LOGIN“Ziva kenapa? Lo apain dia?” Kaivan langsung menyerbu dengan pertanyaan. Ia siap merebut Zivanya dari dekapan Ariyan.“Dia kena serangan panik karena lift mati.”"Kita bawa ke rumah sakit,” usul Kaivan mencoba menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Zivanya, tapi Ariyan tidak sudi memberikan."Nggak usah ke rumah sakit, dia cuma butuh istirahat,” kata Ariyan tidak setuju. "Kita bawa dia pulang ke rumahnya.”Kaivan sempat ragu, namun ia akhirnya mengalah. "Gue yang nyetir. Masuk ke mobil gue.”Saat Kaivan menawarkan diri mengangkat Zivanya berdua, Ariyan langsung menolak mentah-mentah. Jangankan Kaivan, bahkan sekuriti yang ingin membantu mengangkat Zivanya juga ditolak oleh Ariyan. Sepanjang perjalanan membelah malam menuju rumah Zivanya, ketegangan di dalam mobil begitu terasa. Kaivan menyetir, sementara Ariyan duduk di kursi belakang, memangku kepala Zivanya yang tak sadarkan diri. Kaivan sesekali melirik dari spion tengah, menahan gejolak cemburu melihat bagaimana Ariyan membelai
Ciuman Ariyan terasa begitu menuntut dan meledak-ledak. Zivanya terbelalak di dalam kegelapan. Rasa terkejut dan amarah seketika meletup di dadanya.Bagaimana bisa pria ini sekasar dan seegois ini di saat dirinya sedang bertaruh nyawa melawan rasa takut? Bagaimana mungkin Ariyan memanfaatkan keadaan? Seharusnya Zivanya memang tidak perlu percaya padanya. Dan seharusnya ia memang tidak perlu memberikan kesempatan kedua.Zivanya pun melawan, mencoba berbagai cara untuk membebaskan diri. Ia menggerakkan kedua tangannya, memukul-mukul dada Ariyan, mencengkeram kemeja pria itu, serta berusaha sekuat tenaga memalingkan wajah. Tapi tetap tidak berhasil lepas darinya. Tubuh Ariyan jauh lebih besar, tenaganya sangat kuat.Persediaan oksigen yang kian menipis di paru-parunya membuat seluruh kekuatannya lumpuh. Ia masih tidak kuasa melepaskan diri. Ariyan terus menginvasi bibir dan rongga mulutnya, yang tidak dibalas oleh Zivanya satu kali pun.Dengan sisa tenaga te
Zivanya melangkah masuk ke dalam lift eksekutif gedung kantornya. Sebagai owner serta pemegang saham utama, ia memiliki akses ke area privat ini. Jarum jam telah melewati pukul sepuluh malam. Zivanya memang pulang agak terlambat. Pekerjaan hari ini betul-betul menguras waktu dan energinya.Sekarang Zivanya hanya ingin cepat-cepat tiba di lobi, di mana Kaivan sedang menunggu. Banyak yang ingin Zivanya ceritakan pada Kaivan, termasuk rencana pindah rumah yang ditentang maminya.Ingat maminya, Zivanya kembali kesal. Seruni dan juga Abi sangat sayang pada Ariyan sejak dulu. Mungkin, realita mereka tidak punya anak laki-laki menjadi salah satu faktor sikap Seruni yang berlebihan.Setelah pintu lift terbuka, darah Zivanya berdesir hebat mendapati Ariyan berdiri bersandar di dinding lift. Zivanya ingin keluar, tapi terlambat, sisi kanan dan kiri pintu kotak baja itu keburu menutup.Zivanya telan salivanya yang tiba-tiba terasa kelat. Ia berdiri di pojok depan, membelakangi Ariyan. Lift ber
Zivanya menyemprotkan parfum yang diberi Kaivan ke pergelangan tangan dan lehernya. Wangi. Tapi bukannya membuat pikirannya tenang, sensasi dingin dari cairan parfum yang menyentuh kulitnya menyeret ingatannya mundur jauh ke belakang. Membuka kembali kotak pandora masa lalu yang berusaha keras ia kubur dalam-dalam. Dulu, ia juga sering melakukan kebiasaan ini sebelum tidur. Bedanya, yang ia semprotkan saat itu adalah parfum milik Ariyan. Setiap kali Ariyan tidak pulang dan memilih bermalam di tempat Aira, Zivanya akan membawa botol parfum suaminya ke tempat tidur. Dengan air mata yang menggenang, ia menyemprotkan aroma itu berkali-kali ke atas bantal di sebelahnya. Zivanya melakukannya hanya agar ia bisa menipu dirinya sendiri. Agar ia bisa merasa bahwa Ariyan selalu berada di dekatnya, tidur bersamanya, dan memeluknya di tengah malam-malam yang sepi dan dingin. “Stupid!” kecamnya pada diri sendiri merutuki betapa bodoh dirinya saat itu. Zivanya kemudian keluar dari kamar.
