LOGINZivanya hampir saja tersedak potongan daging yang baru dikunyahnya. Pertanyaan Kaivan yang dibalut senyuman menggoda menohok tepat ke dasar hatinya. Ia tahu Kaivan sedang mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa kaku, atau mungkin—dan ini yang paling ia takuti—pria itu sedang mengujinya dengan cara yang paling halus.Zivanya meletakkan garpunya ke tepi piring. Diambilnya selembar tisu, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan lambat hanya untuk mengulur waktu agar suaranya terdengar sebiasa mungkin saat menjawab."Kamu ini ngomong apa sih, Kai? Nggak lucu bercandanya," jawab Zivanya sambil memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar, bahkan di telinganya sendiri.Kaivan tidak terpengaruh tawa Zivanya. Malah rautnya terlihat sangat serius sekarang. "Aku nggak lagi ngelucu, Ziva. Tiga tahun ini kita sama-sama. Terus tiba-tiba semalam, orang yang pernah bikin kamu nangis berdiri lagi di depan kamu dengan versi yang jauh berbeda. Wajar, kan, kalau aku ingin tahu apa yang ada di dala
“Kenapa Bang Kai ngajak aku ketemuan? Apanya yang penting?”“Kamu tahu Ariyan udah di Indonesia?” tanya Kaivan pada Zevia.Zevia yang bermaksud menyesap kopinya hampir saja tersedak. Ia meletakkan cangkir di atas meja dan menatap Kaivan tidak percaya. Pagi itu, mereka sengaja bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor Kaivan sebelum memulai rutinitas. Namun, alih-alih membahas pekerjaan, Kaivan malah melemparkan pertanyaan di luar dugaan Zevia.“Hah? Bang Ari udah di sini? Seriusan?” Zevia balik bertanya dengan penuh antusias. Gesturnya tersebut membuat Kaivan kini berpikir sedekat apa hubungan mereka.“Kenapa kamu sebahagia itu mendengar dia pulang?”“Bukan bahagia, Bang. Aku cuma kaget aja," kilah Zevia cepat, matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan menyelidik kakaknya. "Aku cuma kaget. Maksudku, aku, kan, udah lama lost contact sama dia. Terus tiba-tiba Bang Kai bilang dia udah di sini.”Kaivan membuang napas, memandang ke luar sekilas sebelum mengatakan, “Dia memang udah di
Kalimat terakhir Seruni meluncur begitu saja tanpa beban, namun dampaknya bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Zivanya.Kedua mata indah Zivanya melebar, menatap maminya dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri.“Mami udah gila?" tuding Zivanya dengan suara parau karena syok yang teramat sangat.Seruni berdecak. Ia sama sekali tidak terganggu oleh tuduhan putrinya. Ia merapikan sedikit tatanan rambutnya dengan santai, lalu melangkah mendekati jendela kamar, menyibak tirai, memandang keluar dengan senyum misterius. "Mami nggak gila, Ziva. Seperti yang tadi Mami bilang, Mami hanya realistis dan cerdas memanfaatkan peluang," sahut Seruni tanpa menoleh. "Undangan belum dicetak, gedung baru di-DP, dan keluarga besar kita juga belum tahu banyak detailnya. Mengubah nama pengantin perempuan di atas kertas itu perkara gampang. Kita tinggal ganti namamu dengan nama Syabila.”Zivanya sampai melangkah mundur, menatap maminya dengan tatapan horor seolah sedang mel
Kaisar sudah tidur sejak lima belas menit yang lalu. Tadi anak itu benar-benar membuat Zivanya kewalahan menjawab pertanyaan demi pertanyaannya. Sebagai anak cerdas, sulit untuk mengakali Kaisar. Satu jawaban yang diberikan Zivanya akan berujung pada pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Syukurlah ada Kaivan yang membantu.Membaringkan diri di sebelah sang putra, Zivanya menatap wajah Kaisar lekat-lekat. Sampai detik ini ia bisa merasakan kebahagiaan Kaisar karena digendong Ariyan tadi.Zivanya mengusap lembut kening putranya, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Di balik rasa lelah karena harus memutar otak menghadapi kekritisan Kaisar tadi, ada sebongkah rasa haru yang masih tertinggal di dada Zivanya. Ia tahu, malam ini Kaisar tidur dengan bahagia. Bagi Kaisar, kejadian malam ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang tidak akan mungkin ia lupakan.Selama beberapa saat, Zivanya hanya bisa berbaring dengan gelisah. Berkali-kali ia mengganti posisi agar bisa tidu
Ariyan yang semula bersimpuh di lantai, kini bangkit berdiri. Ia menggendong Kaisar.Kaisar terkejut saat tubuhnya tiba-tiba terangkat tinggi. Detik berikutnya, luapan kebahagiaan yang luar biasa membanjiri hatinya. Dulu Kaisar selalu minta digendong dan mengemis kasih sayang serta perhatian pada Ariyan. Tetapi Ariyan selalu bersikap dingin padanya."Ibu! Kai digendong Papa!" seru Kaisar dengan begitu girang sambil melambai-lambaikan tangannya pada sang ibu. Rona ceria di wajahnya menyiratkan kalau anak itu benar-benar bahagia.Zivanya tersenyum kaku. Menyadari Kaisar yang sangat bahagia membuatnya tidak kuasa menanggung haru. Air matanya jatuh lagi. Ketika pandangannya bertemu dengan Kaivan yang sejak tadi mengamatinya, Zivanya buru-buru menghapusnya.“Tuh lihat, Pi, dia benar-benar kangen sama papanya,” celetuk Seruni pada Abi. Wanita itu terlihat sangat bahagia menyaksikan cucunya. Ia juga merasa miris di dalam hati. Kenapa setelah Zivanya dilamar Kaivan Ariyan baru kembali?“Ayah!
Semua orang yang berada di ruangan tersebut sama sekali tidak menduga akan kemunculan Kaisar. Terutama Zivanya.Zivanya dengan cepat berdiri kemudian menghampiri Kaisar yang berjarak beberapa langkah darinya. “Kai, ayo ke kamar,” titahnya sambi menggandeng tangan Kaisar, mengajaknya pergi. Tetapi anak itu bertahan tidak ingin bergerak. Kaisar merasa penasaran pada sosok menjulang yang sudah lama tidak dilihatnya. Ia merasa rindu sekaligus takut.“Ibu, itu Papa Ariyan ya?” cicitnya sambil melirik takut-takut pada Ariyan.Mengembuskan napas berat, Zivanya berlutut di lantai menyamakan tinggi dengan sang putra. Menyadari ada kerinduan dan juga ketakutan di wajah Kaisar, Zivanya merasakan dadanya sesak. Ia meletakkan masing-masing tangannya di kedua bahu Kaisar."Kai, coba lihat Ibu. Lihat Ibu aja, Sayang. Jangan lihat yang lain.” Zivanya sengaja sedikit menggeser posisi dan menegakkan tubuhnya, menghalangi pandangan Kaisar dari sosok menjulang Ariyan yang masih terpaku di dekat sofa. Ia
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







