LOGINSemua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka.
"Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani main-main dengan Kelompok Kepala Ular!" seru Draxen lantang kepada anak buahnya. Namun Raga sama sekali tidak menghiraukan ratusan orang yang kini mengincar nyawanya. Ia berlari secepat kilat menerobos kerumunan, menuju ke arah Bu Ratmi yang masih tergeletak. BUAAAGHHH!!! Satu per satu anggota Kepala Ular terlempar jatuh hanya dengan satu hantaman tangan atau tinju dari Raga. Ia bergerak bagaikan badai yang menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya. Seperti badak liar yang mengamuk, tak ada satu pun yang mampu menghentikan langkah kakinya. Melihat anak buahnya dipukuli dan diporak-porandakan begitu saja oleh satu orang pemuda, Draxen Varga semakin memuncak kemarahannya. Namun saat ia melihat Bu Ratmi yang mulai bangkit berdiri, ide licik muncul di kepalanya. SREGGG!!! Draxen melangkah cepat, kembali mencengkeram leher Bu Ratmi dengan lengan kirinya hingga wanita itu tak bisa bergerak, sementara tangan kanannya diam-diam meraih pisau lipat tajam yang tersimpan di saku celananya. "RAGA! LIHAT KE SINI!" teriak Draxen sambil menyandera Bu Ratmi di hadapannya. Gerakan Raga seketika terhenti. Ia berbalik, tatapan matanya yang tajam dan dingin kini tertuju lurus ke arah Draxen. "Dasar pengecut!" hardik Raga dengan suara rendah namun bergetar karena marah. "Kalau kau memang jantan, lawanlah aku secara langsung! Jangan bawa-bawa wanita tua yang tak berdaya!" "Cih... dasar anak ingusan yang sok jago," umpat Draxen merasa tersinggung. "Kau akan menyesal seumur hidupmu sudah berani menantangku, Draxen Varga!" Angin malam seolah berhenti bertiup. Seluruh warga dan anggota geng menahan napas. Sebentar lagi, semua orang akan menyaksikan pertarungan yang tak seimbang: seorang pemuda kumuh yang hanya bekerja sebagai pemulung melawan Draxen Varga, ketua geng Kepala Ular yang namanya sangat ditakuti seantero Kota Valora. Di mata orang-orang, Raga hanyalah pemuda biasa yang kurus dan hidup miskin. Bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan seorang pemimpin geng yang terkenal kejam dan sadis? Draxen bukan menjadi pemimpin begitu saja. Ia memiliki segudang pengalaman di dunia kriminal, ribuan pertarungan sudah ia lewati. Di hadapan tubuh Draxen yang kekar dan besar, Raga terlihat kecil dan tak berdaya, seolah seekor harimau sedang berhadapan dengan anak serigala. "Aku akui, nyalimu cukup besar untuk ukuran anak muda," ucap Draxen menyeringai angkuh di hadapan Raga. "Tapi kau sudah salah langkah dan salah memilih musuh. Sebaiknya kau berpesan sekarang pada ibumu dan teman-temanmu, suruh mereka bersiap menggali kuburan untukmu malam ini juga!" Raga tetap berdiri tegak, sorot matanya tidak menampakkan rasa takut sedikit pun. Ia menjawab dengan tenang, "Justru sebaiknya kau yang berpesan pada anak buahmu... agar mereka menyiapkan satu lubang kuburan yang cukup besar untuk mengubur jasadmu nanti malam." "Hahaha! Sangat berani sekali mulutmu! Aku benar-benar sudah tak sabar ingin meremas jantungmu dari dada," Draxen mengepalkan tangan kanannya yang besar di depan dada, terlihat sangat bernafsu untuk segera menghabisi nyawa pemuda itu. Di sisi lain, Bu Ratmi yang kini sudah dilepaskan dan mundur ke arah warga, merasa sangat gelisah. Tangannya meremas dada, matanya menatap Raga dengan penuh kekhawatiran. "Raga... Nak... kenapa kau harus terlibat urusan dengan mereka?" gumamnya pelan sambil menahan