ku. Baca terus kisahku agar tau berapa beratnya ujian hidup yang aku jalani kini.
View MoreDear Sahabat, sebelum lanjut baca, simpan cerita ini di rak bacaanmu, jangan lupa vote dan komen ya usai baca tiap partnya. Share juga ke teman-temanmu biar makin banyak lagi yang baca. Makasih banyak
***
Malam itu Safira tiba di sebuah vila di kawasan Puncak Bogor. Sesuai dengan petunjuk dari teman-temannya, dia tiba di vila itu. Namun anehnya vila itu kosong.
"Jangan-jangan mereka mengerjaiku lagi," gerutu Safira di depan vila. "Duuh, gimana nih. Kalau balik lagi udah malam begini lagi."
Safira mengedarkan pandangannya ke sekeliling vila. Lebih banyak gelap daripada terangnya.
Dia mulai was-was. Batinnya berkecamuk, antara memilih diam di situ atau pulang. Hati kecilnya ingin sekali dia pulang, namun sudah malam seperti ini, dia pikir jalanan jauh lebih berbahaya.
Gadis berambut Panjang itu mondar-mandir di depan vila. Setelah merasa pegal, akhirnya dia memilih duduk dan berusaha tenang.
Dia mengetik pesan, ke W* grup teman-temannya.
Hei, aku sudah di depan villa nih, kalian ada di dalem nggak? Kalian pada ke mana?
Nihil. Lama menunggu tak ada seorang pun yang meresponnya.
Dia pun mengetik pesan untuk menjapri satu per satu temannya yang ia kenal.
Rana, kamu di mana? Aku sudah tiba nih. Dia mengirim pesan itu kepada salah satu panitia acara Raker BEM Fakultas Psikologi di kampusnya.
Hasil tetap sama. Tak ada respon juga.
Safira makin gusar. Kalau tahu bakal kayak gini, mendingan aku nggak usah datang.
Dia sangat menyesal kenapa tidak mengikuti kata hatinya, sejak berangkat tadi hatinya memang menolak. Namun demi kepentingan belajar dan dunia akademik, dia bela-belain datang.
Lagian kenapa sih acara mesti ke Puncak segala?
Sialnya, dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dia lakukan. Kalau saja tadi di bawa mobil pribadi, mungkin tidak akan bernasib seperti ini.
Entah mengapa, hari ini dia merasa menjadi seperti orang yang paling malang di dunia. Sudah datang di titik kumpul mengikuti arahan, ditinggalkan rombongan. Terpaksa naik Go-Car dari Tangerang.
Tak mungkin dia bawa mobil sendiri. Dia termasuk kudet, tak terlalu paham jalanan untuk menempuh rute yang cukup jauh.
Sekalipun dia menggunakan Waze atau G****e Maps, tetap saja dia tak bisa. Dulu pernah dia melakukannya, dan terbukti gagal. Tersesat.
Merasa terlalu lama berpikir, Safira harus segera memutuskan.
Aku tak bisa terus-terusan di sini. Aku harus pulang. Tekad gadis itu sudah bulat. Daripada tidak jelas begini, lebih baik aku mengerjakan tugas-tugas kuliahku di rumah, pikirnya.
Safira membuka aplikasi ojol untuk order kendaraan. Sayangnya, dia tak kunjung mendapatkan driver. Apa jangan-jangan karena faktor sinyal, memesan di aplikasi Grab pun sama.
Dia tak patah arang. Dia terus mencoba di sisa-sisa baterai hapenya yang sudah darurat angka merah.
Begitu baterai sudah habis dan hapenya tak menyala sama sekali, dia sudah pasrah, tak lagi yang bisa dia lakukan.
Safira berdiri dan menyeret tas covernya yang berukuran mini. Sampai di gerbang vila, dia berharap ada angkot atau kendaraan lewat sekalipun kemungkinannya kecil karena sudah terlalu larut malam.
Ada satu kendaraan yang parkir dekat vila itu. Safira berpikir, apa mungkin minta bantuan ke si pemilik mobil itu?
Safira galau, tapi gimana kalau dia orang jahat. Tiba-tiba dia merinding membayangkan hal yang tidak dia inginkan. Takut berbagai berita kriminal yang menodai harkat perempuan menimpa dirinya.
