Share

Bab 3

last update publish date: 2026-07-07 10:33:07

Panji pegang erat kitab ilmu pengobatan yang tergelatak di atas lantai, dan melihat dengan jelas sampul kitab itu.

"Aku akan meninggalkan kota ini, dan aku pastikan akan kembali dengan kemampuan yang baru!" kata Panji dengan ucapan penuh keyakinan.

Anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, kini dipenuhi dengan harapan baru. Harapan kecil lewat kitab usang yang ada di genggaman tangannya.

Panji selipkan kitab itu di balik pakaiannya, dan keluar dari dalam gubuk kecil itu. Sebelum pergi, dia menatap ke arah gubuk kecil tempat dia dibesarkan.

"Aku akan datang lagi, tunggu saja!" ucap Panji.

Dengan langkah gontai, pakaian penuh lumpur, Panji berjalan menuju keluar kota. Langkah kecil dari pemuda yang baru tumbuh itu.

"Hei bukankah itu Panji si yatim-piatu?" ejek satu suara saat melihat Panji yang berjalan.

"Iya, hahaha! Sepertinya kita mendapatkan dia lagi!" kata mereka.

Tiga anak yang seusia Panji, anak-anak yang selama ini selalu memberikan penderitaan pada Panji.

Mata Panji melotot tajam, kini dia tak lagi memikirkan apapun, dia sudah membuang rasa takut yang ada di pikirannya. Rasa takut yang selama ini selalu jadi teman Panji.

Plakkkkkk!!

Satu tamparan keras hantam wajah Panji. kalau selama ini, Panji pasti akan goyah karena tamparan itu, tapi kali ini berbeda. Panji tetap berdiri dengan tangan yang dikepal.

"Hei, kau sudah memiliki keberanian?" kata satu anak kecil itu.

Bammmmmmm!!

Dan, dengan sekuat tenaga, tiba-tiba saja, Panji ayunkan tangan ke wajah satu dari anak kecil itu.

Brukkkkkk!!

Anak kecil itu langsung tersungkur jatuh karena pukulan Panji. Dan dia jelas jatuh tak sadarkan diri.

"Hei, apa kalian lihat, Panji memukul tuan muda Bara? Dia pasti akan mati!" kata orang yang melihat apa yang Panji perbuat.

"Jangan macam-macam denganku!" teriak Panji pada dua anak kecil yang masih mencoba mengganggunya.

"Dasar yatim tak tahu diri!"

Dua orang itu, Sambras dan Jatmiko, mereka tak terima rekan mereka dihajar oleh Panji.

Mereka merupakan murid perguruan, meksipun masih pemula, tapi mereka jela berbeda dari Panji.

Bammmmmmm!!

Jatmiko memukul Panji, satu pukulan tangan kanan yang kuat.

Brukkkkkk!!

Panji terjatuh, dan terhuyung hingga mendekat ke sebuah kayu sebesar kepalan tangan panji.

"Jangan kalian pikir aku akan diam saja!" teriak Panji.

Tangan Panji ambil kayu itu, dan berdiri dengan sikap yang menakutkan.

Plakkkkkk!!

Tanpa ampun, kayu di tangan Panji hantam kepala Jatmiko, dan itu cukup untuk memecahkan kepala Jatmiko.

Bammmmmmm!!

Dan tidak hanya Jatmiko, tapi Panji juga hantam kayu besar itu ke kepala Sambras yang membuat kepala Sambras juga pecah.

"Mati kau!" teriak Panji.

Semua amarah, dendam, kebencian yang Panji miliki dia keluarkan pada saat itu juga.

Whusssssssss!!

Kayu di tangan Panji bergerak cepat, dan dipastikan Jatmiko akan terluka parah karena pukulan Panji itu.

Tappppp!!

Tapi saat pukulan itu hanya bebeapa helai rambut ke kepala Jatmiko, satu tangan besar menangkap kayu di tangan Panji.

"Apa kau ingin membunuh orang Panji?" ucap suara itu. Suara yang amat bengis di telinga Panji.

"Itu tuan besar Kadapa, dia ayah tuan muda Bara!" teriak seseorang.

Dan bersama dengan itu, beberapa pengawal sudah ikut dengan tuan besar Kadapa. Itu setelah kabar Panji memukul pingsan tuan muda Bara tersebar dengan cepat.

"Bawa Bara ke rumah, aku akan puaskan memberikan bocah tak tahu diri ini pelajaran!" teriak tuan besar Kadapa pada dua pengawalnya.

"Baik, tuan besar!"

"Berikan kayu ini!" bentak tuan besar Kadapa dan tarik paksa kayu di tangan Panji.

Kekuatan kecil yang dimiliki Panji jelas kalah, dan dengan paksa, tuan besar kadapa menarik paksa kayu di tangan Panji.

"Kau ingin tahu bagaimana rasanya pukulan kayu ini, Panji?" kata tuan besar Kadapa.

Panji hanya melotot tajam, seolah menyimpan wajah tuan besar Kadapa di kepalanya.

Bammmmmmm!!

Kayu di tangan taun besar Kadapa terayun, dan arahnya adalah kepala Panji yang masih kecil.

Crasssssss!!

Darah langsung mengucur dari bekas pukulan itu, luka yang besar menganga di kepala Panji.

Tapi sedikitpun Panji tidak mengeluh, meskipun rasa sakit akibat pukulan itu sangat perih, tapi Panji tak keluarkan sedikitpun jeritan.

Bammmmmmm!!

Bammmmmmm!!

Berkali-kali tuan besar Kadapa hantam tubuh Panji, dan sasaran tuan besar Kadapa adalah punggung Panji.

Panji menggigit giginya sendiri untuk menahan tidak menjerit, meksipun dia merasakan rasa sakit itu teramat sakit.

Kini, tubuh Panji sudah terbaring tak berdaya di tanah, tapi tuan besar Kadapa masih terus memukuli punggung Panji.

"Tuan besar, cukup! Apa kau ingin membunuh anak kecil itu?" teriak seseorang.

"Oh, kau ingin gantikan dia?" kata tuan besar Kadapa dengan mata yang penuh amarah.

Orang itu memilih diam, dia memang tak ingin terlibat, karena dia sadar pengaruh tuan besar Kadapa di kota Melati sangatlah luas.

"Paksa dia berdiri, dan pegangi, aku belum puas sebelum dia mati!" teriak tuan besar Kadapa pada anak buahnya.

"Tapi tuan besar, dia pasti akan mati meskipun tak tuan besar bunuh!"

"Diam! Apa kau masih ingin bekerja denganku?" bentak tuan besar Kadapa.

Anak buahnya tak berani melawan, dan meksipun merasa berat, mereka angkat tubuh Panji, dan paksa untuk berdiri.

"Ikat kedua tangannya, dan gantung disana! Aku akan kuliti dia hingga mati!" kata tuan besar Kadapa.

Kembali anak buahnya tak berani melawan, dan lakukan apa yang diinginkan tuan besar Kadapa.

Tubuh Panji diikat dan digantung di sebuah tiang di sisi kiri kota itu, kayu yang seharusnya jadi tempat untuk lampu malam, kini jadi tempat untuk menggantung tubuh Panji.

"Ini akibatnya jika main-main dengan keluarga Kadapa?" ucap tuan besar Kadapa.

Bammmmmmm!!

Tuan besar Kadapa ayunakn lagi kayu di tangannya, dan sasarannya adalah perut Panji.

Arrggghhh!!

Dan pada akhirnya, Panji meraung sangat keras, dia tak mampu menahan lagi rasa sakit yang menerpa seluruh tubuhnya.

"Akhirnya kau keluarkan jeritan, akan ada jeritan yang lain!" kata tuan besar Kadapa.

Plakkkkkk!!

Tangan besar tuan besar Kadapa memberikan pukulan ke kepala Panji, yang membuat luka di kepala panji semakin parah. Hal itu membuat Panji jatuh tak sadarkan diri.

"Bangun keparat, aku belum selesai!" bentak tuan besar Kadapa.

Plakkkk!!!

Dan tangan besarnya menampar wajah Panji berkali-kali, hingga memaksa Panji untuk setengah sadar.

"Keparat! Kau akan rasakan kematian dengan kesadaran penuh!" kata tuan besar Kadapa dengan tangan memegang dagu Panji.

"Sungguh biadab, apa ada perbuatan manusia seperti itu?" ucap satu suara dari belakang taun besar Kadapa.

"Bukan urusanmu, aku mau bunuh dia, jangan campuri!" bentak tuan besar Kadapa.

"Hahaha, sombong!"

Plakkkk!!

Orang itu bergerak, dan berikan satu jurus tapak ke tubuh tuan besar Kadapa. Setelah itu dia bergerak cepat, melesat dan hilang dari pandangan semua orang.

"Eh, Panji kemana?" ucap orang-orang.

Entah mengapa mereka merasa lega karena itu artinya Panji selamat dari semua siksaan tuan besar Kadapa.

"Cari dia sampai dapat! Aku ingin kepalanya!" teriak tuan besar Kadapa, yang jatuh tersungkur ke tanah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 48

    "Aku akan tidur!" kata Panji dan permisi masuk ke dalam kamarnya.Tak ada yang larang Panji, karena mereka tahu, tubuh Panji belum sepenuhnya pulih setelah lakukan perjalanan jauh, dan bertarung gunakan seluruh kekuatan fisik di tubuhnya.Begitu masuk ke kamarnya, Panji tak menunggu lama, langsung tertidur, seolah dia sangat kelelahan.Dalam tidurnya, Panji melihat dirinya dipenuhi dengan kekuatan yang sangat dahsyat, kekuatan yang besar dan menakutkan.Di mimpi itu kekuatan Panji sangat luar biasa. Kekuatan petir yang membuat tubuh Panji memiliki lebih dari seratus ribu lingkaran tenaga dalam."Apa ini?" ucap Panji.Itu bukan mimpi biasa, karena roh Panji tertarik ke dalam mimpi itu."Kita bertemu lagi Panji!" ucap satu suara."Roh pedang Shi Ban?" kata Panji kaget."Iya, aku roh pedang Shi Ban, ataupun roh Petir!""Roh petir?"Roh petir mendekat, dan menyentil dahi Panji. Hingga Panji melihat apa yang terjadi saat siang hari, dimana dia memukul keras tuan muda Kandar."Apakah itu ke

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 47

    Meskipun sangat berat, tapi Mayang tetap bawa tubuh Panji untuk kembali ke perguruan singa timur.Mayang membawa Panji dari jalan yang cukup rahasia, dan hanya beberapa orang tahu itu. Mayang tak ingin ada yang melihat dia menggendong seorang anak muda, itu akan jadi gosip yang tak bisa ditahan oleh telinganya."Kak Hardi!" teriak Mayang.Hardi yang sedang bersemadi kaget karena teriakan keras Mayang dan lebih kaget saat ia melihat adiknya gendong Panji."Ada apa ini, Mayang? Apa yan terjadi dengan Panji?" tanya Hardi."Bantu dulu Panji kak, nanti aku ceritakan!" kata Mayang.Hardi segera angkat tubuh Panji, dan meletakkan Panji di atas tempat tidur, setelah itu ia periksa tubuh Panji.Tukkkkkk!!Hardi menotok bagian dada Panji, tapi dia kaget karena ada kekuatan yang menolak kekuatan dari totokan miliknya."Ada apa kak?" tanya Mayang."Tubuh Panji menolak kekuatan kakak!" kata Hardi."Coba alirkan hawa murni kak!""Baik!" kata Hardi.Mayang membantu untuk dudukkan Panji, dan setelah

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 46

    Whusssssssss!!Pedang dengan warna keperakan itu tertahan tepat di atas kepala Panji, dan pedang itu di pegang oleh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik.Panji bahkan sampai terpana pada kecantikan gadis muda itu, hingga tak sadari kalau ada sebilah pedang yang siap mengoyak kepalanya."Mayang, apa yang kau lakukan?" bentak Hardi."Eh, dia bukan musuh kak?" tanya gadis yang memiliki nama Mayang itu."Selalu saja ceroboh, dan sesukamu mengambil keputusan!" kata Hardi geleng kepala."Siapa dia, kak?" tanya Mayang."Minta maaf pada Panji!"Gadis itu menoleh ke arah Panji, dan berikan senyuman yang sangat menawan."Cantiknya!" desis Panji tanpa sadar.Plakkkkkk!!Tangan gadis itu bergerak dan tampar wajah Panji, dan itu kagetkan Panji."Apa ... Apa yang kau lakukan?" tanya Panji sambil elus wajahnya yang ditampar oleh Mayang."Seenakmu mengatakan itu padaku!""Aku ucapkan apa?" tanya Panji bingung."Dasar bocah gendeng!" bentak Mayang.Panji menggaruk kepalanya yang tak ga

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 45

    Kemenangan Panji diluar dugaan banyak orang, itu karena Panji baru datang, dia kelelahan, ditambah lagi Panji bertarung tanpa gunakan tenaga dalam.Hal itu membuat nama perguruan anggrek putih menjadi nama yang cukup sering dibicarakan. Apalagi sudah ada dua wakil mereka yang melaju ke babak berikutnya, yaitu Mutia dan Panji.Sementara itu, di tempat mereka yang ada di sudut perguruan singa timur, Panji masih terbaring dengan kondisi yang lemas.Dia sudah sadarkan diri, tapi kondisinya memang sangat kelelahan. Berlari sekuat tenaga, dan setelah itu bertarung tanpa gunakan tenaga dalam. Itu hal yang menguras seluruh tenaga fisik yang ia miliki."Panji, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Mutia."Sudah kak Mutia, maaf sudah merepotkan kalian!" kata Panji."Jangan bangkit dulu Panji, biarkan tubuhmu istirahat!" kata guru Sahdan saat melihat Panji akan bangkit untuk duduk."Eh, dimana kak Pradana dan Kak Sahita?" tanya Panji."Mereka berdua sedang berlatih. Besok Pradana akan bertanding,

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 44

    "Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 43

    Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status