LOGINJiwa seorang penulis novel "Duke of Morwenia", Velian Ardyn, tiba-tiba terbangun di tubuh Eira Shawn, selir ketiga yang lemah dan pendiam di istana Duke of Morwenia—karakter yang ia ciptakan sendiri! Velian, yang terbiasa mengendalikan tokoh-tokoh dari meja kerja, kini harus menghadapi kenyataan pahit sebagai salah satu dari mereka. Demi bertahan hidup, ia berusaha mengubah takdir tragis Eira Shawn. Namun, setiap pergerakannya justru menciptakan alur baru yang tak pernah ia bayangkan. Mampukah ia selamat dari akhir tragis dan menulis ulang kisahnya sendiri? Atau ia akan terjebak selamanya dalam alur baru sang selir ketiga?
View MoreSebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka, Morwenia tumbuh menjadi negeri makmur, aman, dan damai.
Sebuah mahakarya arsitektur yang tak tertandingi menjulang di jantung ibu kota. Menara-menara tinggi berujung kerucut dan kubah runcing berdiri gagah, sementara sebuah menara jam besar menjadi pusat perhatian. Fasadnya dipenuhi jendela-jendela lengkung dengan cahaya lampu yang berpendar hangat dari dalam. Balkon-balkon berukir menghiasi dinding berwarna krem, dipadukan dengan atap biru keabu-abuan yang berkilau diterpa cahaya senja. Tangga marmer yang lebar mengarah ke pintu utama, diterangi cahaya emas yang mengundang setiap mata menoleh kagum. Di halaman depan, taman istana terhampar rapi: topiary berbagai bentuk, bunga-bunga merah menyala, dan jalur setapak simetris yang diapit lampu-lampu taman bercahaya lembut. Sebuah kolam tenang di tepi jalur memantulkan siluet kastil. Namun, di balik keindahan itu tersimpan kekuatan yang menjaga kedamaian negeri. Pedang istana bermata biru berkilau adalah simbol keadilan sekaligus hukuman. Pemegangnya bukanlah sembarang orang, melainkan sosok yang menjadi tangan kanan sang raja. Duke of Morwenia, Rhys Vance, bangsawan dari keluarga Vance yang masih berkerabat dengan Raja Aethelred IV. Nama Rhys Vance menggema di seantero negeri. Wajahnya dikenal semua orang; wibawanya membuat rakyat segan dan musuh gentar. Dengan pedang itu, ia mampu menebas pengkhianat di mana pun, kapan pun. Setiap eksekusinya diselesaikan tanpa cela, sering kali diiringi ajudan setia dan pasukan khusus istana yang memastikan tak ada sisa pemberontakan. Bagi rakyat, ia adalah pedang istana—tajam, pasti, dan tak mengenal ampun. Di atas sebuah bukit, berdiri sebuah mansion megah yang tak kalah luas dan anggun dibandingkan istana Morwenia. Segala tata letaknya—dari bangunan utama, halaman depan, hingga kolam bias—disusun dengan simetri sempurna, memancarkan kesan agung dan terstruktur. Halaman depannya terbentang luas, dihiasi air mancur bertingkat di pusatnya, dikelilingi kolam-kolam hias yang memantulkan cahaya bintang. Deretan topiary yang dipangkas rapi menjaga sudut-sudut halaman tetap indah, sementara lampu sorot berwarna keemasan. Dari ketinggian, pemandangan kota dengan cahaya berkelap-kelip terlihat di kejauhan. Mansion itu adalah kediaman Rhys Vance, bangsawan terkemuka sekaligus Duke of Morwenia. Namun, ia tidak tinggal seorang diri. Di kediaman sebesar itu, tiga selir menempati sayap-sayap mansion, masing-masing membawa warna tersendiri bagi kehidupan Rhys. ● Raven Sinclair, selir pertama—dikenal galak dan berwibawa, namun di balik ketegasannya tersimpan hati yang lembut. Dialah yang dipercaya Ratu Isolde VI untuk mengasuh putri kecil Rhys. ● Leona Hart, selir kedua—seorang wanita cantik yang tengah mengandung. Pesonanya tak diragukan, meski sifatnya yang mudah terbakar emosi sering memicu keributan di dalam mansion. ● Eira Shawn, selir ketiga—gadis muda berusia dua puluh satu tahun dengan paras manis dan tutur kata lembut. Kehadirannya membawa nuansa segar dan keanggunan di tengah hiruk-pikuk rumah tangga bangsawan. Selain mereka, ada sosok yang paling mencuri perhatian: Alverine Vance, putri semata wayang Rhys dari istri sah yang telah tiada karena penyakit langka. Gadis kecil itu tumbuh lincah, kerap meramaikan suasana mansion dengan tingkah jahilnya—terutama pada Leona Hart. Meski masih lima tahun, Alverine telah menjadi cahaya menyejukkan di rumah besar itu, dirawat sepenuh hati oleh Raven Sinclair sesuai amanat langsung dari sang ratu. >•< Dari balik meja kerja, seorang perempuan muda duduk dengan santai—satu kakinya naik ke kursi. Matanya terpaku pada monitor komputer, membaca ulang narasi pembuka novel kesayangannya yang kini telah menjelma menjadi best-seller di kalangan anak muda. Sengaja lampu kamar dipadamkan; hanya cahaya layar yang menerangi, menciptakan ruang hening tempat imajinasi berkuasa. “Udah berkali-kali gue baca novel ini ... anehnya nggak pernah bosan,” gumam Velian Ardyn, sang penulis fenomenal “Duke of Morwenia”. Dialah dalang di balik segala pergerakan para tokoh: tangan yang menulis, jemari yang menetapkan takdir, dan imajinasi yang menghidupkan mereka. Setiap ketukan tombol keyboard seakan menjadi garis nasib yang mengikat kehidupan karakter-karakter ciptaannya. Velian meraih sebuah toples camilan di samping monitor—wafer cokelat dan keju favoritnya. Senyum tipis terbit di wajahnya ketika matanya kembali jatuh pada nama tokoh kesayangannya: Rhys Vance. Bagi Velian, Rhys bukan sekadar karakter dalam cerita. Ia adalah sosok yang Velian agungkan, tokoh yang membuatnya rela begadang semalaman hanya demi merampungkan satu bab. Setiap kata yang tertulis, seakan menjadi napas kehidupan bagi sang Duke of Morwenia. Keputusan paling berat yang pernah ia ambil, namun tak pernah sekali pun ia sesali adalah meninggalkan pekerjaan lamanya di sebuah kantor penuh racun. Dari titik itulah ia memilih jalan berbeda, jalan yang membawahnya duduk di hadapan layar ini, hidup bersama kata-kata dan tokoh-tokoh ciptaannya. Mulut Velian sibuk mengunyah wafer, sementara tangannya terus menggulir layar ke bawah. Matanya terpaku, menelan tiap kalimat yang sudah membuat banyak orang jatuh dalam pesona Rhys yang tak terbantahkan. “Fix, kalau Rhys beneran ada di dunia nyata, gue rela jadi selir keempat, kelima, keenam, bahkan kesepuluh pun gue jabanin deh,” celetuknya sambil terkekeh sendiri. Di dinding kamarnya, sebuah poster resmi berukuran besar terpampang gagah: sosok Rhys Vance dalam balutan pakaian resmi kerajaan, sang Pedang Istana yang tampak perkasa dan berwibawa. Setiap hari poster itu selalu berhasil memikatnya, seolah Rhys benar-benar hidup menatap balik dari kertas tebal itu. Velian cepat-cepat menggeleng, mencoba mengusir imajinasi yang sudah kelewat jauh. “Tapi ... kenapa masih ada aja yang ngehujat Rhys?” gumamnya pelan. “Apa karena dia punya tiga selir? Karena terlalu ganteng? Atau karena dia udah ngebunuh banyak orang?” “Jujur aja deh, Rhys itu eksekusi orang karena memang pantas. Bukan asal tebas. Rata-rata yang mati juga koruptor sama pengkhianat...” Velian menjentikkan jarinya, seolah baru menemukan kunci jawaban. Perempuan berambut yang dikuncir asal, dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya, tersenyum miring. “Mereka ngehujat karena Rhys nggak punya kekurangan sama sekali.” Tawanya pecah, lepas, hingga tangannya tanpa sadar ikut bertepuk gembira. Ada rasa lega yang aneh, seolah ia baru memenangkan kuis dengan pikirannya sendiri. “Terima kasih, Tuan Rhys,” bisiknya sambil menatap layar penuh rasa puas. “Berkat Anda, saya dapat cuan banyak.” Perhatian Velian teralihkan ketika ponselnya berbunyi sebuah notifikasi, mengabarkan fenomena bintang jatuh yang akan menghiasi langit malam ini. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menuju balkon apartemen, meninggalkan layar komputer yang masih menyala. Di monitor, terbuka adegan percakapan antara Rhys dan Eira. “Mulai sekarang, kamu dilarang ke luar mansion. Kondisimu terlalu sering memburuk,” ucap Rhys tegas, tanpa ragu sedikit pun. “Aku hanya pergi ke luar untuk belajar di akademi pengetahuan—“ Belum sempat Eira menyelesaikan kalimatnya, Rhys sudah memotong cepat, “Jika itu maumu, silakan pergi dan jangan pernah kembali.” Di belakangnya ajudan setia Rhys, Garrick Veynar, memberi kode halus. Sebuah gelengan tipis, peringatan agar Eira tak lagi membantah bila tak ingin semakin dikekang. Tiba-tiba, layar komputer Velian berkedip. Garis-garis acak muncul seakan sistem eror, lalu teks di halaman bergerak sendiri ke bawah dengan kecepatan tak wajar. Sementara itu, di balkon, Velian sudah menyiapkan kamera ponselnya. Langit malam berkilau, lalu tiga bintang jatuh melesat bersamaan, membelah kegelapan. Ia mendecak kagum, mulutnya terbuka tanpa sadar. Dalam diam, ia berdoa lirih, “Gue nggak minta lebih ... cukup biar hidup ini terus berwarna, sampai gue lupa caranya bersedih.” Beberapa menit kemudian, Velian kembali ke kamar. Ia menjatuhkan diri ke kasur, ponsel dengan foto jepretan bintang jatuh masih terpampang. Kantuk segera menyeretnya, matanya perlahan terpejam. Tanpa ia sadari, layar komputer di meja kerja berganti sendiri, melompat hingga ke halaman ratusan. Di sana, terbaca baris monolog Rhys: “Di mana pun kamu berada, saya tetap mencintaimu.”Alverine berlari kecil menghampiri mereka sambil mengangkat mahkota bunga yang baru selesai dirangkainya."Papa! Dame! Lihat!"Mahkota kecil dari bunga moryn itu seketika memecah keheningan yang sempat menyelimuti taman.Raven tersenyum hangat. "Cantik sekali."Ia mengambil mahkota itu, lalu menyematkannya perlahan di atas kepala Alverine. "Pas sekali untuk putri kecil kita."Alverine terkikik senang."Alverine." Rhys mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pulang."Alverine segera menggenggam tangan ayahnya, meski wajahnya sedikit mengerucut."Cepat sekali kita pulang." Ia mendongak kepada Raven. "Padahal sekarang kita sudah jarang main ke istana. Benar, kan, Dame?"Raven mengangguk kecil. "Benar."Alverine lalu meraih tangan Raven yang lain sehingga ia berjalan di tengah-tengah kedua orang dewasa itu."Di mana Mami Eira dan Tuan Garrick?""Mereka sudah menunggu di mobil," jawab Raven lembut.Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak menuju halaman depan istana.Sepanjang perjalanan,
"Mungkin..."Velian mengembuskan napas panjang. "...memang sudah sebaiknya kita menjalani kehidupan di Morwenia sebagaimana adanya." Tatapannya kosong menembus pantulan cermin. "Semakin lama, aku semakin kehilangan harapan untuk kembali ke duniaku."Eira menggeleng pelan. "Lalu bagaimana dengan nasib kita?" Tatapannya tak beralih dari Velian. "Kedatanganmu ke dunia ini bukan sebuah kebetulan." Napasnya terasa berat. "Aku bisa menerima jika kehadiranmu ternyata tidak mampu mencegah kematianku." Ia berhenti sejenak."Tapi... jangan biarkan aku mati dengan cara yang sama." Suara Eira mulai bergetar. "Kehidupan pertamaku di Morwenia sudah berakhir. Kalau pada akhirnya aku harus mengalami kematian yang sama, untuk apa aku dihidupkan kembali?"Tak ada satu pun jawaban yang mampu ia berikan. Penulis itu benar-benar kehilangan arah atas cerita yang pernah ia ciptakan. Keheningan menggantung cukup lama.Eira akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar kecil. Ia membuka
Putra Mahkota Lucien meminta izin meninggalkan ruang perundingan sejenak melalui pintu samping.Di luar ruangan, seorang pengawal segera memberi hormat."Bawakan beberapa mainan anak-anak... dan es krim rasa stroberi.""Siap, Yang Mulia."Tanpa bertanya lebih jauh, pengawal itu segera berlalu.Tak sampai beberapa menit kemudian, ia kembali bersama sebuah kotak berisi balok susun kayu berukuran kecil dan semangkuk es krim stroberi.Mainan itu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Alverine.Mata gadis kecil itu langsung berbinar. "Wah..."Tanpa diminta, Dame Raven membantu membuka kotak mainan, sementara Dylen duduk di sisi satunya, sesekali membantu Alverine menyusun balok-balok kecil menjadi sebuah gedung tinggi sesuai contoh pada buku panduan.Di sela-sela permainan, Raven menyuapkan sesendok es krim stroberi setiap kali Alverine membuka mulut kecilnya sambil tetap asyik bermain.Suasana ruang perundingan yang semula tegang perlahan berubah jauh lebih hangat.Lucien memperhatikan
Jemari Rhys mengetuk pelan permukaan meja kayu. Berulang. Tanpa irama. Sudah beberapa kali ia mencoba menghentikan kebiasaan itu, tetapi pikirannya jauh lebih gaduh daripada yang terlihat di wajahnya. Baru beberapa menit ia meninggalkan Eira berbicara berdua dengan Putra Mahkota Lucien. Namun, kecemasannya tumbuh jauh lebih cepat daripada waktu yang berlalu. Bukan karena ia mencurigai Eira. Dan bukan pula karena ia meragukan Lucien. Yang membuatnya gelisah adalah isi percakapan mereka. Ada terlalu banyak hal yang tidak diketahui Rhys. Garrick, yang berdiri di belakangnya, memperhatikan jemari Duke itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengenal kebiasaan Rhys. Semakin cepat ketukan jemarinya, semakin sulit pria itu mengendalikan pikirannya. Tinggal menunggu waktu. Entah Rhys akan memintanya menjemput Eira... atau memilih pergi sendiri. Benar saja. Rhys tiba-tiba berdiri. "Saya permisi." Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, ia melangkah ke luar dari ruang perundinga
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews