MasukAku hanya tersenyum masam saat Mamah mengatakan aku takkan memakai seragam dan dirias karena repot mempunyai anak kecil. Padahal kenyataannya, bukan seperti itu. Mamah berbuat demikian karena tak menyukaiku.
Lihat lebih banyak"Kenapa harus sesakit ini, Bang?" tanya seorang wanita dengan nada yang begitu pelan. Bukan pelan, hanya saja untuk mengucapkan sebuah kalimat saja tenggorokannya hampir tercekat.
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang lelaki, wanita itu menoleh dengan tersenyum getir ke arah laki-laki yang sudah hampir setahun ini menjadi suaminya itu. Perlahan tubuhnya bangkit lalu mendekat ke arah sang suami yang masih berdiri membelakanginya."Pergilah jika bersamaku Abang tidak pernah merasa bahagia, aku ikhlas," ujar Rania dengan nada sumbang. Sungguh perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya sangat bertolak belakang dengan apa yang diinginkannya.Sontak saja Angga menoleh dan menatap Rania dengan mata menyipit setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri tadi. Bagaimana mungkin Rania yang begitu sangat mencintainya bisa mengatakan hal seperti itu kepadanya?"Aku tidak akan pernah memaksamu lagi untuk bisa mencintaiku. Sekarang carilah kebahagiaan yang bisa membuatmu bahagia," lanjut Rania dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh bening-bening kaca.Tanpa menunggu jawaban sang suami, Rania memilih untuk pergi dari kamar yang sudah satu tahun menjadi saksi bisu kisah cintanya dengan sang suami. Di mana kamar yang telah menjadi kamar pengantin mereka sesaat setelah ijab kabul selesai.Rania mencoba menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya setelah berada di teras rumah mewah yang telah sah menjadi miliknya. Meskipun Rania sudah mencoba menenangkan hatinya, akan tetapi rasa sesak itu semakin terasa jika dirinya mengingat bagaimana akhir dari rumah tangganya.Rania, seorang gadis yang berasal dari ranah Minang harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menjadi seorang dokter karena keadaan orang tuanya yang tidak mampu untuk membiayai kuliahnya.Seorang gadis yang memiliki paras yang cantik, memiliki lesung pipi di bagian kanan pipinya. Hidung tidak terlalu mancung, akan tetapi tidak membuat kecantikannya pudar. Jika tersenyum semua orang pasti akan terkesima melihatnya, ditambah dengan sikapnya yang begitu sangat sopan dan santun jika bertemu dengan orang lain.Rania yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, harus mengorbankan mimpi indahnya dengan menerima perjodohan dari kedua orang tuanya. Awalnya, Rania menolak mentah-mentah perjodohan itu karena dia masih ingin menikmati masa lajangnya. Namun, karena paksaan orang tuanya membuat Rania mau tak mau harus menuruti keinginan kedua orang tuanya.Sayangnya, pernikahan yang diharapkannya akan berujung bahagia ternyata hanya sebuah mimpi belaka. Mimpi indah yang hanya ada berada di angan Rania, harus berakhir menjadi mimpi buruk selama setahun ini.Rania menunduk, perlahan setetes air mulai jatuh membasahi punggung tangannya yang sedang meremas ujung bajunya. Tak lama bahunya bergetar dengan isakan kecil yang terdengar begitu menyayat hati."Rania." Angga memanggil sang istri ketika hari sudah menunjukan pukul 10 malam. Sedangkan Rania yang masih berada di taman rumahnya hanya diam membeku dengan kedua tangan saling memeluk satu sama lain."Sampai kapan kau akan berada di situ? Masuklah," tanya dan perintah Angga dengan nada datar. Rania diam tidak menjawab pertanyaan sang suami.Melihat Rania tidak menggubris ucapannya, membuat Angga menarik napas dan melepaskannya secara kasar.Dengan satu tarikan tangan Angga berhasil membawa Rania masuk ke dalam rumah. Tidak lupa laki-laki itu sedikit menggerutu karena kekerasan kepala sang istri. Rania yang mendengar jelas ucapan sang suami, hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa perih di dalam hatinya."Pulangkan aku kepada orang tuaku, Bang," pinta Rania dengan tatapan mata yang memerah, lalu dengan sekuat tenaga dia kembali bangkit dari duduknya setelah tadi Angga menyuruhnya untuk duduk.Angga diam, tidak menggubris kemauan Rania yang dari tadi memintanya untuk berpisah. Bukan karena cinta Angga mempertahankan hubungan mereka, akan tetapi karena sebuah janji yang sudah disepakatinya dengan sang ayah."Jika sudah waktunya, kau akan kupulangkan tanpa harus kau suruh, Rania," jawab Angga membuat wanita itu menoleh.Rania tertegun, tidak menyangka kalau sang suami ternyata sudah merencanakan perpisahan mereka, dan itu hanya menunggu waktu saja. Rania tersenyum miris memikirkan jalan takdirnya yang seakan sedang mempermainkannya.Rania masih ingat bagaimana pertemuannya dengan lelaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Laki-laki yang ditemuinya ketika keluarga Angga datang meminang ke rumah saat itu. Tidak ada yang salah saat itu, semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya mereka melangsungkan pernikahan.Lalu sekarang tentang waktu! Waktu apa yang dimaksud oleh Angga sehingga menyuruhnya untuk menunggu. Malas berdebat dengan sang suami, Rania lebih memilih pergi ke dapur lalu mengambil air dan meminumnya."Tunggulah, Rania. Sebentar lagi kau akan terbebas dari hubungan ini," lirih Angga berjalan dan masuk ke dalam kamar setelah Rania menghilang menuju dapur.Angga Pramana, seorang laki-laki yang juga berasal dari tanah Minang. Seorang putra dari juragan beras di kampung halamannya. Angga merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang harus menikahi seorang gadis pilihan dari kedua orang tuanya, sedangkan waktu itu dia masih memiliki seorang kekasih.Dengan berat hati Angga pun harus menikahi gadis dari pilihan Ayahnya, dan terpaksa melepaskan sang kekasih yang berakhir membenci dirinya."Apa kamu tidak bisa menolaknya, Ngga?" tanya sang kekasih waktu itu. Angga diam, tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada sang kekasih."Dulu, kamu begitu mengejar cintaku. Seakan tidak akan pernah melepaskan ku, lalu sekarang apa?" tanya gadis itu dengan wajah yang sudah sembab karena lelah menangis.Tidak! Angga tidak pernah ingin melepaskan kekasihnya, dia begitu mencintai sang kekasih dan sangat ingin mempersuntingnya. Namun apa yang harus Angga lakukan ketika sang Ayah yang lebih berkuasa atas kehidupannya. Menolak pun percuma, hanya akan menimbulkan perpecahan di antara anak dan ayah itu.Lamunan Angga buyar ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Lelaki itu menoleh, dan melihat Rania dalam keadaan kusut yang sudah berdiri di depannya. Tanpa menyapa sang suami, gadis yang masih perawan itu mengambil ponselnya lalu mengambil sebuah selimut yang ada di dalam lemari."Rania, kamu mau kemana?" tanya Angga melihat sang istri membawa selimut keluar kamar. Namun seakan tuli, Rania tetap berjalan dan mengabaikan sang suami yang masih menunggu jawaban darinya.Lelaki itu memejamkan matanya mencoba untuk berpikir positif, mencoba berpikir kalau apa yang dilakukannya sudah benar. Tidak menyentuh sang istri selama ini, adalah keputusan yang tepat untuknya. Karena dia tidak mau merusak orang yang tidak dicintainya sama sekali.Sayangnya keputusan yang diambil Angga ternyata salah, istri yang selama ini tidak pernah disentuhnya sudah mulai merasa lelah dengan kehidupan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya keputusan berpisah adalah salah satu keputusan yang tepat ketika tidak lagi merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangganya.”Belum lama, Mas. eh ngomong-ngomong boleh kan saya duduk gabung di sini?” tanya Zayn. Mas Hasan langsung melirikku. Aku pun langsung menggelengkan kepala. Mas Hasan pun terlihat menghela napas. ”Maaf, Mas Zayn. Tapi ada baiknya Mas cari meja lain. Istri saya pasti risih kalau makan dekat laki-laki selain saya,” katanya. Zayn melirik padaku. Lalu mengangguk pelan. Aku harap dia tahu batasan. Walau tak tahu apa tujuannya, tapi aku merasa kalau dia seperti memiliki niat terselubung. ”Baiklah, Mas. Kalau begitu saya pindah ke meja sebelah sana saja,” katanya. "Silahkan, Mas." Setelah Zayn beranjak dari meja kami, Mas Hasan langsung meraih tanganku. ”Adek ada masalah sama dia?” tanyanya. "Enggak ada. Cuma emang risih aja, Mas,” sahutku. ”Maaf kalau akhir-akhir ini Mas nggak peka sama kamu, Dek.” "Enggak apa-apa, Mas.” Aku merasa lega mendengar permintaan maafnya. Kuharap setelah ini Mas Hasan bisa lebih peka padaku, dan tidak jadi lelaki dayyuts. Membiarkan istrinya i
BMK 67Semenjak kehadiran Zayn, aku jadi sering dihantui ketakutan. Bayangan-bayangan yang seharusnya tak kuingat lagi, mendadak bermunculan. Mengganggu aktifitas serta tidur nyenyakku.”Mas perhatikan akhir-akhir ini Adek sering melamun. Adek ada masalah?” tanya Mas Hasan sambil menatapku lekat-lekat. Aku yang tengah menikmati mie ayam pun untuk sesaat berhenti mengunyah. Sibuk mengolah alasan yang tepat. Tak mungkin kan kukatakan kalau aku ... Ah, sudahlah.”Aku lagi pusing aja, Mas,” jawabku yang pada akhirnya langsung kusesali. Kenapa menjawab seperti itu? Nanti bisa saja Mas Hasan pasti bertanya lagi kan?”Pusing kenapa, Dek?”Tuh kan benar? Aku tersenyum kaku. Sebelum akhirnya bergelayut di lengannya.”Nggak tau, Mas. Mungkin efek beradaptasi punya bayi kembar,” jawabku sekena. Mas Hasan membulatkan bibir. Ah, semoga saja dia mempercayai jawabanku.”Mau jalan-jalan?”Penawarannya membuatku cukup tersentak. Tapi tak membuatku begitu tertarik. Aku tertawa garing. lalu menggeleng
”A-aku nggak tau, Mas.” Aku menjawab sejujurnya, dan memang baru sadar juga. Kenapa Zayn bisa mengenaliku setelah cukup lama kami tak bertemu. ”Oh mungkin dari Ustazah Halimah ya, Dek?” ujar Mas Hasan. Aku langsung memalingkan wajah. ”Iya mungkin,” jawabku, ”sudahlah, kok jadi mikirin dia sih? Mending tidur lagi, yuk! Ngantuk banget nih.” ”Ayo, Dek.” Mas Hasan menyahut sambil menempelkan tubuh kami. Namun belum sempat mata ini terpejam, terdengar suara tangisan si kembar yang memekakan telinga. ”Astagfirullahal adziim ...” Aku meraup wajah dengan kasar, dan hendak turun. Namun Mas Hasan menahanku. ”Biarin Mas saja. Adek tidur saja,” katanya. ”Tapi, Mas—” ”Tidur, ya! Kamu pasti capek banget,” potongnya cepat. Aku pun mendengkus pelan, dan menurut. Karena memang kepala terasa berat. Aku terbangun saat mendengar suara Mas Hasan yang bersahutan entah dengan siapa. Setelah membersihkan diri dari hadats besar, aku pun lantas keluar untuk menghampiri si kembar. Tapi mendadak langkah
Aku mengernyit saat mendengar deru mobil Mas Hasan. Setelah merebahkan si Kembar, aku buru-buru melangkah ke luar dan mendapati Mas Hasan juga Mamah berdiri di teras dengan senyuman lebar.”Mas, kok sudah pulang?” tanyaku. Mengingat baru tiga jam mereka pergi. Seharusnya mereka baru sampai di Cianjur. Mas Hasan tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan menghampiriku. Lalu merangkul bahuku.”Masuk, yuk!” ajaknya. Aku diam, tapi tak menolak saat tubuhku digiring masuk.”Mas ...” ucapku saat dia mendudukanku. Tapi terhenti karena Mas Hasan menaruh telunjuknya di bibirku.”Tunggu Mamah dulu,” katanya. Aku mengangguk walau hati rasanya kebat-kebit. Pikiranku sibuk menerka apa kiranya yang membuat Mas Hasan dan Mamah tak jadi ke Cianjur.”Assalamualaikum,” ucap Mamah yang baru masuk. Entah apa yang dilakukannya hingga tak langsung keluar dari mobil.”Waalaikumussalam.” Aku dan Mas Hasan menjawab serempak. Lalu beliau pun duduk di samping Mas Hasan, berhadapan denganku.”Kenapa nggak jadi, Mas,
Setelah makan berjamaah, Bibi Ndeh pamit pulang. Selain memberi bingkisan, Mamah juga memberinya uang. Bibi Ndeh memang pantas menerimanya, karena dia begitu totalitas dalam rewang. Mas Hasan dan Khalid mengantarnya sampai ke terminal.Kulangkahkan kaki ke dapur. Masih ada sedikit pekerjaan yang ha
Cahaya matahari mulai menyembul dari arah timur saat aku menghangatkan makanan sisa hajatan kemarin. Setelah shalat subuh, aku dan Bibi Ndeh langsung ke dapur umum. Dia membereskan sisa-sisa bumbu, lalu membawanya ke dapur Mamah. “Kalau di sini udah beres, Bibi mau langsung pulang. Kasihan Mang Ad
Kulirik Yanti yang menatap Mas Hasan dengan lekat. Sebagai sesama perempuan, dari caranya menatap, aku tahu kalau dia punya perasaan lebih pada Mas Hasan. Beruntung, Mas Hasan tak menanggapi. Suamiku itu khusyu melahap sambil menyuapi putra kami.Setelah selesai, Ningrum, Rika dan Nuri mengajak Yan
“Jangan bosen berdoa, ya. Haqqul yakin, suatu saat Allah akan mengabulkan doamu,“ kata Uwak Piah. Saat tengah menikmati jamuan Uwak Piah, terdengar deru suara motor. Kami saling pandang dan menyorot sosok yang mengendarai motor matic milik Ningrum. Aku melongo saat melihat Mas Hasan datang menjemp






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan