بيت / Romansa / Balada Cinta ShaBar / 38. Akbar: Aroma Zara

مشاركة

38. Akbar: Aroma Zara

مؤلف: Nesri Baidani
last update تاريخ النشر: 2021-09-18 16:07:23

Waktunya untuk sedikit melemaskan kaki di Haneda. Sebelum lanjut ke Baltimore, singgah sebentar di satu-satunya all-vegan cafe di sini. Mencari makanan halal memang susah-susah gampang di bandara, tapi dengan restoran all-vegan, setidaknya tak perlu khawatir kandungan

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Balada Cinta ShaBar   105. Akbar: Galau

    Akhirnya, kutelepon nomor Alisha. Pada usaha pertama, teleponnya hanya berdering, tetapi tidak diangkat. Panggilan video kedua, juga diabaikan. Pada panggilan ketiga, baru diangkat oleh orang lain.“Halo.” Wajah Alex memenuhi layar. Ternyata dia benar-benar menunggui Alisha.“Halo,” jawabku tak bersemangat, “apa Alisha ada di sana?”Dia menoleh ke samping lalu berkata, “Dia lagi tidur.“Saya mau lihat bagaimana keadaannya,” kataku, memberi kode baginya untuk memasukkan Alisha ke dalam layar.Namun, dia tak menangkap kodeku, atau memang pura-pura tak paham. Aku memilih opsi kedua. “Semua sudah diurus dokter. Luka bakar sedang, derajat dua, di punggung dan kaki.

  • Balada Cinta ShaBar   104. Alisha: On Fire!

    Aku minta ijin buat jalan-jalan sendiri di area proyek. “Hati-hati, ya, Bu,” kata Hanif, “tetap dipakai sepatu safety dan helmnya.”Jadi, begitu masuk area proyek, aku sama Sari langsung dipinjemin peralatan-peralatan penunjang. “Sebenarnya pakai gamis kurang cocok untuk di sini, tapi hati-hati aja, ya, Bu,” gitu katanya.Aku manggut-manggut aja, sih. Manutlah, sama manajer proyek. Apalagi manajernya seganteng Hanif, uhuk.Astaghfirullah, tobat, Sha.Tapi beneran, deh, feeling-ku bilang kalo dia udah ada yang punya. Soalnya, dia seksi banget, astaghfirullah.

  • Balada Cinta ShaBar   103. Alisha: Ujian

    Pagi-pagi, Sari udah buru-buru ngedatengin aku pas lagi sarapan. “Mobil hotel sedang dipakai mengantar tamu, Bu. Saya sedang berusaha menghubungi travel untuk meminjam salah satu mobil mereka,” katanya dengan wajah agak cemas. Kayanya takut dimarahin karena ngga bisa ngurus soal mobil doang.Dalam hati, ketaw. Kebayang, dong, gimana kalo yang lagi dilaporin kaya ginian Akbar. Kalo aku, sih, cuma manggut-manggut trus kasih senyum semanis mungkin. Dia pasti udah berusaha keras buat dapetin mobil buat PJS Presdir. “Kalo pake taksol aja, gimana?” usulku.Sari keliatan lega dan ngangguk seneng. “Baik, Bu. Nanti kalo ngga dapat jawaban dari travel, saya akan langsung

  • Balada Cinta ShaBar   102: Akbar: Aaaargh!

    Naila terbahak. "Gayamu, Bang, kaya yang sanggup aja matiin orang." Kubiarkan dia menyelesaikan tawanya. Rasanya sudah lama sekali tak melihatnya tertawa selepas itu, tetapi pelayan malah menginterupsi dengan meletakkan lemon tea di hadapannya. "Biasanya kamu pesan cappucinno," kataku. "Kopi ngga bagus buat ibu hamil." Aku terdiam. Dia terdiam. Kami bertatapan. "Jadi udah fixed?"

  • Balada Cinta ShaBar   101. Akbar: Bukan Salahmu

    Pikiranku kacau, hilang fokus. Aku harus segera menata ulang lagi isi otak kalau mau tetap on track.Setelah mempelajari gmaps, kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Ada sebuah taman yang terlihat cukup menarik untuk dijelajahi.Setelah pamit kepada Ibu Topan, aku keluar dengan menautkan ritsleting jaket. Layar ponsel memang menunjukkan bahwa suhu di luar cuma dua belas derajat, tetapi dengan angin yang lumayan kencang, rasanya jadi lebih rendah dari itu, mungkin sepuluh derajat.Alisha pasti sudah menggigil di cuaca sedingin ini. Kulirik ponsel, tak ada notifikasi apa pun. Masih pukul delapan pagi di Yogya, mungkin dia m

  • Balada Cinta ShaBar   100. Akbar: Kesempatan Kedua

    Aku terbangun di atas sajadah dengan selimut menutupi badan. Sepertinya aku tertidur setelah salat subuh dan entah siapa menyelimutiku. Cahaya matahari pagi masuk melalui kaca jendela, menyilaukan mata. Kualihkan pandang ke kolong meja yang gelap. Sinar matahari menghangatkan kuping yang terasa beku.Aku malas bangun. Andai boleh memilih, aku tidak ingin menjalani hari ini.Ayah pasti akan memarahiku kalau bermalas-malasan seperti ini, tetapi dia sendiri ....Argh! Kenapa sulit sekali menerimanya? Baiklah, dia pernah bersalah, tetapi selama dia menjadi ayah, dia telah melakukan segala yang terbaik. Apa itu tidak cukup untuk menerimanya?Kenapa meributkan satu orang pacar Ayah, tetapi memaklumi sepuluh mantan Alisha?Ya,

  • Balada Cinta ShaBar   77. Akbar: My Fiance

    Baru sepuluh derajat, bibir Alisha sudah gemetar. Tampaknya dia tak hanya butuh mantel, tapi juga sarung tangan, syal, dan sepatu boot.

  • Balada Cinta ShaBar   73. Akbar: Salah

    "Fine!" Kututup mata, berusaha fokus memikirkan ke mana kira-kira Naila akan pergi. Namun, yang muncul malah gambaran es krim cokelat yang sedang meleleh kepanasan. Mungkin aku t

  • Balada Cinta ShaBar   68. Akbar: Terima Kasih

    Aku terbangun dengan leher kaku. Saat membuka mata, pandanganku tertutup helaian rambut yang terasa halus. Aroma lembut bebungaan membelai penciuman. Astaghfirullah! Aku tertidur di pundak Alisha. Buru-buru kutegakkan p

  • Balada Cinta ShaBar   Prolog: Daging Busuk

    Naila merasakan sakit tak terperi di antara dua kakinya. Jari-jari beserta lidah mereka masih menjelajahi dadanya, seperti belatung melenting-lenting di atas daging busuk.Naila sudah lemas. Matanya mengabut, tak jelas

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status