MasukDevon dan Yuni pergi meninggalkan perkebunan karet, menuju sebuah pemukiman yang berjarak 200 meter dari perkebunan, Devon turun dari mobil, dan mulai menanyakan pada warga.“Apa warga disini, ada yang menemukan bayi, siang tadi diperkebunan karet?”tanya Devon“Para pekerja satu minggu ini libur, jadi disana sepi, aku rasa jika ada seseorang yang menemukan pasti sudah lapor pada ketua RT setempat,”jawab warga dengan sangat yakin“Heumm “desahan kecil, Devon putus asa, apa yang dikatakan warga ada benarnya, jika ada yang menemukan pasti sudah diserahkan ke kantor polisi.Yuni terdiam, merasa bersalah, apalagi melihat Devon yang sedih dan cemas, deringan ponsel, terdengar membuat Devon enggan mengangkat pangilan dari Nazha“Haloo Naz…kami belum menemukan Bara,”ucap Devon“Dev..kamu harus menemukan Bara,”mohon Nazha terdengar tangisan yang menyayat hati“Aku akan berusaha, “jawab Devon“Aku bisa mati jika kamu tak bisa menemukan anakku,”rengek Nazha“Maafkan aku Naz, aku pasti akan berus
BAB 79 MenghilangYuni duduk di jok belakang taksi, sambil memangku Bara yang kini terlelap.“Baguslah kamu tidur, lebih memudahkan aku untuk membuangmu, kamu tak pantas menjadi bagian dari keluargaku, anak haram, bahkan kami tak tahu benih apa yang ada didalam dirimu,’batin Yuni dengan kebencian yang teramat sangat.Sementara itu baby sister yang sudah selesai makan, mencari keberadan Bara dan Yuni, semua ruang dalam rumah dicarinya tapi Yuni tak didapatinya, hingga langkahnya menuju luar rumah, halaman depan ,halaman samping dan belakang tetap saja tak didapatinya Yuni dan Bara, lalu baby sister itu menuju pos security depan.“Apa kamu melihat Nyonya Yuni?”“Ohh..setengah jam lalu ia keluar dengan Bara, naik taksi,”jawab sang security“Kemana?”“Katanya mau berobat , Bara, lagi demam,”jawab security dengan tenang“Demam? Bara tidak demam,”sahut baby sitter bingung“Coba aku hubungi Nyonya Yuni dan menanyakannnya,”Security meraih ponsel, dan menghubungi Yuni, tapi ponsel Yuni tida
Nazha tersenyum bahagia. Dimana Dia, aku ingin melihatnya,”pinta Nazha“Aku akan meminta perawat untuk membawanya ke kamar,”Devon berdiri lalu berjalan keluar kamar, tak lama ia masuk bersama, seorang perawat yang mendorong box bayi kedalam ruangan“Bayi Bu Nazha sehat,, besok pagi sudah bisa dibawa pulang, tapi untuk Bu Nazha mungkin masih menalani perawatan di rumah sakit,”jelas perawat“Terima kasih suster, nanti saya akan memperkerjakan baby sister,”timpal Devon“Oke, saya tinggal dulu,”pamit perawatDevon mengendong bayi,lalu mendekatkannya pada Nazha, jemari Nazha mengusap lembut kepala sang bayi, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.“Kita akan beri mana siapa bayi tampan ini?”tanya DevonNazha terdiam, lalu menatap nanar kearah Devon.”Seandainya bayi ini darah dagingmu, mungkin kebahagiaan kita sempurna, “suara Nazha pelan dan ragu“Kita keluarga yang sempurna, kenapa kamu masih ragu?”“Maafkan aku Dev…”“Bagaimana jika kita memberinya nama Bara yang artinya Api,”Devon b
Menit terasa berjalan lama, Devon masih duduk di kursi tunggu kadang berdiri dan berjalan mondar- mandir meregangkan ketegangannya. Sampai akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan terlihat seorang perawat dan dokter keluar“Anda suami pasien?”tanya Dokter“Betul.”“Operasi berjalan lancar, peluru sudah bisa diambil, untung tidak melukai daerah fital, pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan,”jelas Dokter“Baik Dokter.”Devon bernapas lega, lalu memgikuti brankar dimana tubuh Nazha berbaring , Nazha sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Devon dengan setia menungu, sembari merebahkan tubuhnya di sofa.Satu hari berlalu, kondisi Nazha membaik tapi belum sadarkan diri dan itu membuat Devon cemas, satu hari ia hanya mendapatkan nutrisi dari infus, dan terlihat perawatpun tampak cemas, karena Nazha belum menandakan kesadarannya.“Kami khawatir dengan kondisi bayinya, jika Bu Nazha belum sadarkan diri, ini sudah satu hari,”ujar perawat“Suster tolong aku ingin berbicara dengan Dokter,”
Devon bergegas ke lokasi vila, amarahnyaa sudah sampai di ubun-ubun ingin sekali menghajar Dimas, ia lupa jika luka diperutnya belum sepenuhnya pulih, tapi tekadnya untuk datang sendiri ke lokasi sangat bulat demi keamanan Nazha.Jeeb menuju Bogor dengan kecepatan tinggi.Sedangkan Dimas, yang baru keluar dengan sepeda montor menuju mini market, ia membeli kebutuhan dapur yang cukup banyak dan oba-obatan.‘Setelah Nazha melahirkan, aku akan membawanya ke Singapura, sampai dia melupakan Devon,saat ini pasti Devon sudah menyangka jika Nazha dan aku tewas terbawa arus sungai, ‘batin Dimas penuh rasa percaya diri.Sementara itu vila bambu di jaga oleh satu orang bersenjata tajam,dan selalu berjalan berkeliling vila, Nazha yang melihat itu menjadi putus asa“Heumm …diluar ada penjaga, bagaimana aku akan berteriak minta tolong,”Nazha kembali terduduk persaan cemas membuat perutnya terasa nyeri, ia mengusap pelan perut buncitnya tiba-tiba air mata menetes, mengingat kebaikan Dimas berubah
Tatapan mata Nazha kosong menatap ke arah makanan yang telah disiapkan Dimas, menu bubur ayam dan sebotol air mineral, menu makan pagi kesukakannya tapi pagi ini ia benar-benar tak bernafsu makan, diusapnya perut yang semakin membesar, satu bulan lagi bayi dalam perutnya akan lahir tapi ia justru berada ditempat asing jauh dari Devon dan menjadi tawanan Dimas. Nazha bangkit membuka jendela dengan teralis besi, menatap danau kecil pemandangan yang indah tapi terasa hampa.Tiba-tiba pintu terbuka, Dimas ada di balik pintu menatap makanan yang belum disentuh Nazha“Kanapa kamu tidak mau makan , apa kamu ingin bayimu itu tewas sebelum lahir?”ujar Dimas dengan sorot mata dinginNazha menoleh ke arah Dimas.”Jika kamu peduli pada bayiku, antarkan aku kembali pada Devon,”mohon Nazha dengan tatapan penuh harap“Kenapa kamu menolak tawaranku, aku bersedia menjadi ayah dari bayi itu, kita hidup bersama bahagia,”bujuk Dimas berjalan mendekati Nazha“Aku dan Devon sudah saling mencintai, kenapa
Devon menatap penuh arti ada yang menganjal hatinya, ketika melihat tatapan Dimas pada istrinya, tatapan seorang pria yang tengah jatuh cinta.Makan siang berlalu, setelah Dimas dan dokter Nia serta seorang staf pun berpamitan meninggalkan apartemen.“Ahhh…semuanya berjalan lancar, terima kasih Dev
Malam itu Nazha sangat gelisah setelah siang tadi mendapatkan ancaman dari Daniel, walau Dimas berkata Daniel tidak bisa berbuat apapun , tapi tetap saja ia khawatir, hingga suara pintu depan terdengar dibuka pertanda Devon telah pulang.“Dev..aku ingin bicara serius denganmu, “Nazha berkata“Apa a
Deringan ponsel terdengar di ponsel Dimas. Seorang perawat memberitahukan jika Bu Salma sadar dari koma dan selalu menyebut nama Nazha.“Naz, ayo kita ke kamar Bu Salma, dia sudah sadar,”ajak Dimas menarik tangan NazhaKeduanya bergegas menuju ruang perawatan, untung di pagi itu Frans dan Daniel
Nazha duduk di jok samping Devon yang tengah focus menyetir, tatapannya kosong ke jalanan, tak berkedip, manik mata cokelat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota, hatinya teramat sedih, dua puluh tahun tak pernah bertemu ibu kandungnya, haruskah pertemuan ini dilengkapi dengan tragedi







