LOGINNayla hidup sebatang kara setelah kepergian Ibunya. Namun karena kebaikan koleganya, dia berhasil kuliah dan akhirnya pulang kembali ke Indonesia untuk mengejar mimpinya sebagai jurnalis. Tidak disangka pekerjaannya sebagai Jurnalis justru menguak masa lalu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
View MorePrologue
Jerome Bustamante at Lalaine Custodio. Kapwa pinagtagpo ng pagkakataon kung saan walang tanging karamay kundi ang sarili. Laman ng kalsada, batang lansangan. 'Yan ang nakamulatan ni Lala simula nang siya'y magka-isip. Laki sa hirap at hikahos sa buhay ang pamilyang nakagisnan ni Lala. Dahil sa mga magulang na sugarol kaya hindi naging madali kay Lala ang kabataan. Imbes na pag-aaral ay naging laman ito ng lansangan, upang maibsan lamang ang kumakalam na sikmura. Naging palaban si Lala sa unang araw pa lang nito. Maka-ilang beses na itong nagtangkang tumakas ngunit lagi itong nahuhuli. Dumating pa sa puntong muntik na siyang halayin at doon pumasok sa eksena si Jerome, kaya nakaligtas si Lala. Naging magkaibigan ang dalawa at nagkaibigan. Hanggang tumuntong ang mga ito sa tamang edad kung saan kaya na nilang lumaban maisalba lamang ang sarili. Nangarap ang dalawa na pagkatakas nila ay magsasama na sila at bubuo ng pamilya. Ngunit hindi nangyari, sa halip nagkahiwalay sila ng landas. Makalipas ang ilang taon, nagkitang muli ang dalawa ngunit marami na ang nagbago: si Lala bilang Misis Ellis at si Jerome na isa nang bilyonaryo. Ang minsan na pagkakasala'y naging madalas. Lahat gagawin ni Jerome bumalik lamang sa kanya ang babaeng mahal niya. Saan hahantong ang pagtitimpi ni Lala, gayong si Jerome lamang ang bukod-tanging nakapagbibigay-init sa mapaghanap na katawan na hindi maibibigay ng asawang si Ralph? "You’re mine, Lala, only mine,” bulong nito sa akin bago napunta sa aking dalawang dibdib ang labi niyang matagal kong kinapapanabikan at hinanap-hanap. “Jerome, ohhh.” Tuluyan akong napahalinghing nang ibinaba pa nito ang labi mula sa aking dibdib, papunta sa aking basa ng pagkababae na kanina pa nasasabik din sa kanya. Nakatayo lamang ako sa makipot na banyo kung nasaan kami narito ngayon ni Jerome. Walang babala nitong ibinaba ang manipis na telang suot ko at isinampay sa balikat nito ang isa kong binti upang mas malaya nitong magawang muli ito sa akin. "Jerome!" Impit kong ungol. Hindi ko malaman kung saan ako kakapit nang sinimulan na nitong pasadahan ng dila ang loob ng aking pagkababae. Nakakaliyo at nakakawala sa katinuan nang s******n at hagurin ng mainit nitong dila ang kaloob-looban nito. Kulang na lang ay dumugo ang aking labi dahil sa tindi ng aking pagpipigil na mapasigaw, lalo pa't nasa labas lang siya. Nasa labas lang at naghihintay sa akin ang asawa ko. Ilang minuto ding nakaluhod sa akin si Jerome hanggang sa tuluyan akong manginig. Hapong-hapo ako nang tumayo ito at bumulong muli sa akin. “Ako lang, Lalaine ... ako lang ang may kakayahang magpanginig sa ‘yo ng ganyan. Una kang naging akin, at sisiguraduhin kong magiging akin ka namang muli.” "Mali ito, Jerome, hindi maari, may asawa na ako't..." "Asawa? Lala, alam na alam ko kung ano ang sitwasyon ninyo ng walang silbi mong asawa. Asawa mo lang siya sa papel at hindi sa kama. Magkita tayong muli sa susunod na linggo sa dating tagpuan, at patutunayan ko sa 'yo ang totoong kahulugan ng asawa." Ako si Lalaine Custodio, o Lala kung tawagin ng mas nakararami. Larawan ng isang perpektong ina sa nag-iisang anak ko, at may mapagmahal na asawa sa katauhan ni Ralph. Masaya kami at kontento ako, hanggang magkita kaming muli ni Jerome. Si Jerome ang lalaking una kong minahal at nag-iisang