แชร์

Part 127

ผู้เขียน: Zizara Geoveldy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-06 19:00:10

Kaisar terdiam. Anak itu terlihat bingung. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin malam. Tidak ada informasi yang jelas dari ibunya mengenai siapa anak tersebut. Baginya anak itu adalah rivalnya yang merenggut perhatian dan kasih sayang orang tuanya.

“Kai, kok pertanyaan Oma nggak dijawab? Arabella itu anak siapa, Sayang? Kai tahu mama papanya?” Zelena menginterogasi lebih jauh ketika berhenti di persimpangan lampu lalu-lintas yang menyala merah.

Kaisar mengangkat bahu.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (9)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
firasat orang tua gak pernah salah, tp apa salahnya kalian lihat dulu obyek yang di ceritakan Kai,biar tahu kebenarannya..
goodnovel comment avatar
Adfazha
firasat hatimu bnr Zelena klo Bella tuh anak siluman ular tercintanya Ariyan smg aja Ari gk perkaos Zevia nantinya ya kak Zi pokoke jgn smpe Via diacak2 jd alat bls dendam ke Kaivan sm Ari kyk Ziva dl yg dirudapaksa Ari
goodnovel comment avatar
roha mimha
Iyakan kak, authornya bikin muter aje, baik kita readers yg terus buat closing ceritanya....hahaha
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 207

    Zivanya melangkah menyusuri lorong pajangan, mencoba memfokuskan pikirannya pada deretan kotak kue di hadapannya. Ia berniat membelikan beberapa camilan kesukaan Kaisar dan titipan Seruni. Di sebelahnya, Ariyan setia mendampingi, memegang keranjang belanjaan yang mulai terisi penuh. Toko tersebut hari ini sangat ramai oleh pengunjung. Toko yang mereka datangi ini adalah salah satu toko ‘wajib’ untuk dikunjungi bagi siapa saja yang berkunjung ke kota Bandung. Antrean mengular panjang di depan kasir, sementara aroma manis pastry yang baru matang terus menguar, ​"Kaisar suka brownies panggang atau yang kukus, Ziva?" tanya Ariyan yang ikut memilih-milih kue. Agak janggal melihat lelaki itu melakukannya. Tapi itu benar-benar terjadi. ​"Dua-duanya suka," jawab Zivanya singkat dengan tangan terulur mengambil sekotak cheese roll. Ia masih berusaha menjaga jarak, menolak untuk terlihat terlalu intim. Tapi entah mengapa Ariyan semakin menempel. Sedangkan Mita dan lain seolah sengaja menjauh

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 206

    [Kai, kamu marah? Maaf, Kai, aku sama sekali nggak bermaksud begitu. Aku nggak tahu kamu bakal ke sini. Sekali lagi maaf ya. Kamu udah di rumah Oma? Titip salam ya buat Oma.] Pesan dari Zivanya diterima Kaivan saat ia baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah rumah megah di kawasan Ciumbuleuit atas. Rumah berarsitektur kolonial modern itu berdiri kokoh di atas lahan luas, tersembunyi secara eksklusif di balik pagar besi yang tinggi. Dikelilingi oleh halaman rumput yang membentang dan pepohonan pinus tua, udara pagi di sana terasa jauh lebih menggigit dan senyap. ​Kaivan menatap layar ponselnya lama. Kata demi kata dari Zivanya dibacanya berulang kali, yang menyisakan denyut perih di dadanya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu merebahkan kepala di setir mobil. Rasa lelah setelah berkendara sejak sebelum subuh mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah disuguhi pemandangan di lobi resort tadi. ​Ia tidak membalas pesan Zivanya. Dengan gerakan perlahan, Kaivan me

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 205

    “Kalau kamu mau pulang sama Kaivan, nggak apa-apa. Biar nanti aku yang jelasin kalau ada yang nanya. Kamu nggak harus ikut rombongan. Kamu bukan karyawan, Ziva. Kamu bosnya, kamu yang punya perusahaan,” kata Ariyan berkomentar melihat Zivanya yang tidak tenang setelah Kaivan pergi.Zivanya menoleh cepat, menatap Ariyan dengan pandangan tak percaya. Kalimat yang baru saja diucapkan mantan suaminya itu terdengar begitu longgar, seolah-olah Ariyan memang berlapang dada jika Zivanya memilih pergi dengan Kaivan. ​"Aku bertahan di sini bukan karena aku merasa terikat aturan karyawan. Tapi ini soal komitmen dan profesionalisme. Aku yang memimpin mereka. Jadi gimana bisa aku menuntut kedisiplinan kalau akunya sendiri pulang seenaknya hanya karena urusan pribadi?"​"Aku tahu kamu profesional. Tapi kalau kamu tetap di sini tapi pikiranmu ke mana-mana, percuma. Lihat nih.” Ariyan mengetuk layar iPad dengan ujung jarinya. Ia menggeser perangkat tersebut kembali ke hadapan Zivanya, menunjukkan ba