tangis. "Seharusnya kau diam saja dan menjauh. Ibu sangat takut terjadi apa-apa padamu..." Bu Ratmi memejamkan matanya, berdoa dalam hati sekuat tenaga agar anak angkatnya selamat dari ancaman maut malam ini. Draxen masih mengepalkan tangan kanannya, otot-otot lengannya yang besar berdenyut kencang. Ia mulai mengambil ancang-ancang, tangannya sedikit bergetar menahan tenaga yang akan ia keluarkan. WUSSHHH!!! Draxen menerjang ke depan, melontarkan satu pukulan keras mengincar wajah Raga. Kepalan tangan Draxen jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan tangan Raga, pukulan yang biasa digunakan untuk melumpuhkan lawan seketika. "AAAA!!!" Banyak warga berteriak ngeri, takut melihat Raga akan terluka parah. BUGHHH!!! Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang terbelalak tak percaya. Secara mengejutkan, Raga tidak menghindar. Ia justru menyambut pukulan itu dengan kepalan tangan kirinya sendiri. Kedua kepalan tangan itu bertemu di udara, menciptakan hentakan keras yang terdengar sampai ke telinga orang-orang di belakang. Draxen langsung terhenyak mundur selangkah. Matanya terbelalak lebar penuh keterkejutan. Sosok pemuda yang selama ini diremehkannya, ternyata mampu menahan pukulan mautnya dengan mudah. Bahkan, tangan kanan Draxen kini terasa mati rasa dan kesemutan hebat akibat benturan itu. Tidak mungkin... bocah ini berhasil menahan pukulanku? Dan tanganku... kenapa terasa begitu sakit? gerutu Draxen dalam hatinya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam terpaku mulut menganga. Para anak buah Draxen yang tadinya yakin Raga akan tumbang dalam hitungan detik, kini menelan ludah gugup. "Raga..." Bu Ratmi berbisik pelan, menatap anak angkatnya dengan tatapan yang rumit, seolah ada sesuatu yang ia pahami namun tak bisa ia ucapkan. Kini giliran Raga yang tersenyum mengejek. Senyum dingin dan mengerikan. "Hehehe... apa ini? Apakah pukulan lemah ini milik pemimpin geng Kepala Ular yang sangat ditakuti orang-orang?" ucap Raga santai namun penuh sindiran tajam. "Sungguh... sangat lemah, bahkan anak kecil pun mungkin tak akan terluka dipukul seperti itu." Lanjutnya. "Jangan merasa hebat dulu!" sergah Draxen, napasnya mulai memburu dan keringat mulai menetes deras. "Aku hanya mengeluarkan sepuluh persen dari kekuatan asliku tadi! Kau belum melihat apa-apa!" Draxen mulai merasakan hawa yang berbeda dari diri Raga. Di hadapannya bukan lagi anak serigala yang lemah, melainkan sosok Raja Serigala yang buas dan kejam yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Sambil mundur perlahan, tangan Draxen diam-diam bergerak ke belakang, meraba saku celananya mencari pisau lipat yang tadi sempat ia simpan. Ia berniat bermain curang. Namun Raga dengan cepat menangkap gerakan itu. Tanpa buang waktu, tangan kanan Raga bergerak kilat mencengkeram pergelangan tangan Draxen sebelum pisau itu sempat ditarik keluar. "Dasar pengecut!" hardik Raga tajam. "Kau kira aku tidak tahu isi saku celanamu? Kau pikir aku sebodoh itu?" Saat berhadapan jarak sedekat itu, pandangan Draxen tertuju tepat pada lengan kiri Raga. Matanya terpaku pada satu benda yang melilit di sana—sebuah gelang hitam polos dengan ukiran nama berwarna emas yang berkilauan diterangi cahaya api, lengkap dengan lambang matahari yang rumit dan indah. Draxen menatap gelang itu dengan tatapan tak percaya, pupil matanya membesar. Gelang hitam berukir nama dan lambang Matahari dengan tinta emas... Bukankah ini lambang dari keluarga itu? Jangan-jangan anak muda ini adalah... Seketika itu juga, bayangan masa lalu melintas di benak Draxen. Ia teringat pada sosok penguasa mutlak Kota Valora di masa lalu, sosok yang sangat dihormati sekaligus ditakuti, sosok yang mampu menundukkan semua gengster dan mafia di kota ini sendirian—ayah kandung Raga. Wajah Draxen seketika menjadi pucat pasi. Keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Tubuhnya yang besar dan kekar itu tiba-tiba gemetar hebat. Ia menelan ludah berkali-kali dengan susah payah.Di hadapan anak buahnya, Albert benar-benar menjadi bulan-bulanan Elsa.Selain cantik, ternyata Elsa juga ahli dalam beladiri, dia menghajar Albert dengan tinjuan dan tendang bahkan menggunakan teknik kuncian yang hampir mematahkan tulang lehernya Albert."Aa...aaa.... ampun! Nyonya muda Elsa, tolong ampuni akuu!" Albert memohon, wajahnya meringis kesakitan.WUGHHH!!!Elsa melepas kedua lengannya yang sedang memiting lehernya Albert sambil menendangnya, Albert tersungkur ke depan.Anggota kelompok gangster Taring Emas tidak ada yang berani membantu ketua mereka ketika di hajar habis-habisan oleh Elsa.Albert memang menjabat sebagai ketua kelompok gangster Taring Emas, namun Elsa memiliki jabatan yang lebih tinggi dari sekedar ketua gengster.Setelah puas menghajar Albert, Elsa pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, Elsa berjalan dengan buru-buru namun tetap terlihat anggun, bibirnya tersenyum puas.Sementara itu di kedai Bakmi Paman Mak, Raga dan Harry masih duduk di dal
Hati Elsa langsung merasa senang, wajahnya tersenyum bahagia karena sosok laki-laki yang dia tunggu sudah muncul dalam keadaan baik-baik saja."Kamu tidak kenapa-napa kan, Raga?" Paman Mak melepaskan pelukannya, mengecek kondisinya Raga."Aku baik-baik saja, paman." Jawab Raga kembali menyeringai."Tapi kenapa di wajahmu terdapat banyak luka memar?" Tanya Paman Mak memperhatikan wajahnya Raga."Ini hanya luka biasa, tentu tidak ada artinya bagiku." Ujar Raga."Ya sudah kalau begitu cepat duduk, paman akan membuatkan Bakmi spesial untukmu dan juga temanmu ini." Ucap Paman Mak sambil memegang pundaknya Raga."Iya paman, terimakasih." Balas Raga.Raga dan Harry duduk di sebuah bangku yang berada di belakang Elsa.Elsa yang memakai topi langsung menundukkan wajahnya supaya tidak diketahui oleh Raga dan Harry.Tatapan Harry sedikit curiga terhadap sosok perempuan yang dia lewati, namun Harry tidak berani untuk membicarakannya kepada Raga."Hari ini aku sangat berbahagia, jadi silahkan maka
Sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan penuh dengan makna."Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa mereka memberikan hormat kepadaku?" Tanya Raga merasa bingung akan sikap Harry dan yang lainnya."Tuan muda, seperti yang sudah aku ceritakan diantara seribu pasukan yang tewas pada malam itu masih ada lima puluh orang yang selamat karena sedang bertugas di kota lain, merekalah orang-orang yang selamat itu." Sahut Megi memberitahu Raga.Raga lantas menatap serius ke arah lima puluh orang yang masih membungkukkan badan ke arahnya."Tegakan kepala kalian!" Raga berseru dengan cukup lantang.Harry dan empat puluh sembilan orang lainnya langsung berdiri dengan tegap kembali, kedua bola mata mereka justru berkaca-kaca ketika melihat sosok laki-laki hebat yang selama ini mereka cari, Raga Wicaksono pewaris tunggal keluarga Wicaksono yang akan menjadi pemimpin mereka selanjutnya."Aku sudah mendengar semuanya dari sosok perempuan hebat yang berdiri di sampingku," Raga melirik ke arah Megi.
