Home / Rumah Tangga / BERTUKAR RANJANG / Bab 2. Wajah di Balik Cadar

Share

Bab 2. Wajah di Balik Cadar

Author: Chana Lee
last update publish date: 2026-06-15 16:12:30

Perlahan jari lentik Anjani menarik kain cadar yang menutupi wajahnya.

Bara yang masih duduk di atas ranjang spontan menahan napas. tanpa sadar, ia menunggu dan penasaran juga dengan seperti apa wajah Anjani yang kini akan jadi istri barunya..

Namun tepat sebelum cadar itu benar-benar terbuka, Bara tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah lain.

Gerakan bara itu sontak saja membuat upaya Anjani untuk membuka cadarnya langsung terhenti.

Wanita bercadar itu menatap Bara beberapa saat.

di mata Anjani, Bara sosok yang baik, juga sosok tampan dengan tubuh yang ideal untuk ukuran lelaki. tapi selama ini Anjani hanya menganggap Bara sebagai adik iparnya yang telah dinikahi oleh Helend,adik kandungnya.

sementara di mata Bara, Anjani adalah wanita yang pendiam meski wajahnya tertutup cadar tapi bentuk tubuhnya terlihat ideal. bahkan pernah sekali waktu Bara tak sengaja melihat bentuk tubuh Anjani tanpa busana di kamar mandi. kulit tubuhnya putih bersih dengan lekuk lekuk yang menggiurkan. meski wajahnya belum ia ketahui seperti apa.

tkini Anjani akan jadi milik Bara.

" oh Tuhan, sudahlah!" lennguh Bara spontan dan lirih setelah mengingat segala keanehan yang terjadi pada satu hari ini.

bagaimana bisa, ia bertukar ranjang dan bertukar tubuh untuk kakak kandung istrinya.

"Apa maksudmu?" tanya Anjani dengan nada dingin.

Bara mengusap pelipisnya yang masih berdenyut akibat pukulan yang tiba-tiba menghantam tadi.

"Aku sedang tidak ingin melihat wajah siapa pun malam ini," jawab Bara sambil berdiri dari ranjang.

Anjani langsung mengangkat alisnya, ia seperti tersinggung dengan sikap Bara.

"Kau takut melihat wajahku?" tanya Anjani.

Bara sedikit menunduk dan tidak langsung menjawab.

Ia memilih bangkit dan berjalan menuju jendela kamar lalu memandang ke luar.

Lampu taman keluarga Braja masih menyala terang.

Rumah mewah itu tetap terlihat megah seperti biasa. saking megahnya hingga dirinya yang hanya seorang satpam selalu dianggap tak lebih dari selembar keset di rumah ini.

Namun bagi Bara, malam ini semuanya terasa asing.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku," desak Anjani.

Bara akhirnya menoleh. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu.

"A- aku baru saja kehilangan istriku," kata Bara pelan. "Maaf kalau saat ini aku tidak sedang memikirkan wajahmu."jawab Bara dengan pelan agar tidak menyakiti hati Anjani.kakak iparnya yang kini tiba-tiba menjadi istrinya.

Kalimat itu membuat Anjani membeku.

Sesaat kemudian wanita itu tertawa kecil.

Tawa Anjani itu pelan tapi terdengar pahit.

"Lucu," gumam Anjani.

"Apa yang lucu?" tanya Bara.

"Aku juga kehilangan suamiku hari ini," jawab Anjani.

Bara pun terdiam mndengar ucapan Anjani dan dalam sesaat wajah dan senyum Helend tiba-tiba tiba tergambar dalam pikirannya.

Anjani melepaskan tangannya dari cadar.

"Wanita mana yang senang mandul dan diceraikan lalu disuruh menikah dengan pria lain dalam satu hari?" tanya Anjani.

Nada suaranya mulai bergetar dan serak.

"Ayahku bahkan tidak bertanya apakah aku setuju."lanjut Anjani sedikit parau.

Bara tidak bisa membantah ia pun merasakan hal yang sama. meski di hadapannya telah duduk wanita yang siap untuk ia nikmati tubuhnya tapi ingatannya masih terkunci pada Helend istrinya, yang kini mungkin sudah sama Jodi.

tapi, meskiMereka sama-sama korban.

Namun, bukan berarti mereka harus saling menyukai.

"Aku tidak pernah meminta semua ini," ujar Bara sambil menyilangkan tangan di dada.

"Aku juga tidak," balas Anjani.

"Lalu kenapa kau tadi menawarkan tubuhmu?" tanya Bara.

Pertanyaan itu membuat Anjani terdiam.

Wajahnya memang tidak terlihat karena tertutup cadar.

Namun dari sorot matanya, Bara tahu wanita itu tidak nyaman.

Beberapa detik berlalu sebelum Anjani menjawab.

"Karena aku tidak punya pilihan," jawab Anjani.

Bara mengernyit.

Anjani menundukkan kepala.

"Sejak kecil aku selalu melakukan apa yang diminta keluargaku," lanjut Anjani.

Ia tersenyum tipis.

Sayangnya senyum itu terasa sedih.

"Hari ini pun sama."

Bara memandang wanita itu cukup lama.

Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahannya sedikit mereda.

Namun saat ia mengingat Helend, dadanya kembali terasa sesak.

"Helend benar-benar pergi?" tanya Bara.

Anjani mengangguk pelan.

"Tadi sore," jawab Anjani.

Bara menggenggam tangannya erat.

Tiga tahun.

Tiga tahun ia hidup bersama Helend.

Dan kini semuanya berakhir hanya karena keputusan orang lain.

Melihat ekspresi Bara, Anjani kembali membuka suara.

"Kau masih mencintainya?" tanya Anjani.

Bara tertawa kecil.

Bukan karena lucu. Melainkan karena pertanyaan itu terasa menyakitkan.

"Aku menikahinya selama tiga tahun," jawab Bara.

"Itu bukan jawaban," balas Anjani.

Bara menghela napas panjang.

"Aku tidak tahu apakah itu cinta atau kebiasaan. Tapi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan kehilangan dia seperti ini," kata Bara.

ucapan Bara sontak membuat ruangan kembali sunyi.

Beberapa saat kemudian ponsel Bara bergetar.

Ia langsung mengambilnya.

Nomor tidak dikenal.

Bara mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Tuan muda, akhirnya kami berhasil menghubungi Anda."

Suara pria tua terdengar dari seberang.

Baratidaj langsung mengenali suara itu.

"Saya tidak kenal Anda," kata Bara.

"Namun kami mengenal Anda, Tuan Muda" jawab pria itu.

Bara mengernyit sambil menatap langit-langit kamar sementara semerbak wangi farpum Anjani masih menguarkan di hidungnya.

Pria di telpon itu lantas melanjutkan,

"Ayah Anda sedang sakit keras."

Entah mengapa, ketika mendengar itu, Jantung Bara seketika berdetak lebih cepat.

"Kami membutuhkan Anda."lanjut pria di ponsel itu.

namun belum sempat Bara brtanya lebih jauh, tiba-tiba saja Sambungan terputus begitu saja.

Bara menatap layar ponselnya beberapa saat sambil geleng-gelengxkepala dan berdecak kesal.

Anjani memperhatikan dari kejauhan.

"Ada masalah?" tanya Anjani.

"Tidak ada," jawab Bara.

"Itu jelas wajah orang yang sedang punya masalah," balas Anjani.

Bara memasukkan ponselnya ke saku.

"Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi," kata Bara.

Malam semakin larut.Jam menunjukkan hampir pukul sebelas. Sementara Bara duduk di sofa.

Dan Anjani masih duduk di tepi ranjang.

Suasana terasa canggung.

Sampai akhirnya Anjani kembali membuka suara.

"Bara."

"Hm?" sahut Bara.

"Kau benar-benar tidak penasaran dengan wajahku?" tanya Anjani.

Bara menatapnya.

Sementara Wanita itu perlahan berdiri. Lalu berjalan melangkah,

Langkahnya pelan.Satu langkah dua langkah,tiga langkah.Hingga akhirnya berhenti tepat di depan Bara.

"Kau tahu kenapa aku selalu memakai cadar?" tanya Anjani.

Bara menggeleng.

"Karena semua orang bilang wajahku memalukan," jawab Anjani.

Anjani menarik napas panjang.

"Tapi malam ini aku lelah mendengar penilaian orang lain." lanjut Anjani.

Jantung Bara mulai berdetak lebih cepat.

Entah kenapa.Perlahan...Bahkan Sangat perlahan...

Anjani mengangkat kedua tangannya.

Lalu memegang ujung cadarnya.

Bara menatap tanpa berkedip.

Kain hitam itu mulai turun sedikit demi sedikit.

Memperlihatkan dagu putih mulus.

Lalu bibir merah muda yang terlihat lembut.

Bara mulai mengernyit.

BERSAMBUNG,ya,Manteman. mksh sudah singgah. jgn lupa sub. komentar dan gift jika berkenan. semoga rejeki Manteman semua semakin mengalir dan berkah. Aamiin. mksh banyak,Manteman

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 10

    Bara memutar gelang perak di telapak tangannya. Logam dingin itu terasa berat, seolah menyerap seluruh keraguan yang sempat bertahta di kepalanya. Ia menarik napas dalam, meresapi aroma tanah basah di halaman rumah yang selama ini menjadi penjaranya.​"Saya akan ikut," ucap Bara. Suaranya rendah, namun tiap katanya mendarat dengan telak di udara yang sunyi. "Bukan karena harta. Saya hanya ingin tahu siapa diri saya yang sebenarnya."​Jodi yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Warna wajahnya luntur seketika, menyisakan rona pucat pasi. Tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai bergetar hebat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana.​Di sisi lain, Helena terhuyung mundur. Ia harus mencengkeram tiang teras dengan jemari yang memutih demi menjaga keseimbangan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan.​Roland tidak membuang waktu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di belakangnya, barisan pria

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 9

    Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.​Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara.​"Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.​Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan.​"Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 8

    Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.​Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.​Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.​Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat.​"Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.​Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. S

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 7

    Suasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan."...apa yang akan kau pertaruhkan?"Kalimat itu masih menggantung di udara.Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik.Beberapa detik yang terasa panjang.Rahangnya bergerak pelan.Matanya menyipit ke arah Anjani.Lalu ke arah Bara.Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya."Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?"Nada suaranya santai.Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu.Anjani tidak menunduk seperti biasanya.Ia tetap menatap Jodi."Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang.Beberapa kerabat saling pandang.Jodi langsung tersenyum tipis.Senyum yang tidak sampai ke matanya."Menarik."Ia mengangguk pelan."Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara sepe

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 6

    Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu. Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 5.Menantu Miskin sang PEWARIS

    Pagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status