LOGINSejak kejadian di depan gerbang itu, Celine dan Kevin benar-benar menghilang tanpa jejak. Keduanya tak pernah lagi muncul di sekitar perkemahan, membuat kehidupan Raka kembali berjalan tenang. Meski begitu, ketenangan tersebut menghadirkan kebiasaan baru yang perlahan menjadi rutinitas.Karena adanya perubahan jadwal pelatihan militer, Tiara tidak lagi ditempatkan di kamp mahasiswa baru. Akademi menugaskannya ke pusat riset medis yang berada di belakang Komando Garuda Selatan untuk membantu sebuah proyek penelitian yang harus segera diselesaikan.Walau kesibukan mereka berbeda, tanpa pernah membuat janji secara langsung, keduanya seolah memiliki kesepahaman yang sulit dijelaskan.Setiap siang, Tiara selalu datang ke kantin mahasiswa baru pada waktu yang hampir sama. Ia akan mengambil dua porsi makanan, lalu duduk di dekat jendela sambil membuka buku dan menunggu seseorang datang.Begitu latihan selesai, Raka hampir selalu langsung menuju kantin. Tanpa perlu saling menyapa lebih dulu,
Begitu Raka melangkah masuk ke area perkemahan, Bara dan Rio langsung menyambarnya dari dua sisi."Raka! Mulai hari ini, Bang benar-benar saudara kandungku!" Rio nyaris melompat kegirangan. Wajahnya memerah karena terlalu bersemangat saat mengingat kejadian di depan gerbang."Acungan jari tengah tadi benar-benar karya seni! Puas banget lihat ekspresi dua bajingan itu! Mukanya sampai seperti habis menelan lumpur!" Bara ikut tertawa terbahak-bahak. Telapak tangannya yang besar terus menepuk bahu Raka hingga tubuh pemuda itu bergoyang."Kerja bagus! Perempuan seperti itu memang pantas ditinggalkan sejak lama. Sama sekali tidak layak dipertahankan."Raka hanya bisa tersenyum masam sambil berusaha melepaskan diri dari kepungan mereka. "Sudah, sudah... turunkan dulu. Kalian bereaksi berlebihan. Bukankah ini cuma urusan kecil?""Mana mungkin kecil?" Rio langsung memasang wajah serius. "Ini soal harga diri! Tapi satu hal yang paling penting, jangan lupa tagih kembali uangmu sampai lunas!"Rak
Raka tetap membelakangi Celine dan Kevin. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya dengan santai, lalu mengacungkan jari tengah setinggi-tingginya. Gerakan sederhana itu terasa jauh lebih menghina daripada ribuan kata makian.Seolah sebuah tamparan tak kasatmata menghantam wajah Celine dan Kevin berkali-kali, menghancurkan sisa harga diri yang masih mereka pertahankan.Suasana langsung membeku.Tak seorang pun mengeluarkan suara selama beberapa detik."WOOOO—! HOOO!"Lalu seseorang di balik pagar menjadi orang pertama yang berteriak kegirangan.Detik berikutnya seluruh kerumunan langsung meledak."Gila! Raka benar-benar keren!""Hahaha! Itu gerakan paling memuaskan yang kulihat hari ini!""Lihat wajah Celine! Mukanya sampai hijau!""Katanya penjilat? Jelas-jelas Raka yang mendominasi dari awal sampai akhir!"Bara dan Rio ikut bersorak tanpa bisa menyembunyikan kegembiraan mereka."Raka luar biasa!""Memang pantas jadi idola!"Di tengah keramaian itu, sudut bibir Tiara terangkat pelan me