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 204

    Ariyan memalingkan wajah, seolah perkataan Zivanya sangat mengganggunya. Sementara itu, Zivanya terus mengunci wajah Ariyan dengan matanya. ‘Nggak berani jawab, kan, dia,’ bisik Zivanya di dalam hati. Setelah beberapa detik, Ariyan kembali memutar wajahnya. ​"Arabella sudah mendapatkan seluruh porsinya, Ziva. Dan dia nggak pernah kekurangan apa pun dariku. Termasuk kasih sayang yang kamu sebut.” ​Zivanya terkekeh menyembunyikan rasa perih yang mengiris hatinya mendengar pengakuan jujur itu. "Bagus kalau gitu. Jadi stop urusin Kaisar." ​"Tapi Kaisar nggak punya porsi itu, Ziva. Dan itu karena kebodohanku," balas Ariyan cepat sebelum Zivanya sempat bangkit dari kursi. "Mencurahkan kasih sayang untuk Arabella nggak akan pernah bisa menghapus dosa bahwa aku sudah menelantarkan Kaisar selama tiga tahun. Mereka dua hal yang berbeda." ​Zivanya meremas sendok di tangannya. "Nggak ada yang berbeda. Kamu cuma mau memuaskan rasa bersalahmu sendiri, kan? Kamu mau kelihatan seperti pahlaw

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 203

    Zivanya menatap dinding kamar dengan pandangan menerawang. Seluruh pikirannya tertuju pada petualangan off road tadi yang penuh dengan sensasi menegangkan.​Kejadian di dalam Land Rover tua itu terus berputar di kepalanya. Sentuhan tangan Ariyan yang melingkar protektif di tubuhnya, deru napas pria itu di pelipisnya, hingga detak jantungnya, semuanya terasa begitu nyata hingga membuat dada Zivanya berdesir aneh.​Ia menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup sedikit lebih cepat. Ada penolakan besar dalam dirinya untuk mengakui bahwa setelah lama berpisah, tubuh dan instingnya masih mengenali kehangatan yang sama dengan begitu familier.​’Harusnya tadi aku pegang besi aja yang kuat, nggak usah selemah itu di depan dia,’ gerutu Zivanya kesal pada diri sendiri. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal demi mengusir bayangan Ariyan yang mendadak mendominasi isi kepalanya.Merasa perutnya keroncongan, Zivanya menjauhkan muka dari bantal dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mene

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 202

    Udara pagi yang menusuk tulang tidak menyurutkan antusias para karyawan yang sudah berkumpul di lapangan terbuka, tempat puluhan mobil Land Rover pariwisata berbodi kokoh berbaris menunggu. Aroma khas bensin, oli, dan tanah basah berbaur dengan kepulan asap knalpot dari gerungan parau mesin-mesin tua penggerak empat roda yang mulai dipanaskan.​Mita dengan sigap menuntun Zivanya menuju salah satu mobil Land Rover. Di dalam kabin belakang yang berkapasitas terbatas, Rike ternyata sudah duduk manis di sudut kanan. Ia langsung menyapa Zivanya.“Selamat pagi, Bu Ziva. Sesuai daftar dari panitia, berarti sisa satu kursi lagi ya, Bu. Kita tinggal nunggu Pak Haris.”“Oh, oke,” balas Zivanya.Zivanya kemudian mengambil posisi duduk di baris sebelah kiri, sementara Mita mengambil tempat di sebelah Rike. Kursi mereka saling berhadapan satu sama lain.“Gue deg-degan nih. It my first time, btw,” celetuk Mita sambil memegang dadanya.“Gue udah beberapa kali sih, tapi tetep aja dag dig dug,” kata R

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 28

    ​"Kamu gila, Ziva.” Kalimat itu yang akhirnya tercetus dari bibir Ariyan. "Kamu benar-benar sudah gila karena laki-laki itu."​Zivanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Aku nggak gila, Ariyan. Aku hanya sedang belajar menjadi realistis, persis seperti yang kamu ajarkan selama ini. Kamu ingin memili

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 27

    Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Zivanya tiba di rumah. Seluruh lampu telah menyala terang. Begitu kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati penghuninya. Ariyan sedang duduk di sofa sambil merokok. Lelaki itu menunggu istrinya sejak tadi. Zivanya melihat Ariyan. Tapi ia terus mel

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 26

    Ariyan bergegas keluar dari restoran dengan napas memburu. Ia tidak memedulikan tatapan heran para pekerja di sana saat hampir berlari menuju pelataran parkir. Matanya mengedar ke mana-mana, mencari mobil hitam Kaivan, namun yang ia cari sudah lenyap dari tempat tersebut. ​Sementara itu, di dalam

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 25

    Ariyan mengepalkan tinjunya di dalam saku celana, berusaha keras menjaga agar rahangnya tidak mengeras di depan mertuanya. Kata-kata Zivanya barusan bukan sekadar penolakan, melainkan pengusiran halus yang sangat mematikan harga dirinya. Diusir dari meja istrinya sendiri demi seorang pria yang kini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status