LOGINPundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.”
Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu pingsan di luar rumah tanpa siapa pun, bagaimana?” Rhys seperti mengomel. Velian meremas gaunnya perlahan. “Benar juga, ya...” gumamnya lirih. Rhys memberi batasan yang jelas. “Pilihannya hanya dua: pergi dengan saya atau Garrick. Jika tidak, tetaplah di rumah.” Velian menunduk kecil, mengangguk paham. Begitu Rhys menutup pintu dan langkahnya menjauh, Velian cepat-cepat melompat ke depan pintu. Ia mengintip lewat celah, memastikan tak ada orang di luar. Setelah yakin aman, ia menutup pintu rapat-rapat lalu bersorak kegirangan. Tubuhnya berjoget kecil, tangan terangkat ke atas merayakan kemenangan. “Yes! Berhasil nego sama Rhys. Berarti gue terlalu kejam ya sama Eira karena dulu nulis dia dikurung di mansion segede ini. Nyatanya, bisa kok dinego.” Matanya berbinar, senyum merekah. Ia menepuk pipinya sendiri, masih mabuk kagum. “Astaga ... tampang Rhys ternyata jauh lebih ganteng dari ilustrasi yang gue bikin. Tinggi, badan, mata ... sempurna banget!” Velian menjerit kecil sambil memeluk bantal, lalu terdiam sebentar, menimbang gaun akan dipakai nanti malam. “By the way, si Leona agak nyebelin juga. Ngapain sih pakai gaun terbuka segitunya padahal masih sore? Genit banget.” Velian cemberut sambil menggerutu menilai tokoh buatannya sendiri. “Bodo amat deh. Yang penting alurnya masih sama.” Di balik keriangannya, pikiran Velian kembali pada pemilik asli tubuh ini. Velian menatap kosong ke cermin, lalu bergumam lirih, “Eira Shawn ... aku janji satu hal. Bukan kematian tragis yang menanti kamu, tapi kematian yang penuh penghormatan.” Usai mandi mewah sambil berendam dalam kolam air hangat, Velian kembali berdiri di depan cermin. Ia harus sudah tiba di gedung utama sebelum pelayan datang mengantarkan makan malam. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Ia ingin berkeliling bebas di negeri Morwenia. Di gedung utama, suasana perjamuan telah sibuk. Para pelayan mondar-mandir, menghidangkan hidangan dari pembuka hingga penutup, sementara peralatan makan ditata seteliti mungkin. Begitu Rhys hadir, semua pelayan serentak mundur dari meja makan dan kembali ke dapur. Kini, hanya tersisa sang tuan rumah yang menunggu tiga selirnya. Rhys tampil dengan kewibawaan penuh. Tubuh tegapnya dibalut setelan jas hitam yang rapi, dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu hitam yang mempertegas garis rahangnya. Jas hitam itu dipadukan dengan sabuk berornamen rantai emas yang melilit pinggang. Namun yang paling mencuri perhatian adalah mantel panjang berwarna merah marun dengan lapisan dalam hitam yang menjuntai megah hingga menyapu lantai. Mantel itu terpasang di bahunya, dihiasi bros lambang kerajaan dan hiasan rantai emas yang terhubung dari dada ke bahu. Setiap langkah Rhys terdengar mantap, sepatu kulit hitamnya memantulkan cahaya lilin di ruangan megah itu. Kehadirannya bagaikan pusat gravitasi, membuat siapa saja yang melihatnya tak mampu mengalihkan pandangan. Di depan pembatas antara aula dan ruang makan, Garrick Veynar berdiri tegak menjaga. Perlahan, satu per satu para selir mulai datang. Leona Hart menjadi yang pertama tiba. Leona melangkah anggun menuju tempat duduknya. Gaun berwarna abu-abu yang peraknya berkilau halus, memancarkan aura elegan yang dingin namun memikat. Potongan bagian atasnya berbentuk sweetheart neck, menonjolkan lekuk dada dengan detail payet perak yang bertaburan, menyerupai aliran cahaya bintang yang jatuh menuruni tubuhnya. Pinggangnya dipertegas dalam kilau ornamen, sementara rok pendek di bagian dalam menampilkan kaki jenjangnya yang terbalut sepasang heels berkilau. Dari pinggang, lapisan tulle panjang jatuh menjuntai ke lantai, membentuk siluet dramatis bagai sayap kabut yang mengikuti setiap langkahnya. “Selamat malam, Rhys.” Leona menyapa dengan anggun, satu tangan bertumpu di dada, tubuhnya sedikit menunduk memberi hormat. Rhys mengangguk singkat. “Selamat malam.” Tak lama kemudian, muncullah Raven Sinclair. Langkah anggunnya diiringi sosok kecil yang ia gandeng erat. Alverine atau lebih akrab dipanggil Alvie, menatap sekeliling mencari sesuatu, sementara Raven tetap tenang menjaga wibawa. Garrick segera membungkuk dalam-dalam, memberi penghormatan penuh kepada selir pertama sekaligus anak kandung Rhys yang hadir bersamanya. Balutan kain yang dikenakan Raven bergradasi merah marun di bagian atas hingga melembut menjadi merah muda pucat di bawah. Potongan dada berbentuk hati tanpa tali menonjolkan lekuk femininnya, sementara lengan balon tipis dari tulle pink memberi kesan lembut, menutupi pesona tajam yang dimilikinya. Sepasang sepatu hak tinggi berwarna pink pastel menyempurnakan tampilannya, membuat Raven tampak seperti bunga mewah yang sedang mekar di tengah ruangan. Alverine Vance memiliki rambut pirang panjang bergelombang yang terurai bebas, dihiasi pita besar berwarna pink muda dengan hiasan kecil berbentuk pita biru. Matanya biru jernih berkilauan. Tangannya memeluk erat boneka kelinci putih dengan pita merah muda di lehernya, menjadi teman kesayangan yang selalu menemani. Memakai gaun bernuansa pink pastel dengan bordir bunga emas di bagian rok, serta lapisan luar dari kain tipis transparan yang berkilau. Bagian atas gaun berhias brokat keemasan dengan potongan elegan, ditambah lengan panjang yang ditutupi kain transparan. Ujung rok dilapisi renda halus, mempertegas kemewahannya. Tersedia dua kursi di sisi kanan untuk Rhys dan Alverine, serta tiga kursi di sisi kiri untuk Raven, Leona, dan Eira. “Selamat malam, Papa!” sapa Alverine dengan ceria ketika Rhys mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk di kursi. Rhys tersenyum tipis. Mengusap lembut kepala putrinya. “Malam, Tuan Putri.” Raven baru sempat menyapanya setelah duduk. “Malam, Rhys.” Rhys menoleh singkat. “Ya, selamat malam.” Tatapan Raven bergeser ke kursi kosong. “Eira belum datang?” tanyanya tenang meski tak menatap siapa pun. “Eira harus beristirahat. Makan malamnya akan diantar ke kamar,” jelas Rhys. Raven menarik napas berat. “Beberapa hari ini Eira sering pingsan. Aku khawatir dengan kondisinya.” Leona menimpali datar, “Tidak banyak yang bisa kita lakukan. Eira memang memiliki kelainan jantung sejak lahir, dan donor jantung sulit didapat.” Alverine pun menoleh pada Rhys dengan wajah polos. “Apa itu artinya Nona Eira akan pergi, Papa?” Rhys menggeleng lembut. “Tanpa seizin Papa, Nona Eira tidak akan pergi ke mana pun.” Alverine sempat tersenyum sumringah, namun mendadak murung lagi. “Aku ingin melihat Nona Eira setelah makan malam. Papa akan ikut denganku, kan?” Rhys mengangguk mantap. “Tentu saja. Sekarang kita makan dulu.” Mereka pun mulai menyantap hidangan. Namun di tempat lain, suasana berbeda tengah terjadi. Velian baru saja ke luar dari kamar menuju gedung utama. Di koridor panjang, ia tak sengaja berpapasan dengan Garrick yang kebetulan melewati jalur yang sama. Panik, Velian buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berharap tak dikenali. Namun Garrick segera menghadang, tubuhnya tegak bagai tembok. “Rhys sudah memerintahkanmu tetap di kamar. Makan malammu akan dibawa ke sana. Jadi, kenapa kau di luar?” Velian menggigit bibir, lalu mencoba beralasan. “Aku bosan di kamar.” Garrick menghela napas panjang. “Kembalilah sebelum Rhys mengira kau mencoba kabur lagi.” Seketika Velian menunjuk panik ke arah belakang Garrick. “Tuan Rhys!!” serunya melengking. Refleks, Garrick menoleh. Kosong. Saat sadar ia telah diperdaya, Eira sudah berlari kencang tanpa alas kaki, menenteng sepasang heels di tangan. “Eira! Jangan berlari!” suara Garrick menggema, cemas. Ia tahu betul, berlari dalam kondisi Eira bisa sangat berbahaya. Namun Velian justru tertawa kecil, merasakan kebebasan berlarian di sepanjang koridor megah berhias ukiran emas, lalu menuruni tangga ke lantai dasar. Tabib tua yang baru datang hampir terjatuh karena terkejut melihatnya. “Nona Eira! Jangan berlari, Nona...!” serunya dengan suara parau, mencoba mengejar namun jelas tak mampu. Langkah Garrick dipercepat. Begitu jarak cukup dekat, ia berhasil menangkap tangan Eira. “Berhenti! Kau tidak boleh berlari lagi.” Napasnya terengah, menahan emosi sekaligus kekhawatiran. Velian terperangah, lalu tersenyum tipis. “Mengapa? Berlarian di mansion sebesar ini membuatku bahagia.” Tanpa sadar, tutur katanya berubah, menyesuaikan bahasa baku istana. “Kau bisa mati!” hardik Garrick, matanya menajam. “Lihat sekelilingmu—di mana kau berada dan siapa saja yang menyaksikanmu sekarang.” Tangan Eira dilepas perlahan. Velian menoleh, senyumnya langsung luntur. Di teras utama berdiri Rhys, menatapnya tajam bagaikan pedang terhunus. Di sisinya, Raven tampak cemas, Leona menyunggingkan senyum sinis, dan Alverine melambaikan tangan ceria ke arahnya."Mungkin..."Velian mengembuskan napas panjang. "...memang sudah sebaiknya kita menjalani kehidupan di Morwenia sebagaimana adanya." Tatapannya kosong menembus pantulan cermin. "Semakin lama, aku semakin kehilangan harapan untuk kembali ke duniaku."Eira menggeleng pelan. "Lalu bagaimana dengan nasib kita?" Tatapannya tak beralih dari Velian. "Kedatanganmu ke dunia ini bukan sebuah kebetulan." Napasnya terasa berat. "Aku bisa menerima jika kehadiranmu ternyata tidak mampu mencegah kematianku." Ia berhenti sejenak."Tapi... jangan biarkan aku mati dengan cara yang sama." Suara Eira mulai bergetar. "Kehidupan pertamaku di Morwenia sudah berakhir. Kalau pada akhirnya aku harus mengalami kematian yang sama, untuk apa aku dihidupkan kembali?"Tak ada satu pun jawaban yang mampu ia berikan. Penulis itu benar-benar kehilangan arah atas cerita yang pernah ia ciptakan. Keheningan menggantung cukup lama.Eira akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar kecil. Ia membuka
Putra Mahkota Lucien meminta izin meninggalkan ruang perundingan sejenak melalui pintu samping.Di luar ruangan, seorang pengawal segera memberi hormat."Bawakan beberapa mainan anak-anak... dan es krim rasa stroberi.""Siap, Yang Mulia."Tanpa bertanya lebih jauh, pengawal itu segera berlalu.Tak sampai beberapa menit kemudian, ia kembali bersama sebuah kotak berisi balok susun kayu berukuran kecil dan semangkuk es krim stroberi.Mainan itu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Alverine.Mata gadis kecil itu langsung berbinar. "Wah..."Tanpa diminta, Dame Raven membantu membuka kotak mainan, sementara Dylen duduk di sisi satunya, sesekali membantu Alverine menyusun balok-balok kecil menjadi sebuah gedung tinggi sesuai contoh pada buku panduan.Di sela-sela permainan, Raven menyuapkan sesendok es krim stroberi setiap kali Alverine membuka mulut kecilnya sambil tetap asyik bermain.Suasana ruang perundingan yang semula tegang perlahan berubah jauh lebih hangat.Lucien memperhatikan
Jemari Rhys mengetuk pelan permukaan meja kayu. Berulang. Tanpa irama. Sudah beberapa kali ia mencoba menghentikan kebiasaan itu, tetapi pikirannya jauh lebih gaduh daripada yang terlihat di wajahnya. Baru beberapa menit ia meninggalkan Eira berbicara berdua dengan Putra Mahkota Lucien. Namun, kecemasannya tumbuh jauh lebih cepat daripada waktu yang berlalu. Bukan karena ia mencurigai Eira. Dan bukan pula karena ia meragukan Lucien. Yang membuatnya gelisah adalah isi percakapan mereka. Ada terlalu banyak hal yang tidak diketahui Rhys. Garrick, yang berdiri di belakangnya, memperhatikan jemari Duke itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengenal kebiasaan Rhys. Semakin cepat ketukan jemarinya, semakin sulit pria itu mengendalikan pikirannya. Tinggal menunggu waktu. Entah Rhys akan memintanya menjemput Eira... atau memilih pergi sendiri. Benar saja. Rhys tiba-tiba berdiri. "Saya permisi." Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, ia melangkah ke luar dari ruang perundinga
"Kalau begitu," ujar Raja Aethelred IV sambil bangkit dari singgasananya, "selagi menunggu Alverine tiba, mari kita lanjutkan pembicaraan di ruang perundingan."Tak lama kemudian, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota berdiri hampir bersamaan. Para pengawal segera membuka pintu menuju ruang perundingan, sementara para pelayan bersiap mengiringi langkah keluarga kerajaan.Rhys hendak mengikuti mereka. Namun, jemarinya tiba-tiba disentuh pelan.Ia menoleh. Eira menggenggam lengan jasnya dengan lembut. Tatapannya kemudian beralih kepada Raja."Yang Mulia..."Raja menghentikan langkahnya dan menoleh."Sebelum kita menuju ruang perundingan..." Eira menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk hormat. "Izinkan saya berbicara sebentar dengan Yang Mulia Putra Mahkota."Rhys menatap Eira dengan heran. Ia tidak menyangka Eira akan meminta hal itu secara langsung. Lucien sendiri tetap tenang, seolah telah menduga permintaan tersebut.Raja Aethelred mengamati wajah Eira beberapa saat sebelum akhirnya mengan
Ratu Isolde VI memandang Rhys dengan sorot mata penuh perhatian. "Bagaimana keadaan Alverine sekarang, Rhys?""Syukurlah, kami semua dalam keadaan baik, Yang Mulia. Tidak ada korban maupun luka serius."Ratu mengembuskan napas lega. "Itu kabar yang menenangkan."Raja Aethelred IV menyandarkan punggungnya pada singgasana. "Namun kejadian semalam tetap tidak bisa dianggap sepele." Tatapannya bergantian mengarah kepada Rhys, Eira, lalu Dylen. "Sudah berabad-abad Morwenia tidak menyaksikan kebangkitan inti magis pada usia sedini itu."Ia berhenti sejenak. "Terlebih lagi ... energi yang bangkit adalah energi keemasan."Keheningan memenuhi ruang audiensi. Tak seorang pun menyela.Raja melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Orang-orang yang berada di ruangan ini bukan orang biasa." Pandangan beliau beralih kepada Rhys dan Garrick. "Kalian berdua adalah pedang Kerajaan Morwenia."Kemudian kepada Dylen. "Sedangkan kau mewakili Akademi Marindor."Terakhir, tatapannya berhenti pada Eira. "D
Alverine berdiri di depan cermin kamarnya.Dengan wajah penuh konsentrasi, ia memperagakan kembali setiap gerakan yang pernah diajarkan Serina. Kedua telapak tangannya terangkat perlahan, lalu bergerak mengikuti alur yang masih ia ingat.Tak lama kemudian, cahaya keemasan perlahan muncul dari telapak tangannya.Energi itu mengalir lembut, berputar membentuk pusaran kecil yang memantulkan kilau hangat di permukaan cermin."Alvie?"Suara lembut dari balik pintu membuat Alverine tersentak.Refleks, ia segera menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. Cahaya keemasan itu pun menghilang seketika.Saat menoleh, ia mendapati Dame Raven tengah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan senyum tipis."Ma ... maaf, Dame." Suara Alverine terdengar gugup. "A-aku hanya ... ingin mencoba lagi."Raven menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu kau minta maaf."Ia melangkah menghampiri Alverine, lalu menggenggam lembut tangan mungil gadis itu dan mengajaknya duduk di tepi kasur. Tatapannya
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







