เข้าสู่ระบบKaget, terperanjat, tercengeng, terkejut. Perasaan itulah yang tengah dirasakan Zivanya sekarang. Saking syoknya, Zivanya sempat kehilangan kata-kata hitungan detik lamanya.“Kenapa diam? Takut?” tantang Kika melihat Zivanya bisu membatu.Zivanya mengerjap, menatap kakak tirinya yang hidup bebas lekat-lekat. “Aku nggak tahu sejauh apa yang kamu tahu tentang mereka. Tapi aku nggak takut. Dulu aku memang takut. Tapi sekarang nggak lagi. Bilang aja, Kak. Aku bahkan udah bilang sama Mami.”Kika menyipit tak percaya. “Tante Seruni tahu tentang perselingkuhan mantan laki lo?”Zivanya menjawab dengan anggukan.“Masa?” Kika tetap tidak percaya.“Ya udah kalau nggak percaya.”Melihat Zivanya yang tampak sungguh-sungguh, Kika terdiam sesaat. "Oke, kalau Tante Seruni memang sudah tahu," ujar Kika akhirnya, melonggarkan sedekap tangannya. Suaranya kini terdengar rendah, kehilangan sebagian nada ketus yang tadi menggebu-gebu. "Tapi Papi belum tahu, kan? Papi tahunya lo berdua cerai baik-baik kar
Zivanya melangkah menyusuri lorong pajangan, mencoba memfokuskan pikirannya pada deretan kotak kue di hadapannya. Ia berniat membelikan beberapa camilan kesukaan Kaisar dan titipan Seruni. Di sebelahnya, Ariyan setia mendampingi, memegang keranjang belanjaan yang mulai terisi penuh. Toko tersebut hari ini sangat ramai oleh pengunjung. Toko yang mereka datangi ini adalah salah satu toko ‘wajib’ untuk dikunjungi bagi siapa saja yang berkunjung ke kota Bandung. Antrean mengular panjang di depan kasir, sementara aroma manis pastry yang baru matang terus menguar, "Kaisar suka brownies panggang atau yang kukus, Ziva?" tanya Ariyan yang ikut memilih-milih kue. Agak janggal melihat lelaki itu melakukannya. Tapi itu benar-benar terjadi. "Dua-duanya suka," jawab Zivanya singkat dengan tangan terulur mengambil sekotak cheese roll. Ia masih berusaha menjaga jarak, menolak untuk terlihat terlalu intim. Tapi entah mengapa Ariyan semakin menempel. Sedangkan Mita dan lain seolah sengaja menjauh
[Kai, kamu marah? Maaf, Kai, aku sama sekali nggak bermaksud begitu. Aku nggak tahu kamu bakal ke sini. Sekali lagi maaf ya. Kamu udah di rumah Oma? Titip salam ya buat Oma.] Pesan dari Zivanya diterima Kaivan saat ia baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah rumah megah di kawasan Ciumbuleuit atas. Rumah berarsitektur kolonial modern itu berdiri kokoh di atas lahan luas, tersembunyi secara eksklusif di balik pagar besi yang tinggi. Dikelilingi oleh halaman rumput yang membentang dan pepohonan pinus tua, udara pagi di sana terasa jauh lebih menggigit dan senyap. Kaivan menatap layar ponselnya lama. Kata demi kata dari Zivanya dibacanya berulang kali, yang menyisakan denyut perih di dadanya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu merebahkan kepala di setir mobil. Rasa lelah setelah berkendara sejak sebelum subuh mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah disuguhi pemandangan di lobi resort tadi. Ia tidak membalas pesan Zivanya. Dengan gerakan perlahan, Kaivan me
“Kalau kamu mau pulang sama Kaivan, nggak apa-apa. Biar nanti aku yang jelasin kalau ada yang nanya. Kamu nggak harus ikut rombongan. Kamu bukan karyawan, Ziva. Kamu bosnya, kamu yang punya perusahaan,” kata Ariyan berkomentar melihat Zivanya yang tidak tenang setelah Kaivan pergi.Zivanya menoleh cepat, menatap Ariyan dengan pandangan tak percaya. Kalimat yang baru saja diucapkan mantan suaminya itu terdengar begitu longgar, seolah-olah Ariyan memang berlapang dada jika Zivanya memilih pergi dengan Kaivan. "Aku bertahan di sini bukan karena aku merasa terikat aturan karyawan. Tapi ini soal komitmen dan profesionalisme. Aku yang memimpin mereka. Jadi gimana bisa aku menuntut kedisiplinan kalau akunya sendiri pulang seenaknya hanya karena urusan pribadi?""Aku tahu kamu profesional. Tapi kalau kamu tetap di sini tapi pikiranmu ke mana-mana, percuma. Lihat nih.” Ariyan mengetuk layar iPad dengan ujung jarinya. Ia menggeser perangkat tersebut kembali ke hadapan Zivanya, menunjukkan ba
