Masuk
“Tolong pelan, Tuan….”
Pekikan itu terdengar lirih di dalam kamar hotel mewah yang pengap oleh hawa tubuh dan aroma parfum mahal. Suara Aya nyaris tenggelam oleh deru napas berat pria di atasnya. Ayana Cantika, gadis dua puluh dua tahun, dengan tubuh yang belum pernah benar-benar mengenal sentuhan seperti ini, terkungkung di bawah seorang pria tampan bertubuh kekar. Pinggul pria itu terus bergerak tanpa jeda, membuat Aya terpaksa mengikuti irama yang tak pernah ia inginkan. “Ahh…,” racau sang pria, suaranya berat dan serak. Dua tangan kekar menggenggam pinggul ramping Aya, menahannya agar tak menghindar. Desahan mereka bersahutan, namun hanya satu yang dipenuhi gairah. Pria itu memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang ia nikmati sendiri. Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Rasa malu sudah lama luruh digantikan oleh erangan, desahan, dan napas yang saling bertabrakan tanpa makna. “Ahh… Tuan, tolong pelan sedikit…,” pinta Aya lagi, kali ini sambil menggenggam tangan pria itu. Jarinya bergetar, berusaha menahan agar tempo itu melambat. Namun rasa perih tetap menjalar. Napasnya tersengal. Genggaman Aya akhirnya terlepas, tubuhnya menegang, sementara jari-jarinya mencengkram seprai putih seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak benar-benar tenggelam. Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya. Ingatan Aya melayang pada beberapa jam yang lalu, di lorong rumah sakit yang dingin. “Mbak Aya,” suara dokter paruh baya itu terdengar serius namun tetap lembut. “Kami sudah melihat hasil pemeriksaan Ibu Ningsih.” Aya meremas kedua tangannya. “Bagaimana, Dok?” Dokter itu menghela napas panjang. “Ibu Ningsih harus segera dioperasi. Kanker payudaranya sudah sampai tahap yang tidak bisa ditunda.” Dunia Aya seolah berhenti berputar. Suara langkah kaki dan percakapan orang-orang menjauh dari pendengarannya. Yang tersisa hanya satu kalimat itu. “Apakah… bisa menggunakan kartu yang biasanya?” tanyanya lirih. “Maaf, Mbak. Kartu itu hanya menanggung perawatan. Untuk biaya operasi, Mbak harus membayarnya sendiri.” “Tapi uang saya nggak cukup, Dok…,” gumam Aya. Ia tahu persis angka yang disebutkan. Tabungannya bahkan tak mencapai setengahnya. Dokter itu mengangguk, seolah sudah menduga. “Kami masih bisa memberi waktu sampai besok lusa untuk menyelesaikan administrasi.” “Besok lusa…,” Aya menunduk, dadanya nyeri. “Kalau saya belum dapat uangnya, Ibu saya bagaimana?” “Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk.” Aya menggigit bibir. Tubuhnya gemetar. Dunia seakan menekannya dari segala arah. Namun ia tetap mengangguk kecil. “Baik, Dok. Saya akan berusaha.” Dan dokter itu pergi, meninggalkan Aya sendirian di lorong yang mulai gelap. Kini, Aya kembali ke kenyataan. Berbaring pasrah di bawah pria kaya yang menjanjikan uang, bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak ada pilihan lain. “Tuan…,” ucapnya pelan, mengikuti dorongan tubuh pria itu. “Berjanjilah… uang itu akan Tuan berikan.” Gerakan pria itu terhenti sejenak. Ia menatap wajah Aya yang tampak wajah cantik dan basah oleh air mata, lalu menyeringai. “Selama aku puas,” ujarnya santai, “uang itu akan menjadi milikmu.” Jemari panasnya mengusap pipi Aya, menghapus air mata yang tak ia pedulikan maknanya. Aya memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sisi ranjang. Di sana, kartu ATM pria itu tergeletak, janji yang menjadi satu-satunya harapannya. Aya menelan ludahnya. Lalu menatap pria itu lagi, menelan penghinaan dalam diam. “Tuan…,” suaranya bergetar. “Ta–tapi, tolong jangan keluar di dalam, saya tidak mau hamil….” Pria itu mendengus dingin. “Kamu tidak akan hamil. Aku juga tidak sudi anakku dilahirkan oleh wanita malam sepertimu.” Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari sentuhan mana pun. Suasana hening sejenak. “Kalau begitu… lakukan saja apa yang Tuan mau,” ucap Aya akhirnya. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia melingkarkan tangan ke bahu lebar itu, menariknya mendekat. Pria itu menyeringai. “Kuakui keberanianmu.” Ia menatap wajah Aya sedikit lebih lama dari sebelumnya, memperhatikan mata bening itu, bulu mata lentik yang bergetar, bibir tipis yang terkatup gugup. Ada sesuatu yang terusik. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat sikapnya bergeser. “Tu—Tuan… bukankah tidak ada ciuman?” Aya berusaha menghentikan saat wajah itu mendekat. “Bukankah kamu bilang aku bisa melakukan apa pun?” balas pria itu, masih terdengar dingin, tapi kini ada tekanan lain di baliknya. Aya terdiam. Ia sendiri yang membuka pintu itu. Tanpa menunggu lagi, pria itu menutup jarak dan menempelkan bibirnya. Reaksinya lebih keras dari yang ia perkirakan. “Mmh…,” lenguhan kaget lolos begitu saja. Ciuman pertamanya hilang pada pelanggan pertamanya. Saat Aya mencoba mendorong dadanya, tekanan justru semakin kuat. Hingga akhirnya, ciuman dilepas. Tatapan pria itu berubah, tidak lagi sepenuhnya dingin. Seperti ada sesuatu yang mengusik sisi lain dari dirinya. Senyum tipis pria itu kembali, tapi kali ini lebih gelap, lebih yakin. Akhirnya, ia berkata, “Puaskan aku. Jika gagal, kamu tak dapat apa-apa.” Aya menelan ludah. “Baik….” Bibir mereka kembali bertaut. Kali ini, pria itu membimbing dengan pagutan panasnya. Aya masih kaku, namun perlahan mengikuti. Pelukannya menguat tanpa sadar saat tubuhnya diangkat sedikit. “Hm!” pekiknya tertahan. Gerakan pria itu kembali dimulai perlahan, selaras dengan ciuman, lalu semakin cepat. “Ahh… Tuan…,” desah Aya saat ciuman terlepas. Pria itu tiba-tiba berhenti. Wajahnya menggelap. “Sial….” Aya menatapnya takut. “T-Tuan…?” Tak ada jawaban. Pinggul Aya diangkat lebih tinggi, dan gerakan berikutnya membuat tubuhnya tersentak kaget. Setelah itu, tak ada lagi kata-kata. Hanya gerakan cepat, napas berat, dan kendali yang sepenuhnya berpindah tangan. Aya mendesah tanpa sadar. Di bawah langit malam tanpa bintang, ia menyerahkan segalanya, kehormatan, air mata, dan dirinya sendiri, demi satu nyawa yang ia cintai. * Pagi itu Aya terbangun lebih dulu. Gadis itu dengan cepat namun hati-hati, memakai kembali pakaiannya dan membawa kartu ATM yang ada di atas meja. Dengan mengendap perlahan, dia akhirnya berhasil keluar dari kamar mewah tersebut. "Bu, tunggu aku...." gumamnya penuh kelegaan. Uang yang dia butuhkan sudah ada di tangan. Rumah sakit itu tidak jauh dari hotel dan kelab malam, tapi bagi Aya, setiap langkah terasa berat meski dia sudah membawa uang sebagai harapan. Aya segera tiba di lobi dengan napas terengah, rambut berantakan, mata bengkak, dan pakaian lusuh. Beberapa orang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Dia berlari menuju ruangan dokter untuk membicarakan operasi sang ibu. "Dokter!" serunya begitu melihat dokter yang merawat ibunya. "Dokter! Saya