LOGINNazha gadis cantik berusia 23 tahun terpaksa menerima perjodohan untuk menyelamatkan ekonomi keluargannya. Tapi ternyata di balik itu ada konspirasi yang buruk yang direncanakan Reymon suaminya. Di malam pertamanya lewat aplikasi protitusi online justru Reymon menjual Nazha untuk menyelamatkan keuangan perusahaannya yang di ambang kebangkrutan. Bagaimana kelanjutan pernikahan Nazha dan Reymon yang sudah rusak di awal pernikahan?
View MoreNazha menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca, wajah cantik dengan kulit putih bersih itu tak kuasa menahan air mata, permintaan sang ibu bukannya hanya membuat sedih hatinya tapi hancur dunianya, baru memasuki semester enam ia menempuh pendidikan di fakultas psikologi dan kini impiannya harus hancur karena perjodohan.
“Kenapa Bu…kenapa harus sekarang, kurang satu tahun lagi aku lulus,” ucap Nazha lirih bercampur tangis.
“Usaha ayahmu bangkrut, jangankan untuk biaya pendidikanmu, untuk makan kita saja tak cukup,” jawab wanita berusia 50 tahun dengan wajah tegangnya.
“Aku bisa bekerja dan membiayai kuliahku sendiri, aku mohon Bu, jangan paksa aku menikah, aku belum siap,” mohon Nazha bahkan gadis itu sampai berlutut di kaki sang ibu.
Laras tidak bergeming, tatapan masih ke depan, tidak ada rasa iba sedikitpun melihat Nazha bersimpuh sambil menangis memohon supaya ibunya membatalkan perjodohan.
Laras bangkit dari duduknya dan membuat Nazha terjengkang, Laras tidak perduli.
“Jika kamu menolak perjodohan ini, kita akan kehilangan tempat tinggal,ingat keadaan ayahmu! Siapkan dirimu, nanti malam calon suamimu akan datang untuk makan malam!” suruh Laras sambil berjalan meninggalkan putrinya.
Nazha menghentikan tangisannya, ia menyadari jika permohonannya pada sang ibu tak akan dituruti. Ia berlahan bangkit berjalan dengan langkah pelan dan terlihat putus asa, melewati kamar sang ayah tertutup rapat, enam bulan ini ayahnya sakit, usaha mebel yang dimilikinya semakin lama semakin hancur. Keuangan menjadi tidak stabil dan terlilit hutang besar.
Ceklek, Nazha memberanikan diri untuk berbicara dengan sang ayah, mata sembabnya menatap pria tua 60 tahun yang terbaling lemah di pembaringan.
“Ayah…” panggil Nazha lirih berharap sang ayah merasakan kegalauan hatinya.
“Nazha …turuti perkataan ibumu, hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga ini dari kehancuran.” Perkataan sang Ayah menambah kecewa hati Nazha, bersimpuh dihadapan sang ayah sambil menangis.
“Ayah tahu ‘kan impianku belum tercapai,” balas Nazha.
“Capai impianmu setelah menikah, kamu akan punya banyak uang setelah menikah, kehidupan akan lebih baik, percayalah,” ucap pelan sang ayah.
Nazha terdiam, ia tak mau berdebat, tatapannya kembali nanar menatap wajah sang ayah yang semakin pucat,bahkan mereka tak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit.
Nazha meninggalkan kamar sang ayah tanpa berkata apapun, kembali melangkah menuju kamarnya, menatap bingkai foto seorang wanita muda yang tampak usang.
‘Seandainya mama masih ada, apa kamu akan juga akan menjodohkanku dengan pria asing tak pernah aku kenal?’ batinnya.
Nazha menangis di atas bantal sambil memeluk bingkai foto yang mulai memudar gambarnya dia adalah foto wanita yang melahirkannya, hingga suara ketukan pintu terdengar masuk ke pendengarannya, gadis yang memiliki hidung mancung dan rambut sebahu itu terbangun, lalu berjalan membukakan pintu.
“Cepatlah mandi, dan turun ke bawah, calon suamimu sebentar lagi datang,“ suruh Laras dengan lembut.
Nazha menarik tangan Laras. “Kenapa harus aku yang ibu jodohkan, kenapa tidak Sheren.” Tatapan mata Nazha menajam bercampur sendu.
”Ibu jodohkan dengan pria seperti apa aku?” lanjut Nazha mencoba protes.
Laras menatap tajam, dikibaskannya tangan Nazha yang masih mencengkram lengannya.
“Apa kamu berpikir aku akan menjerumuskanmu pada pria yang salah, meskipun kamu anak sambungku, tapi Sharen sedarah denganmu, dia baru memulai karir modelnya dan sebentar akan menghasilkan uang banyak, lagi pula ingat awal kebangkrutan ayahmu, untuk mengobati sakitmu yang menelan uang tidak sedikit hingga ayahmu harus mengadaikan rumah ini ,” jawab tegas Laras.
Nazha hanya bisa pasrah, dengan keadaan sekarang, melangkah masuk ke kamar mandi dan mempersiapkan dirinya untuk bertemu sang calon suami.
Beberapa menit berlalu, Nazha keluar dari kamar baju dres warna biru muda sederhana dipilihnya, rambut hanya tergerai rapi, riasan sederhana menghiasai wajah cantiknya, dengan langkah pelan, ia menuruni tangga hingga sampai di anak tangga terakhir ia menatap seorang pria muda dengan kemeja cokelat, sedang duduk di sofa berbincang dengan Laras.
“Nah…itu Nazha, putri pertamaku,” ucap Laras tersenyum hangat menatap Nazha.
“Duduklah Naz, kenalkan ini Reymon,” lanjut Laras memperkenalkan Nazha pada Reymon.
Nazha berjalan pelan, mendekat ke arah sofa, lalu menjabat tangan pria yang berdiri menyambutnya uluran tangannya, lalu keduanya duduk.
Nazha sekilas menatap pria itu wajah nyaris sempurna, tampan, tubuhnya tinggi tegap, kulitnya putih dan bersih.
“Kalian berbicanglah, ibu akan siapkan makan malamnya,” ujar Laras sambil bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Semetara itu Nazha dan Reymon saling tatap dan suara Reymon memecah keheningan.
“Kamu sudah siap ‘kan, menikah denganku?”
“Siap tidak siap, kita dijodohkan, dan aku tak kuasa menolak perjodohan ini,” jawab Nazha.
“Baguslah, setidaknya jangan kabur saat pernikahan nanti, apa kamu perlu data diriku, aku rasa Bu Laras sudah memberitahukan tentang siapa dan pekerjaanku?”
“Identitas tidaklah penting, yang terpenting setelah kita menikah kita harus punya tujuan yang sama “kan?”
“Betul sekali, berbicara denganmu ternyata semenarik ini,”
Pembicaraan mereka terhenti ketika Laras mendekat ke arah ruang tamu.
“Nazha, Reymon, makan malam telah siap, mari kita makan dulu,” ajak Laras.
Lalu ketiganya sudah duduk di kursi makan di atas meja sudah tersaji, menu makan malam, lengkap dengan buah.
Nazha tenggelam dalam pikirannya sesekali menatap pria di depannya yang tampak elegan dengan cara ia menyuap menu di piringnya.
‘Terlihat sempurna, sopan, berwibawa, kaya raya, dan tampan. Tapi kenapa aku masih gelisah, apa yang salah dengan pria ini,’ batin Nazha.
“Naz..kenapa melamun ayo makan,” ujar Laras menatap Nazha.
Nazha mengangguk, meraih piring dan mengisinya dengan menu istemewa yang dihidangkan malam ini, mencoba menyakinkan dirinya jika pilihan ibu tirinya adalah terbaik.
Satu jam berlalu Reymon berpamitan dengan senyum hangatnya ia menjabat tangan Laras dan Nazha. Lalu pria itu berjalan menuju mobil sedan hitamnya.
Nazha dan laras masih berdiri di teras rumah sampai mobil Reymon tak terlihat lagi dari pandangannya.
“Bagaimana, apa kamu masih berpikir jika aku hanya akan menjeruskan hidupmu, pria yang akan kamu nikahi tampan, pemilik dari perusahaan property dan satu lagi, kamu tak perlu dipusingkan dengan ibu dan bapak mertua, karena orang tua Reymon sudah meninggal. Persiapkan dirimu untuk pernikahan!” tegas Laras.
Nazha terdiam banyak sekali yang dipikirkannya, lalu ia menatap Laras. Tetapkan pernikahan kami,“ balas Nazha pelan namun tegas.
Nazha tak pernah tahu keputusan penting yang ia buat akan mendatangkan peristiwa besar di kehidupannya.
