Share

Bab 61. Ritual

Author: My MJ
last update publish date: 2026-06-08 18:57:11
Duduk di tepian gerobak pedagang gandum dengan kaki menggelantung, dan jemari mencekam erat papan kayu yang memikul bekas perjalanan waktu. Sepanjang perjalanan ke Chantilly, pikiran vivienne belum benar-benar beranjak dari pertemuannya dengan Nathan. Kalimat-kalimat ganjil yang diucapkan pria itu terus menghantui benaknya.

'Kamu sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi, tapi bisa berkata Benjamin adalah ayah anak dalam kandungan...'

'Kamu yakin dia ayahnya?'

Dia seharusnya mengabaikan segal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 89. Cinta yang terdiam

    "Sekarang mulailah bergerak."Kelopak mata Vivienne yang terbuka setengah, meruncing tajam. Pelan-pelan dia mulai menaik-turunkan tubuhnya."Mnh... ah..."Udara terhisap patah-patah dari celah bibirnya yang dikulum. Tangannya menekan paha Benjamin, dan dadanya mendongak ke depan, hingga putingnya menggesek ujung bibir pria itu."Aku akan tertidur jika kamu terus bergerak seperti siput," kata Benjamin memainkan kedua pucuk payudara wanitanya di antara dua jarinya.Vivienne tidak langsung menjawab. Dia memutar pinggulnya sembari mengetatkan dinding senggamanya, hingga keluhan tersebut melebur menjadi geraman berat."Sepertinya kamu yang tidak terbiasa," cicitnya memperhatikan ekspresi wajah Benjamin yang mengerut cemas.Benjamin terkekeh pendek mendengar pernyataan Vivienne. Dia membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit melorot, lalu tangannya kembali pada pantat bulat wanitanya itu—merenggangkan lipatannya sembari membukanya."Kamu benar." Dia menampar tumpukan lemak itu dengan keras.S

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 88. Hubungan

    "Milik kamu sudah tegang banget, Benjamin..."Di sela kecupan yang masih berlabuh disepanjang garis leher hingga payudara yang telah terekspos sebagian, senyum samar terbentuk di salah satu sudut bibir Benjamin. Dia berhenti, mengangkat wajahnya hingga matanya kembali bertaut dengan sang kekasih."Kenapa?" Napas hangatnya mengembun menjadi kabut tipis. "Ingin menyentuhnya?"Vivienne tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya memandang lekat-lekat, seolah sedang mengukir setiap goretan di wajah Benjamin ke dalam nadinya. Kemudian, jemarinya yang semula bertumpu di pinggang pria itu, perlahan menyusuri lipatan kain, melepaskan lapis demi lapis kaitan hingga permukaan kulit telapaknya bisa merasakan hangat kejantanan yang mengeras bagai batu di balik celana pendeknya.Benjamin tidak menghentikannya. Dia justru membiarkan jemari kekasihnya menyentuh apa pun yang dia sukai. Namun sebelum belaian menjelma menjadi remasan, dia melingkarkan tangan di pinggang ramping itu. Lalu dalam satu ge

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 87. Bukti

    Di tengah pagutan bibir yang tak kunjung terurai, hingga nyaris merenggut napas. Kening Vivienne mengernyit halus, ketika angin yang berhembus kencang mengungkap aroma alkohol yang masih tertinggal di pakaian Benjamin. Namun bukan hal itu yang mengganggunya, melainkan jejak feromon lain yang jelas bukan miliknya.Vivienne menarik wajahnya—memutus ciuman mereka secara sepihak. Lalu mengangkat pandangannya, menelisik lekat-lekat wajah kekasihnya.Sementara Benjamin yang bingung atas perubahan suasana di antara mereka yang begitu mendadak, menatap kekasihnya dengan alis bertaut tipis."Ada apa?" tanyanya.Vivienne tidak segera menjawab. Tatapannya masih menyelam ke dalam mata yang menangkap cahaya hingga berkilau bagai serpih emas."Apa ada yang salah?" Benjamin bertanya sekali lagi."Semalam kamu minum?" Akhirnya, setelah beberapa detik menimbang-nimbang keyakinannya sendiri, Vivienne membuka mulut.Benjamin mengangguk. "Sedikit, untuk menyegarkan pikiran.""Bersama seorang wanita? Aku

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 86. Bersamamu, aku melihatmu