sudah dapat uangnya! Tolong segera operasi ibu saya!" Dokter itu menatap Aya dengan sorot mata yang tidak pernah Aya lihat sebelumnya. Membuat Aya mengerutkan kening. "Dok? Dokter kenapa diam? Cepat! Tolong selamatkan Ibu saya!" desak Aya. "Mbak Aya...." Dokter itu mencoba menenangkan. "Dokter! Tolong selamatkan Ibu saya! Sekarang sudah bisa operasi kan? Saya sudah dapat uangnya." Dokter itu menyentuh kedua bahu Aya dengan lembut. "Mbak Aya... yang sabar, ya?" Aya terdiam. Dia tak suka kalimat ini. Dokter itu menarik napas panjang. "Semalam kami sudah menelpon Mbak berkali-kali. Tapi Mbak tidak mengangkatnya." Aya membeku. Ketakutan. "Bu Ningsih...." Dokter itu menunduk. "Bu Ningsih tidak berhasil bertahan. Beliau sudah meninggal semalam, Mbak." ***Ibra diam sejenak. Lalu pria itu tersenyum tipis menatap Santo."Tenang saja, Pak Santo. Aku tidak alergi. Kemarin memang aku akan merasa mual jika mencium aroma bawang putih dan kopi. Tapi setelah Aya melahirkan, aku sudah bisa menikmati makanan dengan bawang putih," jawab pria itu tenang."Begitu, ya, Tuan? Syukurlah kalau Anda baik-baik saja," sahut Santo sembari tersenyum."Iya. Ayo jalan, Pak. Aku harus segera memberikan martabak ini ke Aya sebelum dingin," perintahnya lembut."Baik, Tuan."Santo segera menyalakan mesin mobil kembali. Lalu perlahan kakinya menginjak pedal gas, membawa mobil mahal itu meninggalkan warung martabak di pinggir jalan."Ternyata sultan juga beli martabak, ya?" tanya salah satu pegawai warung pada rekannya."Hush. Biarin aja. Yang penting jualan kita laris manis."Mobil Maybach pun melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota yang cukup lenggang. Di bangku penumpang, Ibra tampak tak sabaran ingin memberikan martabak pesanan Aya.Tak perlu wak
Langkah Ibra terasa ringan. Di tangan kanannya tergengam hasil laporan medis mengenai keadaan kesuburannya saat ini. Ia merasa senang sekaligus lega. Untuk orang perfeksionis seperti dirinya, hasil laporan seperti ini sangat berharga."Kamu bisa pulang duluan, Sam," ujar Ibra saat lift mulia bergerak turun."Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Ibra."Pak Santo sudah menunggu di bawah," jawab sang Presdir datar. Namun ada senyuman tipis di wajahnya."Baiklah, Pak."Suasana hening sejenak. Terasa canggung namun Samuel sudah terbiasa merasakan situasi seperti ini.Ting!Pintu lift terbuka perlahan."Terima kasih, Sam," ujar Ibra tiba-tiba."Ah... Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya menemani Anda," sahut Samuel sopan seraya membungkukkan badan sedikit, membiarkan Ibra melangkah keluar lebih dulu.Langit sudah mulai gelap. Waktu pun sudah menunjukkan senja, membiaskan cahaya keemasan di sepanjang jalanan kota yang cukup padat. Ibra berjalan menuju mobil Maybach yang sudah menunggun
Tanpa Ibra dan Samuel sadari, ada seseorang yang berjalan perlahan mengikuti mereka. Orang itu pun berjalan dengan sangat tenang agar tidak ketahuan. Dengan menjaga jarak, orang yang sudah sejak tadi menyembunyikan wajahnya itu berusaha mengejar langkah lebar sang Presdir.Sementara Ibra dan Samuel yang tidak menyadarinya langsung menuju ke ruangan Dokter Rian. Setelah mengetuk pintu, terdengar suara ramah dari dalam."Silakan masuk, Pak Ibra," sambut Dokter Rian ramah.Ibra dan Samuel melangkah memasuki ruangan Dokter Rian. Ibra duduk di sebuah kursi menghadap sang dokter kepercayaan itu dengan punggung tegap. Orang asing yang sejak tadi mengekor itu berdiri bergeming sejenak di koridor rumah sakit yang cukup lengang. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam dan topi yang ditarik agak rendah menatap tajam papan nama berkilau di samping pintu kayu tebal tersebut.[Dr. Rian Sp.And - Spesialis Andrologi & Reproduksi Pria]'Mau apa seorang Presdir Bagaskara Group ke spesialis an