Safira urung. Kakinya lebih memilih mundur. Mungkin lebih baik bertahan di beranda vila saja.
Mobil itu menghampiri Safira. Safira mulai cemas.
Si pemilik mobil itu, membuka kaca ... Begitu dibuka, Safira tidak terlalu gusar. Rasanya di kampus dia pernah melihat wajah itu. Dia sering kali berpapasan, namun tak mengenal namanya.
"Safira, kamu mau ke mana?"
Gadis itu kaget, kok dia bisa tahu namaku?
"Sepertinya kamu butuh bantuan, ayo naik?"
Safira masih diam dan enggan memberikan jawaban.
"Kamu siapa, kok bisa tahu namaku?"
Lelaki itu keluar. Lalu mendekat ke arah Safira.
"Oh iya, kenalin, aku Sagara," lelaki itu mengulurkan tangannya.
Safira tak membalas uluran tangannya. Dia malah cuek. Sagara makin gemas. Karena sebenarnya sejak dari kampus dia selalu menguntit Safira dan mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengannya.
Beberapa saat Safira berpikir, dari wajahnya lelaki ini tidak ada tanda-tanda membahayakan. Mungkin dia bisa meminta bantuan.
"Aku sebenarnya ini mau ikut acara teman-teman mahasiswa sejurusan, sayangnya aku ketinggalan rombongan. Menyusul ke sini eh tetep nggak ketemu."
Sagara menyimak penuturan Safira sambil tak berhenti memandangi kecantikan yang terpancar dari gadis itu. Cintanya yang terpendam selama ini, meluap. Hasratnya tak terbendung. Inilah kesempatan untuk mendapatkannya.
"Feeling aku, sepertinya aku salah vila, acara mereka tetap di sini, cuma aku nggak tahu vilanya yang mana?"
"Kalau gitu, ayo naik, aja, kayaknya lebih enak ngobrol di dalam," rayu Sagara.
Safira menurut. Dia tak bisa menepis, wajah Sagara memang ganteng, badannya atletis. Mungkin kalau dia bertelanjang dada, perutnya akan berbentuk roti sobek.
Ah, Safira buang jauh-jauh pikiran yang seharusnya tak perlu. Dia tak mudah menjatuhkan hatinya sekadar menyaksikan lelaki berparas tampan dan bertubuh gagah.
Masalahnya saat ini dia sudah bertunangan dengan Benua. Benua tak kalah tampannya dari Sagara. Calon suaminya itu kini tengah menempuh S2 di Prancis. Beberapa bulan lagi, selesai menuntaskan studi, keduanya akan segera melangsungkan pernikahan.
Di dalam mobil, Safira dan Sagara duduk berdampingan. Awalnya Safira memilih untuk duduk di belakang saja. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan Sagara. Namun melihat kelembutan dan kebaikan Sagara, Safira tak kuasa menolak.
"Alamat vila atau gedungnya apa?" tanya Sagara.
"Nah itu, dia aku lupa. Hapeku dari tadi mati."
"Coba di-charge dulu," pinta Sagara.
Safira menurut. Sambil menunggu hapenya bisa menyala, Sagara melirik Safira sesekali.
"Kamu kayaknya, stress dan Lelah banget ya," ucap Sagara sembari menatap Saifra. "Gih, minum dulu, biar tenang."
Baik juga nih, cowok, kata Safira. Perhatian juga, kata hati Safira, tak ada rasa curiga sama sekali.
Safira menerima botol minuman yang isinya teh manis itu. Gadis itu memegang botol minuman itu agak lama. Tak langsung meminumnya. Ada sedikit keraguan yang menerpa dirinya.
"Enggak, ini aku masih kepikiran, alamat vila," Safira meraih hapenya, berharap sudah bisa dinyalakan.
Ketika hapenya menyala, dia tersenyum lebar. Hatinya benar-benar lega.
"Makasih ya, Sagara. Kamu sudah baik banget nolongin aku," Safira tampak ceria dan sedikit manja, mirip anak kecil yang baru saja menemukan kembali mainannya yang hilang.
"Ini alamat vilanya," ucap Safira sambal mendekatkan layer hapenya ke arah Sagara.
"Okey," kita coba meluncur ke sana. Sagara menyalakan G****e Maps di hapenya untuk mencari alamat tersebut.
"Kamu nggak haus ya," tanya Sagara lagi, "Ayo minum dulu."
Safira menurut, dia menyeruput minuman di tangannya. "Oke, makasih banyak ya, maaf aku jadi ngerepotin kamu nih," ucap Safira.
"No problem! Sangat beruntung bisa bantu gadis secantik kamu."
Safira berusaha menyembunyikan rasa berbunga-bunganya saat mendapatkan pujian itu. Dia mencoba tetap tenang meski jantungnya berdetak tak normal. Dia bertekad, untuk tetap menjaga hatinya untuk Benua.
Setelah minuman di botol itu tinggal tersisa sedikit lagi, tiba-tiba kepalanya pusing. Lama kelamaan pandangan di sekitarnya menjadi buram.
Tubuhnya memanas. Ada yang tiba-tiba meledak untuk dipenuhi.
Safira tak bisa apa-apa lagi. "Sagara apa yang kamu lakukan padaku, kenapa setelah minum, reaksi tubuhku jadi begini?" Safira memandang Sagara geram.
Sagara menghentikan laju mobilnya. Dia mematung, tak membalas pertanyaan Safira yang berulang kali dilontarkan.
Sagara menatap Safira dengan wajah penuh nafsu. Senyum iblisnya keluar. Tubuh Safira lemas tak berdaya.
Di tempat sepi itu, di dalam mobil Sagara mulai melancarkan aksi brutalnya. Akal sehatnya sudah sirna.
Sementara gadis malang itu, karena efek obat yang dicampur dengan minumannya, tak punya daya yang lebih untuk membela dan melindungi kesucian dirinya.
Bersambung...
Dear pembaca, bagaimana setelah membaca part ini, apakah kamu suka? Kasih masukan komentarnya ya?
Bab 96 — Janji di Ujung Peluru.Angin malam menyusup dari celah jendela mobil tua yang kupacu tanpa arah. Jalanan basah oleh sisa hujan sore, memantulkan lampu-lampu kota yang berpendar seperti kenangan—redup, tapi tak mau padam. Aku tak tahu sudah berapa jauh aku pergi. Yang kutahu, darah di tanganku masih terasa hangat.Bukan darahku. Bukan juga darah yang asing. Itu darah dari masa laluku yang menjerat hidupku bertahun-tahun—darah Madam Sarah.Tanganku gemetar di atas setir. Setiap kali aku berkedip, wajahnya muncul—wanita yang dulu menjualku ke pria-pria kaya dengan alasan “demi masa depanmu, Key.”Aku masih ingat malam pertama kali ia mengikat tanganku di kursi, menyuruhku diam ketika aku menangis, menjanjikan uang dan keamanan yang tak pernah datang.Sekarang, semuanya sudah berakhir.Dia sudah mati.Dan aku... sebentar lagi menyusulnya.Mobil berguncang ketika aku membelok tajam ke jalan kecil di tepi kota. Sirene polisi terdengar samar di belakang. Aku tahu mereka mengejarku,
Bab 95 — Titik Akhir yang Sunyi.Pagi itu terlalu tenang untuk menjadi akhir dari segalanya.Udara membawa aroma tanah basah, tapi di dalam dadaku, badai belum juga reda. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Ara yang masih terlelap di kursi. Matanya sembab, tubuhnya meringkuk dalam selimut yang tidak menutupi seluruh ketakutannya. Aku tahu ia tak benar-benar tidur—ia hanya menutup mata agar aku tak melihat sisa air mata yang belum kering.Aku menatap jam di dinding. Waktu sudah bergerak, dan aku tak punya banyak. Polisi pasti sudah mencium jejak. Revan bukan sekadar orang biasa; pembunuhannya akan membuat banyak pihak bergerak. Aku tahu mereka akan datang, cepat atau lambat. Tapi sebelum itu… aku harus menyelamatkan dua orang yang masih tersisa dari reruntuhan hidupku: Ara dan ayah.Langkahku berat ketika turun ke ruang tamu. Ayah duduk di kursi rotan, rambutnya mulai memutih, wajahnya kosong. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah setengah pergi.“Key…” suaranya ser
