ログイン"Sial, Elisa tidak mengangkat teleponku!" geram Leo saat ia sudah duduk di mobil bersama Gary. Tadinya Leo masih rapat penting di kantornya sampai ia terlambat mengetahui tentang Elisa. Barulah setelah rapat, anak buah memberitahunya bagaimana Elisa dikerumuni wartawan di depan Wijaya Group. Leo yang geram pun meminta Gary untuk ngebut pulang sambil Leo menelepon Elisa, tapi tidak kunjung diangkat. Hingga saat mobilnya sudah berada cukup dekat dari rumahnya, Leo mengernyit melihat mobil asing di sana. Apalagi sosok Wira muncul berdiri berhadapan dengan Elisa. Tangan Wira pun masih mencekal tangan Elisa saat akhirnya Leo melangkah cepat ke sana. "Lepaskan dia! Tanpa seijinku, tidak ada orang yang bisa membawanya pergi dari sini!" Suasana langsung hening sejenak saat mereka mendengar suara Leo. Wira langsung berbalik dan tatapannya bertemu dengan tatapan Leo yang tajam. Tangan Wira masih memegang tangan Elisa. "Kau!" geram Wira. Wira memang sudah mencari tahu tentang Elisa kare
Elisa kaget mendengarnya. Tatapannya masih tertuju pada pria berhelm hitam yang berdiri di hadapannya. Wajah pria itu sama sekali tidak terlihat karena tertutup helm gelap, hanya suaranya yang terdengar berat dan menunjukkan usianya sudah tidak muda lagi."A-Anda mengenaliku? Siapa Anda? Aku tidak bisa melihat wajah Anda." Rahmat tersentak dan langsung menunduk, seolah takut Elisa bisa mengenalinya, padahal ia masih memakai helm tertutup."Ah, maafkan aku, aku ... aku hanya pernah melihat Anda di TV," dusta Rahmat sambil membantu Elisa berdiri tegak. Elisa makin mengernyit. "Apa? Di TV? Aku bukan artis, bagaimana Anda bisa melihatku di TV? Tapi ... bisakah Anda membuka helm ini dulu? Biarkan aku melihat Anda." Rahmat makin tegang. Entah Elisa masih mengingat wajahnya atau tidak, tapi ia tidak ke sini untuk ketahuan. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun kali ini. "Tidak! Aku buru-buru, jadi aku permisi dulu!" "Eh, tunggu, Pak, aku belum mengatakan terima kasih!" seru Elisa sambil me
Beberapa hari berlalu dan pemberitaan tentang Wijaya Group memasuki babak baru. Seorang pensiunan polisi mendadak muncul tanpa rasa takut, ikut bicara, dan membuat publik makin heboh. "Saat aku masih menjadi polisi dulu, anak buahku meninggal saat menyelidiki kasus itu. Kematian yang sangat tidak wajar dan sangat kebetulan. Belasan tahun aku meyakini ada yang tidak beres, tapi aku tidak menemukan apa pun. Semua penyelidikan menemukan jalan buntu seolah ada yang berusaha menahannya." "Saat aku protes waktu itu, aku malah dipindahkan ke kantor yang jauh dari kota. Aku dan timku yang menangani kasus ini mengalami ketidakadilan. Dan karena kasus ini kembali mencuat, aku harap, kasusnya bisa kembali dibuka demi mengembalikan nama baik kami dan menghukum yang memang seharusnya." Pernyataan itu membuat publik heboh dan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.Akibatnya, saham Wijaya Group terus merosot. Suasana kantor pusat Wijaya Group berubah mencekam.
"Kau mau ke mana, Leo?"Elisa yang sudah berbaring di atas ranjang langsung bangkit duduk saat melihat Leo alih-alih ke ranjang, malah berjalan ke arah pintu.Leo menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras. Ucapan Elisa tentang orang tuanya terus terngiang di kepalanya dan membuat perasaannya belum bisa netral. Tentu saja Elisa masih sangat kecil saat kebakaran itu terjadi. Wanita itu hanya menerima mentah-mentah semua yang dikatakan Arman dan Darmawan. Ia hanya mempercayai orang yang selama ini ia anggap keluarga.Leo tidak menyalahkan Elisa. Namun, tetap saja moodnya buruk karenanya. Ia pun memilih menjauh agar sikapnya tidak menyakiti Elisa. "Aku masih harus menelepon," ucap Leo akhirnya dengan suara pelan. "Tidurlah dulu."Elisa masih menatap punggung pria itu. "Tapi ini sudah hampir jam dua belas malam, Leo. Siapa yang akan kau telepon malam-malam begini?""Aku akan menelepon Gary. Jangan menungguku, Elisa! Kau harus istirahat. Aku keluar dulu!" Leo hanya menoleh singk
Elisa akhirnya bangun dari tidurnya menjelang malam itu. Kepalanya masih sakit dan rasa berdebar itu masih ada, tapi ia sudah lebih tenang. Semua orang menyambutnya dengan senyuman hangat dan itulah yang Elisa suka dari keluarga Leo, tidak pernah menghakimi, tidak pernah bertanya berlebihan, hanya berusaha membuatnya tenang. "Kau sudah bangun, Elisa? Ayo kita makan malam bersama!" ajak Bik Imah. "Aku tidur lama sekali, Nek." "Tidak masalah, ibu hamil memang harus banyak istirahat. Maaf ya Nenek terlalu lama bergosip tadi." Semua orang yang mendengarnya tertawa dan mereka pun langsung makan malam bersama dengan hangat. Namun, kehangatan itu berubah menjadi menegangkan saat Elisa membaca berita tentang kebakaran gudang Wijaya Group. "Berita apa ini? Berita apa ini?" lirih Elisa syok sambil menatap ponselnya. Elisa masih mengaktifkan ponsel lamanya dan ia masih tergabung dalam beberapa grup chat sesama pebisnis. Saat skandal perselingkuhannya terungkap ke publik, chat di ponsel E
"Apa, Wira? Berita apa lagi ini? Bagaimana berita ini bisa naik lagi setelah 18 tahun berlalu?" Darmawan menggeram sampai urat lehernya tercetak jelas, sebelum ia teringat sesuatu. "Hilda! Pasti Hilda kan? Hilda mengancamku dengan rekaman suara tentang kecelakaan itu. Ya! Pasti Hilda! Panggil Hilda kemari! Panggil dia kemari!" titah Darmawan. Hilda sendiri masih ada di rumah siang itu. Sejak perselingkuhan Eddy dan Susan viral lagi, Susan lebih banyak di rumah dan Hilda pun sesekali menemaninya. Hilda yang dipanggil langsung menghadap dan ia langsung mendapatkan tamparan dari Darmawan. Plak! "Akhh!" pekik Hilda kaget. "Apa-apaan ini, Ayah? Mengapa Ayah menamparku?" "Kau yang melakukannya kan, Hilda? Kau yang membocorkan tentang kebakaran gudang itu untuk menekan aku, hah?" Sebulan mempertahankan Hilda di rumah, alih-alih membuat Darmawan makin tenang, malah membuatnya makin stres. Setelah kecurangannya terbongkar, tentu saja Hilda tidak berpura-pura lagi dan mulai menunjukkan
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