"Aa....a... ada apa? Nyonya muda Elsa?" Tanya Albert terbata-bata.Elsa mengeluarkan handphonenya, dia menunjukkan sebuah video yang membuat jantung Albert berdetak semakin cepat."Pukul dua belas malam, kau dan beberapa anak buahmu mengeroyok pemuda ini, lalu tidak lama setelah itu seluruh anak buahmu datang dan membawa pemuda ini? Sekarang tunjukkan kepadaku dimana kau mengurung seorang pemuda yang semalam kalian bawa dalam keadaan terikat?"Mendengar pertanyaan dari Elsa, Albert terdiam seribu bahasa, Albert juga merasakan sebuah kebingungan dalam dirinya."Kenapa Nyonya muda Elsa menanyakan pemuda itu? Lalu darimana video itu dia dapatkan?" Albert bertanya di dalam hati pada dirinya sendiri."Malah diiem, cepat jawab! dimana kau dan anak buahmu mengurung pemuda itu?" Elsa kembali bertanya dengan sedikit berteriak.Pemuda yang dimaksud oleh Elsa adalah Raga yang sebelumnya sudah dibawa dan dikurung oleh Albert lalu disiksa secara kejam."Ampun nyonya muda Elsa, pemuda itu sudah mel
"Sebuah gelang yang dibuat khusus untuk keluarga Wicaksono oleh pengrajin gelang ternama di Kota Valora, tidak mungkin ada yang bisa menirunya karena bahan-bahan untuk membuatnya juga sangat khusus.""Sekarang coba tuan muda ceritakan selama dua puluh lima tahun ini tuan muda berada dimana?"Megi tentu merasa penasaran dengan lika-liku kehidupan yang dihadapi oleh Raga setelah kejadian pada malam itu."Seorang perempuan hebat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah Kota Valora, dia menemukanku di dalam sebuah karung yang terikat di tempat pembuangan sampah.""Awalnya dia mengira kalau karung itu berisi barang berharga yang bisa dijual dengan harga tinggi, tapi ternyata isinya adalah seorang anak berusia dua tahun dalam keadaan tidak sadarkan diri.""Perempuan itu lalu membawaku pulang ke rumahnya yang sangat-sangat sederhana, dia merawatku dengan tulus layaknya seperti seorang bayi yang terlahir dari rahimnya.""Dia mengajariku banyak hal mendidikku menjadi laki-laki tangguh
Langit yang berada di atas Kota Valora begitu cerah berwarna biru terang berlukiskan awan putih yang menawan, sinar cahaya Matahari menyinari seluruh Kota Valora, terkecuali dunia bawah yang penuh dengan kejahatan.Di sebuah rumah yang cukup mewah namun tertutup, Raga dirawat oleh seorang perempuan tua bersama dengan anaknya.Megi merupakan seorang dokter yang dulunya menjadi dokter pribadi keluarga Darius Wicaksono, dulu Megi bekerja bersama dengan suaminya yang juga seorang dokter.Raga duduk di atas ranjang tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana pendek, pada tubuhnya ada banyak sekali luka memar namun tidak sampai membuat organ dalamnya rusak."Jadi suami nyonya merupakan seorang dokter yang dulunya juga menangani keluarga Darius Wicaksono, sosok ketua mafia yang sangat dihormati di Kota Valora?" Raga mendapatkan sebuah fakta baru yang tentu saja membuatnya sangat terkejut."Kejadian pada malam itu terjadi dengan begitu cepat, langit tiba-tiba bergemuruh, kilatan petir terdeng
Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sangat tinggi, lalu dengan keras menabrak tiang lampu jalan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk.Suara benturan yang sangat keras memekakkan telinga. Bagian depan mobil itu langsung penyok parah hingga hampir
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa







