Share

Bab 5

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2025-11-27 13:24:42

“Dasar wanita murahan.”

Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari cengkeraman di pergelangannya. Saat Ibra melepaskannya, tubuh Aya sedikit terhuyung ke belakang. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap bungkam. Lidahnya kelu. Ruangan itu kembali dipenuhi ketegangan yang menekan.

Aya memaksa dirinya berdiri tegak di hadapannya. Dengan sisa harga diri yang ia kumpulkan, ia membungkukkan badan sedikit.

“Saya akan mengundurkan diri,” ucapnya pelan namun tegas.

Ia berharap semuanya selesai di sana.

Namun jarak di antara mereka justru kembali menyempit. Aya refleks melangkah mundur, panik, sampai tumitnya nyaris kehilangan pijakan. Tiba-tiba sebuah tangan menarik pinggangnya.

Aya terkesiap.

Tubuhnya kembali terperangkap dalam pelukan yang begitu ia kenal. Aroma itu. Sama. Tidak berubah sejak enam tahun lalu. Kenangan yang seharusnya sudah mati justru bangkit tanpa izin. Aya memalingkan wajah, memejamkan mata, menahan gemetar yang merambat dari ujung kepala hingga kaki.

“Kembalilah bekerja.”

Kalimat itu terdengar singkat, dingin. Saat pelukan itu dilepaskan, Aya tak menunggu sedetik pun. Ia berbalik dan segera meninggalkan ruangan, nyaris berlari. Ia hanya ingin pergi. Menjauh. Menghilang.

Langkahnya cepat menyusuri koridor. Dadanya semakin terasa berat. Tangannya gemetar saat menekan tombol lift. Ketika pintu terbuka dan ia masuk, pantulan wajahnya di dinding logam membuatnya terdiam. Pucat. Matanya berkaca-kaca.

Begitu pintu lift tertutup, Aya akhirnya menghembuskan napas panjang. Napas yang sejak tadi ia tahan. Punggungnya bersandar lemas ke dinding, matanya terpejam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar.

“Ya Tuhan… kenapa harus dia? Kenapa kami bertemu di tempat ini…?”

Enam tahun. Enam tahun ia membangun hidup baru. Menyimpan masa lalu itu rapat-rapat, menguburnya bersama rasa bersalah dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dan sekarang, pria itu berdiri di atas hidupnya, sebagai atasannya.

Aya membuka mata perlahan.

“Bagaimana kalau dia tahu soal Putra…?” gumamnya lirih.

Ketakutan itu kembali, dingin dan nyata. Seolah masa lalu yang ia kubur perlahan mulai menggali jalannya sendiri menuju hidupnya yang sekarang.

*

Sore itu Aya kembali pulang ke kontrakannya. Wanita itu terlihat sangat lelah, tak seperti biasanya.

"Bunda, gosong!" seru Putra yang baru saja berlari menghampirinya. Langsung mematikan kompor di hadapan sang ibu.

"Astaga...." gumam Aya terkejut. Wanita itu kemudian menarik anaknya menjauh dari kompor. Ditatapnya nasi goreng yang sudah berubah warna menjadi hitam.

"Bunda nggak papa?" tanya Putra sembari mendongak, menatap khawatir pada sang ibu.

Aya sedikit membungkuk. Diusapnya pipi anaknya itu dengan lembut. "Bunda nggak papa, Sayang. Makasih, ya?"

Putra menautkan kedua alisnya. "Beneran?"

"Iya."

Putra menatap ke arah nasi goreng yang sudah berbau hangus itu. Lalu dia menarik tangan sang ibu, berjalan menuju ke ruang tengah dan mendudukkan ibunya di sana.

"Bunda, kalau Bunda capek, nggak usah masak. Putra nggak mau kalau Bunda sakit," ucap polos bocah itu penuh perhatian.

Aya terharu mendengarnya. Ia kembali mengusap pipi anaknya. Ditatapnya lekat-lekat wajah tampan mungil itu. Mirip. Sangat mirip dengan Presdir Bagaskara Group yang baru saja ia temui. Perasaan takut itu pun kembali mendera di dalam hatinya. Hingga tanpa sadar membuat kedua matanya berkaca-kaca.