Tatapan itu membuat tengkuk Kevin meremang, tetapi harga dirinya memaksanya tetap bertahan. "Apa yang kau lihat? Kuberitahu ya, ayahku—"Dug!Kalimatnya belum selesai, namun tendangan Raka menghantam lututnya dengan akurat."Aaarrrgh!" Kevin menjerit sebelum kedua lututnya menghantam tanah.Dengan wajah memerah karena marah, ia mengayunkan tinju secara membabi buta untuk membalas. Sayangnya, serangan-serangan itu terlihat kekanak-kanakan di mata Raka.Raka bahkan tidak perlu menghindar. Ia langsung menangkap pergelangan tangan Kevin, lalu memutarnya ke arah berlawanan.Kraaak—!"AAAAAH!" Jeritan melengking kembali menggema di depan gerbang.Plak! Plak! Plak! Plak!Belum sempat Kevin bernapas lega, tamparan bertubi-tubi mendarat tanpa jeda.Kevin hanya mampu meringkuk di tanah sambil menjerit kesakitan karena sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Setiap pukulan Raka dikendalikan dengan sangat presisi. Semuanya diarahkan ke titik yang mampu menghasilkan rasa sakit luar bi
Kevin segera menoleh ke arah Celine sambil mengangkat suaranya. "Celine, jangan takut!" Ia menunjuk Raka dengan wajah penuh keyakinan. "Laki-laki mana yang tidak menghabiskan uang demi perempuan yang disukainya?"Kevin mendengus sinis, tatapannya semakin tajam. "Dia cuma kesal karena gagal mendapatkanmu. Sekarang dia sengaja mempermalukanmu sebagai pelampiasan.""Orang seperti itu bahkan tidak pantas disebut laki-laki."Ucapan Kevin kembali membangkitkan keberanian Celine yang tadi sempat runtuh. ‘Benar, kenapa aku harus takut? Raka hanyalah orang yang dulu selalu mengejarku.’Sedikit demi sedikit, kesombongan kembali memenuhi wajahnya. Ia mengangkat tangan lalu menunjuk lurus ke arah Raka. Nada suaranya kembali keras. "Benar! Aku memang tidak akan mengembalikan uangmu! Memangnya kamu bisa berbuat apa?"Celine tertawa mengejek, tatapannya dipenuhi rasa meremehkan. "Dengar baik-baik, Raka Mahendra. Uang itu tidak akan pernah aku kembalikan."Senyumnya melebar, ia bahkan semakin berani
Sementara itu, tubuh Celine limbung hingga hampir kehilangan keseimbangan.Melapor ke polisi?Penipuan?Kalau kasus itu benar-benar diproses, bukan hanya reputasinya yang hancur. Statusnya sebagai mahasiswi juga bisa berada dalam bahaya. Ketakutan yang sesungguhnya akhirnya muncul. Jangankan mengembalikan uang tiga ratus juta. Mengumpulkan sepuluh juta saja sekarang terasa mustahil baginya.Orang-orang yang dulu mengaku rela menanggung semua kebutuhannya sudah lama pergi satu per satu setelah kehilangan minat. Kini ia benar-benar tidak memiliki siapa pun untuk diandalkan.Dengan wajah penuh kepanikan, Celine tanpa sadar menoleh ke arah Kevin. Tatapan memohon itu membuat Kevin ikut membeku.Keluarganya memang berkecukupan, tetapi seluruh pengeluarannya diawasi dengan ketat. Uang saku bulanannya hanya puluhan juta, sehingga mustahil baginya menyediakan tiga ratus juta dalam waktu singkat.Menyadari ancaman maupun alasan sudah tidak lagi berguna, Celine segera memutar otak. Sesaat kemudi
“Lihat pasukanmu itu, Kapten Arman,” ujar seorang instruktur muda berpangkat letnan dua sambil tertawa kecil. “Baru beberapa kilometer saja sudah seperti terong layu.”Kapten Arman, komandan tempat Raka dan para mahasiswa baru lainnya ditempatkan selama pelatihan. Usianya sekitar tiga puluhan, kuli
Keringat sudah membasahi seragam latihan para mahasiswa baru sejak lama. Kain kamuflase itu menempel erat di tubuh mereka, menciptakan rasa lengket yang membuat setiap gerakan terasa semakin berat di bawah panas musim panas Neo Jakarta.“Aku tidak sanggup lagi...”Seorang siswa bertubuh gemuk tiba-
“Aku! Hengky!” katanya lantang. “Aku menuntut pelatihan gila ini dihentikan! Kami punya hak—”DOR!Suara tembakan memecah udara tanpa peringatan. Kalimat Hengky terputus begitu saja. Sebuah lubang berdarah muncul tepat di tengah dahinya, ekspresinya membeku. Matanya membelalak lebar, seolah otaknya
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali







