LOGINDari pantulan cermin rias, Velian membuka suara.
“Besok ada jamuan. Kenapa tidak kamu saja yang hadir? Sekarang kita sudah bisa bertukar peran.” Suaranya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Namun jika ditarik beberapa langkah dari pantulan itu, kenyataan yang berbeda terlihat.Eira Shawn berdiri di sana, menyisir rambut gelombangnya yang indah dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tenang, seolah tak ada gejolak apa pun—berbanding terbalik dengan apa"Kamu kembalilah. Aku perlu memikirkan semuanya di sini ... sendirian."Velian memberi Eira kesempatan untuk kembali bersama keluarganya. Sementara itu, ia memilih tetap berada di ruang kesadaran demi menenangkan pikirannya yang sejak tadi tak berhenti dipenuhi berbagai kemungkinan."Kau akan baik-baik saja di sini?" tanya Eira pelan.Ia sebenarnya tak keberatan kembali mengendalikan tubuhnya. Namun, meninggalkan Velian sendirian tetap membuatnya khawatir.Velian mengangguk tipis. "Aku akan baik-baik saja."Sayangnya, justru Eira yang tidak tahu harus melakukan apa setelah membuka mata nanti.Kemunculan Lucien di ruang kesadaran beberapa saat lalu semakin menguatkan dugaan mereka. Alasan Velian datang ke Morwenia bukan semata-mata untuk menyelamatkan nyawa Eira. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di balik semua kejadian ini."Baiklah." Eira mengembuskan napas pelan. "Aku akan kembali secepat mungkin. Kalau kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku dari sini."Velian han
Retakan cahaya itu perlahan semakin melebar. Langit ruang kesadaran yang selama ini selalu tenang perlahan terbelah oleh garis-garis keemasan. Cahaya lembut mengalir dari celah tersebut, bukan menyilaukan, melainkan memberi kesan damai yang aneh. Sesosok pria muncul di bawah kilau keemasan, melangkah mendekati Velian dan Eira. Velian spontan berdiri, melangkah satu langkah ke depan, tanpa sadar menempatkan tubuhnya di depan Eira. Untuk pertama kalinya sejak berada di ruang kesadaran, ekspresi keduanya dipenuhi rasa heran. Suara langkah kaki terdengar. Semakin dekat, semakin jelas. Setelah bayangan sosok itu semakin jelas, Velian membelalak lebih dulu. Jubah putih berlapis benang emas menjuntai hingga mata kaki. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau diterpa cahaya, sementara sepasang mata cokelatnya memandang lurus ke arah dua jiwa di hadapannya. Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya bergantian memandang Eira dan Velian. Kemudian, ia tersenyum
Keheningan menyelimuti ruang pengobatan. Hanya bunyi alat pemeriksaan tabib yang sesekali berdenting pelan, 0 dengan embusan napas Eira yang mulai terdengar lebih teratur.Tak seorang pun berani membuka suara. Rhys berdiri di sisi ranjang. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Eira yang masih pucat. Jemarinya menggenggam tangan wanita itu perlahan, seolah berharap kehangatan yang ia miliki dapat tersampaikan."Eira..." Suara itu nyaris tak terdengar.Dylen menurunkan kedua tangannya setelah selesai memeriksa aliran energi di dalam tubuh Eira. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keraguan.Ada terlalu banyak kemungkinan yang saling bertabrakan di dalam benaknya.Rhys menoleh. Kau menemukan sesuatu." Bukan pertanyaan. Melainkan sebuah kepastian.Dylen mengangguk pelan. "Saya menemukan sesuatu... tetapi saya belum berani menarik kesimpulan." "Jelaskan."Dylen mengembuskan napas panjang. "Selama bertahun-tahun saya mempelajari Kristal Marindor, inti magis, serta catatan kuno peni
Suara langkah kaki tergesa menggema di sepanjang koridor Akademi Marindor.Seorang pengawal mansion berlari tanpa sempat mengatur napas. Rambutnya berantakan, peluh membasahi pelipis. Begitu melihat Rhys masih berada di aula bersama Dylen dan Garrick, ia langsung berlutut."Tuan Duke!"Rhys menoleh cepat. "Ada apa?""Nona Eira ... pingsan."Jantung Rhys seolah berhenti berdetak. "Apa?""Nona Eira tiba-tiba ambruk di depan kamarnya. Dame Raven memerintahkan saya segera memberi tahu Tuan."Wajah Rhys memucat. "Bagaimana keadaannya sekarang?""Sedang dibawa menuju tabib."Rhys belum sempat bernapas lega ketika pengawal itu melanjutkan dengan suara bergetar. "Dan ... Tuan Putri Alverine..."Tatapan Dylen langsung berubah tajam. "Alverine kenapa?""Tuan Putri terus menangis, berkata bahwa tidak sengaja membuat Nona Eira terluka."Ruangan mendadak sunyi. Rhys dan Dylen saling berpandangan.Tanpa mengatakan apa pun, Rhys segera melangkah lebar menuju pintu keluar. Garrick menyusul di belakan
Dame Raven memutuskan berjalan-jalan sebentar mengelilingi taman mansion. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan harum bunga-bunga yang bermekaran membuat suasana terasa menenangkan.Langkahnya terhenti di dekat kubah kaca.Di sana, Leona tengah menyiram deretan bunga bersama seorang pekebun yang bertugas merawat taman mansion. Tempat itu begitu familier bagi Raven. Dahulu hingga kini, Eira kerap menghabiskan waktu berjam-jam duduk di dalam kubah kaca, melamun dengan tatapan kosong yang menyiratkan kesedihan.Kenangan itu masih terasa menusuk.Raven hanya menyaksikan perubahan Eira yang kini jauh lebih ceria, tanpa pernah mengetahui bahwa jiwa yang menghuni tubuh itu sebenarnya adalah Velian.Ia pun menghampiri Leona."Mengapa tidak beristirahat saja?"Leona sedikit terkejut mendengar suara dari belakang. Ia segera meletakkan penyiram tanaman berwarna cokelat muda di bangku taman."Aku bosan hanya diam di kamar. Kebetulan pekebun sedang menyiram bunga, jadi aku menawarkan diri untuk mem
Chapter 95: Keseimbangan yang Terganggu, adalah pembuka konflik novel ini. Baru konflik? IYA!😭 Aku mau cepat-cepat menamatkan cerita ini karena ada project di W* dan GN, lebih DAR DER DOR🤪 Doain ya semuanyaaaaa sayang kalian banyak-banyak. Salam hangat, Calon Selir Rhys yang Keempat
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