"Bunda?" panggil Putra lembut. Bocah itu segera duduk di samping ibunya.

"Ah. Iya, Sayang. Maafin Bunda, ya? Ya udah. Kamu di sini dulu. Biar Bunda beresin nasi goreng gosongnya." Aya segera berdiri. Mengusap cepat kedua sudut matanya.

Putra pun duduk dengan patuh. Namun kedua mata polosnya terus mengamati sang ibu. Meski tak terlalu mengerti, namun bocah itu dapat merasakan ada hal yang aneh terjadi pada ibunya.

Tak lama kemudian, Aya sudah kembali. "Sayang, Bunda belikan ayam krispi depan gang saja, ya?"

"Bun, kalau capek nggak usah. Kita makan nasi aja," sahut Putra.

Aya menggeleng pelan. "Nasinya udah gosong semua, Sayang. Bunda belikan sebentar. Kamu di rumah aja, ya?" bujuknya.

"Baiklah. Tapi jangan lama-lama, ya, Bun?"

"Iya, Sayang."

Aya segera meraih helmnya dan pergi membeli ayam goreng krispi yang ada di tepi jalan raya. Usai membeli, dia segera menaiki motornya kembali. Namun saat itu juga, ia tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari dalam mobil.

**

Hari berikutnya, Aya kembali datang ke kantornya. Namun sebelum itu, ia mengantarkan Putra ke sekolah.

"Sayang, nanti Bunda jemput lagi, ya?" ucap Aya sembari mengusap pipi putranya.

"Iya, Bunda."

Wanita cantik itu pun segera pergi meninggalkan sang putra. Saat dia baru saja tiba di ruang kerjanya, rekan-rekannya mulai mendekat.

"Aya... Maafkan kami... Kami salah," ucap salah satu staf perempuan dengan wajah menunduk.

"Iya, Aya. Kami ikut-ikutan menuduhmu tanpa tahu apa-apa," sambung yang lain.

Aya tersenyum kecil. "Nggak papa," jawabnya lembut.

"Sekarang Bu Vega sudah dipecat. Jadi kita bisa tenang."

"Benar. Nggak nyangka aja Bu Vega sejahat itu memfitnah anak baru."

"Tapi yang anehnya lagi Pak Ibra mau mencari kebenarannya. Apa kamu mengenal Pak Ibra, Ay?" tanya salah satu rekan kerja Aya lagi.

Aya terkesiap. Wajahnya tampak bingung.

“Itu nggak mungkin…,” ucapnya pelan, kali ini tanpa sepenuhnya berdusta. Ia memang tidak pernah tahu nama pria satu malamnya dulu.

“Bener juga. Tapi aneh, sih. Biasanya Pak Ibra nggak mau turun langsung. Kemarin malah repot nyari tahu kebenaran buat orang kecil kayak kita,” timpal rekan Aya yang lain.

Aya hanya tersenyum tipis. Ia membiarkan asumsi itu berputar sendiri. Tak satu pun dari mereka tahu betapa jantungnya berdetak tak beraturan sejak pagi.

Tak lama kemudian, Samuel masuk ke ruangan.

“Selamat pagi, Pak Samuel,” sapa para karyawan hampir bersamaan.

“Pagi,” jawab Samuel singkat dan dingin. Ia langsung mendekati meja Aya, lalu meletakkan setumpuk dokumen tebal di hadapannya.

“Pak Ibra menyuruhmu merangkum ini,” ujarnya datar. “Siang ini harus sudah ada di meja beliau,” lanjutnya tanpa memberi Aya kesempatan merespons.

Samuel pergi begitu saja.

Aya menatap dokumen itu sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Tanpa banyak bicara, ia segera bekerja. Ia tak punya pilihan. Pekerjaan ini masih ia butuhkan. Demi hidupnya. Demi Putra.

Waktu berjalan cepat. Menjelang siang, Aya merapikan hasil rangkumannya dan membawanya langsung ke ruangan Presdir.

Setelah menyerahkan dokumen itu, ia menunduk singkat, lalu berbalik hendak keluar dengan langkah tergesa.

Baru dua langkah, suara itu menghentikannya.

“Kamu ke mana?”

Aya menegang. Ia berbalik perlahan. Ibra berdiri di belakang meja kerjanya, menatapnya tajam.

“Saya… harus pergi, Pak,” jawab Aya hati-hati. “Ada keperluan mendesak.”

Alis Ibra sedikit terangkat. Tatapannya dingin, menilai. “Sejak kapan karyawan bisa pergi begitu saja dari hadapan atasannya tanpa izin?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Siti Aminah
sabar .sabar.
goodnovel comment avatar
Mirhan Bumulo
lanjutannya
goodnovel comment avatar
Samidah Idah
ayo...terus berkarya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 338

    Ibra diam sejenak. Lalu pria itu tersenyum tipis menatap Santo."Tenang saja, Pak Santo. Aku tidak alergi. Kemarin memang aku akan merasa mual jika mencium aroma bawang putih dan kopi. Tapi setelah Aya melahirkan, aku sudah bisa menikmati makanan dengan bawang putih," jawab pria itu tenang."Begitu, ya, Tuan? Syukurlah kalau Anda baik-baik saja," sahut Santo sembari tersenyum."Iya. Ayo jalan, Pak. Aku harus segera memberikan martabak ini ke Aya sebelum dingin," perintahnya lembut."Baik, Tuan."Santo segera menyalakan mesin mobil kembali. Lalu perlahan kakinya menginjak pedal gas, membawa mobil mahal itu meninggalkan warung martabak di pinggir jalan."Ternyata sultan juga beli martabak, ya?" tanya salah satu pegawai warung pada rekannya."Hush. Biarin aja. Yang penting jualan kita laris manis."Mobil Maybach pun melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota yang cukup lenggang. Di bangku penumpang, Ibra tampak tak sabaran ingin memberikan martabak pesanan Aya.Tak perlu wak

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 337

    Langkah Ibra terasa ringan. Di tangan kanannya tergengam hasil laporan medis mengenai keadaan kesuburannya saat ini. Ia merasa senang sekaligus lega. Untuk orang perfeksionis seperti dirinya, hasil laporan seperti ini sangat berharga."Kamu bisa pulang duluan, Sam," ujar Ibra saat lift mulia bergerak turun."Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Ibra."Pak Santo sudah menunggu di bawah," jawab sang Presdir datar. Namun ada senyuman tipis di wajahnya."Baiklah, Pak."Suasana hening sejenak. Terasa canggung namun Samuel sudah terbiasa merasakan situasi seperti ini.Ting!Pintu lift terbuka perlahan."Terima kasih, Sam," ujar Ibra tiba-tiba."Ah... Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya menemani Anda," sahut Samuel sopan seraya membungkukkan badan sedikit, membiarkan Ibra melangkah keluar lebih dulu.Langit sudah mulai gelap. Waktu pun sudah menunjukkan senja, membiaskan cahaya keemasan di sepanjang jalanan kota yang cukup padat. Ibra berjalan menuju mobil Maybach yang sudah menunggun

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 336

    Tanpa Ibra dan Samuel sadari, ada seseorang yang berjalan perlahan mengikuti mereka. Orang itu pun berjalan dengan sangat tenang agar tidak ketahuan. Dengan menjaga jarak, orang yang sudah sejak tadi menyembunyikan wajahnya itu berusaha mengejar langkah lebar sang Presdir.Sementara Ibra dan Samuel yang tidak menyadarinya langsung menuju ke ruangan Dokter Rian. Setelah mengetuk pintu, terdengar suara ramah dari dalam."Silakan masuk, Pak Ibra," sambut Dokter Rian ramah.Ibra dan Samuel melangkah memasuki ruangan Dokter Rian. Ibra duduk di sebuah kursi menghadap sang dokter kepercayaan itu dengan punggung tegap. Orang asing yang sejak tadi mengekor itu berdiri bergeming sejenak di koridor rumah sakit yang cukup lengang. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam dan topi yang ditarik agak rendah menatap tajam papan nama berkilau di samping pintu kayu tebal tersebut.[Dr. Rian Sp.And - Spesialis Andrologi & Reproduksi Pria]'Mau apa seorang Presdir Bagaskara Group ke spesialis an

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 335

    "Kalian ini gimana, sih?" Salah satu staf menegur. "Bu Aya sudah melahirkan. Aroma itu pasti dari anaknya Pak Ibra dan Bu Aya," jelasnya.Rekan kerjanya pun tampak terkejut. Lalu mereka ikut senang mendengar kabar bahagia tersebut.Aroma bedak bayi yang menempel di kemeja dan leher Ibra, yang merupakan hasil dari berjam-jam menggendong dan menimang Putri sebelum berangkat tadi menjadi kontras yang unik di tengah auranya yang mengintimidasi. Samuel yang berjalan satu langkah di belakang Ibra hanya mampu menahan senyum tipis, menyadari bahwa hal tersebut ternyata bisa menghebohkan koridor kantor pagi ini.*Jam menunjukkan pukul empat sore ketika agenda kerja utama Ibra selesai. Pria itu menutup laptopnya, lalu menatap Samuel yang duduk tenang di meja kerja yang dulu ditempati Aya."Samuel," panggil Ibra dengan suara rendah."Ya, Pak Ibra?" sahut Samuel sembari menatapnya."Sore ini kamu ada acara?" tanya sang Presdir.Tampak Samuel mengerutkan sedikit keningnya. "Tidak, Pak....""Tidak

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 334

    Ibra pun ikut bangkit dari tempat duduknya. Kini kedua orang itu segera berjalan mendekati anak kedua mereka. Dan Putra pun menoleh saat menyadari kehadiran kedua orang tuanya."Ada apa, Ayah, Bunda?" tanya bocah itu dengan tatapan polos.Aya mendekatinya. "Putra, jangan biarkan Lili terlalu dekat sama Adik. Nanti bulu Lili kena muka Adik, atau masuk ke hidungnya. Kasihan Adik masih bayi banget."Ibra yang berhasil menyusul, berjalan menghampiri Aya. Ia merangkul pinggang istrinya dari samping, lalu menyempatkan untuk menghirup aroma tubuh Aya yang menenangkan."Tenang, Sayang," ujar Ibra, suaranya berat dan menenangkan. "Lili kan rutin kita rawat supaya bulunya tidak rontok. Dokter hewan juga sudah konfirmasi bulunya higienis dan bebas alergen. Lili mengerti kok kalau Putri itu adiknya Putra."Aya pun menilik ke dalam box bayi dan melihat sendiri bahwa Lili ternyata berbaring di sebelah kaki Putri, tanpa menyentuhnya.Seakan membenarkan ucapan Ibra, Putri yang terbangun sebentar tida

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 333

    Pagi yang masih sedikit petang itu terasa hangat di dalam kamar utama keluarga Bagaskara. Sesosok bayi mungil yang terbungkus selimut putih bersih masih tertidur di dalam tempat tidurnya. Suara dengkuran halus pun terdengar setelah drama dini hari tadi saat bayi perempuan itu meminta digantikan popok.Sementara kedua orang tua bayi itu masih tertidur di tempat tidur mereka dengan saling berpelukan. Ibra yang sejatinya baru terlelap tidak lebih dari tiga jam, membuka matanya secara perlahan. Tanpa mengerang, tanpa menunda, pria bertubuh jangkung dengan garis rahang tegas itu melingkarkan tangannya di pinggang Aya.'Kamu masih tidur,' gumam Ibra dalam hati.Pria itu memastikan selimut tebal masih membungkus rapat tubuh istrinya. Lalu perlahan ia melepaskan pelukan dan menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang."Mas...?" bisik Aya, suaranya terdengar parau.Wanita itu baru saja membuka kedua matanya saat merasakan gerakan di sampingnya. Wajahnya yang cantik tampak letih usai menyusui t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status