    Di antara malam yang masih enggan melepas kuasanya, dan angin dingin yang menggigit jiwa, Vivienne sudah menantang Thanatos—Sang Dewa kematian. Dia berdiri di bibir jalur batu di sisi luar bangunan istana, yang tidak lebih lebar dari telapak kaki anak usia delapan tahun."Sialan, kenapa aku harus menyusahkan hidup hanya demi secuil ketenangan," gerutu Vivienne menempelkan dada pada tembok."Jika bukan karena Benjamin, aku tidak akan membahayakan nyawaku seperti ini."Jemarinya meraba dan mencengkeram celah-celah batu kapur yang dapat dijadikan pegangan, sementara kakinya bergerak setapak demi setapak ke samping. Beberapa kali nyaris tergelincir, tetapi dengan cepat dia menyesuaikan diri.Sebenarnya, kamar Lady Clarisse dan kamar Sebastien hanya bersebelahan. Namun Vivienne tidak pernah menduga, jarak yang tampak dekat dari dalam, justru begitu jauh ketika ditempuh melalui jalan ini.Begitu balkon kamar Sebastien berada dalam jangkauannya, dia melompat—memindahkan pijakan kakinya pada s

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 85. Bayangan

    Lidah-lidah obor melalak liar di sepanjang jalanan desa, membayangi sosok-sosok berselubung hitam yang melesat silih berganti dari satu kegelapan ke kegelapan lainnya, menghindari pantauan mata elang para penjaga benteng."Berpencar."Dalam satu isyarat melalui telepati dari sang Alpha, dua orang bergerak memutar menuju sisi belakang benteng, membiarkan pepohonan menelan segala bentuk cahaya yang ingin menjamah mereka.Sementara itu, Sang Alpha dan dua perisainya. Dalam satu kali hentakan senyap, tubuh mereka berpindah dari kaki benteng menuju gardu penjagaan di atas gerbang. Sebastien di kanan, sementara Claude dan Barnie di kiri."Tahan," ucap Sebastien dalam benak.Mereka serempak merapatkan tubuh ke sisi bawah dinding gardu, ketika para penjaga bergerak untuk mengecek sisi lain bangunan.Tanpa perlu mendongakkan kepala untuk mengintip, menggunakan indra pendengarannya yang tajam, Sebastien memperhitungkan setiap derap sepatu yang menggema di atas lantai batu. Menghapal setiap jeda

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 84. Hiburan

    KUKUKKUKUKSesaat kaki burung hantu mencengkeram kain lengan seragam Benjamin, sayapnya mengepak sekali sebelum akhirnya terlipat rapat di kedua sisi tubuh. Menyisakan tatapan bulat yang mengunci pada tuannya tanpa berkedip.Benjamin mengangkat tangannya yang lain, menyentuh bulu putih yang langsung memercikkan bara merah pekat begitu dia mengusapnya. Iris matanya perlahan menghitam, tatkala dia menautkan kesadaran ke balik selaput ingatan di dalam mata burung tersebut untuk menelusuri jejak pancaran jiwa sang terkasih."Baru saja mengirim surat kepada kekasih Anda?"Pertanyaan itu tidak membuat Benjamin berpaling. Lengkungan samar terbentuk di sudut bibirnya tanpa sadar, bila kehangatan dari gumpalan cahaya putih berbias tembaga itu menyentuh hatinya bagaikan sinar matahari di musim semi."Beberapa wanita memang memiliki cara yang aneh untuk membuat seorang pria rela menjerumuskan diri ke dalam neraka demi dapat meraba wajahnya sekali lagi."Natan berdiri di samping Benjamin dengan

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 30. Dia yang menjawab

    Mendorong lidahnya jauh ke dalam mulut wanitanya hingga menyumpal jalur napas, tangan Sebastien meraba tulang belakang dengan penghayatan mendalam, sampai pada dua lemak tubuh yang bulat sempurna. "Mmph!"Vivienne ingin mendorong dada Sebastien, namun seolah tubuhnya tidak keberatan disentuh, tang

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 28. Tidak abadi

    Vivienne dan Sebastien mengikat pandangan, membiarkan dunia di sekitar mereka melambat untuk sesaat, dan detak jarum jam berbicara lebih keras dari kata-kata yang tertahan di ujung lidah. Sampai—Brak!Vivienne menggebrak meja, membuyarkan Sebastien dari keterkagumannya."Aku tidak suka basa-basi,

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 22. Takdir yang menuntun

    Waktu merayap begitu lambat, membuat dua hari rasanya seperti dua minggu—menganiaya Vivienne dalam rasa sakit yang teramat menghina harga dirinya."Diam sialan!"Gerutu Vivienne memukul sisi kepalanya, berusaha membungkam suara makhluk rendahan di dalam dirinya—roh omega sialan yang setiap kali ia

  • Ayah Anakku, di Antara Tiga Penguasa   Bab 21. Kebencian yang menyiksa

    Tatkala purnama menyembunyikan wajahnya di balik kabut hitam, dan lilin-lilin suci menghapuskan hangatnya dari dinding-dinding kastil seolah menolak untuk meratap bersamanya.Dia—wanita dalam balutan gaun hitam yang koyak hingga menunjukkan bagian-bagian tubuhnya yang tersayat dan membiru, berjalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status