LOGIN“Oma, Papa mana? Kai mau ketemu Papa sekarang.”“Tuh, kan, Zel. Kamu lihat sendiri. Aku benar-benar nggak tega sama Kaisar,” ucap seruni sedih. “Tahu nggak, Zel? Tadi Kaisar nggak mau tidur siang karena ingin ketemu Ariyan. Katanya rindu Papa. Aku neneknya, Zel, dadaku rasanya sesak.”Zelena terdiam, turut menatap iba pada cucu semata wayangnya. Ia menurunkan Kaisar dari pangkuannya, lalu menggandeng tangan anak itu dengan penuh kasih sayang. “Ayo ikut Oma. Kita ketemu Papa di belakang. Tadi Oma lihat Papa lagi berenang.”"Ayo, Oma. Kai mau berenang sama Papa," ujar Kaisar riang.Zelena tersenyum tipis, menuntun langkah kecil cucunya menuju belakang rumah. Di belakang mereka, Seruni melangkah lambat. Matanya menatap sendu pada punggung cucunya. Ada harapan yang begitu besar di hati Seruni, berharap pertemuan siang ini bisa memicu ingatan Ariyan dan membawa kebaikan untuk masa depan anak dan cucunya.Suara kecipakan air dan riak kolam langsung menyambut kedatangan mereka. Di dalam kola
Sepanjang sisa hari Zivanya tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Kejadian saat di mobil tadi terus menjajah ingatannya.Layar monitor di hadapannya hanya menampilkan deretan kalimat yang buram. Berkali-kali Zivanya mengembuskan napas berat sambil memijat pelipisnya. Wajah Kaivan tidak mau pergi dan terus menari-nari di depan matanya. Sorot mata teduh yang mendadak redup penuh luka, dan bagaimana rona kecewa di wajah Kaivan yang tidak bisa disembunyikan.Zivanya mengutuk refleks tubuhnya sendiri. ‘Kenapa aku harus menghindar?’ pekiknya di dalam hati.Zivanya tahu betul betapa besarnya arti penolakan itu bagi Kaivan. Selama tahun-tahun belakangan, Kaivan adalah definisi pria paling terhormat yang pernah ia temui. Pria itu memperlakukannya dengan begitu hati-hati. Kaivan sangat menghargainya.‘Kaivan pasti berpikir aku menolak dia karena hatiku mulai goyah,’ bisik Zivanya di dalam hati.Zivanya mengambil ponselnya dan membuka chat room dengan Kaivan. Ia mengetik beberapa baris kalimat pe
Zivanya hampir saja tersedak potongan daging yang baru dikunyahnya. Pertanyaan Kaivan yang dibalut senyuman menggoda menohok tepat ke dasar hatinya. Ia tahu Kaivan sedang mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa kaku, atau mungkin—dan ini yang paling ia takuti—pria itu sedang mengujinya dengan cara yang paling halus.Zivanya meletakkan garpunya ke tepi piring. Diambilnya selembar tisu, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan lambat hanya untuk mengulur waktu agar suaranya terdengar sebiasa mungkin saat menjawab."Kamu ini ngomong apa sih, Kai? Nggak lucu bercandanya," jawab Zivanya sambil memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar, bahkan di telinganya sendiri.Kaivan tidak terpengaruh tawa Zivanya. Malah rautnya terlihat sangat serius sekarang. "Aku nggak lagi ngelucu, Ziva. Tiga tahun ini kita sama-sama. Terus tiba-tiba semalam, orang yang pernah bikin kamu nangis berdiri lagi di depan kamu dengan versi yang jauh berbeda. Wajar, kan, kalau aku ingin tahu apa yang ada di dala
“Kenapa Bang Kai ngajak aku ketemuan? Apanya yang penting?”“Kamu tahu Ariyan udah di Indonesia?” tanya Kaivan pada Zevia.Zevia yang bermaksud menyesap kopinya hampir saja tersedak. Ia meletakkan cangkir di atas meja dan menatap Kaivan tidak percaya. Pagi itu, mereka sengaja bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor Kaivan sebelum memulai rutinitas. Namun, alih-alih membahas pekerjaan, Kaivan malah melemparkan pertanyaan di luar dugaan Zevia.“Hah? Bang Ari udah di sini? Seriusan?” Zevia balik bertanya dengan penuh antusias. Gesturnya tersebut membuat Kaivan kini berpikir sedekat apa hubungan mereka.“Kenapa kamu sebahagia itu mendengar dia pulang?”“Bukan bahagia, Bang. Aku cuma kaget aja," kilah Zevia cepat, matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan menyelidik kakaknya. "Aku cuma kaget. Maksudku, aku, kan, udah lama lost contact sama dia. Terus tiba-tiba Bang Kai bilang dia udah di sini.”Kaivan membuang napas, memandang ke luar sekilas sebelum mengatakan, “Dia memang udah di
Kalimat terakhir Seruni meluncur begitu saja tanpa beban, namun dampaknya bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Zivanya.Kedua mata indah Zivanya melebar, menatap maminya dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri.“Mami udah gila?" tuding Zivanya dengan suara parau karena syok yang teramat sangat.Seruni berdecak. Ia sama sekali tidak terganggu oleh tuduhan putrinya. Ia merapikan sedikit tatanan rambutnya dengan santai, lalu melangkah mendekati jendela kamar, menyibak tirai, memandang keluar dengan senyum misterius. "Mami nggak gila, Ziva. Seperti yang tadi Mami bilang, Mami hanya realistis dan cerdas memanfaatkan peluang," sahut Seruni tanpa menoleh. "Undangan belum dicetak, gedung baru di-DP, dan keluarga besar kita juga belum tahu banyak detailnya. Mengubah nama pengantin perempuan di atas kertas itu perkara gampang. Kita tinggal ganti namamu dengan nama Syabila.”Zivanya sampai melangkah mundur, menatap maminya dengan tatapan horor seolah sedang mel
Kaisar sudah tidur sejak lima belas menit yang lalu. Tadi anak itu benar-benar membuat Zivanya kewalahan menjawab pertanyaan demi pertanyaannya. Sebagai anak cerdas, sulit untuk mengakali Kaisar. Satu jawaban yang diberikan Zivanya akan berujung pada pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Syukurlah ada Kaivan yang membantu.Membaringkan diri di sebelah sang putra, Zivanya menatap wajah Kaisar lekat-lekat. Sampai detik ini ia bisa merasakan kebahagiaan Kaisar karena digendong Ariyan tadi.Zivanya mengusap lembut kening putranya, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Di balik rasa lelah karena harus memutar otak menghadapi kekritisan Kaisar tadi, ada sebongkah rasa haru yang masih tertinggal di dada Zivanya. Ia tahu, malam ini Kaisar tidur dengan bahagia. Bagi Kaisar, kejadian malam ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang tidak akan mungkin ia lupakan.Selama beberapa saat, Zivanya hanya bisa berbaring dengan gelisah. Berkali-kali ia mengganti posisi agar bisa tidu
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