Ariyan memalingkan wajah, seolah perkataan Zivanya sangat mengganggunya. Sementara itu, Zivanya terus mengunci wajah Ariyan dengan matanya. ‘Nggak berani jawab, kan, dia,’ bisik Zivanya di dalam hati. Setelah beberapa detik, Ariyan kembali memutar wajahnya. "Arabella sudah mendapatkan seluruh porsinya, Ziva. Dan dia nggak pernah kekurangan apa pun dariku. Termasuk kasih sayang yang kamu sebut.” Zivanya terkekeh menyembunyikan rasa perih yang mengiris hatinya mendengar pengakuan jujur itu. "Bagus kalau gitu. Jadi stop urusin Kaisar." "Tapi Kaisar nggak punya porsi itu, Ziva. Dan itu karena kebodohanku," balas Ariyan cepat sebelum Zivanya sempat bangkit dari kursi. "Mencurahkan kasih sayang untuk Arabella nggak akan pernah bisa menghapus dosa bahwa aku sudah menelantarkan Kaisar selama tiga tahun. Mereka dua hal yang berbeda." Zivanya meremas sendok di tangannya. "Nggak ada yang berbeda. Kamu cuma mau memuaskan rasa bersalahmu sendiri, kan? Kamu mau kelihatan seperti pahlaw
Zivanya menatap dinding kamar dengan pandangan menerawang. Seluruh pikirannya tertuju pada petualangan off road tadi yang penuh dengan sensasi menegangkan.Kejadian di dalam Land Rover tua itu terus berputar di kepalanya. Sentuhan tangan Ariyan yang melingkar protektif di tubuhnya, deru napas pria itu di pelipisnya, hingga detak jantungnya, semuanya terasa begitu nyata hingga membuat dada Zivanya berdesir aneh.Ia menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup sedikit lebih cepat. Ada penolakan besar dalam dirinya untuk mengakui bahwa setelah lama berpisah, tubuh dan instingnya masih mengenali kehangatan yang sama dengan begitu familier.’Harusnya tadi aku pegang besi aja yang kuat, nggak usah selemah itu di depan dia,’ gerutu Zivanya kesal pada diri sendiri. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal demi mengusir bayangan Ariyan yang mendadak mendominasi isi kepalanya.Merasa perutnya keroncongan, Zivanya menjauhkan muka dari bantal dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mene
Aira tersentak saat menyadari kemunculan istri kekasihnya. Ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk di tengah kasur. Namun, alih-alih merasa bersalah karena tertangkap basah, ia malah menyapa Zivanya dengan ramah."Oh, udah pulang?" tanyanya begitu santai.Ia merapikan pakaiannya sedikit lalu
“B-bang Ari?” Zevia sedikit tergagap membalas sapaan Ariyan.“Kamu ngapain di sini?”“Lagi gantiin Bang Kai jaga Kak Ziva, Bang. Bang Kai ada sidang yang nggak bisa ditinggalin. Kasihan Kak Ziva sendirian. Katanya Abang sibuk banget, ada pekerjaan penting, jadi nggak bisa nemenin di sini.”“Ziva ya
Deru napas Kaivan terdengar memburu di lorong rumah sakit yang sepi, memecah sunyinya dini hari. Sepasang tangannya seolah ikut lemah saat ia membaringkan Zivanya di atas brankar yang kemudian didorong dengan cepat oleh para perawat. Pemandangan Zivanya yang terkulai lemas dengan baju tidur yang di
Di seberang telepon, kantuk Kaivan seketika lenyap. Terdengar suara grasak-grusuk yang berisik, menandakan Kaivan langsung terlompat kaget dari tempat tidurnya."Apa lo bilang? Pendarahan?!" bentak Kaivan dipenuhi rasa syok dan panik yang luar biasa. "Terus kenapa malah buang-buang wakt