"Kalian ini gimana, sih?" Salah satu staf menegur. "Bu Aya sudah melahirkan. Aroma itu pasti dari anaknya Pak Ibra dan Bu Aya," jelasnya.Rekan kerjanya pun tampak terkejut. Lalu mereka ikut senang mendengar kabar bahagia tersebut.Aroma bedak bayi yang menempel di kemeja dan leher Ibra, yang merupakan hasil dari berjam-jam menggendong dan menimang Putri sebelum berangkat tadi menjadi kontras yang unik di tengah auranya yang mengintimidasi. Samuel yang berjalan satu langkah di belakang Ibra hanya mampu menahan senyum tipis, menyadari bahwa hal tersebut ternyata bisa menghebohkan koridor kantor pagi ini.*Jam menunjukkan pukul empat sore ketika agenda kerja utama Ibra selesai. Pria itu menutup laptopnya, lalu menatap Samuel yang duduk tenang di meja kerja yang dulu ditempati Aya."Samuel," panggil Ibra dengan suara rendah."Ya, Pak Ibra?" sahut Samuel sembari menatapnya."Sore ini kamu ada acara?" tanya sang Presdir.Tampak Samuel mengerutkan sedikit keningnya. "Tidak, Pak....""Tidak
Ibra pun ikut bangkit dari tempat duduknya. Kini kedua orang itu segera berjalan mendekati anak kedua mereka. Dan Putra pun menoleh saat menyadari kehadiran kedua orang tuanya."Ada apa, Ayah, Bunda?" tanya bocah itu dengan tatapan polos.Aya mendekatinya. "Putra, jangan biarkan Lili terlalu dekat sama Adik. Nanti bulu Lili kena muka Adik, atau masuk ke hidungnya. Kasihan Adik masih bayi banget."Ibra yang berhasil menyusul, berjalan menghampiri Aya. Ia merangkul pinggang istrinya dari samping, lalu menyempatkan untuk menghirup aroma tubuh Aya yang menenangkan."Tenang, Sayang," ujar Ibra, suaranya berat dan menenangkan. "Lili kan rutin kita rawat supaya bulunya tidak rontok. Dokter hewan juga sudah konfirmasi bulunya higienis dan bebas alergen. Lili mengerti kok kalau Putri itu adiknya Putra."Aya pun menilik ke dalam box bayi dan melihat sendiri bahwa Lili ternyata berbaring di sebelah kaki Putri, tanpa menyentuhnya.Seakan membenarkan ucapan Ibra, Putri yang terbangun sebentar tida
Pagi yang masih sedikit petang itu terasa hangat di dalam kamar utama keluarga Bagaskara. Sesosok bayi mungil yang terbungkus selimut putih bersih masih tertidur di dalam tempat tidurnya. Suara dengkuran halus pun terdengar setelah drama dini hari tadi saat bayi perempuan itu meminta digantikan popok.Sementara kedua orang tua bayi itu masih tertidur di tempat tidur mereka dengan saling berpelukan. Ibra yang sejatinya baru terlelap tidak lebih dari tiga jam, membuka matanya secara perlahan. Tanpa mengerang, tanpa menunda, pria bertubuh jangkung dengan garis rahang tegas itu melingkarkan tangannya di pinggang Aya.'Kamu masih tidur,' gumam Ibra dalam hati.Pria itu memastikan selimut tebal masih membungkus rapat tubuh istrinya. Lalu perlahan ia melepaskan pelukan dan menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang."Mas...?" bisik Aya, suaranya terdengar parau.Wanita itu baru saja membuka kedua matanya saat merasakan gerakan di sampingnya. Wajahnya yang cantik tampak letih usai menyusui t