Lima menit setelah Kaivan dan Syabila menghilang dari ruang matanya, Zivanya masih bergeming di balik jendela. Tatapannya tertuju pada mobil hitam Kaivan yang kini mesinnya telah mati sempurna di halaman.Ia mematung, meremas ponsel di genggamannya dengan cemas. Zivanya menunggu. Ia menanti benda pipih itu bernyanyi atau berdenting, memberitahu ada telepon atau pesan masuk dari Kaivan yang mengatakan bahwa lelaki itu sedang menunggunya di bawah dan memintanya untuk turun. Ia berharap ada penjelasan masuk akal yang dikirimkan Kaivan tentang mengapa mereka bisa pulang bersama.Tapi ponselnya tetap bisu. Layarnya yang hitam terasa sedingin udara malam di luar sana.Zivanya yang tidak tahan lagi dan lelah menerka-nerka, akhirnya memutuskan untuk turun dengan inisiatifnya sendiri. Ia tidak bisa lagi berdiam diri di kamar seperti orang bodoh, membiarkan pikiran-pikiran liar merusak kewarasannya setelah hari yang teramat melelahkan ini.Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Kaisar,
Zivanya terus menghubungi Kaivan berulang kali. Tanpa lelah. Ia benar-benar penasaran kenapa lelaki itu tidak datang dan tidak berkabar. Ini sungguh-sungguh di luar kebiasaan. Kaivan adalah definisi pria paling tepat waktu yang pernah Zivanya kenal. Lelaki itu tidak pernah membiarkan satu pun pesannya menggantung tanpa balasan, apalagi membatalkan janji penting mengenai psikolog Kaisar tanpa kabar sama sekali. Biasanya, sesibuk apa pun, Kaivan selalu memiliki waktu untuk Zivanya. Andai janji mereka batal sepihak, masa sekadar mengirim pesan tidak sempat? Zivanya menatap layar ponselnya yang kembali menampilkan pemberitahuan bahwa panggilan kelimanya dalam sepuluh menit terakhir berujung pada kotak suara. Ibu jari Zivanya bergerak cepat, kembali menekan tanda panggil. Nada sambung yang monoton kembali berdenging di telinganya. “Nelepon siapa kamu? Dari tadi Mami perhatiin sibuk sama handphone terus.” Seruni yang mengomel di sebelahnya membuat Zivanya menjauhkan handphone kem
“Kamu nggak perlu teriak-teriak! Aku bukan orang tuli!” seru Zivanya membalas hardikan suaminya. Ariyan sontak mengatupkan mulutnya. Hari-hari belakangan Zivanya memang tidak pernah bersikap lembut lagi padanya. Tapi inilah bentakannya yang paling keras. "Aku membawanya ke sini murni karena ras
Setelah sekuriti menyeret Ariyan keluar, ia dimintai keterangan awal karena kegaduhan yang terjadi. Lantaran tidak bersikap kooperatif, ia diteruskan ke kantor polisi. Tapi tidak lama. Setelah pengacaranya datang Ariyan langsung dibebaskan. Meski demikian batinnya terasa jauh lebih terkurung dari
Kalau saja bukan desakan dari kandung kemihnya, Zivanya belum akan bangun. Ia terpaksa membuka matanya yang berat bagai diberi perekat lalu membawa diri ke kamar mandi. Saat kembali ke tempat tidur, Zivanya menyadari satu hal. Ariyan tidak berada di sana. Mata Zivanya dengan refleks mencari jam da
Ariyan mengeratkan genggaman kunci mobil di tangannya sembari menatap Zivanya dan Kaivan bergantian. Alih-alih menerjang atau berteriak seperti pria yang kehilangan akal, ia tetap bersikap tenang. Ia melangkah mendekat dengan ritme yang lambat. "Malam, Kai," sapanya pad