lalaking nakakapagbigay sa akin ng init na kailanman ay hindi maibigay ni Ralph. Makasalanan ba akong maituturing? Tunghayan at alamin kung paano ako napunta sa sitwasyong ito—isang sitwasyongBegitu sampai di rumah, dia langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan nangis sejadi-jadinya. Karena tau harinya sudah rusak dan tidak mungkin kembali ke kantor, dia hanya mengirimkan pesan pada Adit untuk ijin karena tidak enak badan. Setelah puas menangis selama setengah jam dia akhirnya terduduk di tempat tidurnya dengan mata sembap gak karuan. Dia mengambil buku hariannya di laci sebelah tempat tidurnya. Dia ingin menumpahkan semua kekesalannya, dan buku itu adalah satu-satunya tempat. Menulis di buku itu baginya seperti sedang bercerita pada Ibunya, dan untuk masalah ini dia hanya bisa menumpahkan pada Ibunya. Nayla terdiam sejenak saat memegang buku itu. Buku kecil yang cukup tebal, mirip agenda, berwarna merah muda. Dia kemudian sadar bahwa sudah cukup lama dia tidak membaca buku itu.Kesibukannya di kantor berhasil mengalihkan dia dari masa lalunya. Tapi tidak untuk saat ini, dia membutuhkan buku itu. Dia kemudian mengambil sebuah pulpen dan mulai menulis.Bu, hari
“Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya. “Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan. Nayla mengangguk sambil tersenyum. Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru. “Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel. “Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla. “Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri.
Lima tahun cukup lama untuk membuat Nayla merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Rasanya banyak sekali pembangunan di Jakarta sampai-sampai dia tidak lagi mengenali kota itu, banyak sekali perubahannya. Dengan taksi online Nayla menuju ke kantor Nugie Hermawan. Hari ini adalah hari penting untuknya. Sambil menikmati pemandangan kota, Nayla mengeluarkan notes kecil berisi list pertanyaan yang dia buat kemarin bersama Willy.Dia membaca ulang beberapa kali untuk memastikan semua pertanyaan itu sudah tepat dan tidak ada yang terlewatkan. Walaupun lawan bicaranya nanti katanya masih muda dan baru memulai karir, tapi tetap saja Nayla gugup bukan main karena ini pertama kalinya dia mewawancarai seseorang, sekalipun bukan orang terkenal. Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah ruko di area perkantoran Jakarta Selatan. Setelah memastikan itu ruko yang tepat, Nayla pun turun dari mobil dengan tangan yang mulai keringat dingin dan jantung yang berdegup semakin cepat. D
Nayla melirik ke jam kecil disebelah tempat tidurnya, pukul 23.00 WIB, dan dia masih belum berhasil untuk tidur. Hari ini terlalu menyenangkan untuknya. Wawancara pertamanya berhasil. Selain itu dia juga bertemu dengan Om Iwan dan Tante Ina lagi, sepasang suami istri yang membiayai kuliahnya ke London. Sepulang dari kantor Nugie, Nayla mampir sejenak ke rumah mereka yang tidak jauh dari sana. Mereka bertiga pun berbagi begitu banyak cerita. Hatinya terasa bahagia.Nayla kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci di dekat tempat tidurnya. Dia mulai menulis di buku itu.Hai, Bu. Apa kabar? Disana pasti indah dan menyenangkan ya. Aku sudah pulang ke rumah kita Bu. Disini rasanya sepi sekali tanpa Ibu.Aku mau cerita, Bu. Aku sekarang udah jadi jurnalis di majalah besar, tadi habis wawancara orang. Rasanya menyenangkan, aku harap Ibu bangga sama aku ya. Rasanya masih kayak mimpi hidupku bisa seperti sekarang, tapi rasanya ada yang kurang karena aku gak bisa menikmati kebahagiaan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.