Bab 94Mobil mengantar kami pulang dalam sunyi yang tebal—sebuah tirai gelap setelah badai. Jarum spidometer berputar, lampu jalan membelah kabut malam seperti gagang-gagang tombak yang tak bernyawa. Di kursi penumpang, Ara menunduk, bibirnya gemetar, sesekali menarik napas panjang yang terdengar seperti desahan orang yang belum pulih dari mimpi buruk. Aku menatap ke luar jendela, menelan kepahitan yang masih menguar di mulut. Ada rasa lega—ya—namun lega itu tipis, seperti kertas yang tercecer di angin; di bawahnya ada lubang yang menganga.“Sudah benar, kan, Kak?” suara Ara kecil, seperti boneka yang remuk. “Kita nggak salah… kan?”Aku memalingkan wajah. Lampu jalan memantulkan bayanganku di kaca; wajah yang sama namun berbeda, seolah cermin menolak mengenali jiwa yang bersembunyi di baliknya. “Kita melakukan apa yang harus dilakukan, Dek,” jawabku, suaraku kering. “Dia sudah hancurkan hidup kita. Sekarang dia udah berhenti.”Ara mengangkat kepala, matanya basah masih bertahan. “Tapi
Bab 93.Aku ingat malam itu seperti mimpi yang dingin — setiap detik terasa padat, setiap napas diperas oleh tekad. Setelah Ara pergi tidur aku menatap cermin, melihat bayangan Key yang berbeda: bukan lagi gadis takut, melainkan perempuan yang punya rencana. Ponsel di tanganku bergetar, ada pesan dari akun palsu yang kubuat. Revan menjawab cepat, seperti biasanya: tidak pernah menolak pujian dan godaan.“Jam sepuluh malam di Hotel Chantika,” balasku.“Ok.” Balasannya singkat. Aku membaca satu kata itu berkali-kali seolah menyelami keangkuhan yang menipu.---Ara muncul di kamar tepat ketika aku hendak berangkat. Matanya merah, suaranya nyaris patah ketika ia memanggil, “Kak Key…”Aku menoleh, melemparkan senyum tipis karena tidak mau ia melihat kebekuan di dadaku. “Hmm?”“Aku tidak ingin kakak pergi.” Suaranya kecil, hampir memohon.Hatiku tercekat. Aku turun dari tempat tidur dan duduk di ujung. “Dek, ini harus kulakukan,” jawabku pelan. “Kita nggak bisa hidup terus seperti ini. Dia
Bab 76Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidur. Gelap, sunyi, lalu sebuah cahaya samar perlahan muncul di hadapanku. Cahaya itu hangat, lembut, berbeda dari gelap pekat yang sering menelanku belakangan ini. Saat aku melangkah mendekat, sebuah sosok perlahan muncul dari balik cahaya itu.“Ibu?”A
Bab 75Bab 75.Satu per satu ku perhatikan wajah mereka yang perlahan menjauhiku setelah tahu ibuku tiada. Langkah-langkah kaki mereka meninggalkan lorong ini terdengar seperti dentuman palu yang mengiris telinga, mengabarkan bahwa aku benar-benar sendirian sekarang. Tidak ada satu pun dari mereka
Bab 66Aku masih bisa melihat bayangan Bu Ratih dari kaca spion motor ketika aku mengantar pulangnya setelah kegagalan di kantor polisi tadi. Perempuan itu duduk membonceng dengan tubuh lemas, seakan semua tenaga telah tercabut dari raganya. Setiap tarikan napasnya seperti menanggung beban yang ter
Bab 59."Tolong Om, jangan sentuh aku," kataku terisak, tubuhku bergetar, mataku dipenuhi air mata. Malam ini kembali sama seperti malam-malam sebelumnya—aku dijual lagi oleh Madam Sarah kepada pria hidung belang. Tubuhku bukan lagi milikku, harga diriku sudah lama dihancurkan, dan setiap kali hal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews