LOGINDi hadapan anak buahnya, Albert benar-benar menjadi bulan-bulanan Elsa.Selain cantik, ternyata Elsa juga ahli dalam beladiri, dia menghajar Albert dengan tinjuan dan tendang bahkan menggunakan teknik kuncian yang hampir mematahkan tulang lehernya Albert."Aa...aaa.... ampun! Nyonya muda Elsa, tolong ampuni akuu!" Albert memohon, wajahnya meringis kesakitan.WUGHHH!!!Elsa melepas kedua lengannya yang sedang memiting lehernya Albert sambil menendangnya, Albert tersungkur ke depan.Anggota kelompok gangster Taring Emas tidak ada yang berani membantu ketua mereka ketika di hajar habis-habisan oleh Elsa.Albert memang menjabat sebagai ketua kelompok gangster Taring Emas, namun Elsa memiliki jabatan yang lebih tinggi dari sekedar ketua gengster.Setelah puas menghajar Albert, Elsa pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, Elsa berjalan dengan buru-buru namun tetap terlihat anggun, bibirnya tersenyum puas.Sementara itu di kedai Bakmi Paman Mak, Raga dan Harry masih duduk di dal
Hati Elsa langsung merasa senang, wajahnya tersenyum bahagia karena sosok laki-laki yang dia tunggu sudah muncul dalam keadaan baik-baik saja."Kamu tidak kenapa-napa kan, Raga?" Paman Mak melepaskan pelukannya, mengecek kondisinya Raga."Aku baik-baik saja, paman." Jawab Raga kembali menyeringai."Tapi kenapa di wajahmu terdapat banyak luka memar?" Tanya Paman Mak memperhatikan wajahnya Raga."Ini hanya luka biasa, tentu tidak ada artinya bagiku." Ujar Raga."Ya sudah kalau begitu cepat duduk, paman akan membuatkan Bakmi spesial untukmu dan juga temanmu ini." Ucap Paman Mak sambil memegang pundaknya Raga."Iya paman, terimakasih." Balas Raga.Raga dan Harry duduk di sebuah bangku yang berada di belakang Elsa.Elsa yang memakai topi langsung menundukkan wajahnya supaya tidak diketahui oleh Raga dan Harry.Tatapan Harry sedikit curiga terhadap sosok perempuan yang dia lewati, namun Harry tidak berani untuk membicarakannya kepada Raga."Hari ini aku sangat berbahagia, jadi silahkan maka
Sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan penuh dengan makna."Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa mereka memberikan hormat kepadaku?" Tanya Raga merasa bingung akan sikap Harry dan yang lainnya."Tuan muda, seperti yang sudah aku ceritakan diantara seribu pasukan yang tewas pada malam itu masih ada lima puluh orang yang selamat karena sedang bertugas di kota lain, merekalah orang-orang yang selamat itu." Sahut Megi memberitahu Raga.Raga lantas menatap serius ke arah lima puluh orang yang masih membungkukkan badan ke arahnya."Tegakan kepala kalian!" Raga berseru dengan cukup lantang.Harry dan empat puluh sembilan orang lainnya langsung berdiri dengan tegap kembali, kedua bola mata mereka justru berkaca-kaca ketika melihat sosok laki-laki hebat yang selama ini mereka cari, Raga Wicaksono pewaris tunggal keluarga Wicaksono yang akan menjadi pemimpin mereka selanjutnya."Aku sudah mendengar semuanya dari sosok perempuan hebat yang berdiri di sampingku," Raga melirik ke arah Megi.
"Aa....a... ada apa? Nyonya muda Elsa?" Tanya Albert terbata-bata.Elsa mengeluarkan handphonenya, dia menunjukkan sebuah video yang membuat jantung Albert berdetak semakin cepat."Pukul dua belas malam, kau dan beberapa anak buahmu mengeroyok pemuda ini, lalu tidak lama setelah itu seluruh anak buahmu datang dan membawa pemuda ini? Sekarang tunjukkan kepadaku dimana kau mengurung seorang pemuda yang semalam kalian bawa dalam keadaan terikat?"Mendengar pertanyaan dari Elsa, Albert terdiam seribu bahasa, Albert juga merasakan sebuah kebingungan dalam dirinya."Kenapa Nyonya muda Elsa menanyakan pemuda itu? Lalu darimana video itu dia dapatkan?" Albert bertanya di dalam hati pada dirinya sendiri."Malah diiem, cepat jawab! dimana kau dan anak buahmu mengurung pemuda itu?" Elsa kembali bertanya dengan sedikit berteriak.Pemuda yang dimaksud oleh Elsa adalah Raga yang sebelumnya sudah dibawa dan dikurung oleh Albert lalu disiksa secara kejam."Ampun nyonya muda Elsa, pemuda itu sudah mel
"Sebuah gelang yang dibuat khusus untuk keluarga Wicaksono oleh pengrajin gelang ternama di Kota Valora, tidak mungkin ada yang bisa menirunya karena bahan-bahan untuk membuatnya juga sangat khusus.""Sekarang coba tuan muda ceritakan selama dua puluh lima tahun ini tuan muda berada dimana?"Megi tentu merasa penasaran dengan lika-liku kehidupan yang dihadapi oleh Raga setelah kejadian pada malam itu."Seorang perempuan hebat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah Kota Valora, dia menemukanku di dalam sebuah karung yang terikat di tempat pembuangan sampah.""Awalnya dia mengira kalau karung itu berisi barang berharga yang bisa dijual dengan harga tinggi, tapi ternyata isinya adalah seorang anak berusia dua tahun dalam keadaan tidak sadarkan diri.""Perempuan itu lalu membawaku pulang ke rumahnya yang sangat-sangat sederhana, dia merawatku dengan tulus layaknya seperti seorang bayi yang terlahir dari rahimnya.""Dia mengajariku banyak hal mendidikku menjadi laki-laki tangguh
Langit yang berada di atas Kota Valora begitu cerah berwarna biru terang berlukiskan awan putih yang menawan, sinar cahaya Matahari menyinari seluruh Kota Valora, terkecuali dunia bawah yang penuh dengan kejahatan.Di sebuah rumah yang cukup mewah namun tertutup, Raga dirawat oleh seorang perempuan tua bersama dengan anaknya.Megi merupakan seorang dokter yang dulunya menjadi dokter pribadi keluarga Darius Wicaksono, dulu Megi bekerja bersama dengan suaminya yang juga seorang dokter.Raga duduk di atas ranjang tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana pendek, pada tubuhnya ada banyak sekali luka memar namun tidak sampai membuat organ dalamnya rusak."Jadi suami nyonya merupakan seorang dokter yang dulunya juga menangani keluarga Darius Wicaksono, sosok ketua mafia yang sangat dihormati di Kota Valora?" Raga mendapatkan sebuah fakta baru yang tentu saja membuatnya sangat terkejut."Kejadian pada malam itu terjadi dengan begitu cepat, langit tiba-tiba bergemuruh, kilatan petir terdeng
Pukul 21.00 malam.Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Raga dan Jaka berkeliling di pinggiran kota dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua yang sudah agak penyok, tanpa pelat nomor, dan tentu saja tanpa helm—sesuai kebiasaan anak-anak jalanan di sana. Jaka duduk di bagian depan sebagai
Leo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!" Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjala
Kilatan petir menyambar tiada henti, menerangi langit kelam seolah sedang meluapkan kemarahan. Hujan rintik-rintik membasahi bumi, seakan alam pun turut mengutuk peristiwa mengerikan yang baru saja terjadi. Di dalam sebuah rumah mewah yang megah, lantai marmer yang mengilap kini berubah menjadi lau
Melihat Raga yang berjalan ke mejanya, Anggun langsung meletakkan segelas air putih dingin di atas meja, Anggun seolah‑olah sudah tahu dengan apa yang diinginkan oleh Raga."Terimakasih, Anggun!" Ucap Raga yang langsung mengambil lalu meminum segelas air putih dingin tersebut sampai habis.Anggun t