Devon menghempaskan tubuhnya di bangku, disampingnya duduk Vidya .“Tak seharusnya kamu berada di tempat ini, Vid?”“Iya seharusnya aku menikah denganmu, Meira sangat beruntung menikah denganmu,”sahut vidya“Bahkan Meira pun tak seberuntung kamu, setidaknya mentalmu terguncang tapi kamu masih kuat menghadapi hidup sedangkan Meira entah beban apa yang ia tanggung sampai akhirnya memilih mengahkhiri dirinya sendiri,”ungkap Devon pelan“Maksudmu, Meira bunuh diri?”“Betul, Meira mengakhiri hidupnya sebelum kami menikah,”jawab DevonVidya tertunduk, sesaat ia terlihat sedih, lalu menatap dalam ke arah Devon“Lalu kenapa kamu menemuiku?”Devon menoleh ke arah Vidya, bibirnya terasa kelu.”Heumm aku ingin kamu sembuh Vid,”jawab Devon“Aku sembuh jika kamu mau menikah denganku,”Helaan naps terdengar dari bibir Devon.”kamu masih terobsesi padaku Vid?”“Entah itu obsesi atau cinta aku menginginkan dirimu,”jawab VidyaSesaat mereka terdiam, tanpa sepengetahuan Vidya,dokter dan seorang perawat s
Devon berdecak kesal, sambil membuang muka“Permintaan Anda sungguh di luar batas, menikahi Vidya sama saja membangun gunung es yang pasti akan mencair , itu sama saja sia-sia,”jawab Devon“Hanya itu tawaranku Devon, atau Bara akan menjadi anak angkatku selamanya, lihatlah aku sudah mengadopsi Bara, secara legal, perlu waktu lama untukmu mengugatnya dan selama dia masih dalam gengamanku, aku bisa berbuat apa saja pada bayi mungil itu, akan sangat mudah melenyapkannya, dengan dalih sakit, iya kan?”“Anda sungguh biadap jika melakukan hal itu,”“Aku tak peduli, aku hanya pria tua yang menginginkan putri satu-satu sembuh, “timpal Mahesa serius.Devon terlihat marah tatapan menajam, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang bergetar dan berdering.Devon memgangkat ponsel, pangilan dari mbok War“Hallo mbok,”sapa Devon“Tuan, Non Nazha pingsan, saya sangat khawatir , keadaan memburuk, “jawab mbok War bernada cemas.“Aku akan segera pulang,”Devon dengan cepat menutup ponsel dan ba
Bibi Ratmi mengendong Bara.”Bagaimana ini tuan, apa kita harus mengembalikan Bara?”“Tidak Bi Ratmi, aku tidak akan mengembalikan Bara, setidaknya tidak semudah itu Bara kembali pada orang tuannya. Lihatlah siapa ayah dari Bara, apa kamu lupa pria itu?”Ratmi menajamkan penglihatanya di layar televisi, ia langsung membelalakan matanya“Ya ampun itu tuan Devon, pria yang membuat non Vidya depresi berat,”ujar Ratmi“Ini kesempatanku untuk membalas Devon, dia harus bertanggung jawab gara-gara dia Vidya puriku mengalami depresi.”Mehesa berkata dengan nada tegas.Mahesa melangkah menuju ruang kerjanya, lalu menelepon seorang pengacara, ia berencana, mengadopsi Bara, secara legal.Senyum kemenangan timbul di bibir Mahesa, pria tengah baya itu merencanakan sesuatu.“Mungkin ini saatnya Vidya sembuh dari depresinya,”gumam Mahesa menatap foto didrinya dan VidyaMahesa pun memutuskan untuk mengunjugi rumah sakit jiwa , tempat selama tujuh tahun ini Vidya dirawat.“Bagaimana perkembangan putrik
Devon dan Yuni pergi meninggalkan perkebunan karet, menuju sebuah pemukiman yang berjarak 200 meter dari perkebunan, Devon turun dari mobil, dan mulai menanyakan pada warga.“Apa warga disini, ada yang menemukan bayi, siang tadi diperkebunan karet?”tanya Devon“Para pekerja satu minggu ini libur, jadi disana sepi, aku rasa jika ada seseorang yang menemukan pasti sudah lapor pada ketua RT setempat,”jawab warga dengan sangat yakin“Heumm “desahan kecil, Devon putus asa, apa yang dikatakan warga ada benarnya, jika ada yang menemukan pasti sudah diserahkan ke kantor polisi.Yuni terdiam, merasa bersalah, apalagi melihat Devon yang sedih dan cemas, deringan ponsel, terdengar membuat Devon enggan mengangkat pangilan dari Nazha“Haloo Naz…kami belum menemukan Bara,”ucap Devon“Dev..kamu harus menemukan Bara,”mohon Nazha terdengar tangisan yang menyayat hati“Aku akan berusaha, “jawab Devon“Aku bisa mati jika kamu tak bisa menemukan anakku,”rengek Nazha“Maafkan aku Naz, aku pasti akan berus
Taksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan oper
“Ahh sudahlah Bu.. tak ada gunanya membahas ibu kandung Nazha, lebih baik kita focus dengan rencanaku, aku ingin sekali menyingkirkan Nazha dari apartemen ini, “ucap Sheren dahinya berkerut mulai memikirkan cara licik“Ahhh…susah sekali menyingkirkan gadis itu, “gumam Laras“Bu…lebih baik ibu pula
Pagi itu tak terlihat langit mendung, Devon sudah berangkat ke kantor,Nazha masih di dalam kamar demikian juga dengan Sheren. Hingga sebuah bel pintu membuat Nazha keluar kamar. Nazha melihat siapa yang datang, lalu ia membukakan pintu setelah tahu di luar pintu ada Andi.“Maaf Bu Nazha, saya ke s
Sheren memendam amarah atas perkataan Devon. “Aku mengandung anakmu, sedangkan Nazha mengandung anak pria misterius yang nggak jelas!”“Sheren aku tak mau berdebat denganmu, keluar dari kantorku, jangan kamu temui Nazha!”perintah Devon“Kamu harus bertangung jawab atas perbuatanmu, atau, aku sebark












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews